
Senja datang, malam hampir jatuh sempurna ke atas desa Cunggrang, semua rencana telah terancang, tinggal pelaksanaannya saja.
Meski penyusunan taktik penyerangan tunggal oleh Karna dilakukan dalam suasana penuh kegelisahan sambil terus memantau kondisi kesehatan Julog, namun Dua Ksatria berhasil merancang cara pertempuran paling efektif. Karna akan membereskan para prajurit secepat-cepatnya dengan cara memancing mereka semua keluar dari ruang bawah tanah setelah menghancurkan tuas pembuka pintu. Dan itu akan dilakukan dengan cara membuat serangan 'palsu' dari luar benteng dibantu oleh 10 kawanan Coglok. Kawanan Coglok menerima tugas itu dengan senang hati karena akhirnya mendapat kesempatan membalas sakit hati telah dipecundangi prajurit Baswara saat memulai pembangunan benteng.
" Begitu aku sudah masuk banteng, kakang semua sembunyi di hutan agar jangan sampai ada yang tertangkap prajurit Baswara. Aku tidak punya waktu untuk membebaskan kalian kalau sampai itu terjadi, " ujar Karna memberi arahan tugas pada kawanan Coglok.
" Maaf, Raden. Maksudnya Raden akan melawan ratusan prajurit Baswara sendirian?" tanya Coglok menegaskan lagi apa yang ia dengar karena menurutnya tidak masuk akal seorang diri melawan ratusan prajurit terlatih.
" Iya. Tugas kalian hanya memancing mereka semua ke luar dari ruang bawah tanah dengan serangan palsu panah api dan gedoran-gedoran dari arah yang berlawanan dengan kedatanganku. Karena aku akan melompat dari Barat Laut, berarti kang Coglok dan teman-teman membuat serangan palsu dari arah Tenggara. Ada pertanyaan lain?"
Coglok dan kawanannya menganga, tak percaya karena tidak mampu membayangkan cara seseorang melawan ratusan prajurit bersenjata lengkap. Namun karena perintah itu jelas dan mereka tidak salah dengar, mereka hanya bisa mengangguk-angguk sembari tidak sabar menyaksikan keajaiban yang akan terjadi nanti malam." Tidak ada pertanyaan lagi, Raden..."
" Baik, silahkan kang Coglok dan kakang semua mempersiapkan anak panah api, obor untuk menyalakan, dan balok kayu besar untuk menggedor pagar. Oh iya, jangan lupa siapkan dua karung besar pasir kasar untukku. Sekarang tinggalkan kami. Saya dan Kang Kidang akan bicara sendiri, " sahut Karna.
Setelah kawanan Coglok meninggalkan ruangan untuk mempersiapkan peralatan, Kidang Panah berucap lirih, " Kau benar-benar siap melakukan pertarungan hidup mati, Karna?"
Karna tersenyum datar, " Kita semua siap hidup, tetapi juga tidak takut mati. Hidup atau mati yang terpenting adalah tujuan yang kita bawa. Jika memang Negara membutuhkan itu, tidak ada satupun yang tidak aku berikan. Apa yang akan kutempuh tidak berbeda dengan apa yang sedang dijalani oleh Julig. Bukankah ia juga sedang dalam pertarungan hidup mati?"
" Kau minta dua karung pasir untuk apa?"
" Aku akan membuat badai pasir dengan Bayu Bajra. Ini memang tidak melukai, tapi bisa membuat ratusan orang buta sesaat."
Kidang Panah mengangguk paham, " Cerdik sekali. Dalam hal menyusun siasat pertarungan, kau secerdas Julig. Baiklah, aku akan menyusulmu ke Baswara tepat tengah malam, " gumam Kidang Panah.
" Tidak perlu, Kang Kidang harus menjaga Julig. Percayalah, aku bisa mengatasi ini."
Kidang Panah tersenyum getir, " Tepat tengah malam nanti, bungkus tanah liat Yamadipati sudah hancur sempurna, sehingga racunnya akan terserap seluruhnya di aliran darah Julig. Saat itu tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Sembuh, atau Julig pergi selamanya dari kita..."
Dada Karna berdesir perih mendengar kalimat terakhir Kidang Panah. " Julig tidak akan pernah pergi dari kita dengan cara seperti ini, Kang. Bathara Yamadipati tidak akan kujjinkan mencabut nyawanya!"
Kidang Panah menepuk-nepuk pundak Karna.
" Saya semadhi sebentar untuk persiapan berangkat, Kang, " kata Karna sembari bangkit berdiri untuk melakukan puja ( doa ) dan meditasi menata hawa murninya.
