
Karna, Julig dan Kidang Panah turun dari puncak pohon sekitar 50 depha ( 100 meter) dari goa. Mereka memilih tempat yang sangat rimbun agar kedatangannya tidak terlihat orang.
" Sekarang tepat waktu pecat sawed, kau langsung menuju goa. Aku dan Wingit akan sembunyi di atas pohon. Kami tidak bisa menunggumu seharian di dalam goa tanpa kabar keselamatan yang jelas. Tadi aku dan kakangmu Wingit sudah sepakat, rencanamu kami terima tapi harus ada batas waktunya untuk memastikan tidak ada hal yang buruk menimpamu. Kalau sampai waktu Wisan Gawe ( waktu jeda atau selesainya pekerjaan siang, tanda waktu tengah hari, sekitar jam 12 siang) kau tidak memberi kabar isyarat, kami anggap kau sedang tertimpa masalah, jadi kami akan mengambil cara keras, jalan darah sebagai upaya terakhir untuk menyelamatkanmu sekaligus menyelesaikan tugas ini, hidup atau mati. "
Julig mengangguk memahami ucapan Kidang Panah yang bertindak sebagai pemimpin. " Ya Kang, sebelum tengah hari waktu Wisan gawe, semoga saya sudah menemukan letak lobang udara dan mengirim kabar berupa suara gagak bersahut-sahutan."
" Keluarlah dari goa dengan selamat, Julig. Kami tidak ingin kau celaka," desis Karna sembari mengusap kening Julig.
Julig mengangguk, " Saya berangkat sekarang, Kang. Mohon restu dan doa keselamatan, Rahayu."
" Berangkatlah, kami selalu mendoakan keselamatanmu. Jaya Jaya Wijayanti..." ucap Karna.
Begitu Julig melangkah, Karna dan Kidang Panah menjejakkan kaki untuk naik ke pohon yang tinggi agar dapat mengawasi pergerakan orang di sekitar goa.
Benar apa yang diperkirakan Karna, penjagaan goa itu diperketat dengan jumlah penjaga tersebar bukan hanya di depan mulut goa namun juga di samping kiri kanan badan goa yang terlihat. Andai saja Kidang Panah nekat menyerbu secara terang-terangan, niscaya belum sampai di depan pintu goa pasti sudah diketahui.
Kedatangan Julig dengan membawa tenggok tidak menemui hambatan sampai saat sampai di depan pintu goa yang tertutup rapat. Dengan tertutupnya pintu, keyakinan Julig semakin menguat bahwa ada lobang udara di dalam goa.
" Berhenti, Nini!" ujar penjaga pintu setelah melihat Julig berjalan terus menuju mulut goa.
" Sampurasun, Rahayu, Kakang!"
" Rampes, " jawab Penjaga Goa. " Nini siapa? Ada keperluan apa datang ke sini?"
" Saya mengantar pesanan daun dan pohon tulasi, Kang."
Penjaga itu mengerutkan keningnya, " Daun tulasi? Maaf, kami sudah punya pedagang tetap yang biasa mengantar tulasi ke sini."
Julig buru-buru memperbaiki perkenalan dirinya, " Maaf, itu Biyung saya Nini Hinten dari desa Climen. Saya Endah Sulistya menggantikan tugas biyung yang sedang sakit."
" Ooo... jadi dhiajeng ini putrinya Nini Hinten?"
" Benar, Kang, " sahut Julig kenes.
__ADS_1
" Ya sudah, aku bukakan pintunya, " ujar penjaga goa seraya berjalan untuk memberi tanda pada orang yang di dalam agar membuka pintu.
" Sebentar, Kang. Jangan buru-buru membuka pintu!" tiba-tiba penjaga yang lain menghentikan langkah penjaga yang ingin membuka pintu.
" Kenapa, Kang?"
" Periksa dulu kebenaran nini ini. Ini keadaan gawat, tidak seperti biasanya. Semua yang akan masuk goa harus diperiksa dulu."
" Oh.. iya, hampir lupa."
" Namamu tadi siapa? " tanya penjaga yang agak galak dengan tatapan penuh selidik.
Julig sedikit waspada dengan perubahan sikap itu. Dengan menekan rasa gugup ia menjawab, " Saya Endah Sulistya, Kang."
" Benar kau putrinya Nini Hinten?"
" Benar, Kang."
Deg! Dada Julig berdetak keras. Ia sama sekali tidak tahu tentang keluarga Nini Hinten. Ada dua kemungkinan dalam pertanyaan itu. Pertama, penjaga itu benar-benar tahu jumlah anak Nini Hinten, kedua, itu hanya pertanyaan jebakan untuk membaca raut wajahnya bohong atau tidak. Dengan perhitungan ia benar-benar tidak tahu jumlah anggota keluarga Nini Hinten, lebih baik menyambung sandiwara asal meyakinkan.
" Saya anak ke 2 dari 3 bersaudara. Dua saudara saya laki-laki semua, jadi hanya saya yang ikut membantu mengurusi tanaman tulasi, " jawab Julig ngawur tapi dengan gaya bicara yang meyakinkan.
Penjaga itu mendengus pendek namun tidak melanjutkan pertanyaan. Benar dugaan Julig bahwa itu hanya pertanyaan jebakan untuk mengetahui ia gugup atau tidak.
" Lihat isi tenggok dan bungkusanmu!"
Julig menurunkan tenggok dan bungkusannya. Penjaga itu segera memeriksa. Dengan cermat ia amati untuk memastikan tidak ada benda mencurigakan selain daun, batang, dan tumbuhan tulasi.
