
Yang paling terugikan dengan adanya serangan lebah itu Kidang Panah. Dengan jutaan lebah yang mengarah langsung ke tubuhnya dan sama sekali tidak menyentuh seorangpun di antara 500 pasukan tiruannya, membuat sisa pasukan Panembah Swara segera sadar bahwa dialah satu-satunya Kidang Panah yang nyata, sedang 500 orang yang lain hanya ilusi.
Berbarengan dengan datangnya gelombang lebah, sisa pasukan Panembah Swara pun meninggalkan 500 musuh bayangan dan serentak mengarahkan panah ke tubuh Kidang Panah yang asli.
Melihat keadaan itu, Karna melompat mendampingi Kidang Panah untuk bersama menghadang bahaya.
Gelombang raksasa jutaan lebah kian mendekat. Di belakangnya, puluhan gendewa sudah terpasang anak-anak panah yang menyasar satu tujuan pasti.
Sementara, lengking aba-aba seruling Murli Katong terus mengalun. Dengan cara apapun, rasanya mustahil menghindari jutaan musuh yang melayang-layang di udara. Hanya ada satu cara menghadapinya, yaitu dengan menghalaunya. Dan itu harus dilakukan dengan menciptakan pusaran angin sekuat badai.
" Mundur sedikit, Kang. Dekap erat-erat tiang batu, jangan sampai lepas!" seru Karna.
" Apa yang akan kau lakukan, Karna? Tawon-tawon itu terlalu banyak untuk dibakar dengan Tapak Dahana Dahana. Kau bisa kehabisan tenaga."
" Minggir, Kang, " Karna tak menjawab, " Cari pegangan yang kuat. Sekarang juga!"
Kidang Panah tidak membantah lagi. Ia melompat mundur dan mendekap tiang batu seperti yang diperintahkan Karna.
Karna melompat lurus ke atas. Tubuhnya berputar. Napasnya ditata dengan tarik dan hembus sangat cepat untuk mengacaukan angin dalam tubuh. Menghidupkan Cakra pusar, memusatkannya, memusarkan ke seluruh penjuru mata angin. Perlahan- lahan udara di dalam goa terhisap masuk ke tubuh Karna. Goa itu sejenak menjadi hampa udara. Orang-orang mulai tersedak kehilangan napasnya.
" Slaaaappp...!!!"
" Slaaaappp...!!!"
Puluhan ujung runcing anak panah terlepas siap menghujam tubuh Karna dan Kidang Panah.
" Ngeeeeennggg.... ngeeeeennggg.... ngeeeeennggg...!!!"
Jutaan lebah tinggal sejengkal saja jaraknya untuk menyengatkan jutaan tetes racun.
" Bayu Bajraaaaaaa... !" pekik Karna.
__ADS_1
" Wuuuuuuzzzzzzz.....!!!"
Kekuatan badai ajian Bayu Bajra yang dilontarkan Karna dengan level tertinggi menyapu jutaan lebah menjadi buyar seperti debu berhamburan. Anak-anak panah yang semula tertuju ke arah Karna dan Kidang Panah melenceng arahnya terbang seperti ranting kering diterpa taufan. Sebagian bahkan kembali ke pelontarnya hingga menancap mengoyak daging tuannya sendiri.
Batu-batu kecil berterbangan seperti peluru menerpa ke segala arah melukai sisa pasukan Panembah Swara yang menjerit histeris ketakutan diterpa badai yang keluar dari putaran tubuh Karna. Seumur hidupnya, belum pernah ia menyaksikan kekuatan angin yang demikian besar dapat terlontar dari tubuh seorang manusia!
Panembah Swara yang memantau aksi Karna dari ceruk perlindungannya tercengang takjub. Baru saja ia mampu mengalahkan Chandra Birawa dengan Murli Katong pasukan lebah, tiba-tiba harus menemui ajian Bayu Bajra yang mampu menghalau jutaan lebahnya.
Jutaan lebah yang berhamburan menabrak dinding goa membuat naluri binatang yang tersakiti mengamuk. Akibatnya, mereka menyerang siapapun orang yang ada di dekatnya. Sisa pasukan Panembah Swara yang masih terhuyung-huyung karena tertiup Bayu Bajra buyar berlarian panik diserang jutaan lebah yang sedang marah. Mereka tidak mampu lagi berpikir untuk menyerang Karna dan Kidang Panah karena sibuk menyelamatkan diri masing-masing dari sengatan lebah. Kembali lagi terjadi, senjata makan tuan.
Karna dengan anggun mendarat lagi ke lantai goa setelah melihat badai Bayu Bajra ciptaannya telah menyelesaikan masalah.
" Kau baik-baik saja, Kang?" ujar Karna.
Kidang Panah mengangguk, " Dahsyat sekali Bayu Bajra mu, Karna."
Melihat pasukan Panembah Swara masih sibuk menghalau kumpulan lebah yang marah, Karna siap meloncat mencari obor menyala yang tidak padam oleh badai karena letaknya jauh dari ruang utama , " Kang, kau jaga dulu Panembah Swara. Aku cari obor untuk membakar jaring."
Dugaan Karna benar. Tambang pembentuk jaring itu memang mengandung getah karet, sabut kelapa yang ddipiln, dan ayaman rotan sehingga sangat liat tak mempan ditebas pedang. Begitu tersentuh api, dengan sangat cepat jaring itu terbakar hingga terkoyak cukup dimasuki oleh Karna dan Kidang Panah.
