KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
48 MISTERI BENTENG BASWARA


__ADS_3

Sebelum memasuki Kotaraja, deretan gunung terakhir yang memayung membentang dari arah timur, tenggara dan selatan adalah gunung Pawitra ( sekarang disebut gunung Penanggungan). Bernama Pawitra yang berarti tempat penyucian, gunung itu memiliki sebuah puncak tertinggi sebagai pancer (pusat) yang dikelilingi puncak-puncak yang lebih rendah berjumlah 8 mewakili segenap penjuru mata angin. Genap 9 puncaknya merangkum Bathara Nawasangha yang tergambar pada Surya Majapahit (lambang Negara) dengan masing-masing arah mata angin bertahta sesosok Dewata. Konon gunung Pawitra berasal dari puncak Mahameru yang dipangkas oleh Dewa untuk menyeimbangkan dunia.


Begitu sakralnya gunung Pawitra sehingga sudah menjadi tempat persembahyangan dan pertapaan pada Reshi ( orang-orang suci) yang menyingkir dari keramaian dunia sejak jaman leluhur. Di lerengnya terdapat Patirthan Jalatunda ( Kolam suci, Jala \= air, Tunda \= undakan, yang berarti air suci bertingkat) tempat berendam para Reshi yang berasrama di desa Cunggrang. Mata air Patirthan itu tidak pernah berhenti cucurannya sepanjang jaman, sehingga pernah menjadi pertapaan Mpu Bharada guru Prabu Airlangga kemudian dilanjutkan sebagai tradisi turun temurun oleh para pembesar dari sepenjuru tanah Jawa. Tak terhitung candi Siwa - Buddha berjajar dari lereng hingga puncak dibangun dengan tehnik menempel pada tubuh gunung sehingga menyatu antara bangunan dan tanah tak terpisahkan. Maka tidak ada sejengkal tanah pun di gunung Pawitra yang tidak dikeramatkan.


Di gunung Pawitra pula pernah terjadi aksi heroik seorang Patih sakti mandraguna bernama Narotama menyelamatkan prabu Airlangga dari serangan prajurit kerajaan Wura-Wari. Karena begitu melekatnya perjuangannya, sehingga Patih Narotama memilih gunung itu sebagai persemayaman terakhirnya dan aura keilmuannya menjelma dalam ujud harimau Mbah Putih, penjaga gaib gunung yang selalu memberi petunjuk kepada warga menghadapi musibah atau saat-saat sulit.


Tiga bulan yang lalu, ada kejadian menghebohkan lereng timur gunung Pawitra. Serombongan orang yang mengaku sebagai prajurit membuat ontran-ontran membuka lahan dengan membabat hutan untuk dibangun sebuah rumah. Buyut desa dan aparat yang menanyakan identitasnya justru dihardik agar diam. Sempat terjadi perlawanan oleh pemuda desa. Namun, meski mereka tidak menunjukkan identitas resmi sebagai prajurit, ternyata kemampuan bela diri mereka memang sangat tinggi. Tidak memerlukan waktu banyak, semua pemuda desa dirobohkan. Bahkan, rombongan itu membawa Buyut desa untuk diinterogasi. Selanjutnya, entah pembicaraan apa yang terjadi antara mereka dan Buyut, yang jelas, sekeluar dari rumah kayu, terjadi perubahan sikap drastis pada diri ki Buyut.


Ki Buyut tanpa membicarakan alasan dan sepatah katapun tentang pembicaraan di dalam, mendadak memerintahkan seluruh warga desa untuk tidak menceritakan kepada siapapun tentang kejadian itu, bahkan harus membantu percepatan pembangunan rumah mereka. Selanjutnya, sepuluh pemuda terpilih disuruh bekerja sebagai tukang bangunan dengan bayaran yang memadai. Sepuluh pekerja itupun tidak memperoleh informasi apapun mengenai tujuan pembangunan. Mereka hanya melakukan apa yang diperintahkan saja. Disuruh memotong kayu, memasang sirap, atau menggali tanah.


