
Semakin malam semakin menggelora suasana pesta pengangkatan saudara yang berubah di tengah jalan menjadi penobatan Jaka Wingit sebagai penguasa baru secara simbolis. Para gadis muda sudah disuruh tidur di bekas Kaputren yang telah dikosongkan, kecuali para penari dan swarawati / pesinden yang memang ditugaskan untuk menghibur sampai pagi.
Julig yang periang sudah sibuk dari senja menari bersama para ledhek ( penari pergaulan) yang centil meliukkan tubuhnya. Ketampanan dan pembawaan Julig yang menyenangkan ditambah keroyalannya memberi sawer, apalagi ia mengaku sebagai adik kandung Jaka Wingit membuatnya digila-gilai oleh semua penari ledhek yang rata-rata bertubuh sintal. Setiap ledhek bergantian berlomba mengalungkan sampur ( selendang) ke leher Julig untuk mengajaknya menari perpasangan. Beberapa kali orang yang menonton Julig menari berpasangan menggoda dengan komentar kalau ledheknya kalah cantik dibandingkan dengan Jaka Julig yang berkulit paras halus.
Aroma keras tuak membubung dari napas semua lelaki yang hadir. Berbagai olahan masakan terutama yang berbahan dasar daging kerbau dan celeng menjadi trambul ( makanan pengiring tuak), disamping olahan daging ayam dan ikan air tawar yang juga banyak penggemarnya. Sorak dan pekik kesenangan menyeruak dalam hasrat menari. Pesta pada masa itu memang demikian caranya. Mengumbar kesenangan sepuas-puasnya asal tidak melanggar kesepakatan untuk memelihara kebersamaan. Meski sering juga ada ekses karena mabuk berlebihan, terjadi benturan antara kaum lelaki, biasanya masalah rebutan ledhek yang jadi kembang. Jika sudah demikian, orang yang lupa diri sehingga merusak suasana pesta akan dipegang beramai-ramai untuk ditenangkan. Namun bila ia telah terlanjur membuat kerusakan, hukum adat yang berbeda-beda di tiap daerah bisa diterapkan. Biasanya berupa denda uang atau hukum sosial lainnya. Tetapi kalau pelakunya kebetulan orang kuat, misalnya jawara setempat atau prajurit, bisa saja mereka dibiarkan memisahkan diri dari pesta dan melanjutkan pertarungan satu lawan satu baik untuk disaksikan sebagai 'bonus' pertunjukan atau menurut kesepakatan mereka sendiri memilih tempat tersendiri. Ada juga aturan adat di suatu daerah yang memperbolehkan pendapat ledhek, di mana ledhek yang diperebutkan boleh membuat aturan tersendiri. Sang ledhek yang berjiwa nakal menyuruh mereka berkelahi memperebutkan dirinya, siapa yang menang akan berhak mendapatkan 'tarian' tambahan semalam suntuk. Tentu 'tarian' yang dimaksud bukan sekedar tarian, melainkan 'tarian' khusus yang dilakukan berdua di suatu ruang tanpa disaksikan orang lain. Namun, perkelahian karena memperebutkan ledhek meski tidak jarang terjadi, karena diatur oleh hukum adat setempat, biasanya tidak berakhir fatal. Paling-paling hanya babak belur, karena perkelahian itu tidak boleh menggunakan senjata tajam. Ketika pagi menjelang dan hawa mabuk telah menguap lenyap sepenuhnya, mereka yang semalam sempat bersitegang akan tersipu malu dengan sendirinya.
***
Sementara di ruang utama Wisma Gagak Nagara, tinggal Gagak Bayan, Kebo Ireng, dan Karna ditemani sesekali iringan musik klasik degung, gendhing gamelan yang sayup-sayup merdu dengan suara swarawati. Suta sudah meminta diri untuk menikmati hiburan di pelataran bersama Julig. Mereka bertiga tampak asik berbincang sambil nginang, mengunyah sirih yang merupakan kegemaran semua orang dewasa, baik lelaki maupun perempuan, juga bagian etika pergaulan yang tak terpisahkan.
