KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
70 MEROBEK TIRAI


__ADS_3

Demang Suranggana menatap bergantian Dua Ksatria. Ia sudah mendapat gambaran kekuatan keduanya. Karna jauh lebih kuat dari Kidang Panah, jadi ia tidak perlu memperhitungkan serangan Kidang Panah yang tidak mungkin menimbulkan luka berarti. Lebih baik cara bertarungnya seperti yang sudah berlangsung, fokus menjatuhkan Karna. Maka tanpa mempedulikan kehadiran Kidang Panah, Demang Suranggana segera melompat mengayunkan gadanya merangsek Karna.


Karna mengibaskan kainnya menciptakan gelombang meliuk naik turun, seolah-olah tidak menghiraukan serangan gada yang akan menghantam.


" Wuuuuuunggg....!" deru gada mendekati tubuh Karna.


Karna mendahului dengan menyentak kain ke atas, sehingga ujungnya melaju ke blandar. Rupanya memang gerakan baru ini yang dirancang Karna.


"'Srrrrtttt....!"


Ujung kain membelit balok blandar. Karna melompat ke atas dengan membelitkan telapak tangannya pada kain. Ia berayun dengan meminjam tenaga elastisitasnya.


" Aku atas, kang Kidang sedang kakinya! " seru Karna saat berayun dengan kecepatan menyambut terjangan Demang Suranggana.


Ayunan Karna di udara membuat serangan gada Demang tidak menemui sasaran. Pada saat yang sama, Kidang Panah yang paham strategi Karna mengarahkan kainnya menyusur lantai untuk membelit pergelangan kaki Demang Suranggana.


Sementara, Karna tanpa halangan berayun melancarkan tendangan beruntun menghajar kepala Demang Suranggana.


" Deessss.... deessss....plak..." belasan rentetan tendangan Karna yang dilakukan di udara menghajar kepala Demang Suranggana sehingga lehernya tertekuk ke belakang.


Demang Suranggana mengundurkan langkah menyamping untuk menghindari susulan tendangan Karna, namun satu kakinya telah terbelit kain Kidang Panah. Akibatnya langkahnya tak leluasa karena terbebani berat badan Kidang Panah yang memasang kuda-kuda kuat.


Akibatnya, serangan susulan Karna kembali menghajar kepalanya lagi.


" Plak...buuugg...!!!"


Sekuat-kuatnya Demang Suranggana menahan puluhan tendangan di kepala, ketika satu tendangan dahsyat mendarat keras di dagunya, wajahnya terlempar ke kanan dan darah mengucur dari sudut bibir.


" Arrrrrggghhh.... !" Demang Suranggana menggeram.


Ia sentakkan kakinya yang terlilit kain Kidang Panah dengan sekuat tenaga.


Akibatnya....


Kidang Panah terlempar. Kuda-kudanya tercabut dari lantai dan tubuhnya menghempas sangat kencang menuju tubuh Karna yang masih bergelantung di udara.


" Deeeessss....!" Tubuh Karna dan Kidang Panah bertumbukan.


Karna seketika melecut kainnya agar lepas dari belitan blandar sehingga benturan yang terjadi tidak terlalu keras. Namun, akibatnya tubuh Karna terlempar mengikuti dorongan jatuhnya Kidang Panah menyusur lantai.


Begitu menyentuh lantai, keduanya melenting salto di udara untuk mendarat mulus di atas kedua kalinya.


" Tap. ..Tap...!"


Karna merancang strategi selanjutnya untuk menangkap Demang Suranggana dengan memanfaatkan elastisitas kain.


" Kang Kidang belit kaki kanan, aku yang kiri!" bisik Karna.


Kidang Panah mengangguk paham, " Buat gelombang dulu! Begitu siap, kita lakukan serempak."


Kidang Panah dan Karna bersamaan memainkan gelombang kain sembari bergeser saling menjauh untuk memecah perhatian Demang Suranggana. Gelombang kain itu sebenarnya hanya untuk pancingan sekaligus menghalangi pandangan Demang Suranggana agar tidak mudah membaca perubahan serangan Dua Ksatria.


Demang Suranggana mendengus pendek melihat mereka berpencar sehingga kembali ia harus memilih lawan mana yang harus diincar. Karena tadi ia sudah mengincar Karna dan ternyata gagal dan bahkan hasilnya ia dijadikan bulan-bulanan, kali ini ia akan menyerang Kidang Panah yang dianggapnya lebih lemah.