Dua pekan kemudian, pembangunan rumah yang digarap cepat oleh sekitar 100 orang prajurit misterius dibantu 10 pemuda desa itu selesai. Sebuah rumah kayu cukup besar dan nyaman telah berdiri kokoh. Selama pembangunan hingga selesai, 10 penduduk desa itu tidak diperkenankan masuk ke dalam, hanya ditugaskan di bagian dinding luar dan atap, sehingga hingga selesainya, mereka tidak tahu ada berapa ruangan di rumah itu. Yang lebih aneh, begitu rumah itu selesai, mereka disuruh membangun pagar melingkar rapat tanpa sela setinggi 2 depha ( 4 meter) dari kayu yang sangat kuat. Pintu gerbang yang dipasang terbuat dari logam berat sedikit menyerupai gerbang Kotaraja. Sehingga ketika jadi, rumah itu seperti benteng kecil. Kesepuluh pemuda desa tidak dilibatkan lagi dalam pembangunan selanjutnya. Saat meninggalkan 'rumah benteng' itu, mereka masih mendengar ada kegiatan pembangunan di dalam. Seperti suara orang menggali tanah, sehingga mereka menduga ada pembangunan lanjutan di halaman rumah. Tetapi bangunan apa dan untuk apa mereka tidak tahu. Apalagi bertanya, tentu tidak mungkin. Semua pekerja yang di dalam sikapnya seperti tentara yang bekerja tanpa bicara sedikitpun. Tidak pernah ada pembicaraan di antara mereka kecuali masalah pekerjaan yang harus diselesaikan dengan cepat dan tepat.


Baru setelah rumah benteng itu benar-benar siap huni, keesokan harinya datang rombongan seperti rombongan pembesar. Di antara rombongan, terdapat seseorang yang tampaknya jadi pemimpin tertinggi. Dia datang dipikul tandu layaknya bangsawan tinggi. Tandu untuk memikulnya tertutup sempurna tanpa tirai yang tersibak sedikitpun, sehingga tidak ada penduduk desa yang bisa melihat wajah atau sosoknya.


Sebelum rombongan yang membawa tandu itu memasuki gerbang, di kiri kanan para prajurit berlutut menyambut, kecuali 4 orang prajurit yang berjaga di kiri kanan gerbang tetap berdiri dengan sikap siaga.


" Hatur bhakti, Gusti Demang, " gumam setiap prajurit yang dilalui tandu itu.


Selanjutnya, begitu rombongan pembawa tandu masuk, gerbang rumah benteng itu tertutup lagi. Benar-benar tertutup dan hanya dibuka saat membeli bahan makanan yang dijual oleh penduduk desa.

__ADS_1


Sehari setelah datangnya orang bertandu yang disebut Gusti Demang itu, rumah benteng itu terlihat seperti memiliki aktivitas yang cukup padat, ditandai dengan sepanjang malam menyala obor-obor di pagar melingkar sebelah dalam. Karena rumah itu berpendar-pendar sepanjang malam, penduduk desa menyebutnya sebagai rumah BASWARA ( Baswara \= bercahaya \= berpendar). Penamaan rumah Baswara itu menyebar ke seluruh desa, terutama di kalangan pedagang buah dan bahan makanan yang sering menjual dagangannya ke rumah itu. Demikian akhirnya para prajurit pun menerima Baswara sebagai sebutan rumah bentengnya yang belum memiliki nama resmi. Sedang mengenai siapa sesungguhnya nama orang yang disebut Gusti Demang itu, tak seorangpun yang tahu.


Sepekan sekali tiap jatuh hari pasaran di desa, beberapa prajurit Baswara turun ke pasar untuk membeli kebutuhan tambahan selain bahan makanan sambil sesekali melepas penat di warung makan dan tuak. Hanya di saat itulah ada sedikit interaksi dengan penduduk desa. Meski mereka belum pernah bersikap kasar atau membuat onar di pasar, namun semua orang takut mendekat atau sekedar membangun percakapan. Mereka masih trauma mengingat kejadian saat seluruh pemuda desa dihajar hingga babak belur ketika pertama kali menanyakan identitas mereka. Akibatnya, prajurit Baswara sama sekali tidak mempunyai kenalan yang cukup akrab dengan penduduk desa. Mereka hanya bicara dengan teman mereka sendiri, seperti saat pagi ini di sebuah kedai tuak.