Gagak Bayan yang terburu waktu memutar otak mencari cara supaya Kebo Ireng meninggalkan ruang utama Wisma agar ia bisa mendapat kesempatan untuk berdua saja dengan Jaka Wingit sehingga dapat membuatnya mabuk dan mendapat bocoran rahasia intisari ajian Bayu Bajra. Ia memperoleh informasi bahwa Kebo Ireng pernah berguru kepada seorang pujangga di Kotaraja Wilwatikta. Pasti Kebo Ireng sangat menyukai sastra, demikian pikirnya.
Maka dengan cara yang sangat halus, Gagak Bayan seolah-olah tak sadar bergumam sendiri, " Malam ini saya sangat bahagia. Semua perbedaan yang pernah terjadi antara kita terlebur sudah. Jadi paham saya apa yang tertulis dalam kitab Sutasoma..."
Pancingan Gagak Bayan berhasil. Mendengar nama kitab Sutasoma, Kebo Ireng spontan bereaksi. Kitab itu sangat suci baginya yang haus akan sastra dan spiritual. Kitab Sutasoma memuat dan menggamblangkan konsep Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa yang sedang ditafsirkan secara politis dan praktis oleh Mahapatih Gajahmada dalam menggapai ujud Kenusantaraan nyata.
Seperti laron yang tergesa-gesa memburu cahaya, Kebo Ireng sedikit terengah napasnya oleh penasaran bertanya, ' Maksudnya Sutasoma wyasan ( karya) yang mulia kaswargan Yogi Mpu Tantular? Ki Ageng Gagak Bayan punya salinannya?"
Gagak Bayan tersenyum samar untuk menutupi kesenangannya atas keberhasilan umpan lezat yang dilemparnya, " Kebetulan saya pernah bertemu dengan seseorang yang hapal di luar kepala isi kitab mulia itu. Dan beliau berkenan menuliskannya kembali di lontar yang saya simpan di ruang pustaka."
Bagai anjing melihat tulang, Kebo Ireng yang seumur hidup bercita-cita membaca secara lengkap kitab idamannya, terlena oleh kesenangannya pada sastra spiritual, setengah berteriak berkata, " Saya boleh baca kitab itu, Ki Ageng?"
Gagak Bayan tertawa lirih untuk menutupi gelak tawanya dalam hati, " Hehehe... jangankan hanya membaca. Ki Buyut Kebo Ireng ini sudah menjadi bagian dari keluarga Adhi Jaka Wingit, jadi Ki Buyut adalah saudara saya juga. Silahkan... silahkan, " ujar Gagak Bayan seraya memerintahkan abdinya, " Soma, antarkan Ki Buyut ke ruang pustaka! Ambilkan kitab Sutasoma yang kusimpan di peti. Layani sebaik-baiknya apapun yang Ki Buyut inginkan!"
" Sandhika, Gusti!" sahut sang Ponggawa yang kemudian mengarahkan ibu jarinya untuk mempersilahkan Kebo Ireng mengikuti langkahnya, " Mari Ki Buyut, sahaya antar."
Tanpa membuang waktu, Kebo Ireng mengikuti langkah Ponggawa, meninggalkan Karna si Jaka Wingit yang termangu-mangu sendirian bersama Gagak Bayan yang siap memperdaya dirinya yang masih sangat lugu sebagai orang yang baru saja keluar dari hutan.
***
" Adhi Wingit," ucap Gagak Bayan mengawali pembicaraan setelah dia hanya berdua dengan Karna diiringi penabuh gamelan dan 3 pesinden. Tampaknya hanya pesinden terbaik yang disisakan untuk menemani pembicaraan mereka berdua. Suaranya merdu, mendayu saat menembang lagu klasik dan kenes saat melantunkan tembang asmara. Tubuh mereka juga sintal penuh dengan undangan gairah.
