
Kemeriahan pesta makin terasa saat memasuki pelataran Wisma Gagak Nagara yang luas yang sekilas seperti alun-alun kraton sebagaimana obsesi Gagak Bayan pada kekuasaan. Puluhan penari pilihan yang cantik dengan gemulai membawakan tarian selamat datang untuk menyambut kedatangan rombongan Karna dengan sanjungan tertinggi. Puluhan meja-meja berjejer di kiri kanan pelataran dipenuhi berbagai makanan besar dengan lauk pauknya, jajan pasar, panganan untuk anak-anak, serta buah-buahan. Semua disajikan gratis untuk warga yang datang dengan undangan umum tanpa terkecuali. Hari ini Gagak Bayan ingin mengubah citranya secara total. Dari penguasa daerah otonom yang sewenang-wenang menjadi pengayom masyarakat yang penuh kasih sayang, dari Gagak Bayan yang pemarah menjadi Gagak Bayan yang ramah, dari pemungut pajak yang rakus berubah menjadi dermawan murah hati. Seluruh simpanan hartanya ia hamburkan malam ini untuk memikat hati Jaka Wingit dan seluruh rakyat Gagak Nagara.
Warga masyarakat sudah datang berdesakan sedari pagi menjelang acara pengukuhan Jaka Wingit sebagai saudara muda Gagak Bayan. Di samping untuk melihat keajaiban perubahan Gagak Bayan sambil menikmati pesta, yang utama; tua muda, besar kecil, laki perempuan yang tidak menyaksikan pertarungan ajaib Jaka Wingit melawan 100 orang ditambah Gagak Bayan, penasaran ingin melihat sosok Jaka Wingit secara langsung. Cerita tentang kesaktian Jaka Wingit, ketampanan, serta kehalusan adab dan tutur bahasanya menarik semua orang yang bahkan mulai mengarang-ngarang cerita bahwa Jaka Wingit adalah perwujudan Arjuna dalam dunia nyata. Ada yang menganggapnya titisan Bathara Kamajaya, beberapa orang berspekulasi ia sebagai Wisnu yang sedang menjelma untuk menyadarkan Gagak Bayan, lalu akan terbang ke Kahyangan kembali saat tugasnya selesai. Namun, pendapat yang paling santer menduga bahwa Jaka Wingit adalah seorang Raja Muda yang sedang menyamar untuk memperbaiki Negara.
Apapun pendapat dan khayalan warga Gagak Nagara tentang Karna, semua sepakat, bahwa mereka harus berterimakasih sebesar-besarnya kepada Jaka Wingit yang telah mengakhiri kejahatan Gagak Bayan meski tanpa membunuhnya. Orang tua yang memiliki anak gadis segera menyuruh anaknya berdandan secantik-cantiknya agar bisa ditatap oleh Jaka Wingit. Mereka berdoa Jaka Wingit berkenan jadi menantunya. Sementara, tidak perlu disuruh pun, para dara sudah heboh sendiri minta ijin datang ke pesta itu untuk melihat Jaka Wingit. Mereka bersaing satu sama lain untuk tampil sejelita mungkin. Meski mereka mendengar kalau Jaka Wingit dekat dengan Savitri yang kecantikan dan daya tariknya tak terkalahkan, namun tidak jadi masalah bila Jaka Wingit berkenan mengambil mereka sebagai selir.
Yang tidak kalah heboh anak-anak kecil yang ikut mendengar cerita kesaktian Jaka Wingit. Terjadi demam untuk menjadi Jaka Wingit cilik dalam permainannya. Mereka bermain perang-perangan, adu ketepatan tulup ( sumpit), panah, dan bermain pedang kayu, dimana yang paling unggul akan disebut sebagai Jaka Wingit. Makanya, mereka juga tidak mau ketinggalan ikut berbondong-bondong mendatangi pesta di Wisma Gagak Nagara.
