KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
46 SERANGAN MENDADAK


__ADS_3

Setelah disatukan dengan sobekannya, surat pesan dari Mahapatih Gajahmada bertulis lengkap;


Jari yang lepas harus sudah tersambung sebelum Purnama datang.


Terakhir jari itu diketahui tergeletak di Demang Suranggana di Baswara lereng Parwita timur Wilwatikta


" Jadi kita harus ke Baswara yang ada di sebelah timur Kotaraja. Entah Baswara itu nama desa atau pademangan ( wilayah di bawah kabupaten, setingkat kecamatan), " ujar Kidang Panah.


Julig dan Karna mengangguk paham. Mereka telah meninggalkan goa Panembah Swara dan kini berada di warung Bagya untuk berkemas-kemas langsung berangkat menuju Kotaraja sebab menurut perhitungan lama perjalanan, mereka tidak mempunyai waktu untuk menunda lagi.


" Julig, kau kuat melanjutkan perjalanan malam ini juga tanpa istirahat?" tanya Karna. " Besok siang baru istirahat untuk menghindari terik matahari. "


" Sanggup, Kang. Aku sudah terbiasa berburu celeng semalam suntuk tidak tidur."


" Kalaupun tidak tahan menahan ngantuk tidak masalah kau tidur telungkup di punggung kuda saat di jalan datar. Kita tak terburu-buru harus berlari cepat, yang penting tidak berhenti saja, " sambung Kidang Panah. "Nanti kalau lewat daerah yang sulit, banyak jurang atau sungai, baru kita ambil perjalanan siang. Ya sudah kalau semua sudah siap, kita berangkat sekarang."


Julig dengan semangat menjelang petualangan baru setengah meloncat berdiri. Karna pun bangkit dari tempat duduknya.


Tiba-tiba...


" Uuuggghhh...." mendadak Karna meringis sambil memegang perut sebelah kanan.

__ADS_1


Kidang Panah terkejut melihat Karna yang tampak menahan rasa sakit, " Kenapa kau, Wingit?"


Karna menggerakkan bibirnya seperti akan berkata sesuatu namun tak kuasa. Justru sekarang kedua telapak tangannya memegangi perut kanannya seperti dihantam tenaga yang sangat besar di bagian itu.


Ia berjalan mundur terhuyung-huyung seperti mau jatuh. Dari dahinya menetes butiran keringat sebesar biji jagung. Jelas benar kalau Karna sedang didera sakit yang sangat luar biasa.


Kidang Panah tidak melihat siapapun atau datangnya tenaga dari luar yang menyerang Karna. Andai saja ada orang yang menyerang Karna, pasti pelakunya sangat tinggi ilmunya, mengingat tidak mungkin pendekar sesakti Karna dapat diserang oleh orang sembarangan sampai terlihat demikian menderita. Ia melesat ke luar warung untuk memeriksa apa ada kelebat orang atau apapun yang telah menyerang Karna. Namun ia tidak menemukan gerakan atau bayangan apapun yang mencurigakan. Tidak ada seorangpun di sekitar warung penginapan Bagya.


Pikiran Kidang Panah bekerja, jangan-jangan Karna mendapat serangan ghaib semacam santet atau teluh. Namun, andaikata ada tenaga gaib yang datang, harusnya ia yang sangat akrab dengan ilmu gaib bisa merasakannya. Nyatanya, ia tidak merasa sedikitpun ada getaran gaib di sekitar warung Bagya. Kemungkinan terakhir, Karna keracunan. Namun selama bertempur di goa, ia tidak melihat Karna makan apapun dan siswa Panembah Swara juga tidak menggunakan senjata seperti jarum atau asap beracun.


Dengan panik Kidang Panah melompat lagi masuk ke warung setelah mendengar Karna mendesah kesakitan lagi. Dia lihat Julig berdiri kebingungan tidak tahu apa yang harus dilakukan, sementara Karna terhuyung nyaris membentur dinding.


