
Merasa belum mampu mengukur sebesar apa kekuatan lawan yang dihadapinya sekarang, Karna memutuskan tidak terlalu mengumbar tenaga. Bisa saja ia melakukan pukulan beruntun dengan sepenuh tenaga, namun bila ternyata Demang Suranggana mampu bertahan, yang rugi Karna sendiri bisa kehabisan stamina di tengah pertarungan. Ia akan mengandalkan gerakan badan sampai mendapat peluang bagus untuk mendaratkan pukulan telak sepenuh tenaga.
Karna mengubah kuda-kudanya dengan posisi kaki ringan agar dapat bergerak cepat. Jari-jarinya disatukan sehingga membentuk daun yang dapat digunakan untuk menampar atau menebas. Ia kerahkan hawa murni untuk menajamkan sisi bawah tapaknya.
" Ciaaattt...!"
Terjangan Karna disambut dingin oleh Demang Suranggana. Dengan sedikit melayang di udara kedua tangan Karna menebas dari atas miring ke bawah mengincar leher Demang Suranggana.
Dengan mengubah posisi berdirinya dari depan menjadi miring Demang Suranggana berhasil menghindari serangan tajam sehingga tebasan Karna lolos dan hanya menyusur permukaan punggung dan dada. Namun karena tapak tangan Karna berubah setajam pedang tak ayal pakaian Demang Suranggana terkoyak juga.
Belum sempat Demang Suranggana mengubah posisi badannya, tangan Karna berbalik arah ke atas mengarah jakun. Sekuat-kuatnya manusia pasti akan menderita luka yang serius bila ditebas jakun yang berisi tulang rawan.
Demang Suranggana terpaksa menekuk tubuhnya ke belakang dengan posisi wajah menengadah untuk menyelamatkan lehernya. Pada saat posisi yang kurang menguntungkan itulah Karna melihat wajah Demang Suranggana terbuka untuk diserang.
Dan Karna memilih mata sebagai organ tubuh yang menjadi kelemahan setiap orang. Dengan menyatukan dua jari, Karna melakukan gerakan mematok secara beruntun untuk mencolok mata Demang Suranggana.
Gerakan patokan secara beruntun dengan kecepatan tinggi tentu tidak bisa dibiarkan oleh Demang Suranggana. Ia bisa buta kalau ada satu saja patokan lolos mencolok biji matanya. Terpaksa kedua tangannya menangkis untuk melindunginya.
Pada saat tangan Demang Suranggana terangkat, tangan kiri Karna terus melanjutkan patokan untuk memecah perhatian Demang Suranggana, sementara tangan kanan Karna sudah bersiap dengan serangan sesungguhnya.
" Desssss.....plaaaakkk....!!!" Tapak Dahana tingkat penuh mendarat mulus ke dada Demang Suranggana.
" Huaaaahhh....!!!"
Tubuh Demang Suranggana terlempar sejauh dua depha ( 4 meter) sebelum jatuh ke lantai dalam posisi terduduk lalu terdorong meluncur menyusur lantai sebelum berhenti menabrak dinding hingga hancur berkeping-keping.
" Braaaakkk.....!!!"
Kerasnya benturan membuat kepingan-kepingan kayu beterbangan. Namun bukan hanya itu, daya Tapak Dahana tingkat tertinggi yang berlipat dua membuat hawa panas menyengat serpihan-serpihan kayu berubah hitam arang.
Melihat Demag Suranggana sedang dalam posisi tidak menguntungkan, Karna bermaksud menyelesaikan pertarungan dengan melompat mengirimkan tendangan yang meluncur seperti kilat.
" Caaaaattttt....!!!"
Namun, meski pukulan Karna mendarat telak dan mengguncang isi dada Demang Suranggana seperti dipalu pande besi yang sedang membara, tangan Demang Suranggana masih sempat juga menangkis ujung kaki Karna bahkan sempat menangkap dan memutarnya.
Karuan saja Karna yang masih melayang di udara kehilangan keseimbangan dan terpaksa harus mengikuti arah putaran kakinya agar tidak terjengkang.
Tubuh Karna terlempar dengan posisi memutar sehingga menerjang rak senjata yang segera hancur seperti dibor.
" Tap....!!!"
