KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
60 KECELAKAAN


__ADS_3

" Bagaimana ini, Kang Kidang? Tak ada celah sedikitpun untuk menghindari panah mereka, " desis Karna sambil memutar-mutar tombak.


"' Aku akan coba ajian Chandra Birawa. Beri waktu 5 kejapan mata untuk patrap. Tolong tahan serangan dulu."


" Lakukan sekarang, Kang!" jawab Karna sembari mengitari tubuh Kidang menciptakan tameng pusaran tombak.


Kidang Panah segera menarik napas, menekan di dada sambil mengaktifkan Cakra di keningnya untuk menghimpun daya gaib. Batinnya mengucap mantra perantara talyan daya supranatural yang ada di sekitar desa Cunggrang. Telapak tangannya menakup di depan dada untuk dipisahkan perlahan agar membelah menjadi 3 ujud maya yang serupa dengan dirinya.


Namun, tiba-tiba ia menggeram panik, " Tenaga lain itu menyerang lagi, Karna! Aku tidak bisa menyelesaikan patrap Chandra Birawa! Keparat! Ada rajah pusaka sangat kuat melindungi tempat ini!"


Karna memutar otak cepat, " Kita tunggu serangan mereka dulu, Kang. Begitu panah mereka datang, kita melompat!"


" Iya, aku paham. Kau siap Bayu Bajra, Karna?" sahut Kidang Panah.


" Nanti di lompatan ketiga, Kang. Aku perlu menghimpun setidaknya tujuh helaan napas putar udara untuk menerapkan Bayu Bajra. Coba Kang Kidang mengulur waktu sebentar dengan bicara pada mereka!"


Kidang Panah mengangguk paham, ia mengangkat tangannya dan berseru keras, " Tahan, Ki Sanak Baswara! Kami tidak bermaksud memusuhi Andhika semua. Mari kita bicara!"


' Bicara apa?" sahut seorang bekel prajurit dengan ketus. " Kalian jelas-jelas bermaksud menyerang kami. Kalau tidak, mengapa kalian tidak mengetuk pintu gerbang malah masuk dengan meloncat pagar? Apalagi merobohkan 8 teman kami? Apa itu yang dimaksud tidak memusuhi? Omong kosong kalian!"


( Keterangan Bekel \= Setara dengan Kapten pada jaman sekarang yang membawahi beberapa Komandan peleton/ lurah prajurit dengan jumlah pasukan bisa mencapai ratusan orang).


" Bukan begitu, Kang, " jawab Kidang Panah sembari melirik Karna yang tengah melakukan pernapasan untuk persiapan lontaran ajian Bayu Bajra. " Kami tadi tidak melihat letak gerbangnya, " sambung Kidang Panah asal-asalan karena melihat Karna sudah hampir menyelesaikan patrapnya.


" Omong kosong! Prajuriiiittt....siaga panaaahhh...!!!" seru bekel prajurit itu.


Seketika ratusan prajurit Baswara menekuk satu" kakinya dengan sikap siap bidik.


Karna sudah sempurna menyelesaikan patrap ajian Bayu Bajra bersamaan dengan tali busur ratusan prajurit yang sudah menegang penuh siap luncurkan anak panah tajam. Ia melirik Kidang Panah dan bergumam lirih, " Begitu bekel itu memberi aba-aba serang, Kang Kidang langsung lompat ke punggungku!"


Kidang Panah mengangguk paham. Disusul kemudian sebuah seruan terdengar dari mulut sang bekel, " Seraaaaanggg....!!!"


" Slap....!!! Slaapppp...!!! Slaapppp...!!!"


Ratusan batang anak panah menerjang secara bersamaan dari 8 penjuru arah. Tidak ada satu jengkal pun sela yang tidak terbidik. Semua menuju satu sasaran pasti ke tubuh Dua Ksatria. Jelas tidak mungkin dihindari, tubuh mereka akan terajam tembus dari ujung kaki sampai kepala!


" Sekarang, Kang! " pekik Karna sambil melompat lurus ke udara.