" Jaya! Jaya! Jayalah Jaka Wingit!" Gemuruh suara seluruh orang yang sudah memenuhi pelataran Wisma Gagak Nagara bersorak-sorai saat rombongan Karna memasuki gapura.
Karna yang seumur hidup tinggal di hutan hanya bersama Mpu Angalas ditemani hewan, terkejut dan tidak siap menerima sambutan ribuan orang yang mengelu-elukan namanya. Sedari tadi di perjalanan ia sudah kewalahan membalas salam satu per satu orang yang menyambutnya. Sekarang, malah ada ribuan orang secara bersamaan menyebut namanya. Sebagian bahkan histeris berteriak-teriak, terutama para gadis dan anak-anak yang tiba-tiba seperti kesetanan lupa pada adat kesopanan.
Sejenak Karna melenggong tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membalas salam ribuan orang yang meneriakkan namanya.
Ki Buyut Kebo Ireng menepuk pundak Karna, " Adhimas, balas salam mereka dengan hormat. Mereka semua datang ke sini untuk Andhika."
Karna tergagap, sementara Julig cengengesan berkata," Waduuuhhh...itu banyak perempuan-perempuan cantik sampai kejungkel kesrimpet ujung kain karena lari-larian pingin lihat kau, Kang. Kalo aku jadi kau, sudah aku ambil istri itu semua perempuan. Lumpuh lumpuh biarin deh ini lutut. Hawong cantik-cantiknya macam gitu."
" Kau ngomong apa to, Julig? " Karna menegur.
" Ngomong sebagai laki-laki normal dong, Kang. Mosok ngomong sebagai monyet? Krrrrr....krrrrr.... " sahut Julig sambil meniru suara kera.
" Halah, Liiiiggg...Lig! Memangnya kau laki-laki normal? Tubuh saja cuma setinggi gagang pacul!" ujar Ki Buyut sambil ketawa menggoda muridnya.
__ADS_1
Julig yang suka cengengesan tidak berani menjawab kalau sudah gurunya yang bicara.
" Sampurasun. Saya sudra hina Jaka Wingit menghadap Ki dan Nyi Sanak yang mulia. Semoga keselamatan, kesantosaan, dan kesejahteraan dari Jawata yang Agung meliputi Anda semua. Rahayu....Rahayu...Rahayu... " ujar Karna sambil menangkup tangan hormat.
Mendengar cara perkenalan dan salam dari Karna yang demikian rendah. hati dan disampaikan dalam nada halus, orang-orang yang berkumpul makin histeris dan jatuh hati. Tidak salah dugaan mereka, pasti Jaka Wingit adalah seorang Raja Muda yang menyamar, atau bahkan memang benar-benar titisan Dewa. Tidak mungkin ada Sudra beraksen sehalus itu. Kata-katanya tertata indah alami, senyumnya tulus mengembang menyejukkan, membuat semua orang yang menatapnya merasa nyaman. Meski tanpa menunjukkan kesaktian, aura pengayoman terpancar sangat kuat dari tiap gerak dan kata Jaka Wingit. Bahkan, Ki Buyut Kebo Ireng yang sudah tahu bahwa Jaka Wingit benar-benar manusia biasa sebagai murid Mpu Angalas, tiap kali tetap dibuat terkagum-kagum pada adab Jaka Wingit. Meski baru beberapa hari ia mengenal Jaka Wingit, namun rasanya sungguh tepat Mpu Angalas memilih seorang murid dengan pribadi yang nyaris sempurna sebagai pewaris kasusastran Pujangga maupun kadigdayan pendekar piiih tanding.
" Jaya, jaya, jayalah Ksatria Tanpa Tanding. Mahakstaria Jaka Wingit! " seseorang berteriak memberi julukan baru kepada Karna.
Mendengar teriakan itu, seluruh orang yang hadir tiba-tiba setuju dengan julukan itu. Serempak mereka bersorak-sorai, " Mahakstaria Jaka Wingit! Jaya, Jaya, Jaya Mahakstaria Jaka Wingit!"
