
Cucak tidak selemah yang dibayangkan. Jiwanya kuat, pikirannya teguh dalam memegang prinsip. Meski ia mulai merasakan bahwa 3 orang yang menahannya bukan orang jahat, tetapi untuk masalah keprajuritan yang menyangkut nasib Negara, ia sama sekali tidak bersedia berbagi informasi. Baik Karna yang dengan cara halus maupun Kidang Panah yang tegas disertai ancaman telah minta Cucak untuk membongkar rahasia pintu ruang bawah tanah di sekeliling rumah utama, namun Cucak tetap tidak bersedia.
" Saya tahu, posisi saya lemah. Saya tawanan Tuan di sini. Tapi saya ini prajurit. Sampai matipun saya tidak akan mengkhianati sumpah setia pada Negara saya, Bhumi Majapahit."
" Heh, Cucak!" bentak Kidang Panah. " Siapa yang minta kau mengkhianati Negaramu? Aku hanya minta rahasia ruang bawah tanah itu. Paham?"
Cucak menundukkan kepala enggan menentang tatapan tajam Kidang Panah. Namun ia tetap menjawab tegas, " Mohon maaf, saya tidak tahu Tuan ini prajurit mana. Kalau Tuan benar-benar prajurit Majapahit, apalagi pasukan Bhayangkara, pasti sejak pertama memperlihatkan lencana prajurit. Tapi Tuan berdua tidak bisa menunjukkan itu. Sedang saya benar-benar prajurit Majapahit yang sedang ditugaskan di benteng Baswara. Menyerahkan rahasia benteng itu sama artinya dengan mengkhianati Negara, karena Baswara adalah bagian dari Majapahit. Membela Baswara sama juga membela Majapahit. Lebih baik saya mati daripada hidup sebagai pengkhianat!"
" Omong kosong kau, Cucak! Demang Suranggana itu yang pengkhianat!"
" Tidak mungkin, pengukuhan Gusti Demang dikuatkan oleh surat yang ditandatangani sendiri oleh Maharatu Tri Buana Tunggadewi. Semua perwira prajurit Baswara membaca surat pengukuhan itu."
Kidang Panah menggeram. Kemarahannya menggetar naik ke kepala. Tangan kanannya menggenggam rapat seperti ingin menghantam hancur kepala Cucak. " Ini terakhir. Bantu aku atau kubunuh kau!"
" Maaf, sampai matipun saya tidak akan bersedia mengkhianati Negara....'
Tangan kanan Kidang Panah sudah terangkat, sedang tangan kirinya masih menyalurkan tenaga ke tubuh Julig. Akibatnya, Julig tersengat aliran hawa yang terlalu deras.
" Uhuuukkk....!!! " Julig terbangun dari kondisi komanya. Kidang Panah segera sadar telah mengirim tenaga berlebihan sehingga membangunkan Julig.
" Maaf, Anak Kancil. Aku tidak bermaksud mengganggu tidurmu, " ucap Kidang Panah menyesal.
Bibir Julig bergerak-gerak seperti ingin bicara. Kidang Panah menatap mata Julig, " Kau ingin bicara, Julig?'
" Iya...iya, Kang..." sahut Julig sangat lirih.
Kidang Panah mendekatkan telinganya ke bibir Julig untuk mendengar bisikannya, " Ceritakan
..saja... semuanya. Biar Cucak...baca... sendiri...dua surat itu. Surat penugasan... dari Mahapatih...dan surat palsu dari Demang....."
" Ya, Julig, " jawab Kidang Panah, sementara mata Julig terpejam lagi setelah membisikkan pesannya.
Kidang Panah mengatur napas untuk menekan kemarahannya, kemudian perlahan menceritakan tugas yang diembannya atas perintah langsung Mahapatih Gajahmada. Usai bercerita, ia sodorkan dua surat kepada Cucak.
" Ini surat penugasanku dan surat palsu dari Demang Jahanam itu. Kau baca sendiri, agar tahu bahwa kalian semua sudah ditipu oleh dia. Bahkan Gusti Ratu pun ditelikung."
Dengan seksama Cucak membaca dan meneliti keaslian bahan surat, gaya tulisan, dan cap Mahapatih Gajahmada. Sepanjang ia menelaah dua surat itu, sorot mata dan raut wajahnya berubah-ubah, antara sedih, kaget, tak percaya, dan marah.
" Duh Jagad Dewa Bathara.... hamba tidak menyangka ini yang terjadi..." desis Cucak setelah usai membaca dua surat itu.
Karna yang sedari tadi diam membuka suara, " Bagaimana? Apa kang Cucak bersedia membantu kami?'