" Ya, Kakang," Karna menjawab.
" Andhika suka dengan suara swarawatinya?"
' Suka. Sangat suka. Suara mereka sangat merdu. '
" Ya, mereka memang pesinden terbaik di Gagak Nagara. Disamping suaranya paling merdu, wajah mereka juga paling cantik. Apalagi tubuhnya, waaaahhh... pokoknya mantap."
" Mantap? Maksudnya bagaimana, Kakang?" tanya Karna lugu karena benar-benar tidak paham.
Gagak Bayan menahan tawanya. Keluguan Jaka Wingit sungguh-sungguh bertolak belakang dengan kesaktian ilmu silatnya. Ia merasa seperti bicara dengan anak kecil.
" Mantap itu artinya mereka bukan hanya pandai menyanyi, Dhimas. Ada kemampuan lain yang jauh lebih mereka kuasai jika dilakukan dengan tubuhnya," sahut Gagak Bayan sambil senyum menahan tawa.
" Maksudnya menari seperti yang di pelataran, Kang?"
" Hahaha..." akhirnya Gagak Bayan tak kuasa menahan tawanya. " Iya, menari. Tapi tarian mereka jauh lebih dahsyat dan indah dari yang di pelataran. Mereka bisa menari sangat indah di atas tubuh Adhi."
" Menari di atas tubuh?" Karna termangu tak mampu membayangkan apa yang dimaksud Gagak Bayan dengan menari di atas tubuh.
" Iya. Itu semacam tarian rahasia. Hahaha.... Adhi harus melihatnya, " ujar Gagak Bayan seraya berjalan mendekati 3 pesinden.
" Larasati, " Gagak Bayan memanggil salah seorang pesinden. Larasati tersenyum sumringah. Rupanya Larasati adalah pesinden termerdu dan tercantik yang sedari pertama mencuri-curi pandang kepada Karna.
" Hamba, Gusti Gagak Bayan, " jawab Larasati.
" Kamu layani apapun yang dibutuhkan Gustimu yang baru, Gusti Jaka Wingit. Mau?'
Larasati sangat hapal dengan maksud Gagak Bayan. Ia sinden terbaik sekaligus penghibur pribadi Gagak Bayan. Hubungannya dengan Gagak Bayan sudah sangat intim, nyaris tanpa jarak. Segera ia beringsut maju.
Gagak Bayan membungkukkan badan agar dapat berbisik ke telinga Larasati, " Kamu mau?"
__ADS_1
Larasati mengerling nakal, " Melayani segala hal kan, Kangmas?" tanya Larasati yang kalau berbicara berduaan saja memanggil Gagak Bayan sebagai Kangmas, bukan Gusti.
" Tentu. Jangan khawatir, bayaranmu aku kasih 5 kali lipat asal Gusti Jaka Wingit puas."
Larasati tersenyum centil, " Tidak usah dibayarpun saya rela kok."
Gagak Bayan tertawa lirih, " Dasar kau perempuan liar. Ternyata pengen juga kau merasakan perjaka pilihan."
" Tidak boleh cemburu ya, Kangmas. Saya kan hanya menjalankan tugas. Hihihi..."
Gagak Bayan mendengus pendek, " Jangan lupa tuaknya yang ada di guci putih tutup merah. Pokoknya, buat Gustimu seenak mungkin, tapi jangan sampai ketiduran. Tengah malam nanti aku menyusul. Ada hal yang harus kami bicarakan."
Larasati mengangguk paham. Tuak yang dimaksud adalah tuak istimewa yang rasanya paling enak, perjalanan 'naik'nya perlahan-lahan sehingga enak dibawa mengobrol, namun begitu sampai di syaraf otak mabuknya sangat dahsyat.
" Adhi Wingit, " ujar Gagak Bayan.
" Ya, Kang, " jawab Karna.