Kidang Panah melompat ke punggung Karna, menyatu tak terpisah. Karna merentangkan kedua tangannya sehingga tubuhnya membentuk semacam ragangan tegak lurus, vertikal horizontal sempurna. Begitu tangan Kidang Panah telah melingkar di dadanya, Karna memutar tubuhnya seperti baling-baling, memusar dengan kecepatan penuh sehingga tidak lagi terlihat ujud jasadnya melainkan gasing yang sempurna.


" Wuuuuuunggg.....!!!" terdengar suara angin membadai keluar dari tubuh Karna yang melontarkan ajian Bayu Bajra tingkat tujuh. Karna memang sengaja tidak mengerahkan tenaganya secara penuh setelah melihat pengalaman terakhir saat ia memukul Kidang Panah dengan tenaga tingkat dua, ternyata yang terlontar setara dengan tingkat empat, atau dua kali lipatnya. Ia ingin memastikan apa benar itu pengaruh dari watu lintang ( meteor) Sapu Jagad yang telah aktif. Menurut perhitungan normal, saat menghadapi ratusan prajurit, ia seharusnya melontarkan Bayu Bajra secara penuh seperti yang ia lakukan saat di goa Panembah Swara, namun ia kali ini ingin membuktikan sendiri, apa mampu Bayu Bajra tingkat tujuh mengatasi ratusan prajurit.


Terhadang oleh badai ajian Bayu Bajra, ratusan anak panah ganas yang siap menancap di tubuh Dua Ksatria kehilangan daya lontar. Berbalik arah terdorong tenaga yang melebihi kekuatan lontarannya, menukik tajam dengan kecepatan ganda ke arah prajurit Baswara!


Para prajurit Baswara terpekik kaget melihat anak panah yang mereka lontarkan justru berbalik arah menyerang mereka sendiri!


" Jagad Dewa Bathara!" pekik Ki Bekel. " Angkat tameeengg...!!!"


Seketika seluruh prajurit mengangkat tameng (perisai) nya.


" Zuuuuutttt.....!!!"


Anak panah melaju menyerang balik prajurit Baswara yang segera mengangkat perisainya dengan terburu-buru.


" Prak..! Prak..! Praaaakkk...!!!"


Ratusan anak panah dengan kecepatan sangat tinggi menancap dan sebagian menembus perisai. Namun yang lebih naas yang terlambat mengangkat perisai dengan sempurna akibat tidak menyangka panahnya berbalik arah.


" Craaatt...!!! Craaasss...!!! "

__ADS_1


" Arrrrrggghhh...!!! Aduuuhhh....!!! Aaaakkk....!!!"


Terdengar pekik kaget dan kesakitan. Lebih dari separuh prajurit gagal melindungi diri dengan baik, sehingga anak-anak panah yang mereka lontarkan menancap ke paha, lengan, dan bahu mereka sendiri.


Seketika formasi pengepungan jadi buyar karena banyaknya prajurit yang terluka.


Sementara di udara, Karna melihat hasil lontaran ajian Bayu Bajra tingkat 7, ternyata menghasilkan kekuatan yang lebih dari pengerahan tenaga penuh. Akhirnya terbukti, aktifnya meteor Sapu Jagad memang berdampak pada kekuatannya, melipatgandakan semua tenaga ajiannya.


Namun, keunggulan Dua Ksatria tidak berlangsung lama.


" Yang luka mundur, lapis ke dua majuuuu....!!!" teriak Bekel prajurit lantang.


Kembali terjadi pergerakan pasukan. Prajurit yang terluka perlahan-lahan mundur teratur. Dari ruang bawah tanah kembali muncul berloncatan rombongan prajurit pengganti, sehingga kekuatan prajurit Baswara kembali normal seperti semula.