Cucak menatap mata Karna yang teduh. Perlahan-lahan tangannya terangkat, membentuk sikap hormat, " Untuk Bhumi Majapahit, saya bersedia membantu mengenyahkan Demang Pengkhianat itu. Setelah membaca suratnya, saya percaya pada Raden bertiga."
Karna membalas hormat dengan mengatupkan telapak tangan, " Terima kasih, Kang Cucak. Kakang benar-benar prajurit Majapahit sejati."
__ADS_1
Sementara Kidang Panah menatap wajah Julig yang kembali memasuki alam koma. " Bahkan dalam sekarat pun, kau masih memegang kunci keberhasilan tugas ini. Terima kasih, Anak Kancil."
***
Dari keterangan Cucak, ternyata kunci pintu masuk bawah tanah adalah tuas besi yang ditanam di pojok barat laut benteng disamarkan rimbun tetumbuhan bunga. Bila tuas besi itu ditarik, ruang panah bawah tanah akan terkunci sekaligus mematikan alat panahnya.
" Apalagi yang kau butuhkan untuk rencanamu, Karna?" tanya Kidang Panah
" Saya butuh bantuan kawanan Coglok untuk mengalihkan perhatian sebelum saya menerobos benteng dari sisi barat laut."
" Malam ini juga?"
Karna tidak segera menjawab. Ia menoleh untuk melihat kondisi Julig. Hatinya masih berharap ada keajaiban datang. Rasanya sangat berat meninggalkan Julig.
" Saya boleh menunda sampai besok malam, Kang?"
Kidang Panah mengerutkan alisnya, " Kenapa? Besok itu hari terakhir sebelum puncak purnama. Berarti tidak boleh ada kegagalan sedikitpun."
Karna menghela napas panjang, " Pikiran saya kacau kalau ingat keadaan Julig, Kang. Besok adalah hari ketiga, siapa tahu jamu yang diminum sudah berdampak baik pada jantungnya?"
" Maaf, Karna. Bukannya ingin mematahkan harapanmu, tapi kita lihat kenyataan. Andai saja jamu itu memang tidak bisa menyembuhkan luka dalam, apa kau punya pilihan lain?"
Karna menatap Kidang Panah. Bibirnya mengembang senyum pahit, " Saya belum punya bayangan lain, Kang. Entahlah ..."
" Kang Kidang apa punya pilihan lain?" tanya Karna.
" Besok pagi saja kita bicara lagi. Intinya apapun yang terjadi besok, kau tetap berangkat ke Baswara kan?"
" Iya, Kang."
" Ke Baswara siang atau malam?"
" Malam, Kang. Memanfaatkan gelap. Ini penting terutama untuk pengalihan perhatian yang akan dilakukan oleh kawanan Coglok sebelum saya masuk benteng."
" Ya, sudah. Sekarang kau suruh Kusa menghubungi kawanan Coglok untuk berkumpul ke sini besok siang setelah kondisi Julig jelas."
***
Pagi datang, hari penentuan tiba bersamaan antara nasib Julig dan perjanjian untuk mendapatkan kembali cincin cap Mahapatih.
Karna dan Kidang Panah memeriksa perkembangan kesehatan jantung dengan wajah serius. Bersamaan mereka mengalirkan tenaga untuk mendeteksi kelancarannya. Ketika aliran hawa murni melewati jantung, dua-duanya saling menatap.
Karna menggelengkan kepala dengan raut wajah putus asa, " Masih berhenti di jantung, Kang. Tidak ada kemajuan sama sekali...." kata Karna lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan lemas.
Kidang Panah menggenggam tangan Julig, " Maafkan aku, Anak Kancil. Terpaksa aku gunakan cara terakhir."
__ADS_1
Karna mendengar ucapan Kidang Panah dan menatap heran," Apa maksudnya dengan cara terakhir, Kang?"
Kidang Panah memberi isyarat tangan pada Karna untuk mendekat. Karna paham, ada sesuatu yang sangat penting namun tidak perlu didengar oleh Julig, sebab dalam kondisi antara hidup dan mati, kadang Julig masih bisa menangkap pembicaraan orang di sekitarnya.
Setelah Karna duduk di sampingnya, Kidang Panah membuka lipatan kain sabuknya. Dari lipatan sabuk itu dipungutnya sebutir pil yang bersalut tanah liat kering sebesar kacang.
