KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
58 ASMARA NI SMARA DARAH PERWIRA


__ADS_3

Sepeninggal Julig dan Karna, Kidang Panah menepuk pundak Ni Smara, " Ayo aku antar kau pulang."


Ni Smara menundukkan wajah untuk menyembunyikan senyum senangnya. Malam ini, di hadapan Kidang Panah, Jalir yang sudah berpengalaman menghadapi begitu banyak lelaki berubah polos seperti perawan yang belum pernah tersentuh tangannya.


" Jalan kaki, Raden? " desis Ni Smara senang membayangkan memiliki waktu yang cukup panjang bersama Kidang Panah.


" Memang rumahmu ada di mana?"


" Dukuh Lor, Raden."


" Dukuh Lor? Berarti ujung Utara, padahal kita di batas selatan. Dan masih ada hutan kecil di tengah desa Cunggrang. Kalau jalan kaki biasa, bisa-bisa menjelang pagi baru sampai. Kau juga bisa kelelahan."


" Tidak apa-apa, Raden. Kawula sudah biasa jalan kaki, karena memang tidak memiliki kuda dan tidak bisa naik kuda."


" Aku pasti sudah ditunggu Julig dan Wingit. Kita lari saja."


" Kawula tidak mampu lari secepat Raden."


" Bukan kau yang lari, tapi aku yang lari dan kau kubawa."


" Kawula naik ke punggung Raden lagi?" tanya Ni Smara dengan dada berdegup kencang membayangkan akan bisa memeluk Kidang Panah lagi.


" Iya, biar cepat sampai ke rumah."


***


Cinta, gelombangnya datang tanpa terencana, tanpa terduga waktu, arah dan tujuannya. Besar, kecil, kaya, miskin, hina atau mulia statusnya, tak terluput dari lipatannya saat ia membelit dengan pesona rahasia.


Dunia mungkin mengira, seorang Jalir yang begitu sering bercinta dengan bermacam laki-laki sudah kehilangan rasa cinta. Namun nyatanya tidak demikian. Mungkin Ni Smara sebagai seorang Jalir kerap bercinta. Namun sebenarnya, ia tidak sedang bercinta, ia hanya bersetubuh. Melakukan aktivitas alami antara dua tubuh beda jenis tanpa melibatkan hati. Tanpa rasa, tanpa jiwa. Dan ketika ia bertemu dengan Kidang Panah, saat itu kewanitaannya tersentuh oleh laki-laki seunik Kidang Panah. Hatinya jatuh ke permukaan kepribadian Kidang Panah yang membuatnya aman, nyaman dan berarti sebagai seorang wanita. Kidang Panah memperlakukannya sebagai seorang wanita, hanya wanita, sungguh-sungguh wanita, bukan sebagai Jalir. Perasaan rahasia itulah yang melangsungkan kehidupan di dunia melalui pertemuan hati lelaki wanita, bapa biyung untuk menyatukan rasa, tujuan, dan jiwa raga sehingga melahirkan kita dan berlanjut kepada generasi ke generasi sampai kehidupan memenuhi bumi dan alam semesta.


Tidak memerlukan waktu lama, Kidang Panah telah sampai di halaman rumah Ni Smara. Saat Kidang Panah berpamitan, Ni Smara berkali-kali mengatakan kapanpun boleh mampir ke rumahnya, dan ia pasti ada untuk Kidang Panah.


" Iya, suatu saat aku akan mampir, Ni. Tapi untuk sekarang belum bisa, karena tugasku belum selesai. Mungkin selama sepekan aku ada di desa ini. Tapi entah kepastiannya aku juga belum tahu," jawab Kidang Panah pura-pura tidak tahu perasaan Ni Smara kepadanya.

__ADS_1


" Maaf, bukankah Cucak sudah ditangkap, jadi tugas Raden sudah selesai kan?"


" Tidak, Ni Smara. Tugasku tidak hanya itu saja. Tugasku sebagai perwira prajurit Majapahit masih terlalu banyak, dan aku tidak tahu kapan berakhir. Tiap saat bisa saja ada tugas baru. Bisa di sini, bisa Kotaraja, bisa di luar Jawa Dwipa, bahkan bisa ke mana saja aku tidak tahu.'


" Ooohh..." Ni Smara mendesah kecewa. Merambat perasaan rendah diri dalam hatinya. Ia hanya seorang Jalir, bagaimana mungkin boleh mengharap terlalu berlebihan kepada seorang perwira prajurit Bhayangkara yang sangat hebat seperti Kidang Panah. Ia hanya berhak mencintai, memiliki perasaannya sendiri, namun tak berhak untuk memiliki jiwa raga Kidang Panah.


" Raden, boleh kawula lancang memohon sesuatu?"


Kidang Panah menarik napas panjang, " Katakan saja."


" Raden.....boleh kawula memelukmu sebagai tanda terima kasih atas pemberian yang begitu banyak?"ucap Ni Smara dengan nada sendu.


Kidang Panah tersenyum sedih. Sesungguhnya ia mengakui Ni Smara memiliki daya tarik yang sangat kuat sebagai wanita. Namun entah kenapa, sejak mengenal Padma Dewi, gejolak asmaranya pada wanita lain seolah padam. Ia bisa merasakan hangatnya pelukan Ni Smara saat digendongnya, tetapi tidak segetar pun tergerak asmara di hatinya.