" Hooossshhh....!!!" Demang Suranggana menekan napasnya untuk melancarkan serangan kilat ke arah Kidang Panah.


Namun, Demang Suranggana belum tahu, bahwa meski kekuatan tenaga Kidang Panah 4 tingkat di bawah Karna, namun ilmu peringan tubuh dan kecepatan geraknya 2 tingkat di atas Karna.


" Hyaaaaattt....!" Demang Suranggana melompat menerjang Kidang Panah dengan gadanya.


Tatapan Kidang Panah yang sangat jeli segera tahu ke arah mana luncuran tubuh Demang itu. Dengan kemampuan gerak cepat yang sangat tinggi, Kidang Panah justru mendahului melesat ke samping sambil menyabetkan kain pada pergelangan kaki Demang Suranggana yang sedang melayang di udara!


" Hyaaaaattt.... Sekarang, Karna! " seru Kidang Panah memberi aba-aba.


" Sreeeeetttt....! " Kain Kidang Panah terulur menuju kaki Demang Suranggana.


" Sreeeeetttt...!" Kain Karna menyusup.

__ADS_1


" Tap....Tap....! " Dua kain panjang sabuk itu membelit kedua kaki Demang Suranggana.


" Keparat!" umpat Demang Suranggana merasa luncuran serangannya tertahan oleh dua kain yang membelit kakinya.


" Ikat ke saka !" seru Kidang Panah.


Berbarengan tubuh Karna dan Kidang Panah berkelebat memutari tiang utama rumah untuk mengikat tali.


Akibatnya ...


Kedua kaki Demang Suranggana terpentang lebar ditarik oleh dua tali kain dari arah yang berlawanan.


Namun yang sangat mengagumkan, tubuh tinggi besar Demang Suranggana tidak kehilangan keseimbangan. Ia tidak terjatuh dalam posisi kepala bawah, namun duduk seimbang dengan kaki terentang, sementara tangannya masih kokoh memegang gagang gada yang seberat dua ekor kerbau.


Karna dan Kidang Panah saling tatap. Diam-diam mereka sangat mengagumi kemampuan menyeimbangkan diri dari lawan yang sedang dikeroyoknya itu. Setiap kali mereka berhasil memperdaya Demang Suranggana, pada saat itu juga Demang Suranggana mampu menunjukkan kemampuannya yang luar biasa.


" Seraaaanggg...!"


Dua Ksatria memanfaatkan ketidakmampuan kaki Demang Suranggana bergerak. Karna sudah menyalurkan Tapak Dahana tingkat tertinggi, demikian pula Kidang Panah menyiapkan pukulan terbaiknya.


Tapi, Demang Suranggana tidak semudah itu ditaklukkan. Sebenarnya bisa saja ia membetot dua kain sabuk yang sangat kuat itu, namun betotannya bisa mematahkan tiang utama rumah sehingga runtuh. Ia memutuskan untuk menyalurkan tenaga api Amuk Geni ke kedua kakinya.


" Sooooossss....!" seketika kain yang melilit kaki Demang Suranggana gosong terbakar dan putus.


Pada saat pukulan Dua Ksatria sampai menerpa dada Demang Suranggana, ia sudah dalam posisi bebas menangkis dengan melintangkan gadanya.


" Blaaaarrr....!!!"


Tubuh Demang Suranggana terlempar 4 depha ( 8 meter), sementara tubuh Karna terlempar 5 depha, sedang Ki Panah terhempas jauh menabrak dinding rumah hingga keluar halaman.


Karna jatuh terlentang, sedang Kidang Panah masih berusaha berdiri terhuyung jauh di pelataran rumah, namun Demang Suranggana sudah berdiri kokoh lagi untuk melakukan serangan pamungkas di saat Dua Ksatria belum pulih dayanya.


" Hyaaaaattt....!' Gada Demang Suranggana menghujam ke kepala Karna.


Karna tidak mampu menangkis dalam keadaan terbujur di lantai. Ia hanya bisa berguling untuk menghindar.


" Braaaakkk....!"


Serangan berikutnya datang lagi, Karna berguling lagi.


" Braaaakkk....!"


Kembali lantai hancur mendebu.