Gemuruh sebutan Mahakstaria Jaka Wingit mengguncang pelataran Wisma Gagak Nagara hingga menggelora ke dalam dan terdengar di telinga Gagak Bayan.
Tiba-tiba Gagak Bayan merasa seluruh kewibawaannya sudah diambil oleh Jaka Wingit. Nampaknya seluruh warga Gagak Nagara dari semua golongan dan umur telah jatuh hati pada Jaka Wingit. Bukan hanya dari kalangan rakyat jelata, Gagak Bayan melihat sendiri, para bekas prajuritnya juga meneriakkan nama Mahakstaria Jaka Wingit dengan sukacita. Beberapa bekas selir dan gundik serta banyak perempuan bekas lampiasan napsu bejadnya juga bergabung bersama bersama masyarakat mengelu-elukan nama Jaka Wingit. Untung saja Gagak Bayan orang yang sangat cerdik, lebih tepatnya licik. Ia pemain politik yang sangat paham situasi. Langkah yang diambilnya sudah benar. Andaikan ia masih berkeras melawan Jaka Wingit, dapat dipastikan ia akaan hancur lebur. Mungkin bukan Jaka Wingit yang akan membunuhnya, sebab Jaka Wingit memang pantang membunuh lawan jika tidak benar-benar terpaksa, tapi keberanian masyarakat yang serentak bangkit oleh kedatangan Jaka Wingit bisa saja memberontak dan mencincang habis nyawanya. Untung saja ia telah mengangkat Jaka Wingit sebagai saudara muda, jadi ia justru berpihak di sisi gelombang kecintaan rakyat yang sedang menggelora, bukan menentang di sisi lain yang beresiko terterjang hingga hilang.
Gagal Bayan tersenyum licik merasa puas dengan rancangan sempurnanya. Kedatangan Jaka Wingit memenuhi undangannya adalah bukti nyata bahwa rencananya berjalan sesuai yang diharapkan. Dengan menekan rasa dengki, ia tertawa terbahak-bahak untuk melanjutkan sandiwaranya, " Hahaha....benar! Benar! Adhiku Jaka Wingit, saudara mudaku Jaka Wingit memang seorang Mahakstaria! Jaya, jaya, jaya Mahakstaria Jaka Wingit!"
Namun, berbanding terbalik dengan kemeriahan sorak-sorai, justru Karna terhenyak di atas punggung kuda Gelap. Ia merasa semua ini sudah terlalu berlebih-lebihan. Bagi orang awam, mungkin karena didorong kecintaan, bisa saja julukan Mahakstaria hanya sekedar julukan, tapi itu tidak bisa bila memikirkan dampak yang lebih jauh. Mahaksatria adalah gelar tertinggi bagi kasta satria, padahal siapapun tahu, pemegang gelar tertinggi kasta satria adalah Raja sendiri. Satu-satunya di setiap Negara, termasuk Majapahit. Mungkin rakyat awam tidak mempermasalahkan karena hanya bermaksud memberi pujian, tapi itu bisa saja dimasalahkan oleh pihak kerajaan bila terdengar, dikira seseorang telah mengangkat diri sejajar dengan Raja. Lagipula, Karna memang tidak memiliki jiwa untuk mencari kemegahan, apalagi menyejajarkan dirinya dengan seorang Raja. Ia merasa kesalahan ini harus segera dihentikan sejak awal agar tidak mengundang masalah di kemudian hari.
" Ki Buyut, bagaimana ini? Gelar Mahaksatria hanya untuk dikenakan kepada Raja, tapi saya tidak bisa bicara kepada mereka. Mereka semua berteriak-teriak. Saya tidak ingin dianggap menyejajari Ratu Majapahit, " Karna bertanya cemas kepada Ki Kebo Ireng yang dia anggap paling mampu memahami situasi ini.
Ki Kebo Ireng menjawab dengan berteriak untuk mengatasi gemuruh suara ribuan orang yang tanpa henti-henti mengelu-elukan nama Mahaksatria.