" Guruku menamakan ini jamu Yamadipati, dewa pencabut nyawa. Karena dengan jamu ini semua nyawa bisa dicabut, sekaligus bisa gagal tercabut bila memang belum saatnya mati. Mpu Kuricak juga menyebut ini sebagai jamu pepesten, artinya jamu dengan kemungkinan pasti; Mati atau Sembuh. Didalamnya ada 9 jenis racun dari 9 binatang paling mematikan di dunia. Makanya berbalut tanah liat kering, karena ia tidak boleh diserap tubuh secara seketika karena kuat racunnya. Kalau sampai tanah liatnya pecah di mulut atau di perut, kadar racun yang sangat besar akan membunuh seketika orang yang meminumnya. Ia harus masuk ke perut dalam keadaan utuh seutuh-utuhnya, sehingga penyerapannya selaras dengan pencernaan, dan kadar racunnya menetes sedikit-sedikit sesuai daya tahan tubuh manusia. Jika ada salah sedikit saja, peminum jamu ini pasti mati. Namun bila ia tercerna secara alami sesuai waktu lumernya tanah liat, kombinasi 9 racunnya akan menjadi obat untuk semua luka dalam. Luka apapun, termasuk jantung yang sobek."
" Jadi Kang Kidang akan memberikan jamu beracun ini pada Julig?"
Kidang Panah menatap mata Karna, " Sekarang kau lihat kondisi Julig. Apa menurutmu masih ada harapan sembuh dengan cara biasa? Kalau kau masih mempunyai pilihan lain, aku serahkan. Aku juga tidak ingin berjudi di atas nyawa Julig. Tapi kalau tidak ada lagi cara lain, apa boleh buat. Itupun hanya kulakukan bila kau mengijinkan..."
Karna menatap wajah Julig yang pucat. Sudah 3 hari 3 malam Julig terbaring tak sadar, hanya terbangun sebentar untuk minum jamu setelah diberi sentakan tenaga. Tapi sentakan tenaga tidak boleh terlalu sering dilakukan. Dampak jangka panjangnya akan merusak organ dalamnya. Paling lama cara seperti itu hanya bisa dilakukan selama sepekan. Sedang ini sudah memasuki hari ketiga. Bagaimanapun harus diambil tindakan yang lain, meski ujudnya sebuah perjudian nyawa.
" Aku tidak memiliki pilihan, Kang Kidang. Sentakan tenaga untuk membangunkan Julig juga sudah harus dihentikan sebelum tubuh bagian dalamnya justru rusak karenanya. Aku berserah pada usaha Kang Kidang."
" Jangan berserah padaku, justru aku minta ijinmu untuk memberi Julig jamu Yamadipati."
Kembali Karna menatap wajah Julig. Sambil memejamkan mata dan membatin memohon ukuran pertolongan Sanghyang Widhi, Karna mengucap lirih, " Aku setuju dan mengijinkan, Kang."
Kidang Panah menyentakkan tenaganya untuk membangunkan Julig.
Julig terbangun dan membuka mulutnya seperti hari-hari biasa saat harus minum jamu.
" Jangan kunyah butiran jamu ini ya, Anak Kancil, " ucap lirih Kidang Panah dengan suara bergetar. " Telan saja dan kembalilah tidur."
Julig menelan butiran jamu yang berisi 9 racun terganas itu. Masuk ke dalam tubuhnya, menunggu kepastian apa yang akan terjadi paling lama hingga tengah malam menjelang.
Setelah pil jamu itu tertelan sempurna dan Julig kembali tertidur, perlahan Karna bertanya, " Sepengetahuan Kang Kidang, berapa orang yang pernah minum jamu Yamadipati? Berapa orang yang sembuh, dan berapa yang mati?"
Kidang Panah menggelengkan kepalanya sebelum menjawab dengan suara sangat berat, " Menurut guruku, jamu ini pernah diminumkan kepada 5 orang. Satu orang berhasil sembuh setelah terajam 2 anak panah yang merobek jantung dan ususnya. Ia sembuh tepat 1 hari setelah minum Yamadipati."
" Dan yang 4 orang bagaimana, Kang?"
" 4 orang itu tidak bisa diselamatkan. Mereka mati dalam waktu setengah hari."
Tubuh Karna seketika lemas kehilangan semangat mendengar jawaban Kidang Panah.
Pada saat bersamaan terdengar salam, " Sampurasun...."
Lalu 10 orang kawanan jawara Desa Cunggrang yang dipimpin oleh Coglok memasuki kedai memenuhi panggilan untuk membantu persiapan Karna menyatroni benteng Baswara seorang diri nanti malam.
Saat itu hari tepat wayah Wisan Gawe ( tengah hari ), matahari bertengger di puncak kepala dengan pancaran sinar terpanasnya.
***
__ADS_1