KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
63 PARA ALAS KAKI NEGARA


__ADS_3

Hari kedua berlalu, kondisi jantung Julig tak juga ,membaik. Baik Kidang Panah maupun Karna tidak mampu menyembunyikan gelisahnya. Sementara mereka masih harus membagi waktu bergantian mengalirkan hawa murni, di sisi lain mereka harus memikirkan strategi untuk merampas cincin cap Mahapatih sebelum bulan Purnama. Padahal itu tinggal dua hari lagi! Artinya, rencana Karna untuk berperang sendiri menghadapi ratusan prajurit Baswara yang bersenjata lengkap ditambah Demang Suranggana sendiri yang belum pernah muncul sehingga kekuatan pribadinya belum terukur harus dijalankan.


Karna yang sudah pernah menghadapi ratusan prajurit dan menghapal bentuk benteng sudah mampu mereka-reka titik-titik yang harus diserang dan ajian apa yang akan digunakan. Tapi Demang Suranggana yang secara pribadi belum muncul tidak bisa diduga kekuatannya. Bisa saja rancangan Karna berhasil menaklukkan ratusan prajurit, tapi bagaimana kemungkinannya saat menghadapi Demang Suranggana? Kalau ia memiliki kesaktian sekelas Panembah Swara, Karna yakin bisa menghadapi sendiri mengingat dampak kebangkitan meteor Sapu Jagad sangat membantunya. Namun bagaimana jika Demang Suranggana memiliki kesaktian yang sangat tinggi? Bukankah di atas langit masih ada langit? Apalagi mengingat kecerdasan Demang Suranggana dalam menata pertahanan dan jebakan ruang bawah tanah demikian dahsyat, tidak mungkin Demang Suranggana orang sembarangan.


" Kukira Demang Suranggana jauh lebih berbahaya daripada Panembahan Swara, Kang, " ujar Karna saat minta pertimbangan Kidang Panah.


" Iya, aku yakin begitu. Caranya merancang pertahanan benteng menunjukkan dia jelas ahli perang. Aku tak tahu mengapa dia hanya bergelar Demang, penguasa wilayah di bawah Kabupaten. Padahal secara kemampuan menata keprajuritan, dia setara Senapati atau bahkan Rakryan Tumenggung. Lagipula, nyaris mustahil ada seorang Demang yang berani menantang Mahapatih. Terlalu jauh tingkatnya, seperti Bumi dan Langit. Kamu harus sangat berhati-hati menghadapi dia, Karna. Perasaanku mengatakan, dia setingkat Raja Muda yang menyamar. Atau lebih. Yang jelas, niatnya sangat buruk pada Negara!" ( Keterangan; Senapati setara dengan Kepala Staf Angkatan , sedang Rakryan Tumenggung setara dengan Panglima Tentara )


" Ya, Kang. Kalau dilihat dari isi surat palsu yang dibuatnya, ini jelas gerakan makar yang sangat besar. Seorang Demang tidak mungkin memiliki pikiran sebesar itu. Berani berpikir seperti itupun rasanya mustahil," Karna menyetujui pemikiran Kidang Panah.


" Lalu apa kau sudah punya cara mengalahkan dia, Karna? Semalam kau sudah dapatkan caranya belum?"


" Gambaran kasarnya sudah, Kang. Tapi masih ada satu hambatan."


" Apa?"


" Begini, Kang. Kalaupun nanti saya bisa melumpuhkan semua prajurit Baswara, yang akan kuhadapi tetap sama. Aku tetap tidak bisa masuk ke rumah utama tanpa terperangkap di ruang panah bawah tanah, karena sekuat-kuatnya aku melompat tidak mungkin melampaui 5 depha ( 10 meter) sekali lompat. Padahal jarak tanah dengan rumah utama setidaknya 10 depha ( 20 Meter). Jadi aku harus melompat dua kali. Pada lompatan kedua itu aku harus memijak pintu penutupnya, yang pasti membuatnya terbuka, karena kita sudah tahu sendiri, pintu penutup bawah tanah itu sangat peka, begitu terpijak sedikit saja langsung terbuka. Apalagi dijadikan pijak loncatan."


Kidang Panah menghela napas panjang, " Andai kita melakukan berdua mungkin bisa, Karna. Karena peringan tubuhku lebih baik daripada kamu. Tapi itu tidak mungkin kulakukan kecuali besok Julig sudah bisa siuman tanpa bantuan kita. Aaahhh....ini benar-benar situasi yang sangat sulit."


Karna pun menghela napas berat, " Kecuali kita tahu cara untuk mengunci pintu tutup bawah tanah itu agar tidak terbuka...." desisnya.


Kidang Panah mendesah, " Haaahhh.....di saat-saat sulit seperti ini, aku sangat merasa kehilangan pemikiran Julig....! Duh sang Hidup, tolong bangunkan adhiku....."

__ADS_1


Karna pun menatap Julig. Meski raut wajah Julig tidak terlihat beda dengan orang yang sedang tertidur pulas pada umumnya, namun sebenarnya ia sedang dalam keadaan koma antara hidup dan mati. Julig masih mendetakkan nadi dan jantung secara normal hanya karena bantuan tenaga dari luar. Selebihnya, Julig tiada beda dengan orang mati.