Karna berhasil mendarat ke lantai dengan posisi berdiri imbang.
Bersamaan dengan itu, Demang Suranggana juga telah bangkit dari jatuhnya.
" Hmmmm....." gumam Demang Suranggana yang hampir saja celaka karena tidak menyangka besarnya kekuatan ajian Tapak Dahana Karna.
Demikian pula Karna tidak menyangka kehebatan Sunanggana yang mampu bertahan dari pukulan panas tingkat tertingi tanpa menderita luka yang berarti.
__ADS_1
Dua manusia sakti itu kini sama-sama saling waspada dan tidak ingin berbuat gegabah yang bisa membahayakan nyawa sendiri.
" Serahkan cincin Mahalatih padaku dan biar Gusti Mahapatih Gajahmada sendiri yang memutuskan hukumanmu, Demang!' ujar Karna mencoba lagi bicara.
" Tidak ada orang yang mampu mengambil cincin itu dariku. Sekarang bersiaplah kau, Bocah. Aku akan mulai menyerangmu!"
" Coba saja kalau kau mampu, " jawab Karna meniru gaya bicara Demang Suranggana.
Demang Suranggana menekuk lurus tumit kanannya. Karna mengamati dan bersiap menghadapi serangan kaki.
" Hoooohh...!!!" dengus Demang Suranggana yang tiba-tiba membuat gerakan tipuan, bukannya menyepak dengan kaki kanan naik, ia justru menurunkan tumitnya dengan cepat dan menekuk kakinya untuk membuat sapuan menyusur tanah dengan kaki kiri.
Karna terkejut dengan kombinasi gerak tipu berlawanan arah yang dilakukan dengan sangat cepat sehingga antisipasinya agak terlambat. Ia sempat meloncat kecil namun tak ayal loncatan yang tidak sempurna sempat membuat benturan dengan unjung telapak kakinya.
Tubuh Karna yang masih di udara sedikit kehilangan keseimbangan dimanfaatkan oleh Demang Suranggana untuk menyusul satu tendangan ke atas dengan posisi tubuh menumpu tanah.
Saat tubuh Karna melayang turun, serangkaian tendangan sudah menyanbutnya. Posisi Karna sangat tidak menguntungkan karena tanpa kekuatan kuda-kuda sedangkan Demang Suranggana sangat kokoh seluruh berat badannya ditopang tanah.
Benturan antara kaki Karna dan Demang Suranggana tidak bisa dihindarkan.
" Bluuuggg. . ! "
Pertemuan dua telapak kaki membuat tubuh Karna kembali terpental di udara. Namun dengan cerdik Karna memanfaatkan keadaan yang kurang menguntungkan itu untuk memperbaiki posisi tubuh. Dengan meminjam tenaga dorongan tendangan Demang Suranggana yang sangat kuat, Karna melenting berputar 3 kali di udara menuju atas.
" Tap !" kedua kaki Karna dengan mantap berhasil mendarat di blandar tempat pertama kali Demang Suranggana berdiri.
Demang Suranggana tersenyum tipis, dalam hatinya mengakui kecerdasan Karna yang dengan sangat cepat dapat memanfaatkan keadaan sehingga membalik situasi yang buruk menjadi keuntungan.
" Hiyaaaatttt...." Demang Suranggana melompat meluncur ke atas menuju blandar.
Pada saat tubuh Demang Suranggana masih di udara, dengan cepat Karna meniti blandar untuk menghadangnya dengan tendangan.
" Plaaaakkk....!!!" kaki Karna berhasil mendarat di dada Demang Suranggana sehingga kembali terpental.
Namun, tampaknya Demang Suranggana telah memperhitungkan hal itu. Tenaga pentalan akibat tendangan Karna ia pinjam untuk menuju saka tiang penyangga empyak ( atap).
Dengan satu tangan memegang saka, tubuhnya berputar-putar dengan saka sebagai titik porosnya. Makin lama putaran yang dibuatnya makin cepat sehingga atap rumah berderak karena guncangan.
Begitu tenaga putaran dirasanya cukup, Demang Suranggana melepaskan cengkeramannya pada saka dan melesat sangat cepat sekali menerjang ke arah tubuh Karna.
Karna terkejut sekaligus kagum pada balasan Demang Suranggana yang mampu membalikkan keadaan yang tidak menguntungkan menjadi keunggulan. Namun, Karna juga telah mempersiapkan diri.
