
Cucak tersenyum. Dengan langkah ringan ia meninggalkan ruang pribadi Demang Suranggana. Meski 2 hari sebelumnya ia diberi tahu oleh Lurah Prajurit bahwa ia ditunjuk untuk menerima tugas maha penting yang berhubungan dengan sebuah surat rahasia, namun ia tidak menyangka bahwa yang menyerahkan surat itu adalah Demang Suranggana langsung. Padahal, lurah prajurit sendiri tidak pernah memiliki kesempatan untuk bertemu secara langsung dengan pimpinan tertinggi Baswara. Semua prajurit Baswara tahu, Demang Suranggana sangat tertutup dan tidak membuka komunikasi secara pribadi dengan siapapun. Pendirian rumah benteng Baswara adalah perintah langsung dari orang kuat dengan pembiayaan tanpa batas. Menurut desas desus yang sempat beredar meski tidak dapat dipastikan kebenarannya, pendirian Baswara disokong oleh seorang Raja Muda yang sangat besar pengaruhnya di Kraton Agung Majapahit, Wilwatikta. Tidak seorangpun yang tahu maksud pendirian benteng Baswara dan mengapa memilih lokasi di gunung Pawitra yang jauh dari keramaian kota. Setelah Baswara berdiri, Raja Muda itu mengutus Demang Suranggana sebagai pemimpin tertinggi di sana. Pengutusan seorang Demang pun menjadi teka-teki tersendiri pada mulanya, mengapa sebuah barak prajurit dikuasakan pada seorang Demang yang seharusnya mengurus wilayah, bukan mengurus militer? Namun pada akhirnya, tidak ada seorangpun berani bertanya atas keputusan janggal itu, karena masih menurut cerita para perwira prajurit, penunjukan Demang Suranggana sebagai pemimpin tertinggi di Baswara dikukuhkan dengan surat yang bercap Maharatu Majapahit langsung.
Kepribadian Demang Suranggana sejak menjabat sebagai pimpinan Baswara pun serba misterius. Semua orang hanya tahu ia berada di ruang tersendiri yang dilengkapi dengan tempat istirahat, ruang semadhi, juga tempat mandi dan buang air pribadi. Sejak kedatangannya, belum pernah terlihat pintu ruang pribadinya terbuka. Apalagi melihat ia berjalan-jalan, tak seorangpun pernah melihat ujudnya. Ia ada di antara ada dan tiada.
Maka ketika lidah prajurit mengatakan pada Cucak bahwa ia dipanggil secara pribadi, antara takut dan penasaran Cucak menemui dengan lutut agak gemetar. Setelah sampai di ruang itu, Cucak tidak berani menatap langsung Demang Suranggana, kecuali menunduk dan menerima gulungan surat rahasia yang harus ia antarkan.
" Antar surat ini ke orangku di Kotaraja. Namanya Indrawening. Jangan sampai salah orang. Ia berpakaian serba hitam, menunggumu di bagian luar sebelah gerbang Wringin Lawang menyamar sebagai penjual bahan gagang keris. Begitu kau menyapa namanya, ia akan berkata ' Gading Tan Cengkah' lalu menunjukkan lencana gading berukir gajah berlumuran darah. Maka, serahkan surat ini atau jika kau gagal, kau yang serahkan nyawamu."
Cucak menelan ludah. Demang Suranggana benar-benar orang yang sangat menakutkan. Cara bicaranya langsung tanpa basa-basi sedikitpun.
" Sandhiika Dawuh, Gusti, " jawab Cucak sambil menerima gulungan surat itu.
" Pergilah sekarang juga!"
Cucak mundur meninggalkan ruang yang mencekam itu dengan laku jongkok. Merasa penasaran, ia mencuri pandang sedikit, melirikkan mata ke atas untuk melihat sekilas wajah Demang Suranggana. Batinnya seketika tercekat melihat wajah Demang Suranggana ternyata mengenakan topeng batu tipis sehingga tidak bisa dilihat wajah aslinya.
***
__ADS_1
Maka, begitu Cucak keluar dari ruangan Demang Suranggana,, langkahnya menjadi sangat ringan dan mampu tersenyum kembali, seperti baru lepas dari cengkeraman kengerian yang penuh rahasia.