Posisi Panembah Swara sekarang terpojok. Tidak mungkin melawan dua pendekar muda yang memiliki kemampuan silat dan sihir saling melengkapi.
" Mohon serahkan suratnya sekarang, Bapa Panembah Swara, " ujar Karna.
Panembah Swara tersenyum, " Sayangnya tidak semudah itu aku menyerah, Bocah Pongah, " Panembah Swara kembali menempelkan bibirnya ke seruling.
Melihat hal itu, Kidang Panah kehabisan sabar.
" Orang tua tak tahu diri! Mengapa kau mempersulit urusan yang bisa diselesaikan dengan damai?" ujar Kidang Panah seraya menerjang Panembah Swara.
Terjadi perkelahian jarak dekat antara Kidang Panah dan Panembah Swara. Ternyata, dalam hal silat, kemampuan mereka setara. Kecepatan gerak Panembah Swara tidak kalah dibandingkan dengan Kidang Panah. Demikian pula kekuatannya.
__ADS_1
Jual beli pukulan, cakar, dan tendangan terjadi. Masing-masing serangan bisa masuk dan luput. Dua-duanya sempat terkena sehingga baik tubuh Kidang Panah maupun Panembah Swara lebam-lebam dan menitikkan darah di sudut bibir dan pelipis. Benar-benar pertarungan yang sangat imbang dan berlangsung dengan kecepatan tinggi sehingga sangat menarik untuk diikuti oleh yang bermata jeli. Agaknya hanya waktu dan ketahanan stamina yang akan menentukan siapa di antara mereka yang akan keluar sebagai pemenang.
Pertarungan yang memakan waktu itu membuat sisa pasukan Panembah Swara yang dapat lolos dari sengatan lebah telah mampu mengusir rombongan lebah dengan api. Namun yang terlihat cukup sehat hanya tinggal belasan orang, lainnya bergelimpangan dengan tubuh bengkak sana sini akibat sengatan lebah. Beberapa orang sibuk merawat teman-temannya dengan melulur minyak anti racun. Sisa pasukan itu tidak berani mencampuri jalannya pertarungan yang terjadi di ceruk atas goa. Lagipula sia-sia rasanya melawan Karna dengan belasan orang. Hanya dengan satu ajian Bayu Bajra saja ratusan orang bisa dibuat kocar-kacir, apalagi cuma berkekuatan belasan orang? Sama saja bunuh diri. Mereka hanya menunggu akhir dari semua ini. Apalagi setelah melihat cara bertarung dan sikap keduanya, mereka mulai berpikir. bahwa Karna dan Kidang Panah bukan sepenuhnya orang jahat, hanya memiliki perselisihan urusan dengan gurunya.
" Wingit, bantu aku ringkus tua bangka ini! Persetan kita dibilang mengeroyok orang tua. Orang tua ini yang tak tahu diri mencuri surat yang bukan miliknya, " ujar Kidang Panah di sela-sela pertarungannya.
Karna termangu. Agak ragu jika harus mengeroyok orang yang lebih tua. Apalagi kondisi Kidang Panah juga tidak sedang terdesak.
" Kita diburu waktu, Wingit. Hari ini juga surat itu harus sudah didapat!" teriak Kidang Panah lagi, " Jangan jadi orang bodoh kau. Lupakan sejenak teori-teori satria!"
Saat itu sudah menginjak waktu Tibra Layu ( saat matahari sudah menggelincir ke barat sehingga susah/tibra bila memakamkan jenazah/layu. Sekitar jam 5 sore), Karna mengangguk memahami alasan Kidang Panah.
Tanpa membuang waktu, Karna menerjang Panembah Swara dari sebelah kanan, sementara Kidang Panah menyerang sisi kiri.
Mendapat serangan dua arah dari dua pendekar berkemampuan tinggi, jalannya pertarungan tidak berimbang lagi.
" Plak! Blug!"
Tamparan Kidang Panah mendarat di pipi Panembah Swara, bersamaan dengan itu tangan Karna menapak dadanya. Seketika tubuh tua Panembah Swara terlempar membentur dinding goa dengan sangat keras sehingga sebagian pahatan goa yang tertimpa punggungnya retak.
" Uuuugggghhh...hoooaaakkk....!!!"
Panembah Swara jatuh terduduk lemas, memuntahkan darah segar.
Melihat gurunya menderita luka, murid-murid Panembah Swara yang ada di bawah kehilangan rasa takut. Mereka melempari Karna dan Kidang Panah dengan tombak dan belati yang dengan mudah ditangkis oleh Kidang Panah.
" Kalian jangan ikut campur dengan urusan kami!" hardik Kidang Panah geram.
Sementara melihat Panembah Swara menyemburkan darah segar kedua kalinya, Karna mendekat dan berkata, " Menyerahlah, Bapa Panembah. Kami menghormati Anda sebagai orang tua, dan tidak bermaksud melukai Anda."
Panembah Swara menatap Karna. Pandangannya sudah berkunang-kunang. Diam-diam timbul rasa kagumnya pada dua lawan mudanya ini. Mereka sangat menjunjung sifat ksatria dan tidak mau mempermalukan lawan yang sudah tak berdaya. Namun entah apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan, Panembah Swara justru tertawa lemah dan berkata, " Hehehe...menyerah? Hehe... seumur hidup aku tidak pernah menyerah. Lebih baik mati daripada menyerah. Bunuh saja aku, dan kalian tidak akan pernah tahu apa isi lengkap. surat Mahapatih Gajahmada..."
__ADS_1