" Jangan! ' Karna menjulurkan tangannya untuk mencegah Kidang Panah menyentuhnya.


Namun terlambat. Kidang Panah telah melesat secepat angin menahan bahu Karna agar tidak membentur dinding.


Akibatnya....


" Sssrrrrrrrrrtttttt..... .!! " Tubuh Kidang Panah tersengat tenaga semacam listrik berkekuatan petir yang menerobos liar mengalir ke seluruh tubuhnya. Bersamaan dengan itu, sebentuk tenaga raksasa mendorong tubuh Kidang Panah hingga melayang seperti daun kering tersapu angin.


" Braaaaaaakkkk.....!!!" tubuh Kidang Panah terhempas ke dinding warung dengan sangat keras sehingga dinding warung itu jebol dan Kidang Panah terlempar ke luar sampai 4 depha ( 8 meter) dari warung.

__ADS_1


Kidang Panah bangkit dari jatuhnya tanpa luka sedikitpun, karena tenaga yang keluar dari tubuh Karna tidak bersifat pukulan, tapi berupa dorongan yang sangat kuat.


" Apa yang terjadi padamu, Wingit? " dengan penuh khawatir Kidang Panah mendekati lagi tubuh Karna, namun ia tidak berani menyentuh lagi. Ia merasakan dalam radius setengah depha, tenaga listrik sudah menyengat permukaan kulitnya.


Lalu Kidang Panah melihat dua telapak tangan Karna yang mendekap perutnya seperti ada bara bersinar putih kebiruan menerobos dari sela-sela jari.


" Apa yang di perutmu itu, Wingit?"


Karna tidak menjawab, namun sepertinya rasa sakit yang menderanya perlahan mereda. Rupanya gelombang tenaga yang menerobos sangat dahsyat di tubuhnya mulai menjinak setelah menyengat dan melemparkan Kidang Panah.


Karna melepaskan dekapan tangan dari perutnya. Perlahan duduk menata sila, menarik dan menghembus napas panjang untuk menata gejolak tenaga yang telah mengaktifkan seluruh Cakra secara sangat mendadak dan ekstrim.


Saat Karna menetralisir putaran hawa murninya, Kidang Panah bisa melihat benda bersinar yang tadi didekap Karna adalah kantong kecil kain yang entah berisi apa, tapi yang jelas besarnya sekitar segenggaman kepal tangan orang dewasa. Ia tidak bertanya lebih lanjut, hanya menunggu Karna usai menata napas. Sementara Julig yang kebingungan tidak tahu yang harus dilakukan ikut duduk berjongkok menunggui Karna di belakang punggung Kidang Panah.


Napas Karna mengalun satu satu. Peluh yang semula membasahi sekujur tubuh Karna menguap seperti embun. Saat itu yang dirasakan Karna adalah putaran hawa yang kacau dengan berbagai sifat yang datang serentak. Kadang panas api seketika tersusul dinginnya air. Selanjutnya sifat keras padat tanah berbenturan dengan sifat udara yang lembut tanpa bentuk, berkecamuk bergantian sehingga Karna tidak bisa memutuskan bentuk pernapasan atau Cakra apa yang harus ditekan atau diaktifkan untuk menanggulanginya.


Di sela-sela empat unsur yang telah dikenali Karna lewat ajian Bayu Bajra yang bersifat angin, Tirta Gumulung yang bersifat air, Tapak Dahana yang berunsur api dan pukulan hawa murni yang sekeras tanah, terselip unsur lain yang masih sangat asing bagi Karna, yaitu perasaan Hampa yang tidak ia ketahui. Mungkin saja itu disebut ether, atau Akasa ( Langit, angkasa kosong). Ia tidak tahu pasti.


Dari sela-sela pori-pori wajah Karna keluar semacam kabut tipis yang berputar-putar menyelimuti parasnya hingga terlihat samar-samar.


***

__ADS_1


__ADS_2