Dengan menunggang kuda yang dilarikan cepat, Cucak berusaha membersihkan bayangan buruk tentang pribadi Demang Suranggana dari benaknya. Yang penting ia melaksanakan tugas mengantar surat, selesai urusan. Apa susahnya mengantar surat ke tujuan yang sudah sangat pasti?
Yang Cucak pikirkan sekarang adalah apa yang akan ditemui sebentar lagi. Ia memperkirakan perjalanan dari desa Cunggrang ke Kotaraja tidak sampai sehari, karena ia sudah sangat hapal dengan jalannya. Sementara waktu penyerahan surat itu menurut petunjuk lurah prajuritnya satu setengah hari lagi sesuai wayah jualan Indrawening. Jadi, masih tersisa waktu sisa setidaknya sampai usai tithi yoni. Ia bisa berhenti untuk bersenang-senang memenuhi undangan penuh gairah birahi dengan Ni Smara di gubuk sawah seberang batas desa.
" Hmmmm...Ni Smara...Ni Smara...meski kau seorang Jalir, tapi sanggup membuat hatiku sepenuhnya terbakar. Hmmmm... cantiknya wajahmu. Hehehe...beruntung sekali aku sampai kau tergila-gila padaku dan ingin bertemu untuk memberi hadiah perpisahan terindah. Hehehe.., " gumam Cucak tak sabar bertemu hingga memacu kudanya lebih kencang.
Sementara di warung tuak, 3 Ksatria dan Ni Smara juga sudah siap berangkat mendahului sampai di pondhok pari. Karena aksi yang mereka rancang adalah penyergapan, Kidang Panah dan Karna memutuskan untuk tidak naik kuda agar tidak menimbulkan suara saat diikat.
Seperti biasanya, Julig minta gendong Karna, disamping Karna sendiri juga rikuh kalau harus menggendong wanita muda seperti Ni Smara. Akhirnya, Ni Smara yang semula tidak tahu maksud mengapa harus digendong, dengan senang hati dan senyum-senyum malu melingkarkan tangannya ke dada bidang Kidang Panah. Dalam hati Ni Smara sendiri, ia sebenarnya sudah sangat tertarik dengan kepribadian Kidang Panah sejak pertama memimpin tugas rahasia ini. Maka tanpa harus diperintah dua kali, Ni Smara memeluk Kidang Panah dengan gaya seorang kekasih, menempelkan pipi dengan lembut ke punggung Kidang Panah.
" Maksudnya jatuh gimana, Raden?" tanya Ni Smara tak mengerti.
" Jatuh ya jatuh. Tubuhmu bisa babak belur jatuh ke tanah. Kesakitan. Kalau cara memeluknya seperti itu ya sama juga jatuh. Tapi jatuhnya beda. Itu cara memeluk orang yang jatuh hati Hahaha... Ya kan, Kang Kidang?" derai tawa Julig menggoda Kidang Panah.
Ni Smara tersenyum tersipu. Ia memang mulai merasa jatuh hati pada Kidang Panah.
__ADS_1
" Peluk yang erat, pegang sekencang-kencangnya, Ni!" ujar Kidang Panah dingin.
" Iya, Raden, " jawab Ni Smara.
" Hiyaaaa...."
Kaki Karna dan Kidang Panah menjejak tanah bersamaan. Melenting ke puncak pepohonan, mengambil jalan berlari di atas ujung ranting pohon dan wuwungan rumah penduduk desa, melaju di udara Cunggrang dengan kecepatan sepenuh laju kuda pilihan.
Ni Smara terpekik tak menyangka.
Deru angin bertiup di sekitar telinga Ni Smara. Ia benar-benar di bawa terbang! Seumur hidup tidak semalam pun pernah bermimpi mengalami rasanya di bawa terbang. Kini ia mengalami rasa itu. Tubuhnya dibawa terbang oleh seorang Ksatria yang berkepribadian sangat mengagumkan. Dan bukan hanya tubuhnya, hatinya pun terbawa terbang.
" Tunjukkan arah ke batas desa, Ni!" seru Kidang Panah untuk mengatasi suara angin yang berlari kencang.
" Ke selatan, Kangmas...eh, maaf, Raden!" jawab Ni Smara gugup oleh perasaan bahagia.
Seandainya saja pertanyaan Kidang Panah adalah, 'Tunjukkan arah asmara, Ni!," maka Ni Smara pasti akan menjawab, " Di sini! Di hatiku yang telah terpanah oleh Kangmas Kidang Panah!"
__ADS_1
***