***
Malam kembali mengunjungi desa Cunggrang, Purnama yang sudah mendekati bulat sempurna berpendar-pendar indah. Seharusnya semua hati riang menyambutnya, dengan bercengkrama berbagi cerita kehidupan. Namun tidak bagi Tiga Ksatria, terutama Karna dan Kidang Panah yang harus menunaikan tugas Negara, dengan kesempatan terakhir. Jika malam ini gagal, semua perjalanan jauh, pertempuran yang melelahkan, dan pertaruhan nyawa Julig tidak berarti sama sekali.
Karna sudah berlutut sambil berbisik di telinga Julig untuk mohon diri.
" Adhiku Julig, kakangmu Jaka Wingit berangkat dulu. Kau kini sedang ada di pelukan Dewata, namun kutahu mata batinmu melihat kami, dan telingamu mendengar suaraku. Aku dan kakangmu Kidang Panah berjanji akan membawamu ke tempat yang paling kau suka, Kotaraja Majapahit. Tapi aku tidak sudi membawamu ke sana dalam ujud raga tanpa nyawa. Nanti tengah malam bangunlah, akan kuberi kau hadiah berupa kemenangan atas Baswara dan Demang Suranggana. Setelah itu kita akan bersama-sama ke Kotaraja. Dan kau bisa bersenang-senang di sana sepuasmu."
__ADS_1
Kidang Panah menghela napas panjang berulangkali mendengar bisikan Karna.
" Aku berangkat, Kang Kidang. Rahayu...." ujar Karna setelah usai berpamitan pada Julig.
" Jaya Jaya Wijayanti..." jawab Kidang Panah.
***
Coglok dan kawanannya berangkat naik kuda, sementara Karna memutuskan mendahului mengambil jalan pintas dengan lari melompat di antara pucuk-pucuk pohon dan wuwungan rumah penduduk.
10 orang kawanan Coglok melongo melihat Karna berkelebat sebagai bayangan yang hanya dalam waktu beberapa kejap mata telah lenyap ditelan hutan.
" Raden Jaka Wingit ini manusia atau bukan? " desis Coglok sambil mengusap-usap matanya yang dikiranya sedang bermimpi.
" Ternyata memang ada orang yang kesaktiannya seperti itu ya, Kang? Pantas saja dia berani mau melawan seluruh prajurit Baswara," sahut seorang anak buah Coglok.
" Untung kemarin kita tidak jadi berkelahi melawan mereka. Kalau mereka benar-benar marah, pasti kita semua sudah mati. Aaahhh...aku tidak sabar melihat ia menghabisi seluruh prajurit Baswara yang congkak itu. Ayo percepat lari kudanya!"
***
Karma sudah menunggu di sisi Tenggara benteng Baswara saat 10 orang kawanan Coglok datang. Dengan cepat mereka membagi dua tugas. 5 orang menyiapkan panah api untuk ditembakkan ke dalam benteng secara acak, sedang 5 yang lain mengangkat balok-balok kayu untuk didobrak-dobrakkan ke pagar agar terkesan ada serbuan pasukan dalam jumlah besar.
Setelah panah berapi sudah terpasang di busur, dengan masing-masing busur memuat 3 panah sekaligus, Karna memberi isyarat," Tunggu sebentar, jangan ditembakkan dulu panahnya, biar aku yang memulai membuat keributan besar. Begitu aku bilang serang, langsung lepaskan secara acak ke segala arah sambil bersorak-sorai seriuh-riuhnya. Ingat, jangan terlalu lama membuat keributan. Kalian harus cepat-cepat lari sembunyi begitu dengar ada keributan di benteng sebelah Barat Laut. Karena berarti aku sudah masuk ke dalam. Jangan sampai ada yang tertangkap."
" Hiyaaaatttt....!!!"
" Braaaakkk....!!! Braaaakkk....!!! Braaaakkk...!!!'
Pukulan Tapak Dahana menghantam pagar kayu berkali-kali sehingga menimbulkan getaran yang berjalan menggetarkan pagar kayu keras yang saling berhubungan.
Dampak panas yang keluar dari pukulan api Karna membuat pagar tenggara benteng berasap tebal seperti akan terbakar.
Karna memegang pagar yang telah berasap dan menyalurkan tenaga api sehingga tangannya berubah menjelma warna bara.
" Zzzzzz....wuuuuuuzzzz....!"
Pagar tenggara benteng menyala terbakar daya Tapak Dahana. Mata kawanan Coglok terpana melihat lengan Karna yang membara dan api mulai menyambar pagar benteng.
Bersamaan dengan itu, kentongan tanda bahaya berbunyi bertalu-talu.
Terdengar suara gemuruh pintu ruang bawah tanah terbuka disusul oleh munculnya ratusan prajurit yang terkejut melihat pagar benteng sebelah Tenggara terbakar. Segera mereka pontang-panting berusaha mendekat.
