
Setelah gelombang napas pulih sepenuhnya, Kidang Panah berdiri menatap tumpukan bungkusan uang yang ditaruh di atas mejanya. Ia mengangguk-angguk puas.
" Sekarang kalian mau menurut pada perintahku?" tanya Kidang Panah.
" Kami semua menyatakan takluk pada Raden bertiga, " jawab Coglok mewakili suara teman-temannya.
" Aku tidak meminta sesuatu yang berat. Yang kuinginkan hanya, pertama; kalian semua tidak boleh menceritakan apa yang baru saja terjadi, termasuk juga keberadaan kami bertiga di sini. Kepada siapapun, bahkan kepada anak istri kalian. Sanggup?"
" Sanggup, Den! " jawab Coglok.
" Kedua, sewaktu-waktu aku minta bantuan untuk melakukan sesuatu, kalian akan melakukan untuk kami tanpa bertanya sedikitpun. Aku jamin apa yang kuperintahkan tidak akan membahayakan jiwa. Kalaupun ada bahaya, kami pasti melindungi kalian. Dan tugas yang akan kuberikan bukan pekerjaan cuma-cuma. Kalian akan mendapat bayaran masing-masing 1 keping uang Ma emas sesuai janjiku tadi. Sanggup?"
" Sanggup, Den!"
" Baik, sekarang Coglok dan anak buahmu boleh pulang ke rumah masing-masing. Sewaktu-waktu aku melalui kang Kusa akan memanggil kalian. Kusa dan Ni Smara tetap tinggal di sini, aku ingin bicara dengan kalian berdua."
" Baik, Raden. Kami mohon diri, " ujar Coglok menghatur salam hormat.
Sepeninggal gerombolan Coglok, Kidang Panah duduk di bangku. " Kusa, Smara, duduk sini."
Kusa dan Jalir Smara tidak segera beranjak dari tempat duduknya. Mereka saling melirik takut-takut.
" Sini, tidak perlu takut sama kami bertiga. Kami bertiga tidak akan menyakiti kalian. Aku hanya ingin bicara. Nanti kalian berdua akan aku beri upah paling pertama, sekeping uang Ma emas."
Setelah Kusa dan Ni Smara duduk di bangku, Kidang Panah bertanya, " Aku tadi dengar Kusa bilang kalau Ni Smara adalah kekasih seorang prajurit Baswara. Apa itu benar?"
Ni Smara menjawab malu-malu, " Sebenarnya bukan begitu, Raden. Kawula ini hanya seorang wanita penghibur yang diminta Kang Kusa untuk menemani tidur dengan seorang prajurit Baswara yang telah memesan kawula."
" Oooo...jadi kejadiannya bagaimana sampai seorang prajurit Baswara berani bermain api melanggar hukum memesan jalir dengan cara yang tidak semestinya?"
" Kalau itu yang tahu sejak awal kang Kusa, Raden. Kawula hanya menerima bayaran dari pekerjaan ini."
" Kusa, bagaimana ceritanya? Ceritakan dan jangan mencoba berdusta sedikitpun atau aku akan berlaku keras padamu!" ujar Kidang Panah sambil menatap Kusa dengan sangat tajam.
__ADS_1
Kusa gugup. Ia sebenarnya takut pada prajurit Baswara, tapi kesaktian 3 Ksatria ditambah janji akan menemukan bayaran sekeping uang emas tentu lebih menakutkan sekaligus menguntungkan.
" Tapi... Raden akan melindungi saya kalau terjadi apa-apa kan?" ujar Kusa sambil mengusap kening yang berkeringat.
Kidang Panah tersenyum, ia meletakkan sekeping uang Ma emas di atas meja, " Uang ini akan jadi milikmu begitu kau selesai bercerita dengan jujur. Dan kamu tidak perlu takut pada prajurit Baswara. Terus terang, kami sebenarnya perwira Bhayangkara yang ditugaskan oleh Mahapatih Gajahmada untuk menindak prajurit Baswara yang melakukan pelanggaran hukum. Untuk itu kami datang secara menyamar, " bual Kidang Panah untuk membesarkan hati Kusa.
