KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
61 TERKAPAR


__ADS_3

":Siapkan ruang buat Julig. Sekarang!" hardik Kidang Panah setelah mendobrak warung tuak Kusa.


Kusa masih terperangah setelah bangun tidur karena tertimpa daun pintu warung yang terbang oleh tendangan Kidang Panah. Dengan marah ia menghunus golok. Begitu melihat yang datang ternyata Kidang Panah yang sedang panik dengan wajah merah padam, seketika nyalinya ciut.


" Apa? Apa Raden? " seru Kusa.


" Aku butuh satu kamar!" Kidang Panah mencengkeram bahu Kusa dan mengguncangnya. Ia tidak menyadari kuatnya cengkeramannya membuat tulang bahu Kusa serasa akan patah.


" Iyaaaaaaa..... Raden....aduuuhhh..." Kusa meringis kesakitan hingga Kidang Panah sadar.


" Tolong siapkan satu kamar untuk adhiku Julig, tolong...." pinta Kidang Panah sambil melepaskan cengkeramannya.


" Sandhika Dhawuh, Raden..." jawab Kusa lega merski masih bertanya-tanya.


Saat Kusa menyiapkan satu kamar, Karna yang datang belakanngan karena membopong Julig dengan hati-hati masuk ke kedai.


" Kusa! Kau di mana? Mana ruang untuk Julig?"


Kusa yang masih terburu-buru melaksanakan perintah Kidang Panah untuk menyiapkan kamar baru, jadi ketakutan menghadapi Karna yang kesaktiannya pernah ia saksikan saat menciptakan angin besar. Ia tinggalkan kamar yang sedang disiapkan," Pakai saja kamar saya, Raden. Itu langsung bisa digunakan."


Karna tidak menunggu jawaban kedua. Seketika menerobos masuk ke kamar Kusa dan membuang semua barang yang tidak perlu dari tempat tidur. Yang dibutuhkan Julig hanya udara segar untuk saat ini. Ia memukul dinding untuk membuat lobang angin. Dengan hati-hati dibaringkannya tubuh Julig yang jatuh pingsan karena tidak mampu menahan sakit.


" Kang Kidang, bantu aku menyalurkan hawa murni!" seru Karna.


Sementara kondisi Julig sudah berada di antara hidup dan mati. Bibirnya membiru, matanya setengah terbuka namun tidak merespon sedikitpun pada cahaya. Kulit wajahnya yang bersih pucat sepasi kapas.


" Bangun, Julig! Bangun! Bangun !!! " seru Karna panik.


" Bangun, Anak Kancil.... banguuuuuunnn...!!!" Kidang Panah tak sadar mengguncang-guncang bahu Julig sehingga anak panah yang menancap di dadanya ikut bergerak naik turun.


Namun....Julig tak bereaksi sedikitpun.


Setetes darah mengalir dari sudut bibir Julig.


" Karna, Julig bagaimana? " desah Kidang Panah tak berdaya.


Karna menghela napas panjang untuk mengatasi kepanikannya. Dengan lembut ia usap Julig dari ubun-ubun menyusur ke dada yang masih tertancap anak panah. Dirasakan masih ada detak jantung meski sangat-sangat lemah.


" Ia masih hidup, Kang, " desis Karna sembari menyalurkan hawa murni dari telapak tangannya menembus dada Julig.


Melihat Karna memusatkan penyaluran tenaga, Kidang Panah pun mengikuti dengan menyesuaikan tenaganya agar tidak saling bertentangan. Dua Ksatria itu memejamkan mata mendeteksi organ dalam Julig yang terganggu fungsinya karena luka.


" Jantungnya kena..." desah Karna.


" Iya, yang kurasakan juga itu. Aliran hawa murninya terhenti ketika mencapai jantung...' bisik Kidang Panah.


" Kita harus bergantian menyalurkan tenaga untuk membuat jantungnya tetap bekerja. Sekali aliran hawa murni terhenti, detak jantungnya akan berhenti juga."

__ADS_1


Kidang Panah mengangguk, " Satu di antara kita harus terus menyalurkan hawa murni agar Julig tetap hidup sampai luka di jantungnya sembuh."