Hanya ketika Julig harus minum jamu atau disuapi bubur, ia akan diberi sentakan energi oleh Karna atau Kidang Panah agar terbangun. Setelah itu, mereka akan mengirim tenaga datar agar Julig kembali beristirahat tidur...


Kidang Panah menatapkan matanya ke langit-langit kamar dengan pandangan kosong....


Tiba-tiba Kidang Panah berseru, " Jagad Dewa Bathara! Kita tidak sempat memikirkan apapun selain Julig! Bukankah kita punya tawanan Cucak? Dia pasti tahu rahasia benteng Baswara!"


Karna yang juga baru menyadari pikirannya terhisap habis oleh kondisi Julig seperti tersengat oleh harapan. Ia melompat menuju ruang tempat Cucak disekap.


Cucak yang tengah terkulai lemas dengan tubuh terikat tambang menyambut kedatangan Karna dengan tatapan datar. Bibirnya mengucap lirih dengan nada sinis, " Apa kau akan membunuhku, Tuan Sakti? Silahkan membunuh saya jika itu mau Anda. Saya juga sudah kehilangan harapan hidup....'


Karna berjongkok memeriksa kondisi Cucak yang sangat lemah. Rupanya karena ia dan Kidang Panah memusatkan seluruh pikiran untuk kesembuhan Julig, sampai lupa memberi makan dan minum Cucak selama dua hari. Sementara Kusa tidak berani memberi makan dan minum tanpa perintah Karna dan Kidang Panah.


Seperti ikan yang baru menggelepar di tanah menyambut air, mulut Cucak mencucup lahap air kendi yang disodorkan Karna.


" Kang Kusaaaa....!!! " Teriak Karna yang segera diikuti oleh kedatangan Kusa yang tergopoh-gopoh.


" Ya, Raden, " sahut Kusa.


" Siapkan bubur untuk kang Cucak!"


Setelah Kusa memberikan semangkok bubur, dengan telaten Karna menyuapi Cucak.

__ADS_1


Selama diberi minum dan disuapi oleh Karna, diam-diam Cucak memperhatikan raut wajah dan sorot mata Karna. Ia tidak menyangka bahwa orang yang telah menawan dirinya berlaku demikian tulus. Cucak tidak menemukan sedikitpun ada kesan dibuat-buat dalam gerak dan sorot mata Karna. Benar-benar menunjukkan orang yang prihatin melihat sesama kehausan dan lapar. Kesan yang ia dapat, Karna tidak menunjukkan gambaran kebencian seorang musuh. Apalagi Karna menyebutnya dengan panggilan bersahabat 'kang'.


" Kalau masih lapar biar saya mintakan bubur lagi pada kang Kusa," ujar Karna lembut.


Cucak melongo. Bukan hanya pada dirinya, bahkan kepada Kusa yang menyebutnya sebagai Raden, Karna memanggil sebagai ' Kang'. Hati kecil Cucak segera menduga-duga bahwa orang yang sedang menyekapnya ini bukan orang jahat.


" Saya sudah kenyang, Tuan...eh, Raden, " jawab Kusa dengan rasa hormat.


Karna tersenyum. Sekilas ia melihat kaki dan tangan Cucak tergurat bilur-bilur merah karena terlilit tambang," Saya lepaskan ikatan tambangnya, tapi kakang jangan memberontak ya? Kalau kang Cucak melarikan diri, saya pasti bisa menangkap..."


Cucak mengangguk. Ia menyadari sia-sia saja kalau ingin melarikan diri dari Karna. Waktu ia ditotok dan ditidurkan di atas punggung kuda dengan dijaga Julig, ia bisa melihat Karna mampu berlari mengimbangi lari kuda. Dan bukan hanya itu, ketika secara iseng Julig menantang balapan lari dengan memacu kuda sekencang mungkin mencapai pohon yang jauhnya sekitar 50 depha (100 meter), tak dinyana Karna melesat hanya dengan 10 kejap mata sudah mendahului sampai di pohon itu. Tapi dasar Julig, bukannya mengakui kalah, malah menganggap Karna curang dengan alasan yang ia tantangkan adalah balapan lari, bukan balapan lompat. Saat itu Karna bukannya marah diakali Julig, malah ketawa lepas dan disusul mereka bercanda di sepanjang jalan. Dari cara bercanda dan melihat kesaktian Karna yang belum pernah ia saksikan pada orang lain, Cucak merasakan bahwa Karna dan Julig sebenarnya bukan orang jahat.


" Terima kasih. Mohon maaf bila diijinkan mengenal, sebenarnya Raden ini siapa?"


Sambil melepaskan ikatan yang membelit Cucak, Karna tersenyum tulus, " Saya? Saya ini bukan Raden. Saya ini abdi, Sudra, kawula, alas kaki Bhumi Majapahit...."


Cucak terperangah dengan jawaban itu. Batinnya membantah pengakuan Karna. Tidak mungkin Sudra biasa memiliki tutur bahasa dan kesaktian setinggi itu. Juga ada hal lain yang sangat ia suka dari perkataan Karna, Cucak pun seorang prajurit yang sangat mencintai dan rela mati demi Majapahit.


" Jika demikian kita sama, Raden. Saya juga alas kakinya Bhumi Majapahit....." desah Cucak.


Karna mengangguk, " Maka tolonglah kami. Saya memerlukan satu keterangan sangat penting. Mari ikut saya bicara dengan Kakang Kidang Panah."


***

__ADS_1


__ADS_2