Hal itu terjadi berulang sampai 5 kali, hingga Demang Suranggana berteriak, " Menyerahlah kau, Bocah! Bekerjalah untukku!"


" Lebih baik mati daripada berkhianat!" jawab Karna sambil terus berguling.


Hingga suatu serangan yang sangat cepat dan kuat, hujaman gada tepat sekali di atas perut Karna sehingga dapat dipastikan serangan itu tidak mungkin luput meski Karna berguling secepat apapun.


Gada sudah tinggal satu jari menghantam perut Karna yang pasti akan tewas dengan seisi perut hancur. Karna pun sudah tidak memiliki harapan untuk hidup. Ia sengaja membuka mata untuk menyambut kematiannya. Mati demi bangsa dan Negara Bhumi Majapahit tidak akan disesali olehnya. Karna mengosongkan segala pikiran, hampa seluruh keinginan dan ilusi hidup kecuali menyambut Sanghyang Sejati, Kasunyatan. Yang ada adalah Tiada, yang tiada adalah Ada, hampa itu sendiri. . seperti langit, angkasa, adanya adalah Hampa. Tersapu kosong sang Langit.


" Sapu Jagad...." desis Karna tanpa sadar.


Tiba-tiba.. ..


" Tik...! " terdengar suara lemah sekali saat gada Demang Suranggana membentur kantong kain di perut Karna yang berisi watu lintang ( meteor) Sapu Jagad.


Dan...watu lintang Sapu Jagad berpendar.


Seketika saat batu meteor itu berpendar, gada yang harusnya membentur meremukkan isi perut Karna seolah tersedot dayanya.


Baik Karna dan Demang Suranggana terkejut atas kejadian itu. Namun yang selanjutnya terjadi lebih dahsyat lagi.


" Boooommm....!" terdengar dentuman yang berasal dari benturan Gada dan meteor Sapu Jagad. Seberkas cahaya kebiruan merambat dari meteor Sapu Jagad merambat ke gada Demang Suranggana dan terus naik ke tubuh sehingga Demang Suranggana tersengat aliran petir yang sangat tajam dan panas.


" Aaaarrrrggghhhh....!" Demang Suranggana berteriak menahan sakitnya petir Sapu Jagad yang menerobos ke seluruh nadi darahnya.

__ADS_1


Meski sengatan petir itu hanya sekejap, namun rasa panasnya langsung menyambar ke jantung sehingga jantung Demang Suranggana berkontraksi sangat kencang seolah mau meledak.


Demang Suranggana segera menarik gadanya lagi untuk menghindari sengatan petir itu. Namun, lagi-lagi terjadi keanehan. Gada dan meteor Sapu Jagad melekat menjadi satu tak bisa terpisah! Sehingga saat Demang Suranggana mengerahkan tenaga untuk menghentak paksa, tubuh Karna ikut terangkat gada.


Karna meski belum tahu penyebab kejadian itu tak membuang waktu untuk memanfaatkan keajaiban itu. Dilihatnya jari tangan Demang Suranggana yang terselip cincin cap Mahapatih Gajahmada tepat ada di depan matanya. Saat Demang Suranggana masih berusaha melepaskan gadanya dari tarikan meteor Sapu Jagad, tangan Karna terulur untuk menarik paksa cincin itu.


" Lepaskan cincin Mahapatih!" desis Karna mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menarik cincin.


Demang Suranggana menekuk jarinya agar Karna tidak bisa mengambil cincinnya.


Terjadi tarik menarik tenaga dengan kekuatan penuh hingga baik Karna dan Demang Suranggana meneteskan peluh lelah.


Dua manusia sakti itu tidak bergerak sama sekali.


Tiba-tiba, Kidang Panah yang sudah kembali memasuki ruangan berkelebat secepat kilat. Tangannya terulur menarik tali topeng batu yang menutupi wajah Demang Suranggana.


Demang Suranggana terkejut merasa kecolongan. Ia menatap Kidang Panah yang sudah memegang topeng batunya.


Kidang Panah membelalakkan matanya melihat wajah Demang Suranggana yang terbuka. Tak sadar tangannya terkulai hingga topeng batu yang dipegangnya jatuh ke lantai.


Selanjutnya tangan Kidang Panah terangkat ke atas dahi. Lututnya turun dalam sikap sembah...