" Jantungnya tersayat panah....." desis Karna sambil menatap wajah Julig yang membiru karena kekurangan pasokan hawa urip ( oksigen).


" Intinya di penyembuhan luka, Karna. Kau punya ramuan penyembuh daging yang tersayat?"


Karna mengangguk, " Ada, Kang. Aku dibekali Guru jamu penyembuh sayatan. Sangat ampuh, kakiku pernah sobek sampai ke batas tulang karena cakar harimau. Dalam semalam kering dan tertutup setelah minum jamu itu."


" Minumkan sekarang juga! " sahut Kidang Panah tak sabar.


" Jangan sekarang, Kang. Yang penting saat ini mengembalikan detak normal jantungnya dulu. Coba kerahkan tenaga lebih besar dengan perlahan-lahan, Kang. Aku juga akan melakukan hal yang sama," ujar Karna. " Kalau kita bisa membuatnya siuman, berarti di titik itu kita harus menyalurkan tenaga untuk menjaga jantung terus bekerja."


Karna dan Kidang Panah memejamkan mata untuk merasakan titik vital gangguan daya hidupnya. Setelah beberapa saat berkonsentrasi penuh, Karna bergumam, " Saya sudah merasakan letak titiknya, Kang."


Kidang Panah mengangguk, " Aku juga. Ada peningkatan detak jantungnya saat hawanya melewati titik itu."


" Dorong perlahan... sedikit lagi... sedikit lagi...." desis Karna.


". Uhuuukkk....!!!" Julig terbatuk lemah.


Karna dan Kidang Panah menatap wajah Julig dengan seksama. Perlahan-lahan seri wajahnya kembali.


Kelopak mata Julig bergerak dan terbuka. Samar-samar dilihatnya wajah Kidang Panah dan Karna seperti bayangan kabur. Mendadak dirasanya dadanya sesak dan nyeri menerjang.


" Sakiiiiitttt...." rintih Julig.


" Anak Kancil, kau bangun?" desis Kidang Panah dengan mata penuh harap.


" Kang Kidang.....Kang Wingit...." desah Julig.


" Ya Julig, " sahut Karna. " Apa yang kau rasakan?"


" Nyeri dadaku, Kang, " sahut Julig antara sadar dan tidak sadar. Lamat-lamat ia melihat dadanya sendiri ada sebatang bentuk pipih menempel di sana. Ingatannya perlahan-lahan kembali saat terakhir ia naik memanjat dahan pohon untuk melongok keadaan benteng Baswara. Saat itu ia sangat gembira melihat Karna melontarkan badai Bayu Bajra yang menghempas semua prajurit Baswara. Saking semangatnya, ia lupa pesan Kidang Panah agar tidak melewati batas tertinggi pagar Baswara. Julig malah berdiri di atas dahan untuk meneriakkan nama dua kakangnya yang sedang di atas angin. Pada waktu itu sebuah bahaya datang tanpa dia sadari dalam bentuk bayangan berkecepatan kilat menuju arahnya. Selanjutnya yang ia ingat terasa ada hantaman dahsyat di dadanya. Lepas dari itu, Julig sudah tidak ingat apa-apa lagi.


" Aku terkena panah ya...." desis Julig setelah sadar sepenuhnya bentuk batang pipih yang menancap di dadanya.


" Iya, Julig. Kau terkena panah. Tapi tidak apa-apa, hanya menancap sebatas kulit..." sahut Karna berbohong karena yang sebenarnya kondisinya sangat mengkhawatirkan.


" Kenapa tidak dicabut panahnya kalau hanya dikulit? " tanya Julig.


" Oh iya, lupa aku, " jawab Karna sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. " Aku baru saja mau mencabut panahnya sama kang Kidang. Tapi menunggu kamu bangun tidur dulu biar kau tidak kaget. Ya kan, Kang Kidang?"


" Oh... Tentu,, tentu saja! Sebentar lagi kami mau mencabut panah itu, " sambung Kidang Panah gugup.


" Ya sudah, kalau cuma menancap di kulit bisa kucabut sendiri. Gampang kan, Kang?" gumam Julig seraya memegang hulu anak panah.


" Aaaakkk....aduh!" pekik Julig merasa sakit luar biasa hingga naik mencengkeram kepalanya seperti tersengat tusukan belati saat batang panah bergoyang.