" Ini Larasati ingin menemani Andhika. Dia akan nembang, berbincang dan menari. Adhi bebas minta tarian apapun, termasuk bila berkenan menikmati tarian di atas tubuh."
" Ah, saya mendengar Larasati nembang di sini saja, Kang."
" Bukan begitu cara menikmati Larasati, Adhi. Saya akan menemani tamu dulu di pelataran. Adhi silahkan masuk ke Dalem (ruang keluarga), menikmati suara dan tarian Larasati. Tejo, kau bawa sitermu. Mainkan di balik pintu. Ingat, jangan ikut masuk Dalem selain Gustimu Wingit dan Larasati."
" Sendhika, Gusti," sahut Tejo pemain siter segera menenteng siternya.
Setelah memberi perintah, Gagak Bayan meninggalkan Karna yang termangu. Larasati mengerling ke arah Karna dengan senyum menggoda, melangkah mengarahkan Karna, " Mari Gusti Jaka Wingit, saya antar ke Dalem."
Karna yang lugu hanya berdiri saja tidak melangkah. Melihat Karna tidak mengikutinya, Larasati yang sudah tidak sabar menghibur Karna melupakan sopan santunnya sebagai pesinden kepada penguasa Gagak Nagara, ia membalikkan badan menarik tangan Karna dengan gaya merajuk," Ayolah, Gustiku..."
Dengan langkah kaku Karna mengikuti Larasati yang terus memegang jari-jari Karna sembari tersenyum-senyum penuh rencana.
Sesampainya di ruang Dalem, Larasati membawa Karna ke kamar utama yang besar. Kamar itu dilengkapi peraduan mewah berukuran besar. Kira-kira cukup untuk berbaring 10 orang dewasa. Gagak Bayan memang pengumbar kesenangan. Saat bersenang-senang, ia bisa membawa 4 orang wanita sekaligus di peraduan itu untuk menemani minum tuak sambil mengumbar napsu birahi. Kini di atas peraduan yang sama, Karna dipaksa duduk berduaan saja dengan seorang pesinden cantik, sintal dan menguasai semua trik menggoda laki-laki normal. Ditambah lagi, Larasati sudah membuka tutup guci yang berisi tuak berkualitas istimewa. Konon, tuak jenis ini sama dengan tuak yang disuguhkan oleh Raden Wijaya saat memperdaya pasukan Mongol dalam pesta.
" Hamba Larasati siap melayani Gusti, apapun yang Gusti Jaka Wingit inginkan," ujar Larasati sambil duduk di bawah lantai sehingga sementara Karna duduk di sisi peraduan, sehingga bila Karma menatap ke bawah, yang terlihat adalah dada Larasati yang menonjol.
Larasati sebenarnya senang sekali mendengar permintaan itu. Makin kagum dirinya pada kerendahan hati penguasa baru Gagak Nagara ini. Tetapi karena memang niatnya menggoda, Larasati menengadah wajahnya agar cara gerak bibirnya yang memikat saat bicara dapat terlihat oleh Karna, " Mana saya berani memanggil Tuan dengan sebutan selain Gusti? Kan memang Tuan ini Gusti bagi seluruh kawula Gagak Nagara? Masa sih saya mau memanggilnya Kangmas? Kangmas Jaka Wingit begitu? Aaahhh...saya tidak berani, Kangmaaass..eh, Gusti."
" Kalau saya sendiri yang minta seperti itu, apa salahnya?"
" Oh...iya, ya? Benar juga, kan yang memerintahkan Gusti Jaka Wingit sendiri, mana berani saya menolak. Hmmmm....Sekarang Kangmas mau saya layani apa? Saya disuruh nembang, memijat, atau menari? Atau ketiga-tiganya? Saya bisa lho Kangmas, nembang sambil memijat sekaligus menari."
Karna menggelengkan kepalanya, " Tidak usah. Saya tidak butuh apapun. Nimas sedari tadi nembang, pasti lelah. Sebaiknya istirahat saja. Silahkan tidur di atas."
