
Desa Dahayu, sesuai namanya yang berarti cantik, terletak di lereng sebelah selatan gunung Mahendra (Lawu). Hawanya yang sejuk serta tanahnya yang subur menghamparkan pemandangan taman Swarga tempat dewa-dewi bercengkrama dalam warna-warni bunga Mawar, Melati, Kenanga, Cempaka yang harum wanginya mengambar-ambar mengambang sepanjang Dahayu. Tertingkahi sawah berundak-undak dengan irigasi dari parit-parit berair sejernih kaca yang mengalir dari mata air kecil atau langsung dari sungai dari puncak gunung yang menggeliat bersambungan tanpa putus sebelum akhirnya patah jatuh sebagai air terjun atau mencucur anggun ke Bengawan.
Penampakan taman Swarga nan makmur dengan segala jenis hasil pertanian kering dan basah itu akan tersempurnakan saat sang Surya berkenan datang dari balik punggung gunung Mahendra dengan sorot mata kekuningan memanggil lagi kabut embun kembali ke angkasa, sehingga yang tersisa adalah pendar-pendar kelopak bunga riang seperti merentang tangan menyambut datangnya kekasih. Gamelan Alam pun mengikuti berupa kokok ayam jantan bersahutan untuk kedua kalinya sebab kala pertama berkokok, mata Surya masih mengintip dan belum muncul sepenuhnya. Paduan koor ratusan jenis burung penyanyi dan lambaian angin yang datang menggerakkan batang bambu menderak mencipta semacam dengung terselip lengking seruling.
Di Dahayu yang keindahannya tersiar sampai Wisma Gagak Nagara bahkan hingga ke Kadipaten, terdengar juga berita akan kecantikan para perawannya yang katanya jauh di atas rata-rata. Ada yang bilang dulunya leluhur mereka adalah campuran darah Gujarat ( India ) dan Champa ( Vietnam ) yang dinikahi seorang prajurit Jawa, sehingga keturunannya memiliki paras dengan hidung bangir namun berkulit putih seperti China. Setiap dara dari Dahayu menjadi kembang, pusat perhatian laki-laki di seluruh kawasan selatan lereng Mahendra. Namun, di antara kembang-kembang itu ada ratunya kembang yang membuat kecantikan seluruh kembang Dahayu mendadak layu bila dibandingkan oleh kecantikannya. Dialah Savitri.
Suta, ayahnya Savitri seorang Waisya ( pedagang) yang cukup mapan menguasai komoditas perdagangan komoditas pertanian, ternak dan kayu hingga mempunyai relasi di kadipaten. Kemampuannya dalam membaca peluang membuatnya mampu membangun rumah yang cukup megah di Dahayu. Bahkan untuk beberapa kasus, Suta sering dimintai pertolongan oleh para pejabat desa yang kehabisan uang. Suta juga gemar membantu tetangga sekitar yang sedang kesusahan keuangan. Namanya sangat dihormati hingga tersohor ke Wisma Gagak Nagara sebagai salah satu pembayar pajak daerah terbesar. Maka Gagak Bayan sangat menyukai Suta, hingga ia memutuskan untuk mengunjungi rumah Suta untuk menghargainya. Namun justru di situlah awal bencana dimulai
Rombongan Gagak Bayan diterima dengan sukacita dan bangga oleh Suta sebagai kunjungan agung seorang penguasa daerah otonom. Seketika dilangsungkan pesta perjamuan lengkap dengan hiburan yang meriah. Dalam kebanggaannya, Suta pun memperkenalkan seluruh anggota keluarganya, termasuk sang ratu kembang Savitri. Mata Gagak Bayan yang tidak bisa melihat beningnya wajah ayu dara berusia 17 tahun itu seketika melotot nyaris copot. Di Wismanya, ada 100 lebih koleksi wanitanya sebagai istri sampai gundik, tapi tidak ada yang secantik Savitri. Kecantikan Savitri sungguh lain. Ada paras Indianya, ada warna kulit putih bersih Vietnamnya. Segera buyar seluruh kemeriahan pesta di benak Gagak Bayan, tergantikan rancangan mau tidak mau Savitri harus ia miliki.