" Aku heran dengan penduduk sini. Tak ada satupun yang tegur sapa dengan kita. Seperti sangat membenci kita. Apa dipikirnya kita ini bukan manusia?" gumam seorang prajurit.


" Hehehe..., " temannya tersenyum kecut, " Ya mungkin mereka bukan benci. Tapi takut karena kita pernah menghajar mereka, jadi mereka masih salah paham, Cucak."


Prajurit yang bernama Cucak menggelengkan kepala, " Kalau yang laki-laki mungkin takut karena pernah kita hajar, tapi bagaimana dengan yang perempuan? Bukankah kita tidak pernah salah atau mengasari mereka? Mengapa mereka jadi ikut-ikutan takut pada kita? Haaaahhh....apes! Sudah tiga bulan kita tugas di sini, tak pernah aku dengar suara perempuan. Mendapat senyum pun tidak, apalagi menyentuhnya?" keluh Cucak setelah menenggak tuak.


" Hahaha.... ternyata kau mengeluh hanya karena tidak punya kekasih. Makanya, dari kemarin waktu kita ditugaskan di kota aku sudah bilang, carilah perempuan baik-baik, jadikan istri. Kau malah jajan ke rumah Jalir ( jalir \= wanita tuna susila, jawa kuno) tiap pekan saja kerjamu. Jadinya ya begini, 3 bulan saja tidak menyentuh wanita jalir seolah langit mau runtuh."


" Lantas maumu apa?"


" Aku ingin tidur dengan Jalir ( wanita penghibur) pekan depan. Semalam sebelum berangkat tugas."


" Kau gila, kau sudah mabuk rupanya. Desa sekitar gunung ini semua sakral, tidak mungkin ada rumah Jalir di sini. Kalau sampai ketahuan kau berbuat tidak senonoh pada perempuan yang bukan istrimu, kau bisa dihukum berat!"


" Pasti ada juru jalir di sini, Kang. Aku bersedia bayar pajaknya, " rengek Cucak. ( Juri Jalir \= petugas negara yang ditunjuk untuk memungut pajak prostitusi. Pada masa Majapahit praktek prostitusi diperbolehkan dengan aturan yang ketat dan pajak tinggi sesuai undang-undang).

__ADS_1


" Tidak mungkin ada juru Jalir di desa ini. Sudahlah, apa kau tidak takut kena raja singa?"


" Kalau tidak ada juru jalir, tolonglah kita diam-diam saja minta seorang warga di sini mencarikan wanita penghibur. Aku berani bayar dengan harga berlipat. Kalaupun nanti ketahuan, aku sanggup bayar dendanya. Tolonglah, Kang. Kau yang lebih tua pasti lebih dipercaya mereka kalau bicara soal ini. Ini demi kelancaran tugas nanti juga."


Balawan menolak permintaan Cucak. Resikonya terlalu tinggi sebagai prajurit kalau ketahuan melakukan pelanggaran hukum. Namun Cucak tak lelah terus memohon dan membujuk serta bersedia membayar denda jika pelanggaran ini sampai diketahui.


Lelah mendengar rengekan Cucak yang sudah mabuk berat, Balawan memanggil pemilik kedai tuak.


Pemilik kedai tuak dengan takut-takut mendekat. Balawan membisikkan permintaan Cucak ke telinganya.


Mata pemilik kedai tuak itu terlihat sangat ketakutan. Ia menggeleng-gelengkan kepala, " Ampun, Tuan. Di sini memang ada seorang jaliir cantik, tapi kalau ada orang yang berminat, dia dipanggil ke kota, karena di desa ini tidak ada juru jalir. Mohon maaf, saya tidak bisa membantu."


Mendengar jawaban itu, Cucak yang sudah sangat mabuk mencengkeram leher pemilik kedai, " Kau bilang di sini ada Jalir cantik kan? Berarti kau bisa menghubungi dia secara diam-diam. Hubungi dia, atau kau kuhajar!"


Wajah pemilik kedai itu memucat.


***


__ADS_1


__ADS_2