Larasati yang tidak tahu bahwa Karna seumur hidup tinggal di hutan sehingga pikirannya sangat polos tersenyum nakal, mengira Karna memberi isyarat ingin segera mengajaknya bercinta tanpa didahului basa-basi, tanpa menunggu diminta kedua kalinya ia langsung bangkit berdiri dan naik ke peraduan dan merebahkan tubuhnya dengan cara setengah menggeliat untuk merangsang hasrat Karna.
Karna turun dari pembaringan diikuti tatapan nakal Larasati yang mengira Karna akan membuka pakaiannya. Tapi, ternyata Karna berjalan ke sudut kamar dan duduk bersandar di dinding dengan santai menyelonjorkan kaki.
Larasati benar-benar tidak menyangka bahwa yang ia hadapi adalah lelaki dewasa yang sama sekali tidak memiliki pengalaman bergaul dengan perempuan. Jangankan bergaul dengan perempuan, mengenal dunia ramai saja baru hitungan hari.
" Kangmas Jaka Wingit, apa yang Kangmas lakukan?" Larasati bangkit dari pembaringan.
" Istirahat. Saya kalau mau tidur begini, Nimas. Tidak terbiasa tidur di dipan. Tidur saya di atas batu, tanah atau pohon. Nimas tidak perlu bangun, tidur saja di situ."
" Hah? " Larasati terperangah mendengar jawaban Karna. Ia sudah mendengar cerita kehebatan ilmu beladiri dan kehalusan bahasa Jaka Wingit, tetapi tentang keluguan yang bahkan terlihat bodoh, baru kali ini ia tahu. " Saya tidur di atas dan Kangmas tidur di lantai, bisa mati saya dibunuh Ki Ageng Gagak Bayan kalau sampai ketahuan."
" Kenapa dibunuh?" Karna bangkit dari duduknya karena mengira Larasati benar-benar diancam untuk dibunuh, " Siapa yang akan membunuh Nimas karena tidur di peraduan? Biar nanti saya bicara dengannya."
Larasati buru-buru memperbaiki ucapannya, " Bukan. Bukan itu maksud saya, Kangmas. Maksudnya, saya di sini untuk melayani dan menghibur Kangmas, bukan untuk tidur. Karena itu tugas saya sebagai sinden Gagak Nagara."
" Ooo... tapi kalau Nyimas lelah, istirahat saja. Tidak usah nembang. Saya tidak apa-apa."
Larasati menghela napasnya. Sekarang ia baru sadar, bahwa Jaka Wingit memang sangat lugu dan tulus. Seumur hidupnya sebagai sinden paling digemari di seluruh tanah perdikan ini, belum pernah ia bertemu dengan lelaki seperti ini. Apalagi Jaka Wingit adalah penguasa. Larasati makin penasaran dan jatuh hati.
__ADS_1
" Saya tidak lelah. Tidak ngantuk juga, Kangmas. Ijinkan saya melayani Kangmas."
" Nimas, saya sudah makan kenyang tadi.Makanan di sini enak-enak semua. Mengunyah sirih juga bisa saya lakukan sendiri. Tidak perlu dilayani apa-apa lagi."
Larasati kehabisan akal menghadapi laki-laki sepolos Jaka Wingit. Bagaimana mungkin ada laki-laki dewasa tidak paham dan tidak menunjukkan isyarat seksual kepada seorang perempuan cantik saat hanya berduaan di kamar? Apa yang kurang darinya? Semua orang mengatakan Larasati pesinden yang luar biasa dalam suara dan paras. Ia digila-gilai banyak laki-laki dari berbagai kalangan. Mungkin Jaka Wingit hanya tertarik pada Savitri yang memang sangat cantik jelita, tapi apa salahnya sekedar bercinta toh ia sebagai perempuan suka rela menerima. Dan sudah lumrah kalau seorang penguasa kelak memiliki banyak istri.