Namun, tampaknya Suta hanya bermaksud memamerkan putri kebanggaannya, bukan bermaksud memberikan Savitri untuk dinikahi Gagak Bayan. Suta yang memiliki hubungan sangat luas sampai tingkat Kadipaten ( Negara Bagian atau Provinsi ) bercita-cita agar Savitri bisa diperistri seorang pejabat tinggi kadipaten, setidaknya bergelar Arya atau sukur-sukur Pangeran dengan gelar Bhree raja Negara Bagian. Suta yang telah mengelilingi wilayah Kadipaten melihat, kualitas kecantikan Savitri layak untuk itu. Maka, sejak belia Savitri sengaja dididik dengan cara lain. Suta tidak memperkenankan putri satu-satunya ini turun ke sawah seperti para wanita umumnya pada saat itu. Savitri diajarkan untuk pandai merias diri, menari, bertutur kata halus ala perempuan kota dan bisa membaca dan menulis aksara. Sehingga dalam tampilan wajah, busana, ketrampilan wanita, seni dan aksara, adab dan tutur kata, Savitri tumbuh menjelma bak Ratu yang terpingit di pedesaan. Tinggal menunggu kemunculannya saja, dapat dipastikan semua pejabat tinggi sampai Pangeran akan jatuh cinta bila bertemu dengannya.
Gagak Bayan selanjutnya merancang cara licik sesampai di istana kecilnya. Siang malam khayalannya bertumpu bagaimana cara mendapatkan Savitri. Terbersit keinginan untuk menculik Savitri, tapi itu diurungkannya. Relasi Suta yang mencapai Kadipaten bisa mengundang resiko. Kalau Suta tidak terima, bisa saja melaporkan perbuatannya yang dampaknya bisa sangat luas. Bisa-bisa prajurit ilegal yang dihimpunnya ketahuan oleh pemerintah pusat. Maka, satu-satunya jalan adalah menyiapkan jebakan bagi Suta. Ia menyelidiki kegemaran Suta yang ternyata senang adu ayam. Maka disiapkan tantangan melalui Lembu Peteng untuk mengadu ayam Suta dengan ayam jago andalan Gagak Bayan. Tentu disertai dengan taruhan harta benda yang sangat tinggi.
Tertantang oleh ajakan bertaruh adu ayam, Suta dan Lembu Peteng mengadakan pertarungan Jago dengan disaksikan seluruh penduduk desa. Ayam-ayam aduan masing-masing pihak dikeluarkan, satu per satu diadu. Ada yang menang ada yang kalah, namun singkat cerita di partai final posisi kemenangan ada pada pihak Lembu Peteng. Suta yang penasaran telah kehilangan hampir setengah harta kekayaannya bermaksud membalas dengan mempertaruhkan seluruh ternak dan barang dagangannya. Lembu Peteng pun menyiapkan jebakan terakhir. Dengan gaya akrab mengajak Suta minum tuak hingga mabuk berat tak mampu mengendalikan akal sehatnya.
" Bagaimana kalau kali ini kau kalah lagi, Kang Suta? Kau mau bayar taruhan pakai apa?" Tanya Lembu Peteng sambil sesekali melirik mata Suta yang sudah setengah mengatup karena mabuk.
" Jangan khawatir, aku pasti bisa membayarnya, Kang Lembu Peteng. Sepekan lagi ada kiriman barang ke Kadipaten. Uangnya lebih dari cukup untuk melunasi seluruh hutangku padamu."
" Begini, Kang Suta. Kalau hanya berhutang padaku itu tidak masalah. Tapi ayam yang terakhir ini titipan gustiku Gagak Bayan. Jadi kalau ayam kang Suta yang terakhir kalah, berarti kang Suta berhutangnya pada Gusti Gagak Bayan. Padahal tahu kan, gustiku selalu minta kejelasan waktu setepat-tepatnya untuk pelunasannya. Bagaimana, Kang?"
" Sudah saya bilang, saya akan membayarnya sepekan paling lama tiga pekan dari sekarang." Tukas Suta.
" Hehehe..." Lembu Peteng terkekeh licik. " Bagaimana jika tidak? Bagaimana jika dalam 3 pekan kang Suta tidak mampu membayar? Apa jaminannya?"
Suta yang sangat yakin mampu membayar hutangnya terpancing menjawab sekenanya karena dipengaruhi alkohol yang telah mencengkeram otak," Sudahlah. Segera saja adu ayamnya. Mau minta jaminan apapun saya berikan!"
Lembu Peteng girang bukan kepalang. " Bagaimana kalo jaminannya Savitri? Setuju?"
' Terserah kang Lembu Peteng. Mulai saja adu jagonya sekarang!" Tukas Suta.
" Baik. Semua orang menyaksikan, " Lembu Peteng berkata agak keras agar didengar semua orang," Savitri adalah jaminan untuk pertaruhan terakhir ini!"