Mendengar pengakuan Kidang Panah sebagai perwira satuan prajurit khusus Bayangkara yang sangat tersohor, seketika Kusa tersenyum cerah, hilang sudah seluruh kekhawatirannya. Dengan lengkap ia ceritakan pembicaraan antara dirinya dengan dua prajurit Baswara, terutama sang pemesan Jalir yang bernama Cucak yang akan berangkat tugas besok malam.
Kidang Panah tersenyum puas atas keterangan yang sangat penting itu. Ia berikan sekeping uang Ma emas asli yang diterima Kusa dengan mata berbinar-binar.
" Baik, tugasmu sudah selesai untuk sementara, Kusa. Nanti malam tugasmu adalah melayani sebaik-baiknya agar pertemuan Cucak dengan Ni Smara berjalan lancar," ujar Kidang Panah.
" Pasti, pasti, Raden!" sahut Kusa yang masih kegirangan menerima uang emas.
" Sekarang untuk Ni Smara, tugasmu nanti malam melayani prajurit Cucak dengan sebaik-baiknya sampai ia mabuk kepayang. Bisa?"
Ni Smara tersenyum malu-malu, " Jangan khawatir, Raden. Itu sudah keahlian kawula. Setelah itu apa Raden akan menangkapnya?"
" Tidak, aku ingin menjebak dia dengan kesalahan yang lebih besar, baru menangkapnya. Bagaimana caranya aku serahkan padamu, yang jelas aku ingin mengorek keterangan darinya tentang siapa nama pimpinan tertinggi Baswara dan apa tugas penting yang harus ia lakukan esok malam. Sanggup kau, Ni Smara?"
" Tenang saja, aku siapkan, " Kusa memotong pembicaraan. " Kalau perlu aku juga punya bubuk jamu yang membuat orang gampang mabuk dan melantur."
" Campurkan saja langsung ke araknya, Kang Kusa, " sahut Ni Smara, " Itu bisa meringankan pekerjaanku."
Kidang Panah lega melihat mereka berinisiatif untuk kelancaran tugas tanpa menunggu perintahnya, " Tambahan lagi untuk Ni Smara, begitu Cucak mabuk kepayang, buatlah janji pertemuan terakhir saat ia keluar dari Baswara untuk tugas luar, seolah-olah kau jatuh cinta padanya dan ingin memberi layanan tambahan sebelum ia meninggalkan desa. Saat itulah aku akan menangkapnya."
" Sandika Dhawuh, Raden, " jawab Ni Smara yang sudah sangat berpengalaman membuat mabuk hati laki-laki.
" Ya sudah, sekarang kau boleh istirahat untuk persiapan nanti malam. Ini sekeping buatmu. Besok malam aku tambah lagi kalau kau laksanakan tugas tanpa kesalahan hingga si Cucak bisa kutangkap. "
Ni Smara tersenyum lebar menerima sekeping uang Ma emas, apalagi besok malam dijanjikan tambahan upah bila berhasil menjebak prajurit Baswara. Sungguh Kidang Panah seorang perwira yang sangat murah hati pada bawahannya.
Sementara Kusa melirik uang emas itu, Kidang Panah tersenyum, " Kau jangan iri, Kusa. Kau nanti juga akan kuberi tambahan upah begitu semua tugasku di desa ini selesai. Jangan khawatir tentang uang. Yang penting laksanakan tugas dengan baik, dan jangan pernah berpikir untuk mengkhianati kami. Aku paling senang membunuh pengkhianat."
__ADS_1
Kusa tergagap, " Tidak...tidak, Raden. Saya percaya dan takluk sepenuhnya pada Raden bertiga. Tidak mungkin ada pikiran khianat di antara kami."
