
Balawan menurunkan tangan Cucak agar lepas dari leher pemilik kedai, " Jangan berlaku bodoh memancing keributan. Kalau sampai terdengar di telinga Gusti Demang kita bisa celaka."
Mendengar nama Gusti Demang disebut, reda amarah Cucak. Gusti Demang melarang keras berurusan dengan warga desa apalagi membuat keributan. Cucak sendiri belum pernah berhadapan langsung dengan Gusti Demang yang sangat tertutup, namun menurut lurahnya, ia pribadi yang sangat keras dalam menegakkan disiplin keprajuritan. Tidak seorangpun yang tahu mengapa ia disebut Demang, padahal secara kenyataan ia lebih bertindak sebagai pemimpin besar prajurit daripada sebagai pemimpin wilayah. Barangkali Demang hanya sekedar sebutan, bukan jabatan.
" Baik, Kang. Aku janji tidak akan berbuat kasar, tapi tolong sampaikan padanya, jangan mempersulit keinginanku. Toh aku bersedia membayar denda kalau ketahuan, " jawab Cucak.
Balawan menarik tangan pemilik kedai itu. Mengajaknya berbicara di sudut kedai agar tidak terdengar oleh orang lain. Ia berbicara dengan suara lirih, namun raut wajahnya tampak berusaha meyakinkan agar pemilik kedai itu percaya.
Beberapa saat kemudian, pemilik kedai itu mengangguk-angguk. Sepertinya sudah tercapai kesepakatan. Balawan menepuk-nepuk bahu pemilik kedai sebelum berjalan menghampiri Cucak yang dengan penuh harap menunggu jawaban.
" Bagaimana, Kang? " tanya Cucak tak sabar.
Balawan tersenyum, " Sudah, jangan khawatir. Tithi 8 malam kau datang ke sini. Biar kuatur cara agar kau bisa keluar dari benteng Baswara malam itu. "
Mata Cucak berpendar cerah, " Jadi tithi 8 pekan depan aku bisa tidur dengan Lajir cantik?"
" Iya, " sahut Balawan dengan nada kesal. " Sekarang kita balik ke benteng. Untung saja hari ini kau tidak sedang jaga. Kau sudah mabuk berat tampaknya. Jangan sampai sempoyongan jalanmu saat masuk di benteng, daripada kita nanti dapat masalah besar."
" Tenang saja, Kang. Tubuhku seketika segar bugar dengar kepastian aku bisa bercinta dengan perempuan cantik. Hahaha... tidak sabar aku menunggu pekan depan."
Dua prajurit yang bertugas belanja kebutuhan penghuni Beteng Baswara itu beranjak meninggalkan kedai tuak setelah meninggalkan uang secukupnya. Sementara pemilik kedai siap-siap berangkat untuk menghubungi seorang Lajir cantik agar tidak mengecewakan prajurit Baswara yang sangat ia takuti
***
Bumi berputar menciptakan kejap-kejap waktu. Dari kejap menuju tabuh ( jam), menghimpun wayah ( penanda geseran matahari), mengganti tithi ( hari) demi hari, membawa penghuni bumi di atas permukaan melintas ke berbagai arah tujuan, termasuk 3 kuda yang ditunggangi 3 Ksatria ; Kidang Panah, Karna, dan Julig.
Setelah singgah di kota pertama untuk istirahat, Kidang Panah membeli kuda termahal di kota itu karena bosan diejek Julig yang selalu bilang bahwa kudanya lebih pantas berbaris sebagai daging di tusukan sate daripada lari di jalan. Kidang Panah membeli kuda berwarna coklat muda mulus sehingga menampakkan semburat kuning saat berlari kencang, maka kuda itu kemudian diberi nama Pita ( pita \= Kuning). Kemunculan kuda Pita yang lembut dalam warna tapi garang dalam berlari membuat perimbangan kecepatan laju 3 Ksatria itu. Ketiga kuda mereka sama-sama tangkas, bregas, dan cerdas dalam menterjemahkan maksud kendali penunggangnya. Julig tidak bisa lagi mengejek Kidang Panah, karena dengan mudah Kidang Panah akan menyusul laju kudanya saat diejek. Akibatnya, selama perjalanan, apabila menemui jalan datar, mereka seperti berlomba balap mana kuda yang tercepat mencapai titik tertentu.
Selalu Julig yang mengambil inisiatif untuk memulai balap kuda. Jika melihat bangunan yang menonjol atau pohon besar yang ada di ujung penglihatan, pasti Julig akan teriak, " Ayo, kita balapan. Siapa yang paling duluan sampai di pohon besar itu, hadiahnya dipijitin begitu istirahat!"
Selanjutnya, mereka bertiga akan memacu kudanya secepat-cepatnya ke titik tujuan. Hingga perjalanan hari ke tiga, catatan pemenang lomba berimbang. Julig pernah menang di satu hari, Karna dan Kidang Panah pun demikian. Akhirnya, mereka bertiga secara bergantian saling pijat memijat. Tapi tetap saja yang paling beruntung Julig, saat dia menang, dengan seenaknya minta dipijat Karna dan Kidang Panah sampai tertidur, tapi giliran dia kalah, ada-ada saja alasannya untuk menghindari kewajiban memijat Karna dan Kidang Panah.