Ayam yang diajukan Lembu Peteng bernama si Gludhug yang berarti Guntur. Sesuai namanya, ayam jago yang berasal dari mancanegara itu berperawakan besar dengan tubuh tegap, matanya jernih dengan tatapan tajam setajam taji yang ketika berjalan terlihat mencuat. Tampan dan berwibawa. Suta terkejut khawatir juga dengan tampilan jenis ayam mancanegara yang baru saja dilihatnya. Namun terlambat, taruhan sudah disepakati. Dan benar, tanpa memerlukan waktu lama, serangan si Gludhug yang seperti halilintar telah memukul ayam Suta hingga robek matanya dan lari ketakutan. Suta mengangkat tangan tanda mengaku kalah, pulang dengan membawa hutang taruhan yang berjumlah sangat besar kepada Gagak Bayan.
__ADS_1
Kemudian, rencana licik Gagak Bayan dijalankan. Gagak Bayan tidak menginginkan Suta mampu membayar hutangnya. Kereta berisi dagangan Suta yang akan dikirim ke Kadipaten dihadang dan dirampok oleh prajurit Gagak Bayan yang menyamar sebagai begal. Seluruh barang dagangan dirampas. Bukan hanya itu. Peternakan ayam, kambing dan kerbau milik Suta yang berjumlah ratusan ekor tiba-tiba dilanda kebakaran. Habis sudah cadangan kekayaan Suta untuk membayar hutangnya. Suta seketika jatuh miskin sehingga mau tidak mau harus menyerahkan Savitri sebagai jaminan pembayaran hutang. Namun Suta tak rela menyerahkan putri satu-satunya itu. Maka ia merancang sandiwara seolah-olah minggat dari rumah bersama Savitri, padahal sesungguhnya mereka bersembunyi di sebuah goa yang letaknya dirahasiakan. Hingga akhirnya terjadi kejadian di pasar yang memunculkan Karna sebagai pahlawan penolongnya.
Setelah diceritakan oleh istrinya tentang kejadian di pasar, Suta baru berani kembali ke rumah bersama Savitri dengan jaminan keselamatan yang dijanjikan oleh Karna.
Terlihat Suta duduk bersimpuh bersimbah air mata syukur di hadapan Karna yang duduk di bale bambu berkali-kali menolak sembah Suta.
" Berdirilah, Kang Suta. Jangan begitu. Saya yang muda tidak layak Kakang hormati secara berlebihan. Ini semua hanya cara sang Hyang Widdhi membebaskan Kakang sekeluarga dari musibah. "
" Terima kasih, Tuan Jaka Wingit. Saya sekeluarga berhutang pada Tuan dari masa hidup hingga mati nanti," Suta menyahut sebelum bangkit berdiri untuk duduk di akar pohon yang menonjol di hadapan Karna.
" Baik, jika demikian, Kakang. Saya sebenarnya bermaksud melanjutkan perjalanan," ujar Karna," Namun saya disarankan oleh adhi Julig untuk setidaknya sepekan tinggal di sini melihat perkembangan. Siapa tahu Ki Ageng Gagak Bayan masih penasaran dan mengganggu Savitri, saya bisa menghadapinya. Namun karena tidak sopan bagi saya seorang pemuda menginap di rumah kakang yang memiliki dara perawan, adhi Julig mengajak saya menginap ke balai desanya di Arcala. Dari sana saya dapat memantau kabar berita, dan tadi adhi Julig juga sudah berpesan kepada seorang temannya yang di sini, agar segera mengirim kabar bila ada bahaya. Saya pasti datang. Jadi jangan khawatir. Sekarang, ijinkan saya ke Arcala barang sepekan."
" Sebentar, Tuan...."
" Jangan memanggil saya tuan. Cukup adhi saja!" Karna memotong.
" Baiklah, Adhi Wingit." Jawab Suta seraya menoleh ke belakang dan berkata agak keras," Anakku Savitri, apa kau lupa cara berterimakasih? Cepat, haturkan sembah bhaktimu pada Kakang Jaka Wingit yang menyelamatkan kehormatanmu!"
Savitri yang sedari tadi duduk bersimpuh di belakang dengan rasa takjub menyimak cerita dan percakapan sambil sesekali mencuri pandang ke wajah Karna terkesiap. Segera ia beringsut dengan laku jongkok tanda kesopanan yang luhur sudah mendarah daging dalam tingkah lakunya sehari-hari. Anggun mendekat ke hadapan Karna, tangannya menghatur salam sekaligus sembah, " Hamba Savitri menghatur sembah Bhakti kepada Anda Tuan Jaka Wingit."