__ADS_1
" Seraaaaangggg....!!! " seru Karna.
" Slaaapp....Slaaapp...Slaaapp...!!! belasan anak panah berapi menerobos masuk benteng, susul menyusul karena terus disambung anak panah api yang lain begitu terlontar sehingga seolah-oleh serangan dilakukan oleh prajurit dalam jumlah besar.
" Braaaakkk.....Braaaakkk...!!!" Balok kayu dibentur-benturkan ke pagar untuk membuat kesan serbuan massal.
" Huuuuuu....seraaaanggg.... hancurkaaannn....bunuh semuaaaa....!!!" Sorak kawanan Coglok saling menimpali.
Karuan saja seisi benteng panik menyangka ada serbuan musuh dalam jumlah besar dari Tenggara.. Namun mereka tidak berani gegabah terlalu maju karena terjangan panah api datang tanpa henti. Hanya saja, karena menyangka ada serbuan pasukan besar, seluruh prajurit diperintahkan keluar dari ruangan bawah tanah sehingga berkumpul sekitar 500 orang. Perhatian mereka semua hanya arah Tenggara, tidak menyadari bahwa serangan sesungguhnya akan datang dari belakang, arah Barat Laut tempat Karna sudah hampir sampai setelah bergerak mengitari benteng.
" Tap...!" Karna mendarat tanpa suara di pojok Barat Laut benteng. Karena 500 orang prajurit sedang menyiapkan serangan balasan atas serangan palsu di sebelah Tenggara.sehingga semua mata menatap ke satu arah, tak seorangpun menyadari bahwa Karna, musuh yang sebenarnya sedang berjalan di belakang mereka menuju tuas pengunci ruang bawah tanah.
Dengan menyibak rerimbunan pohon bunga, tuas kunci itu terlihat. Tuas besi itu berukuran panjang kira-kira 1 depha ( 2 meter) sebesar ukuran paha orang dewasa, sehingga wajar menurut cerita Cucak, untuk menariknya diperlukan tenaga 5 orang prajurit yang sangat kuat. Namun tenaga 5 orang prajurit terlalu kecil untuk seorang Karna.
Dengan sekali sentak, tuas besi ditarik ke atas, kemudian diputar ke arah berlawanan sehingga mendorong bilah-bilah didalam tanah untuk mengunci pintu ruang bawah tanah.
" Krrrrr.......Braaaakkk... Bluuummm!!"
Terdengar suara besi saling bergesekan di susul suara dentuman pintu yang terkunci.
Suara dentuman pintu yang tertutup mengagetkan prajurit Baswara yang sedang mempersiapkan serbuan ke arah Tenggara. Seketika mereka menoleh ke belakang dan melihat sosok Karna sudah berdiri menginjak tuas pintu bawah tanah. Para perwira dan prajurit Baswara segera sadar, bahwa mereka telah tertipu!
Melihat prajurit Baswara sudah menyadari keberadaannya, Karna bergerak cepat menghantam tuas pintu agar rusak tidak bisa digunakan lagi untuk membuka ruang jebakan.
" Hiyaaaatttt.....!!!"
" Blaaaarrr.....!!!" bunga api memercik dari benturan dahsyatnya pukulan Tapak Dahana yang dikerahkan dengan tenaga penuh.
Tanah sedikit berguncang terhantam tenaga panas raksasa yang timbul dari Tapak Dahana ganda karena pengaruh ajian Sapu Jagad yang juga telah aktif.
" Klak...!!!" Sambungan tuas pengunci patah sehingga tidak bisa digunakan lagi untuk menutup pintu.
" Siagaaaaa....!" teriak Bekel prajurit yang sekarang tanpa gigi setelah dihantam oleh Kidang Panah pada akhir pertarungan 3 hari yang lalu. Ia sebenarnya takut menghadapi Karna untuk kedua kalinya karena mengetahui Karna jauh lebih sakti daripada Kidang Panah.
" Kepung! Gelar Supit Urang! " seru Bekel dengan panik.
Karna tersenyum membiarkan prajurit Baswara mengepungnya. Karena memang yang diinginkan Karna. Dengan kondisi terkepung, badai besar yang sudah ia siapkan akan menerpa mereka tanpa sisa!
Sementara di luar benteng, Coglok dan kawanannya sudah menghentikan serangan palsunya karena mendengar kegaduhan besar sudah terjadi di dalam benteng. Namun, bukannya lari sembunyi sebagaimana yang diperintahkan Karna, justru 10 jawara desa itu penasaran ingin menyaksikan jalannya pertempuran seorang Raden Jaka Wingit melawan 500 orang prajurit.
Kawanan Coglok memanjat pagar benteng untuk turut menjadi saksi pertarungan ajaib yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.
__ADS_1
***