KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
41 DAHSYATNYA CHANDRA BIRAWA


__ADS_3

Panembah Swara ikut terkejut melihat penampakan Kidang Panah yang tiba-tiba berubah menjadi tiga orang. Ia langsung bisa menduga bahwa itu hanya ilusi sihir. Namun meski sudah tahu, Panembah Swara harus mengakui bahwa derajat ilmu sihir Kidang Panah sangat tinggi. Ia sendiri tidak mampu menentukan mana sosok Kidang Panah yang asli dan mana yang ilusi, apalagi murid-muridnya?


" Seraaaaaang.....!!!" pemimpin para siswa meneriakkan aba-aba.


Karna sesungguhnya sudah bersiap menerima serangan. Tiba-tiba pergelangan tangannya dicekal Kidang Panah. Karna segera tahu bahwa yang memegang tangannya pasti Kidang Panah yang asli. Rupanya Kidang Panah mengajak Karna melompat tinggi untuk menghindari serangan dan membiarkan dua manusia ilusi tiruan dirinya yang menghadapi serangan.


" Hiyaaaattt....!!!" Karna dan Kidang Panah melompat sehingga semua serangan luput. dari. sasaran.


" Craaattt...!!! Plak...!!! "


Dua orang yang serupa Kidang Panah tidak mampu menghindari serangan yang bertubi-tubi datang dari segala arah. Akibatnya mengerikan, tubuh dua orang itu tercacah-cacah.


Darah muncrat ke segala arah. Bercucur mengalir membuat lantai goa seketika berwarna merah menyeramkan.


Dua tubuh itu roboh terkapar meregang nyawa, mengeluarkan jerit kesakitan memanjang yang mendirikan bulu roma. Seketika para penyerang berteriak senang, ternyata semudah itu menyudahi perlawanan dua orang tambahan yang baru muncul.


Sementara kaki Karna dan Kidang Panah mendarat di belakang punggung para penyerangnya. Pasukan siswa Panembah Swara yang sedang mabuk kemenangan semu sejenak lupa pada Karna dan Kidang Panah yang melompati tubuh mereka. Para siswa menggeruduk tubuh dua orang yang terkapar dengan maksud memeriksa apakah mereka sudah mati atau belum.


Melihat para siswanya seperti akan mencincang habis lawan yang sudah tidak berdaya, seolah-olah Panembah Swara mengibaskan tangannya, mungkin maksudnya mengingatkan agar tidak melanjutkan menyerang orang yang sudah tidak berdaya namun harus lebih memperhatikan dua orang yang sudah ada di belakang mereka.


Namun, belum sempat Panembah Swara meneriakkan peringatannya, tiba-tiba terlihat ada kehebohan terjadi pada para siswa yang mengerumuni dua tubuh terkapar itu.

__ADS_1


Dua tubuh yang semula terkapar perlahan bangun terduduk. Darah yang mengucur deras dan membasahi lantai mendadak bergerak-gerak membentuk kumpulan darah dalam bentuk lingkaran-lingkaran kecil. Saat dua orang itu sudah duduk sempurna, darah yang mengucur perlahan makin melambat lalu berhenti sepenuhnya. Dan bersamaan dengan berhentinya kucuran darah, mendadak seluruh luka bacok dan tusuk yang menganga menutup sendiri. Sekejap kemudian tubuh mereka kembali utuh bugar seperti tidak pernah terluka sedikitpun.


Belum habis rasa heran atas pulihnya tubuh dua orang yang dikira sekarat itu, lingkaran-lingkaran darah yang bergumpal tiba-tiba mengeluarkan asap hitam pekat berputar-putar. Putaran asap itu kian cepat dan tebal, setebal ukuran tubuh manusia dewasa. Begitu mencapai ketebalan tubuh manusia, asap itu berhenti berputar, bergerak sangat perlahan membentuk ujud serupa manusia. Benar-benar serupa manusia sehingga seperti patung dari batu hitam. Makin pejal, memadat, benar-benar seperti patung.


Tiba-tiba, asap berbentuk patung itu meledak sehingga asapnya hilang membuyar, dan yang tertinggal adalah Kidang-Kidang Panah baru! Ada 10 Kidang Panah baru yang tercipta dari muncratan darah dua orang yang kini juga sudah pulih. Jadi sekarang ada 12 sosok Kidang Panah tiruan, ditambah 1 Kidang Panah asli, sehingga musuh yang dihadapi pasukan murid Panembah Swara adalah 14 orang. 13 Kidang Panah dan seorang Karna yang sangat sakti!


" Jagad Dewa Bathara!" pekik murid-murid Panembah Swara.