Larasati menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Baiklah. Kalau Kangmas tidak berkenan saya layani, berarti saya memang seorang sinden yang gagal, bodoh tidak mampu menghibur dan tidak punya arti, " ucap Larasati lirih dengan nada sedu sedan. Memainkan jurus terakhir, tangisan seorang wanita.
Karna mengerutkan alisnya. Larasati tampak menundukkan wajah. Dari sudut matanya menitik air mata. Buru-buru Karna mendekat, " Jangan menangis. Suara Nyimas sangat merdu dan enak sekali didengar."
" Kangmas bohong. Saya memang tidak menarik sama sekali. Buktinya Kangmas malah menyuruh saya tidur. Menyuruh saya diam, pasti karena suara saya jelek. Tidak juga menyuruh saya menari atau apa, karena saya tidak cantik, dan tubuh saya tidak menarik untuk dipandang."
" Nyimas ini cantik. Percayalah."
Tapi Larasati yang makin penasaran pada Karna tidak mau mengendorkan serangannya. Ia justru menutupi wajahnya dan menangis mengguguk sehingga pundaknya berguncang-guncang.
Karna tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menghibur Larasati. Perlahan tangannya terangkat dan mengusap-usap kepala Larasati, " Jangan menangis, Nimas."
Larasati diam-diam tersenyum merasakan usapan lembut tangan Karna. Dengan berpura-pura dilanda kesedihan yang mendalam, ia menubruk dada Karna dan memeluknya erat.
Karna dengan kikuk berusaha melonggarkan pelukan Larasati. Namun, semakin Karna berusaha melonggarkan, Larasati makin berpura-pura menangis sesenggukan, hingga Karna tidak tega dan membiarkan air mata hangat Larasati membasahi dadanya.
Perlahan Larasati merubah posisi pelukannya dengan melingkarkan tangannya ke leher Karna. Dada Larasati yang penuh menempel ketat ke dada Karna yang terbuka. Secara naluri tiba-tiba Karna merasakan sensasi hangat yang aneh saat dada Larasati digerakkan naik menyusuri dada Karna. Suhu tubuh Karna yang masih perjaka perlahan menghangat juga. Tanpa sadar tangan Karna memeluk pinggang Larasati dan menikmati sensasi yang belum pernah dirasakan itu.
Larasati merasa tujuannya untuk membangkitkan naluri kelaki-lakian Karna mulai berhasil. Seolah-olah masih bersedih, wajah Larasati mendongak mengintip wajah Karna dari dagunya. Masih dengan nada sedu sedan ia berkata, " Kalau memang saya dianggap layak, berarti Kangmas mengijinkan saya menghibur dan melayani Kangmas kan?"
Dada Karna yang berdegup kencang karena naluri alami yang bangkit membuatnya tidak mampu berkata lain kecuali, " Baiklah...."
" Kalau begitu, Kangmas ingin saya melakukan apa? Menyanyi? Menari? Atau memijat Kangmas biar bugar badannya."
" Aku tidak tahu, Nyimas..."
" Tidak tahu? Eeeemmmm... bagaimana kalau sambil bercerita saja, nanti siapa tahu di tengah jalan Kangmas menginginkan apa. Pokoknya apapun yang Kangmas inginkan, pasti saya lakukan."
" Baik, Nyimas. Kita berbincang saja, " jawab Karna sambil perlahan sedikit mendorong tubuh Larasati agar melepaskan pelukan. Kali ini Larasati mau melepaskan pelukannya karena ia sudah memiliki rencana yang lebih baik.
" Tapi berbincangnya sambil minum tuak ya, Kangmas?"
" Tuak? Aku tahu nama tuak, tapi belum pernah meminumnya."
Sembari menuang tuak dari guci ke cangkir kecil berbahan kayu, Larasati menggeleng-gelengkan kepalanya, " Dari siapa Kangmas tahu tentang tuak?"
" Dari guruku. Semua yang kuketahui sampai nama-nama benda yang dipakai manusia, aku tahu dari Bapa Guru."