" Ini bukan salahmu, Dhimas! Mereka yang memberi gelar itu!"
__ADS_1
" Tidak bisa, Ki Buyut. Pihak Kraton bisa menganggap saya makar dengan gelar itu. Lagipula, saya tidak nyaman dengan gelar itu. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya Jaka Wingit. Jaka Wingit saja, tidak perlu tambahan!"
" Adhi Jaka Wingit," Suta memotong pembicaraan untuk menyampaikan pendapat.
" Silahkan, Kang Suta." sahut Karna.
" Adhi adalah gelombang kecintaan kami. Maka biarkan kami mengingat Adhi dengan nama yang sesuai dengan apa yang kami anggap layak untuk disematkan."
Karna menghela napas panjang. Rasanya hidup menjadi aneh setelah ia meninggalkan hutan. Segalanya berjalan sangat cepat melebihi apa yang ia bayangkan. Untuk apa menerima nama yang beresiko mendatangkan masalah? Mengapa manusia sangat menyayangi sebuah sebutan, padahal sebutan itu tidak membuat seseorang lebih kenyang atau lebih kuat. Yang dirasakan Karna, ia tidak nyaman dengan sebutan itu.
" Guru saya adalah orang tua saya satu-satunya, telah memberi saya nama Jaka Wingit. Itu yang akan saya pakai seumur hidup.Tanpa tambahan apapun. Mohon maaf, saya tidak bisa menerima nama apapun di depan atau di belakang Jaka Wingit, " Karna berkata dengan nada datar namun sangat tegas.
Mendengar perkataan Karna, baik Suta maupun Ki Kebo Ireng terdiam. Agaknya Jaka Wingit benar-benar tidak nyaman dengan julukan Mahaksatria. Mereka menundukkan wajahnya. Sesekali melirik Jaka Wingit yang seolah kehilangan semangat untuk melanjutkan perjalanan menemui Gagak Bayan yang sudah terlihat berdiri tepat di ujung pendapa Wisma Gagak Nagara untuk menyambut Jaka Wingit dengan tangan terentang dan tak henti-hentinya meneriakkan 'Mahaksatria Jaka Wingit'.
Teriakan Mahaksatria itu kian kencang. Bertalu-talu menggema di pelataran hingga tiada kata selain itu yang terdengar.
" Mahaksatria ! Mahaksatria! Mahaksatria! Jaya! Jaya! Jaya!"
Mendadak Karna merasakan seru pengelu-eluan itu sudah sangat meracuni udara dan menyerang kemurnian tugasnya datang ke dunia ramai. Entah darimana datangnya, ia menekan napas di perut, meneroboskan ke dada lalu menembakkan ke kerongkongan, menggetarkan pita suara dan menggerakkan lidah, membuka bibirnya dalam nada gumam.a
" Heniiiiiiinggg.....Diamlah hati Anda semua...." Karna berteriak.
Sebenarnya itu bukan teriakan, tapi hanya gumaman, karena nadanya tidak menghardik. Seperti menghimbau, tapi anehnya ribuan orang yang hadir bisa mendengar gumaman itu. Yang fatal terjadi pada pribadi Gagak Bayan. Entah apa sebabnya, tiba-tiba tubuhnya terpental sangat keras membentur tiang pendapa yang terbuat dari pohon jati besar.
__ADS_1
" Uuuughhhhh...!!!" Gagak Bayan memuntahkan seisi perutnya setelah terbentur saka pendapa. Namun, tak seorangpun memperhatikan kejadian itu. Perhatian semua. orang hanya tertuju kepada Karna si Jaka Wingit yang kini sedang menunduk menyesal telah melontarkan tenaga kemarahannya dalam ujud daya suara.
Ribuan orang yang hadir termangu-mangu tidak paham dengan apa yang sedang terjadi. Bagaimana mungkin sebuah gumam lirih dengan nada halus dari seorang Jaka Wingit mampu mengatasi ribuan sorak sorai yang sedang menggelombang?