Dua belas orang Kidang Panah tiruan menerjang bersamaan dengan gerakan sembarangan. Akibatnya, pasukan Panembah Swara panik. Karena terjangan manusia-manusia tiruan Kidang Panah memang sengaja diatur sembarangan oleh Kidang Panah agar gampang diserang, maka sekali tebas, tubuh mereka terluka, mengucur darah sampai terbelah.


Namun akibatnya sangat fatal. Tiap ceceran darah dan bagian tubuh yang terpenggal seketika meledak di udara menciptakan manusia baru lagi yang menerjang lagi dengan sembarangan. Dibacok lagi, keluar darah lagi, menjelma makhluk baru lagi. Dari 12 jadi 24, 48, 96, dan terakhir 500 orang.


Kini posisi kekuatan jumlah pasukan justru berbalik. Bukan pasukan Panembah Swara yang mengepung Karna dan Kidang Panah, justru 500 pasukan tiruan Kidang Panah yang mengepung pasukan Panembah Swara.


Begitu melihat ajian Chandra Birawa Kidang Panah sudah sepenuhnya menguasai pikiran pasukan Panembah Swara sehingga mereka kehabisan cara untuk menghadapi, Karna yang mengikuti terus gerakan Kidang Panah yang asli segera melompat mendekati Kidang Panah, " Bisa saya tinggalkan sekarang, Kang?'


" Iya, sekarang saja kau tangkap Panembah Swara. Aku belum bisa meninggalkan perang ini. Aku harus terus berada dekat di antara mereka agar kekuatan ilusi Chandra Birawa tidak pudar."


Karna mengangguk paham.


Sementara di atas stalagnit, Panembah Swara justru menunjukkan sikap aneh. Ia seperti tetlena ikut tenggelam menyaksikan kedahsyatan peragaan ajian legendaris Chandra Birawa milik Prabu Salya panglima besar Kurawa yang dipikirnya sudah punah ribuan tahun yang lalu. Tak disangkanya, ajian langka itu muncul di depan matanya dengan penyempurnaan yang mungkin saja prabu Salya sendiri tidak bisa melakukan itu.

__ADS_1


Panembah Swara sama sekali tidak menyadari karena asiknya menyaksikan kehebatan ilmu sihir Kidang Panah, sebuah bahaya nyata dari kesaktian yang nyata sedang mengintainya. Itu adalah mata Karna, satria yang memiliki kemampuan bela diri dari hasil olah gerak tubuh manusia sesungguhnya dan olah tenaga murni tanpa campur tangan makhluk-makhluk ghaib selain kesadaran rohani yang dipupuk oleh Mpu Angalas, pewaris sampradaya (turun ajaran) yang mulia Maha Yogi Mpu Bharada, sang pembelah kerajaan Kadhiri dan Jenggala, sang penyempurna jalan kematian Nyi Calon Arang, ratu dari segala ratu ilmu hitam, ratu segenap Tantra Bhirawa yang jalur ritualnya diambil oleh Mpu Kuricak, guru dari Kidang Panah


" Zuuuutttt...!!! Tap...!!! " Kaki Karna sudah mendarat di puncak stalagnit tepat di depan stalagnit tempat Panembah Swara bersila.


Panembah Swara tersentak dari keasikannya.


" Kau kenapa kemari, Bocah Sombong?" ujarnya.


" Sudah kami sampaikan sejak awal, Bapa Guru Panembah Swara. Kedatangan kami hanya ingin memohon sobekan surat milik kami. Mohon tidak dibuat rumit urusan kita."


Panembah Swara tersenyum pendek. Tanpa mengucapkan kata sepatah pun ia menjejak kaki dan melompat ke puncak stalagnit berikutnya.


Karna yang bertekad harus memperoleh sobekan surat Gajahmada hari ini juga tidak mau membiarkan Panembah Swara lolos begitu saja. Ketika melihat kaki Panembah Swara ingin melompat lagi, Karna segera menduga arah puncak stalagnit mana yang akan dituju.


Secepatnya Karna mengarahkan daya Tapak Dahana puncak stalagnit berikutnya.


" Braaaakkkk...!!!"


Puncak stalagnit yang akan dituju Panembah Swara pecah berantakan oleh tembakan Tapak Dahana Karna.


Panembah Swara terkesiap. Ia pernah merasakan dahsyatnya pukulan Karna sehingga pakaiannya terbakar. Ia tidak berani bermain-main dengan kekuatan Karna.

__ADS_1


Namun, Panembah Swara juga berotak cerdas. Matanya menatap sekeliling. Ia tahu ada jalan lain untuk melepaskan diri dari kejaran Karna selain melompat dari satu puncak stalagnit ke puncak yang lain.


***


__ADS_2