Namun pada dasarnya Kidang Panah sesungguhnya orang yang berhati lembut pada wanita. Ia tidak ingin membuat Ni Smara malu. Apalagi perasaan yang dimiliki Ni Smara kepadanya sama persis dengan cintanya kepada Padma Dewi yang seorang putri keraton. Cinta yang nyaris mustahil untuk dimiliki. Ia mendahului memeluk Ni Smara dan mengusap rambutnya yang harum terawat dengan perasaan empati dan senasib.


Setetes air mata Ni Smara membasah di dada Kidang Panah.


" Ya, kalau itu bagus untukmu, lakukan. Pakailah uang itu untuk berniaga atau apa."


" Bukan, Raden. Bukan karena bagus atau tidak buat kawula. Tapi itu kulakukan karena kawula menurut pada keinginan Raden agar kawula membangun kehidupan baru. Perubahan hidup itu adalah persembahan yang bisa kawula haturkan sebagai balasan atas kebaikan Raden."


Kidang Panah melepaskan pelukannya pada Ni Smara. Jika ia biarkan, hati Ni Smara bisa sangat terikat padanya sehingga sangat sakit saat dilepas.


" Aku harus pergi sekarang, Ni. Pasti Wingit dan Julig sudah menunggu. Rahayu..."


Ni Smara menghapus sisa-sisa air matanya, " Selamat menjalankan dharma bhaktimu untuk Bhumi Majapahit, Raden. Kawula selalu di sini. Sendiri...dan hanya sendiri mendoakan keselamatan dan kesejahteraan Raden. Jaya Jaya Wijayanti..."


Kidang Panah membalikkan badannya, tidak ingin menjadi lemah karena air mata Ni Smara. Menjejakkan kaki dan melesat meninggalkan hati Ni Smara yang hancur. Seorang Jalir yang begitu sering bercinta, baru pertama kali ini merasakan dikalahkan cinta.


***


Sesampai Kidang Panah di kedai tuak, kaki dan tangan Cucak terlah diikat tali yang kuat karena ia terus meronta minta surat Demang Suranggana dikembalikan kepadanya. Sementara Julig menyumpal mulutnya dengan kain agar tidak terus mengeluarkan suara, Karna memegang gulungan surat tanpa membukanya karena menunggu Kidang Panah agar dapat dipelajari bersama.

__ADS_1


" Kalian sudah baca surat itu?" tanya Kidang Panah.


" Belum. Kami menunggu kedatangan Kakang."


" Sini suratnya, kita baca bersama," ujar Kidang Panah.


Mendengar surat rahasia dari Demang Suranggana akan dibuka, Cucak menggeram keras. Kidang Panah yang merasa terganggu oleh suaranya mendekati dan berjongkok.


" Ingat, kau sudah tidak berdaya. Percuma kau melawan, Cucak. Aku bisa membunuhmu tiap saat aku mau. Jadi sekarang belajarlah sopan santun di hadapanku. Kalau ingin mengatakan sesuatu, katakan dengan baik. Jangan berteriak. Paham? " dengus Kidang Panah tegas.


Cucak mengangguk-angguk.


" Baik, kuharap kau mau bekerja sama demi nyawamu sendiri. Sumpal mulutmu akan kulepaskan. Katakan apa yang ingin kau katakan dengan perlahan-lahan."


Cucak mengangguk-angguk lagi. Kidang Panah melepas sumpalan di mulutnya.


" Mohon jangan dibuka surat itu, Tuan. Itu surat rahasia Negara. Saya bisa dihukum mati kalau. sampai surat itu dibaca oleh orang yang tidak berwenang, " bisik Cucak lirih memohon.


" Hmmm... jadi kau masih takut dihukum mati. Padahal di sini ujud kematianmu nyata. Aku adalah ujud nyata Bathara Yamadipati yang bisa mencabut nyawamu tiap saat bila kau tidak mau kerja sama atau membuat aku marah. Kau bisa saja lolos dari ancaman hukuman mati Demang Suranggana, tapi tidak mungkin lolos dariku, karena lehermu bisa kupatahkan sekarang juga. Mana yang kau pilih sekarang? Diam saja dan selamat, atau mengganggu kami dan kubunuh sekarang juga?"


Cucak menelan ludahnya.Tenggorokannya terasa sangat kering.


Kidang Panah mengambil sekendi air dan mencucurkannya ke mulut Cucak yang kehausan. " Minumlah. Nanti kalau kau lapar, aku beri makan juga. Berpikirlah secara nalar mulai saat ini, karena tidak punya pilihan lain kecuali kerjasama dengan kami. Kalau tidak, aku pasti membunuhmu. Asal tahu saja, membunuh adalah kesukaanku."


Setelah melihat Cucak tenang, Kidang Panah membuka gulungan surat rahasia itu.


Begitu terbaca keseluruhan, matanya terbelalak dan berseru, " Keparat! Surat palsu bercap Mahapatih Gajahmada ini penuh hasutan. Kalau sampai ke Kotaraja, bisa pecah Majapahit berkeping-keping!"


Wajah Julig dan Karna juga seketika tegang. Tak menyangka sekeji itu isi surat yang ditulis oleh Demang Suranggana yang mengatasnamakan Gajahmada.


" Malam ini juga kita ke Baswara sebelum Demang Jahanam itu menyadari suratnya telah kita rampas. Kalau sampai ia berhasil menyusulkan surat palsu sebagai penggantinya, Bhumi Majapahit bisa hancur tanpa sisa oleh perang saudara!" geram Kidang Panah.


***

__ADS_1


__ADS_2