Dengan alasan otot-otot Karna dan Kidang Panah sangat keras, Julig tidak mau memijat mereka berdua dengan tangannya. Ia ambil dahan pohon atau bongkahan batu untuk memukuli tubuh dua Kakang yang sangat menyayanginya. Belum usai mereka dipijat sesuai perjanjian waktu, Julig sudah ngorok tertidur. Jika sudah demikian, Karna dan Kidang Panah hanya bisa tertawa sambil membetulkan posisi tidur Julig yang sembarangan.
Keberadaan Julig yang begitu murni pembawaannya membuat Karna dan Kidang Panah tidak merasakan beratnya perjalanan. Ditambah lomba balap kuda yang penuh kegembiraan, secara tak sadar memacu kecepatan dan mengurangi waktu tempuh dari yang diperkirakan sebelumnya. Perhitungan Kidang Panah, mereka sampai di perbatasan Kotaraja selama sepekan ( 5 hari), namun ternyata hanya dalam waktu 4 hari mereka telah memasuki kawasan perbatasan Kotaraja. Tepat tithi 7 Suklapaksa, 3 Ksatria itu sampai di bentangan tembok batu merah Kotaraja Majapahit yang megah.
" Waaaahhh...," Julig melongo melihat kemegahan bangunan benteng Kotaraja Wilwatikta yang demikian besar dan tinggi. Demikian pun Karna. Meski Karna sudah hapal cerita yang disampaikan oleh gurunya, Mpu Angalas, tentang betapa megahnya Kotaraja bhumi Majapahit, namun jelas berbeda antara kekuatan cerita yang hanya bisa dibayangkan dengan kenyataan yang terpampang di mata secara langsung.
__ADS_1
Benteng Kotaraja Majapahit berbentuk persegi bujur sangkar. Dibangun dari tumpukan batu merah besar membentang separo laksa depha lebar panjang ( 10 km x 10 km) sehingga saat 3 Ksatria itu sampai di depan gerbang kota, sepanjang mata mereka memandang kiri kanan, ujung dari tembok kota tidak terlihat. Tembok batu bata merah itu menjulang setinggi 7 depha lebih ( sekitar 15 meter) dengan ketebalan 1 depha ( 2 meter). Gerbang utama untuk memasuki Kotaraja terbuat dari logam berat berukir. Begitu beratnya gerbang utama itu sehingga perlu 10 orang prajurit terkuat untuk menarik daun pintu di tiap sisinya bila harus membuka atau menutup gerbang kota. Sedang di atas tembok kota, selalu berjalan-jalan prajurit yang bertugas ronda. Apabila malam datang, obor-obor akan menyala sehingga bila dilihat dari atas, Kotaraja Majapahit seperti api bersudut empat. Di atas pintu gerbang, selalu berkibar Panji Gula Klapa dan lambang negara Surya Majapahit yang bergambar Bathara Nawasangha. Hiasan berupa ukiran Surya Majapahit juga terdapat di sepanjang dinding kota disamping yang berbentuk tempelan kayu atau logam berukir.
" Ayo kita masuk ke sana, Kang. Aku ingin melihat keramaian dan kemegahan Kotaraja!" ujar Julig seperti anak kecil kesenangan melihat mainan baru.
" Tidak sekarang, Julig. Kita harus ke Baswara di lereng gunung Pawitra dulu untuk mengambil cincin, baru kita boleh masuk ke sini untuk menyerahkannya kepada Mahapatih, "jawab Kidang Panah.
" Waduh...padahal bagus banget sepertinya Kotaraja kita ini. Aku sudah ndak sabar masuk ke. sana!" ujar Julig dengan mata menerawang membayangkan kehidupan di balik benteng Kotaraja.
" Makanya kalau ingin secepatnya masuk ke sana, kita tidak boleh membuang waktu. Harus secepatnya menemukan cincin itu."
" Ya, Kang!" ujar Julig sambil mencongklang kudanya ke arah timur.
Kuda Panah dan Karna menyusul, " Mau ke mana kau?"
" Ke Baswara kan? Biar secepatnya bisa masuk ke Kotaraja! " ujar Julig setengah berteriak untuk mengatasi terpaan angin akibat kencangnya lari kuda.
" Memang kau sudah tahu letak Baswara?"
" Nanti tanya sama orang yang kita temui. Pasti tempat itu sangat terkenal karena tempat tinggalnya Demang kan?" jawab Julig sangat yakin.
***
Hampir putus asa setelah seharian penuh tidak mendapatkan titik terang sedikitpun, mereka bertiga memutuskan berhenti untuk memberi kesempatan 3 kuda tunggangannya makan, minum, dan tidur.