" Baik, silahkan masuk!"
" Penjaga dalam, tolong buka pintu. Anak Nini Hinten datang mengantar tulasi !"
Julig bernapas lega. Pintu goa terbuka dari dalam. Dengan langkah tenang ia memasuki goa.
__ADS_1
***
Keadaan ruang di dalam goa jauh berbeda dari yang tergambar dari luar. Bentuk goa itu membentuk kantong besar. Mulut goa tidak begitu besar, namun perutnya melebar luas. Batuan pembentuk lantai goa halus seperti mengandung pualam sehingga tidak kalah dengan lantai rumah mewah bangsawan kaya. Yang mengagumkan adalah stalagnit yang tumbuh ke bawah dari atap goa, seperti lampu gantung berkelap-kelip saat ditimpa cahaya obor. Jelas stalagnit itu mengandung banyak serpihan batu permata seperti pecahan kaca.
Yang lebih istimewa, di beberapa bagian dinding goa seperti dipapas dengan sengaja sehingga datar seperti tembok rumah. Pada dinding-dinding datar itu terpahat lukisan ukir berbagai penjelmaan Bathara Wisnu dalam berbagai kisah mulai Ramayana sebagai Rama dan Mahabharata sebagai Shri Krishna. Namun kebanyakan berukir berbagai pose Bathara Kresna dengan seruling. Mulai masa kecil Kresna hingga saat menjadi kusir Pandawa di perang Baratayudha. Harus diakui, goa ini dipenuhi karya seni rupa yang sangat menakjubkan. Julig menduga entah Panembah Swara atau siapapun, yang jelas ada ahli pahat yang berkemampuan luar biasa di antara para penghuni goa.
Begitu melihat situasi di dalam goa, Julig sama sekali tidak melihat kesan menyeramkan seperti yang dibayangkan sebelumnya. Justru ia melihat goa ini adalah media seni tingkat tinggi yang dipersembahkan untuk Bathara Kresna. Di setiap sudut ada Kresna dengan berbagai gambaran kekuatan, kekuasaan, keagungan maupun keindahannya. Jika harus disebutkan dengan kata, istilah tertepat untuk tempat ini adalah Istana Shri Bathara Kresna.
" Nini penjual bunga, Bapa Guru yang Mulia memanggilmu, " seorang murid menegur Julig yang tengah termangu mengagumi keindahan goa.
" Oh iya, Kakang. Saya siap menghadap. Mohon diantarkan ke tempat Bapa Guru Panembah Swara berada karena saya belum tahu tempat ini dan ibu saya tidak bercerita tentang goa ini kecuali menyuruh saya mengantarkan daun tulasi dewi."
Murid itu mengangguk sopan, " Mari saya antar, dhiajeng."
Dalam hati Julig heran, setelah masuk ke goa dan melihat ucapan dan perilaku penghuninya, ia tidak merasa ada kesan kasar apalagi jahat dalam diri mereka. Namun siapa tahu mereka berlaku baik hanya karena takut dan hormat pada guru mereka Panembah Swara? Mungkin saja yang jahat adalah Panembah Swara, sedang murid-muridnya hanya sekedar ikut-ikutan melaksanakan perintah.
Dengan langkah waspada Julig mengikuti langkah murid itu. Ia dibawa melewati jajaran batu goa yang tumbuh ke atas dari lantai mencipta semacam pagar pembatas. Rupanya goa itu tidak beruang tunggal, ada cabang-cabang lorong yang lebih kecil seperti membentuk kamar-kamar.
Sambil berjalan, Julig mencuri-curi pandang untuk mencari lobang-lobang udara yang ada. Sebab saat bernapas ia tidak merasa sesak, jadi jelas ada lobang-lobang udara yang cukup di dinding goa itu. Namun anehnya, meski ia sudah masuk ke dalam goa kira-kira 25 depha ( 50 meter), ia belum melihat celah atau lobang apapun di dinding atau atap goa yang diterobos sinar matahari.
Akhirnya, Julig diantar murid itu ke sebuah ruangan yang sangat bersih beralas rangkaian bambu pipih berlapis kain.
Di hadapan Julig, duduk bersila seorang laki-laki di atas bangku batu ditumpuki jerami tebal berselimut kain beludru. Lelaki yang bersila itu berumur kira-kira 60 tahun. Wajahnya putih bersih, sinar matanya sangat tajam namun berkesan lembut.
" Sembah bhakti hamba, Bapa Guru, " ujar murid itu menghatur salam sembah. " Ini saya bawa dara Endah Sulistya, putri dari Nini Hinten yang mengantarkan daun tulasi dewi."
Mendengar salam hormat itu, Julig tahu bahwa yang dihadapinya sekarang adalah Panembah Swara sendiri. Segera ia menghatur salam sembah, " Hamba Endah Sulistya, putri satu-satunya biyung Nini Hinten menghatur sembah bhakti, Bapa Guru Panembah Swara. Sekaligus menyampaikan haturan sembah dari Biyung saya yang tidak bisa sowan ke sini karena terhalang sakit."
" Hmmmm...aku terima bhaktimu dan biyungmu, ' jawab Panembah Swara seraya menatap Julig dengan sinar matanya yang sangat tajam
Julig jengah dengan tajamnya tatapan mata Panembah Swara. Terbersit sedikit rasa takut di hatinya. Jangan-jangan tatapan tajam Panembah Swara sebagai orang yang Waskita mampu membongkar penyamarannya?
***
__ADS_1