" Hamba hatur bhakti, Gusti Mahapatih Gajahmada...." ucap Kidang Panah penuh hormat.


Karna terkesiap mendengar perkataan Kidang Panah. Ia lepaskan tangannya dari jari Demang Suranggana. Kemudian ditatapnya wajah Demang yang sudah tanpa topeng itu.


Karna terkesiap takjub atas aura yang memancar dari wajah dan sinar matanya. Belum pernah ia bertatapan dengan manusia yang kharisma kekuasaannya sebesar Demang Suranggana. Sinar matanya sangat tajam tanpa bersit takut sedikitpun, dan penuh kuasa sehingga mampu menundukkan orang tanpa kata-kata. Gurat-gurat wajahnya sangat tegas, menandakan segala yang dia ucap akan dilakukan.


" Maksud Kang Kidang apa?" tanya Karna ragu-ragu.


Kidang Panah menjawab lirih, " Yang Mulia adalah Gusti Mahapatih sendiri....'


Karna dengan pandangan ragu menatap wajah Demang Suranggana.


" Tik..." terdengar suara halus sekali, disusul lepasnya gada dari meteor Sapu Jagad.


Sementara Demang Suranggana tersenyum tipis, Karna seketika percaya perkataan Kidang Panah karena lepasnya cengkraman Sapu Jagad seperti mengisyaratkan bahwa yang ia hadapi bukan seorang musuh.


" Hatur bhakti hamba, Gusti Mahapatih...." ujar Karna menghatur salam takluk.


Demang Suranggana yang ternyata Gajahmada mengangguk membalas hormat.


Kidang Panah dan Karna saling berpandangan tidak mengerti maksud semua kejadian ini, namun mereka belum sempat bertanya karena masih terkejut dengan perubahan yang sangat mendadak ini.


Belum sempat mereka berbincang, mendadak dari pojok ruangan berkelebat bayangan dan derai tawa, " Hahaha....kalian sudah saling bertemu rupanya....hahaha.... bagaimana menurutmu? Kapok tidak kau ketemu dengan mereka, Mahapatih?"


Bayangan yang datang berdiri di samping Gajahmada sambil masih bergelak cengengesan.


" Bapa Guru Mpu Kuricak...!" pekik Kidang Panah menghatur sembah.


Kidang Panah benar, yang datang adalah Mpu Kuricak.


Mendengar pekikan Kidang Panah, Karna buru-buru merubuhkan punggung untuk mempersembahkan salam, " Hamba yang hina Karna si Jaka Wingit, murid dari Mpu Angalas menghatur sembah bhakti kepada Paman Guru yang mulia Mpu Kuricak."


" Hahaha.... Kakang seperguruanku Angalas tidak pernah berhenti mengerjai aku. Dikirimnya murid yang persis seperti dirinya. Bikin repot aku saja harus pakai adab dan basa-basi lagi. Hahaha...anak sakti, kau Karna. Kalau bukan Mahapatih sendiri yang mengujimu, bisa mati semua di tanganmu! Hahaha... Mahapatih tadi sempat panik tidak menghadapi murid kakangku Angalas?"


Gajahmada adalah pribadi yang sangat menghormati para Brahmana. Meski orang luar banyak menganggap Mpu Kuricak adalah datuk sesat, namun Gajahmada yang sudah memahami kesejatian kehidupan tetap menganggap Mpu Kuricak sebagai rohaniawan dalam ujud yang tidak lazim. Ia tersenyum menangkupkan tangan hormat, " Hampir saja aku celaka, Bapa Mpu. Belum pernah aku menghadapi lawan setangguh mereka berdua."


Mpu Kuricak tertawa terkekeh.


Dari belakang tiba-tiba menyusul kelebat bayangan lain, " Mohon ampun, Gusti Mahapatih. Sesungguhnya bukan hanya berdua. Ada tiga Ksatria yang sebaiknya Gusti angkat sebagai tangan kanan Bhumi Majapahit...."


Karna dan Kidang Panah serentak menoleh ke arah suara itu. Muncul sosok tua dengan busana begawan membawa sebatang seruling. Keduanya terkejut dan bersamaan mendesis, " Panembah Swara..."


Panembah Swara mengangguk dan berkata, "Di mana anak secerdik kancil itu? Kenapa ia tidak kelihatan?"


***

__ADS_1


__ADS_2