" Nama-nama benda? Maksudnya, Kangmas hanya tahu nama-namanya saja?"
" Iya, banyak benda-benda yang aku tahu namanya tapi belum pernah melihatnya.'
" Duh , Jagad Dewa Bathara! Selama ini Kangmas tinggal di mana? Dengan siapa?"
' Di hutan. Hanya dengan Bapa Guru seorang."
Tangan Larasati sedikit gemetar saat mengangsurkan gelas kayu berisi tuak. Ia tahu, ia hanyalah alat Gagak Bayan dalam upaya menaklukkan Jaka Wingit. Ia sendiri tidak tahu rencana persis Gagak Bayan. Mudah-mudahan bukan rencana busuk. Setelah menghadapi Jaka Wingit dan merasakan betapa lugu dan tanpa prasangka pribadinya, Larasati jatuh cinta dan tidak rela jika kepribadian seputih Jaka Wingit dicelakai. Ada sedikit dorongan hatinya untuk membatalkan saja tugas ini. Namun kini Larasati pun terjebak perasaannya sendiri. Ia adalah pesinden merangkap wanita penghibur bagi Gagak Bayan. Selama ini, ia mau menjadii pelayan hasrat Gagak Bayan hanya demi uang dan menjags posisi sosialnya di masyarakat, tidak pernah diiring rasa suka, penasaran, apalagi cinta. Kini ia bertemu dengan Jaka Wingit yang begitu lengkap mempunyai sisi misteri yang membuat penasaran, kesaktian dan kekuasaan, namun di luar dugaan sangat rendah hati dan tanpa prasangka. Larasati jatuh cinta, sebagai seorang perempuan kepada laki-laki. Dan sebagai wanita penghibur, ia ingin memanfaatkan pekerjaannya untuk merasaka bercinta dengan orang yang benar-benar ia sukai, bahkan mungkin ia cintai.
Larasati hanya ingin menjadi pecinta yang bercinta dengan cinta.
" Minum tuaknya, Kangmas. Cara minumnya dengan satu tenggakan langsung ditelan.'
Karna yang tidak ingin membuat Larasati kecewa menenggak tuak yang disodorkan. Kerongkongan dan ususnya yang seumur hidup hanya terbasahi air tawar, sejenak meronta menolak cairan asing yang masuk. Hawa hangat sedikit panas nyaris membuat Karna tersedak. Namun karena ia terbiasa menata napas, dengan mudah sensasi itu ia netralkan.
Sementara malam merambat menuju pertengahan, gelas demi gelas berisi tuak tandas ke perut Karna dan Larasati. Pembicaraan menjadii lebih cair. Mulai ada senyum dan tawa kecil. Larasati makin menikmati suasana yang terbangun. Diiringi rintik nada siter yang terus didentingkan oleh Ki Tejo dari balik pintu kamar, Larasati tak segan-segan bersika manja menyenderkan kepalanya ke bahu Karna, kadang seolah-olah tanpa sengaja menjatuhkan diri dengan lembut ke pangkuan Karna yang juga mulai bangkit insting ragawinya sehingga membiarkan kesenangan sentuhan dua permukaan kulit beda jenis menggesekkan sensasi kelembutan sekaligus kekuatan. Namun Karna tidak terpancing terlalu dalam, demikian juga Larasati perlahan sangat menyukai kebersamaan itu, berubah agak malu-malu sebagai dara belia yang jatuh cinta, bukan wanita penghibur yang membara. Ia menikmatinya dengan rasa seperti menjadi perawan lagi. Antara Rara dan Jaka.
__ADS_1
Di pelataran, Gagak Bayan masih menduga-duga saat yang tepat untuk menjalankan rencananya. Ia menunggu Karna benar-benar mabuk dulu hingga terlena dan mudah diperdaya, sama seperti saat Raden Wijaya pendiri Majapahit memperdaya tentara Mongol dengan tuak.
***