***
Wanita penghibur yang pada masa itu disebut sebagai Jalir ( arti kata sebenarnya dari jalir adalah Genit, menggoda) bukan sekedar pekerja seksual. Meski pelayanan seksual nyaris selalu dituntut oleh pengguna Jalir, namun seorang Jalir minimal harus memiliki kemampuan menari dan olah suara untuk memikat hati pelanggan kelas tinggi. Jalir kelas tinggi bahkan memiliki kemampuan sastra dan kecerdasan yang tidak bisa dianggap remeh dalam memainkan intrik politik kekuasaan di masa Jawa kuno. Mereka tidak tampil sebagai wanita murahan, namun pemain politik yang menggunakan kombinasi kecerdasan dan daya tarik kewanitaan sebagai senjata dahsyat untuk menggapai tujuan. Legenda Roro Mendut merupakan salah satu ilustrasi kehebatan Jalir pada masa itu, sehingga menjadi rebutan para pembesar tanpa harus mengumbar layanan seksual secara gampang. Demikian pun tampaknya Ni Smara, ia seorang wanita cantik yang sangat cerdas, hanya kebetulan saja memiliki cara pandang yang berbeda dengan kebanyakan wanita pada jaman itu dalam menilai seksualitas. Ni Smara adalah pribadi bebas yang meski tidak lazim dalam pandangan norma yang berlaku secara umum, namun benar atau salah perilakunya, kita tidak berhak menghakimi. Yang jelas, malam itu ia melakukan tugas yang diberikan Kidang Panah dengan sebaik-baiknya sehingga memperoleh hasil yang sempurna.
Dari keterangan yang berhasil dikorek oleh Ni Smara saat prajurit Cucak dibuat mabuk kepayang, diperoleh kepastian persis seperti yang dipikirkan Julig, bahwa pemimpin tertinggi rumah benteng Baswara bernama Demang Anggana atau sering disebut Suranggana. Sedangkan tugas yang diemban oleh cucak esok malam tithi 9 Suklapaksa adalah mengantar surat rahasia dari Demang kepada seorang penghubung di Kotaraja.
Kidang Panah, Karna, dan Julig saling menatap. Tugas yang mereka emban sudah mendapat jalan yang benar. Bahkan lebih dari yang diharapkan, mereka sekaligus dapat menggagalkan usaha Demang Suranggana mengirim surat palsu yang kedua.
" Pasti itu surat palsu dengan cap Mahapatih, Kang, " bisik Julig.
Kidang Panah mengangguk.
" Ni Smara, kau tidak lupa kan membuat janji pertemuan dengan Cucak sebelum ia meninggalkan desa?" tanya Kidang Panah meyakinkan.
" Tidak, Raden. Kawula sudah sepakat membuat pertemuan dengan Cucak nanti malam di pondhok pari ( gubuk sawah) barat gapura batas desa. Dia senang sekali dan berjanji pasti datang."
Kidang Panah tersenyum lega, " Terima kasih, Ni Smara. Kau sangat berjasa pada kami. Nanti malam usai aku menangkap Cucak, akan ku beri kau uang lebih dari yang kujanjikan. Kalau kau mau, kau bisa menggunakan uang itu untuk membangun hidup baru, membangun rumah, berniaga atau beternak, apapun yang kau suka. Kau bisa menikah dengan laki-laki yang baik, atau kalau pun tidak, kau bisa hidup sendiri dengan modal uang itu."
" Terima kasih, terima kasih banyak, Raden, " sahut Jalir itu dengan luapan rasa gembira. " Kawula belum berpikir untuk rumah tangga, tapi itu pasti sangat berarti untuk orang tua dan adik-adik kawula."
" Terserah kau saja, " jawab Kidang Panah. " Sekarang kau istirahatlah. Nanti malam kita ke pondhok pari yang kau maksud."
Usai Ni Smara pamit untuk istirahat tidur, Kidang Panah menepuk-nepuk bahu Julig dan berkata, " Terima kasih, Anak Kancil. Sekali lagi kau telah mengantarkan kami ke tempat yang benar."
Julig tersenyum senang, " Saya bisa berpikir jernih karena bersama dengan dua kakang saya yang hebat."
***
Ilustrasi Rara Mendut, paduan kecerdasan dan kecantikan seorang Jalir.
__ADS_1