Karna yang sudah mendarat lagi di atas permukaan tanah berbisik, " Kalau begini aku bisa kehabisan tenaga, Kang. Bayu Bajra hanya bersifat hentakan badai sementara. Bila mereka berkali-kali melontarkan panah, pasti ada jeda badai saat aku sedang menghimpun tenaga. Dan itu bisa mereka tembus. Kita harus keluar dari kepungan dulu, Kang!"


" Ya, aku tahu, " sahut Kidang Panah sembari mengedarkan pandangannya. Dilihatnya, tempat paling kosong justru ada tepat di depan rumah utama, jaraknya sekitar 10 depha ( 20 meter). Jadi kira-kira mereka butuh dua kali lompatan untuk sampai ke sana.


" Depan rumah utama, Karna. Lompat sekarang!"


Karna dan Kidang Panah melompat bersamaan memanfaatkan waktu jeda saat para prajurit Baswara masih mempersiapkan formasi serangan panah baru.


" Tap! Tap! " Dua lompatan tepat, Dua Ksatria itu telah mendarat di depan rumah utama.


Namun...


" Kreeekkk...." terdengar suara berderak dan tanah yang mereka pijak terasa bergerak.


" Jebakan!" Kidang Panah memekik.


Seketika Karna dan Kidang Panah menjejakkan kaki untuk melompat, namun... terlambat!


Jejakan kaki mereka justru menekan pintu ruang bawah tanah sehingga terbuka.


Ruang bawah tanah menganga lebar, tubuh Dua Ksatria meluncur jatuh ke masuk ke ruang bawah tanah yang gelap gulita.


" Keparat! " umpat Kidang Panah setelah mereka mendarat di permukaan tanah becek bawah tanah.


Ruang tanpa cahaya itu memiliki panjang kira-kira 7 depha lebih ( 15 meter). Udaranya yang sangat lembab membuat dada sesak saat bernapas.


Karna dan Kidang Panah mengedarkan tatapannya untuk menyesuaikan pandangan mata dalam ruang gelap sempurna. Perlahan-lahan mereka bisa melihat bentuk ruang segi empat yang kosong sama sekali.


" Tidak ada apa-apa di ruang ini, Kang, " ujar Karna.


" Iya. Benteng ini benar-benar gila. Penuh jebakan. Demang Suranggana jelas orang yang sangat paham siasat perang dan pertahanan. Sungguh jahanam yang sangat berbahaya bagi Negara. Andai...."


Belum usai Kidang Panah berbicara, tiba-tiba....


" Zuuutttt. Zuuutttt... Zuuutttt....!!!"


" Serangan panah!" Pekik Karna.


Dua Ksatria segera mengambil posisi saling melindungi dengan beradu punggung. Serentak mereka memutar tombaknya membentuk perisai pusar untuk menangkis terjangan panah dari dua arah.


Rupanya, dinding sisi timur dan barat berlobang-lobang kecil. Dari lobang itulah panah-panah datang menerjang.


" Plak... plak... plak..pletak.. pletak...pletak..!!!"


Puluhan anak panah tertangkis dan patah oleh pusaran tombak, namun segera disusul serangan lain jeda 5 kejap mata kemudian.

__ADS_1


Serangan panah itu tidak berhenti meski sudah ada ratusan anak panah tertangkis dan patah sehingga berserakan tertumpuk di depan Karna dan Kidang Panah.


" Ini bukan panah orang, Karna! Ini panah yang dilontarkan alat di belakang dinding. Percuma kita melawannya!" seru Kidang Panah.


' Iya, Kang. Kita harus keluar dari sini. Saat melompat, aku akan menggunakan Bayu Bajra lagi. Tolong begitu melompat Kakang remas dan hancurkan tombak. Aku juga!"


" Untuk apa menghancurkan tombak?" tanya Kidang Panah sambil terus memutar tombaknya menangkis gelombang panah yang datang lagi.


" Aku akan lontarkan serpihan tombak dengan badai Bayu Bajra!"


' Baik, aku paham!"