Luncuran ke udara jelas tidak bisa berubah arah sebelum sampai di tujuan. Hanya burung yang bisa melakukan itu, sedang manusia tidak. Maka Karna tidak ingin membenturkan diri membuang tenaga yang tidak perlu. Ia memutuskan untuk menghindari dengan cara termudah dengan menjatuhkan diri berbaring di atas blandar.
" Hiyaaaatttt....!" tubuh Demang Suranggana meluncur sangat cepat rerhang di atas tubuh Karna yang berbaring.
" Braaaakkk.... Praaakkk....!!!"
Demang Suranggana menabrak empyak menerobos dan menghancurkan rangka kayu beserta genteng-genteng yang berhamburan membentuk lobang besar.
__ADS_1
Namun Demang Suranggana bukan orang yang gampang menyerah begitu saja. Begitu menyadari ia mendarat di atas genting, justru ia memanfaatkan situasi untuk mengejek Karna.
Ia melompat-lompat dari satu genteng ke genteng lain seperti memamerkan kemampuan peringan tubuhnya yang meski bertubuh berat namun bisa berubah seringan daun yang melayang memijak genteng tanpa meninggalkan suara sedikitpun.
" Aku pergi, tidak ada gunanya melayani kau, Bocah! Hahaha...." tawa Demang Suranggana menggema.
Karuan Karna yang jadi panik kalau Demang Suranggana melarikan diri dengan membawa cincin Majapahit yang harus direbutnya.
" Jangan menghindari pertarungan kau, pengecut!" seru Karna sambil memasang pendengarannya setajam mungkin untuk mengetahui posisi berdiri Demang Suranggana di balik genteng.
Pada saat bersamaan, Karna mendengar suara genteng terpijak yang yang sangat halus sekali sehingga bagi yang pendengarannya tidak terlatih tidak mungkin mampu membedakan antara suara pijakan kaki dengan lembaran daun tertiup angin.
" Braaaakkk...!!!" Karna menghantam atap rumah sembari menangkap pergelangan kaki Demang Suranggana untuk ditarik mendarat di blandar terdekat.
" Plak....plak..plak..blug....!!!"
Terjadi jual beli pukulan, tamparan, tebasan, dan cakaran antara Karna dan Demang Suranggana yang keduanya bertarung dengan berpijak di balok blandar yang sama.
Pertempuran di atas blandar inilah yang diinginkan oleh Karna. Sebab dengan bertempur sambil meniti batang kayu yang pipih, keunggulan tenaga pijakan Demang Suranggana jadi tidak berarti.
Yang dibutuhkan hanya keseimbangan, kecepatan dan keakuratan gerak. Bila Demang Suranggana menggunakan kekuatan pijakannya, balok blandar niscaya akan patah sehingga atap rumah bisa rubuh menimpa mereka berdua.
Kecerdasan Karna dalam memilih lokasi pertempuran membuat jalanannya perkelahian menjadi berimbang. Masing-masing menderita luka pukulan dan guratan sampai daging tersayat cakaran yang sampai menembus tulang.
Demang Suranggana segera menyadari telah terjebak oleh strategi Karna yang membuatnya tidak bisa leluasa memanfaatkan keunggulan kekuatan tenaganya. Ia mendengus pendek, melirik blandar di belakangnya untuk meloloskan diri dari situasi itu.
" Hyaaaaattt ....!"
" Tap...!!!" Kaki Demang Suranggana hinggap di blandar yang berseberangan.
" Jangan lari, kau! " hardik Karna.
Demang Suranggana tersenyum, " Tidak akan! Hadapi pukulanku sekarang! " seru Demang Suranggana.
" Hooooosssshhhh.....!!!" Demang Suranggana menghempas napas dengan patrap ajiannya.
" Huuuuuummm......!!!" Karna pun patrap ajiannya untuk mempersiapkan benturan tenaga.
" Ciaaattt.....!!! "
Dua orang dengan kemampuan gerak dan olah hawa murni luar biasa itu melompat bersamaan untuk saling membenturkan dua ajian dahsyat di udara!
***
ILUSTRASI
Blandar, balok penyangga atap rumah Jawa
__ADS_1