Jagad Dewa Bathara ! Mata itu....mata itu demikian indah. Karna belum pernah menemui sebentuk kejernihan yang demikian. Seumur hidupnya, hanya sorot mata gurunya yang ia kenali. Ia memang banyak mendengar cerita tentang apa itu wanita. Ia juga sering membayangkan tentang wanita. Tapi sebaik-baiknya bayangannya tentang wanita, ternyata tidak seindah yang ia saksikan secara nyata.
Jernih sinar mata Savitri melebihi kilau bulan purnama, dengan bulu-bulu mata lentik halus yang ikut bergerak mengatup terbuka gemulai. Di atasnya ada dua larik alis hitam tebal kontras dengan wajahnya yang putih kekuningan bersih bercahaya. Lekukan hidung kecil namun mancung menurun ke bibir tipis, sedikit merekah warna jambu seolah-olah selalu menari dengan geliat kenes yang tidak pernah membosankan saat bicara. Dagu yang sedikit lancip seperti telur kadang terhalang beberapa helai rambut bergelombang hitam yang terbawa tiupan angin, menyusur leher jenjang yang menimbulkan debaran aneh di dada Karna.
Tiba-tiba tanpa disadari, baik Karna maupun Savitri disergap rasa kikuk yang aneh. Dua-duanya membisu tak tahu apa yang mesti dikatakan. Pelan tapi pasti ada warna merah dadu menjelma di pipi keduanya.
Batin Karna riuh berbicara," Jadi ini yang disebut wanita? Ini jenis manusia yang sama dengan ibu yang melahirkannya? Mengapa demikian membetot seluruh perasaannya? Mengapa ada desir-desir menyelinap halus namun kuat sekali menyentuh hati? Mengapa tiba-tiba ada gemuruh dari dalam dada? Mengapa mulut mendadak kelu?"
"Ehm....!" Julig pura-pura batuk agak keras.
Lamunan Karna buyar. Terganti sikap gugup dan asal-asalan saat menjawab penghormatan Savitri," Oh...maaf....eee... maksud saya, silahkan, rayi (adik) Savitri."
Julig terkekeh pelan melihat Jaka Wingit yang perkasa tiba-tiba jadi demikian gugup di depan kejelitaaan Savitri," Apanya yang dipersilahkan sih Kang Wingit?"
Karna segera memperbaiki keadaan dan berkata," Maksud saya rayi Savitri tidak perlu sungkan dengan memanggil saya tuan dan silahkan memanggil saya kakang saja."
__ADS_1
"Ooooo....," Julig pura-pura paham, lantas meneruskan dengan menggoda Savitri," Ayo mbok ayu Savitri. Dibiasakan mulai sekarang manggilnya Kakang Jaka Wingit. Ingat, kakang ya? Ayo dimulai sekarang biar lebih enak dan fasih ke depannya."
Dengan senyum malu-malu tapi bahagia, bibir tipis Savitri yang basah memadu berbisik perlahan," Terima kasih, Kakang Jaka Wingit."
' Tuh, Kang Wingit. Mbok ayu Savitri sudah menerima kasihnya. Gantian dong kakang Wingit memberi kasih!" Julig tambah menjadi-jadi godaannya.
" Heh, kau bicara, Julig!" Karna menegur untuk mengalihkan tema pembicaraan yang membuatnya tersipu.
Suta dan istrinya saling melirik. Diam-diam mereka sangat menyukai kepribadian Jaka Wingit yang demikian terlihat terpelajar. Apalagi hatinya yang mulia dan kesaktiannya yang luar biasa, Suta meyakini Jaka Wingit adalah bangsawan tinggi yang menyamar. Cita-citanya untuk menjodohkan Savitri dengan pembesar Kadipaten meredup. Siapa tahu Jaka Wingit justru seorang Pangeran? Gerak-gerik dan tutur katanya tidak kalah kualitasnya dengan seorang Raja Muda.
" Sudah-sudah. Sekarang saatnya saya berpamitan kepada Kakang Suta sekeluarga. Semoga tidak ada bahaya yang menimpa Anda semua sepeninggal saya. Saya akan mengamati dari Arcala selama sepekan. Sepekan mendatang saya akan mampir ke sini." Ujar Jaka Wingit untuk menuntaskan suasana canggung itu.
Suta buru-buru berdiri sambil mengisyaratkan menahan kepergian Karna sejenak.