__ADS_1


" Sakit sekali, Kang!" pekik Julig.


' Oh... agaknya menyentuh tulang igamu, Julig. Biarkan dulu, " ujar Karna sambil menahan pergelangan tangan Julig agar tidak memegang panah.


" Bagaimana ini, Kang?" bisik Karna.


Kidang Panah mendengus pendek, membalas dengan bisikan," Serahkan padaku," jawabnya sambil mengirim tenaga untuk menekan saraf perasa Julig agar tidak terlalu peka, "Bagaimanapun panah itu harus segera dicabut, Karna."


Kidang Panah menatap lobang dada Julig yang tertancap panah sangat dalam. Kalau panah itu tidak segera dicabut, pasti menimbulkan luka busuk yang sangat berbahaya. Sementara kalau dicabut, bentuk panah yang serupa kail pasti menimbulkan sakit luar biasa saat mengoyak daging. Belum lagi darah yang mengucur dari luka baru.


" Caranya mencabutnya bagaimana, Kang?'


" Kau nanti yang mencabutnya, Karna. Tapi harus dengan satu sentakan kuat agar tidak menimbulkan luka yang lebih lebar dan ujungnya tidak patah. Sangat sulit diambil kalau sampai patah di dalam, apalagi kukira ujungnya menyentuh jantung."


" Tapi Julig bisa sangat kesakitan saat dicabut."


" Percayalah padaku. Aku akan bicara dengan Julig, begitu aku memberi isyarat, cabut langsung panahnya. Begitu panah tercabut, kau totok jalan darahnya agar tidak mengalir."


Karna mengangguk, Kidang Panah memajukan wajahnya agar bisa saling tatap mata dengan Julig.


" Anak Kancil, kau percaya pada aku sebagai kakangmu?" desis Kidang Panah sembari mengusap kening Julig


Julig menatap Kidang Panah, Julig adalah anak sulung di keluarganya. Ia tidak pernah mengalami bagaimana rasanya memiliki saudara tua. Tapi setelah bertemu Karna kemudian Kidang Panah, baru ia tahu betapa nyaman dan amannya memiliki saudara tua yang sangat menyayangi dan melindunginya. Dengan senyum lemah Julig berkata," Seluruh jiwa saya percaya pada kebaikan kakang berdua. Baik kang Kidang maupun kang Wingit."


" Kami berdua memang sangat menyayangi kamu. Sekarang tempat apa yang paling ingin kau kunjungi untuk kita bertiga?" gumam Kidang Panah.


Julig menatap Kidang Panah. " Kotaraja, Kang. Kemarin kita baru melihat tembok luarnya. Aku ingin masuk ke Kotaraja. Aku ingin lihat keramaian Kotaraja. Kata Bapa Guru Kebo Ireng, Kotaraja sangat meriah. "


Kidang Panah diam-diam membangkitkan daya sihirnya untuk menguasai pikiran Julig.


" Kalau begitu, kenapa tidak sekarang saja kita ke sana? " ujar Kidang Panah.


" Sekarang? Ke Kotaraja? " tanya Julig dengan nada mengambang mulai terpengaruh hipnotis Kidang Panah. " Naik apa ke Kotaraja?"


" Naik kudamu yang putih...Kuda Seta ya namanya? Ayo kita masuk Kotaraja.... sekarang....masuk Kotaraja....apa kau suka, Julig?"


Mata Julig berbinar-binar. Seperti itulah cahaya mata Julig saat menikmati keramaian Kotaraja.


" Bagus sekali Kotaraja Majapahit...aku suka sekali...." desis Julig yang sudah sepenuhnya masuk alam hipnotis.


" Cabut sekarang, Karna!" bisik Kidang Panah.


Tangan Karna menggenggam batang panah yang menancap sangat dalam di dada Julig. Bukan masalah untuk seorang Karna mencabut panah. Hanya perlu satu sentakan tenaga kecil pasti panah itu akan tercabut. Namun masalahnya, ujung panah itu menyentuh jantung Julig. Arah cabutannya harus tepat lurus, tidak boleh bergoyang sedikitpun agar tidak menyobek jantung yang berarti membunuh Julig seketika.


***


"

__ADS_1


__ADS_2