Sambil terus memutar tombaknya, Karna mulai melakukan patrap pernapasan Bayu Bajra. Kali ini ia akan mengeluarkan ajian pamungkas itu dengan tenaga penuh. Artinya, ditambah efek ajian Sapu Jagad yang mulai aktif, badai Bayu Bajra yang akan tercipta berkekuatan dua kali kedahsyatan penuh!


" Sekarang, Kang. Lompaaaattt...!!!"


Bersamaan Kidang Panah dan Karna melompat lurus ke atas, meninggalkan ruang panah bawah tanah untuk muncul ke permukaan menghadapi ratusan prajurit yang telah siap bidik.


Saat tubuh Dua Ksatria muncul ke permukaan dan memutar di udara, lontaran panah ratusan prajurit Baswara sudah menyambutnya.


" BAYU BAJRAAAAA...!"


Pekik Karna melontarkan ajian yang menciptakan topan raksasa membawa ribuan serpihan kayu dari dua tombak yang dihancurkan.


Dampaknya luar biasa!!!


Badai dua kali kekuatan penuh Bayu Bajra menyapu tanah, kerikil, anak panah, ditambah serpihan kayu tombak menerjang ke 8 penjuru angin tanpa sela menghantam ratusan prajurit dengan panah berbalik dan serpihan kayu yang terbang secepat peluru.


" Aaaarrrrggghhhh.....!!! " jerit kesakitan ditambah ratusan tubuh jatuh bergelimpangan tertembak peluru serpihan kayu dan kerikil.


Seketika hancur berantakan formasi pengepungan prajurit Baswara. Bahkan sang Bekel sebagai pemimpin pertempuran itu pun terluka.


Kidang Panah memanfaatkan detik-detik kekacauan itu dengan menerjang di antara prajurit dan menghempaskan tubuh mereka ke segala arah. Demikian pun Karna yang tidak mau kecolongan waktu sebelum mereka memanggil pasukan lapis ke tiga. Ia pukul jatuh puluhan prajurit sehingga tidak mampu bangkit lagi.


Sementara dari bawah tanah, terjadi kesibukan cepat untuk mempersiapkan prajurit lapis ketiga, Dua Ksatria memanfaatkan waktu untuk mendahului menyerang pintu keluarnya.


Tiba-tiba....


" Aaaarrrrggghhhh....!!!" Terdengar pekikan dari arah luar benteng.


Karna menoleh ke arah pekik kesakitan itu.


Terlihat Julig berdiri di atas pohon memegang dadanya. Sebatang anak panah menancap di dadanya.


Rupanya, mendengar suara keributan, Julig penasaran. Ia memanjat dahan tertinggi dan berdiri untuk melongok kejadian di dalam benteng. Pada saat Julig berdiri melampaui tinggi pagar benteng itulah sebatang anak panah yang terbang liar karena terlempar badai Bayu Bajra menerjang dadanya.


Karna panik menatap Julig yang berdiri terhuyung di atas dahan. Ia segera tinggalkan arena pertempuran untuk melesat menangkap tubuh Julig yang sudah melayang jatuh.


" Juliiiiggggg...!!!" Pekik Karna panik.


" Haapp...!!!" Karna berhasil memeluk tubuh Julig sebelum terhempas ke tanah.


Mendengar teriakan Karna, Kidang Panah menoleh dan sempat melihat tubuh Julig melayang dengan panah bersarang di dadanya. Seketika Kidang Panah marah luar biasa menyaksikan Julig terluka.


Tanpa ampun Kidang Panah memukul semua prajurit yang didekatnya sehingga belasan orang terlempar ke segala arah dan muntah darah.


" Kakaaaaanggg... !!! Tinggalkan pertempuran !!!" Jerit Karna, " Julig luka paraaaahhh....!!!"


Kidang Panah melompat meninggalkan pertempuran setelah menghantam kepala Bekel hingga rontok semua giginya.

__ADS_1


" Keparaaaattt...!!! Aku bersumpah akan kembali untuk membunuh kalian semua jika sampai adikku celaka!" teriak Kidang Panah dengan wajah merah kehitaman terbakar murka.


***


__ADS_2