" Sebentar Tu...eh, adhi Wingit. Tunggu saya sebentar," kata Suta seraya pergi menuju halaman belakang. Tak lama kemudian ia sudah menuntun seekor kuda hitam yang bertubuh gagah, tegap sempurna.
Dengan sikap sangat menghormat dan berharap Suta berkata," Adhi Jaka Wingit, jika Andhika sungguh-sungguh menganggap kami sebagai keluarga lahir batin, jangan menolak tanda ikatan keluarga ini. Kuda ini satu-satunya harta kami yang tersisa setelah musibah. Saya beri nama Gelap ( Halilintar), karena saat dibutuhkan dia mampu berlari dengan sangat cepat seumpama halilintar. Si Gelap kuda yang sangat kuat dan seperti mampu memahami apa yang dipikirkan tuannya. Silahkan jadikan Gelap sebagai teman perjalanan Andhika selama-lamanya."
Dengan sekilas pandang, Karna tahu bahwa Gelap adalah Turangga ( kuda ) pilihan yang sangat bagus. Tipe kuda perang yang bernyali sangat tinggi dan sigap. Kuda sekualitas Gelap harganya dapat dipastikan sangat mahal, karena di antara seribu belum tentu ada satu. Demi melihat kondisi keuangan keluarga Suta yang tertimpa musibah akibat ulah Gagak Bayan, Karna mencoba menolak dengan halus.
" Kakang, bukan berarti saya menolak. Saya terima kuda Gelap sebagai tanda ikatan kekeluargaan kita. Sekarang saya serahkan lagi, silahkan dijual untuk menghidupkan kembali usaha dagang kakang," ujar Karna bermaksud kasihan terhadap nasib keluarga Suta.
Namun justru perkataan Karna membuat Suta menitikkan air mata, " Mengapa Adhi Wingit tega berkata demikian pada saya?"
Karna terkejut tidak menyangka respon Suta demikian menyedihkan. Buru-buru Karna menghaturkan sembah tanda mohon maaf dan berkata," Apa maksud, Kang Suta? Saya sungguh tidak bermaksud buruk."
Suta pun segera memperbaiki kata-katanya untuk menepis kesalahpahaman," Saya tahu, Adhi bermaksud baik. Tapi tidak mungkin saya menjual si Gelap. Gelap sudah seperti anggota keluarga saya sendiri. Seperti Savitri, tidak mungkin saya lepaskan. Tidak mungkin saya jual dengan harga berapapun juga. Tapi akan saya berikan jika dalam pengasuhan orang yang saya percayai lahir batin. Dan orang itu adalah Adhi. Maka, janganlah menolak si Gelap. Ini bisa sangat melukai saya. Saya mohon, terimalah sebagai teman seperjalanan Anda."
Karna tidak bisa menolak. Dengan mengucap terima kasih dan berjanji akan menganggap si Gelap sebagai teman seperjalanan seumur hidupnya, Karna menerima tali kekang. Mengusap-usap punggung si Gelap yang entah kenapa seketika meringkik senang seolah-olah tahu bahwa ia akan dibawa oleh majikan barunya ke banyak petualangan besar.
Selanjutnya Karna dan Julig bertengger mantap di atas panggung kuda Gelap setelah berpamitan pada Suta,, istrinya, dan Savitri untuk sepekan ke Arcala. Terpampang pemandangan dua pemuda beda karakter tegap duduk di atas kuda gagah.
" Heh, kok kudanya ndak disuruh jalan dari tadi, Kang Wingit?" Julig yang membonceng di belakang tiba-tiba menepuk bahu Karna yang termangu-mangu.
Karna tergagap. Ada rasa berat berat meninggalkan rumah Suta. Entah kenapa. Namun ia segera menepis rasa enggan itu. Dihelanya si Gelap. Kaki Gelap yang panjang melonjak berlari seperti yang diceritakan Suta, sangat kuat depakannya, sangat cepat larinya.
__ADS_1
Perlahan bayang punggung Karna yang tertutup tubuh Julig kian menjauh, mengecil meninggalkan sedikit dedebuan di belakangnya. Pikiran Karna menerawang. Sesungguhnya ia belum puas bertatap mata dengan mata jernih Savitri. Sementara di belakang, dara Savitri mematung mengamati dedebuan yang terdepak kaki si Gelap. Batinnya lirih berbisik, ' Gelap, tiap kali aku dengar ringkikaanmu, aku hapal, bahwa kau telah membawa Bapa (ayah) kembali. Nanti meringkiklah lagi, agar aku tahu kau sedang membawa Kakang Jaka Wingit kembali."