" Tidak mungkin seorang Mahapatih Gajahmada memberi petunjuk yang salah, " ujar Karna setelah mendengar Kidang Panah mengeluh apa benar isi surat yang dipegangnya itu.
" Atau jangan-jangan, sobekan surat dari Panembah Swara yang palsu, Kang? " tanya Julig yang juga sangat terlihat lelah.
" Sepertinya asli. Tapi siapa tahu? Ah...andai sobekan surat yang dia berikan palsu, aku pasti kembali ke sana untuk membunuhnya!" dengus Kidang Panah sambil membuka lagi 2 lembaran surat yang tersobek.
Mereka bertiga bersama-sama membandingkan dua sobekan surat itu. Bahan dan warna kainnya sama, garis sobekannya saling bertaut, gaya dan ketebalan tulisan Gajahmada juga persis tiada beda sama sekali.
" Ini surat asli. Tidak mungkin ada yang bisa meniru surat sepersis ini, " gumam Kidang Panah lelah.
" Iya, kang. Di sana jelas tertulis 'demang Suranggana di Baswara lereng Prawita timur Wilwatikta'. Jika tempat itu ada, harusnya letaknya di sekitar sini. Tapi mengapa tidak ada satupun orang yang tahu?" Karna berkata dengan nada agak putus asa.
Saat 3 Ksatria itu lelah dengan pencarian tanpa hasil, tiba-tiba seekor kuda dengan penunggang seorang laki-laki berumur kisaran 40 tahun melintas dan menghentikan laju kudanya melihat ada tiga orang pemuda tidur berbaring bersandar pohon besar, " Sampurasun..." lelaki itu menyampaikan salam.
__ADS_1
" Rampes, Rahayu Ki Sanak, " jawab ketiganya.
" Rahayu sagung dumadi. Mohon maaf, saya Ki Giri boleh ikut istirahat berteduh di pohon ini, Ki Sanak bertiga?"
" Tentu saja, Kangmas Giri. Silahkan. Saya Jaka Wingit bersama kakang saya Kidang Panah dan adik saya ini Jaka Julig, " jawab Karna sambil memperkenalkan diri mereka.
Ki Giri menuntun kudanya untuk makan rumput segar kemudian bergabung duduk bersandar di akar pohon besar.
" Tampaknya Andhika bertiga sedang melakukan perjalanan jauh ya?" ujar Ki Girl membuka percakapan.
" Benar, Kangmas. Kami dari lereng Mahendra. "
" Dari gunung Mahendra sampai ke sini? Wah, jauh sekali! Saya sebenarnya dari dulu punya cita-cita menjelajahi seluruh Jawa Dwipa. Sayangnya tidak pernah kesampaian. Kalau sekarang tidak mungkin lagi, karena ada cucu-cucu lucu yang harus diasuh. Akhirnya ya begini. Saya hanya mampu menjelajahi gunung Prawita. Tapi karena saya hanya menjelajahi gunung ini, seluruh desa, lereng-lereng, puncak dan seluruh permukaan gunung suci ini saya hapal. Saya mengenal setiap lekuk gunung ini ibarat tubuh saya sendiri. Sampai-sampai orang memanggil saya Ki Giri, penunggu gunung. Hehehe...."
Mendengar cerita Ki Giri yang mengetahui seluk-beluk Gunung Prawita, Kidang Panah mendongakkan badannya. Timbul harapan yang hampir tenggelam. Kalau benar Ki Giri mengenal setiap tempat di gunung ini, harusnya ia tahu letak wilayah yang bernama Baswara, " Mohon maaf, Kang Giri. Apa benar Kakang mengenal seluruh dukuh, desa, dan tempat di gunung ini?"
" Benar, adhi Kidang Panah. Jangankan hanya nama dukuh dan desa yang ada di gunung ini, bahkan ibaratnya bila ada batu pecah jatuh ke tanah, saya tahu asal mula batu itu sebelum lepas dari pecahannya."
Mata Kidang Panah, Karna, dan Julig berbinar seketika. Ki Giri jelas adalah orang yang dikirim Dewata ketika harapan untuk menemukan tempat yang bernama Baswara hampir padam.
" Begini, Kang Giri. Sebenarnya kedatangan kami bertiga jauh-jauh dari lereng Mahendra untuk mencari kerabat kami yang tinggal di Baswara, dekat dengan kediaman Demang Suranggana. Apa kang Giri bisa memberi petunjuk arah jalan ke tempat itu?"
Ki Giri menatap Kidang Panah, " Baswara, Demang Suranggana?" gumam Ki Giri.
" Benar. Tolong tunjukkan arah jalannya dari sini, Kang Giri!" ujar Kidang Panah tak sabar.
Ki Giri mengerutkan kening. Tatapan matanya mendongak ke atas. Seperti sedang berpikir atau mengingat-ingat.
***
Contoh SURYA MAJAPAHIT yang menyimbolkan Bathara Nawa Sanga dalam ujud Tempelan di dinding, ukiran Batu, dan Kain Bendera.
__ADS_1