
Karna menatap penyerang itu. Perawakannya sedang, tidak gemuk juga tidak kurus. Tetapi tinggi badannya melebihi rata-rata orang kebanyakan. Ia mengenakan topeng kayu yang menutup dari kening hingga di atas batas hidung dan bibir. Pakaian yang dikenakan serba hitam sehingga tersamar di kegelapan malam. Ia menenteng semacam tongkat kayu berukuran kira-kira sepanjang pedang.
" Mengapa saya harus melawanmu, Kisanak? Kita belum pernah bertemu dan tidak bermusuhan, " ujar Karna memulai percakapan.
Penyerang itu mendengus lagi, " Tak perlu banyak mulut. Kalau kau takut, pergi saja dari sini dan tidak perlu mengenal aku."
" Tapi Anda menyerang kami, bagaimana mungkin saya pergi tanpa tahu masalahnya?"
Orang itu berkata dengan nada mengejek, " Ah...cara bicaramu macam perempuan saja. Kalau takut tinggal bilang, kalau berani serang aku sekarang!"
Karna mengerutkan kening tak paham dengan maksud orang misterius itu mengajaknya bertarung. Namun karena ia penasaran dengan identitas penyerang itu dan ingin mengetahui maksud kedatangannya, ia putuskan menerima tantangan. Karena sudah melihat kemampuan meringankan tubuh dan lontaran kerikil yang sangat bertenaga dan akurat, Karna tidak mau gegabah dengan ketinggian ilmu lawan yang sedang dihadapi kini.
" Karena Kisanak yang meminta, silahkan Kisanak pula yang memulai serangan. Saya bersiap, " ujar Karna sambil memasang kuda-kuda dengan menekuk tungkai kaki dengan maksud agar ringan jika harus bergerak untuk menghindari serangan cepat.
" Baik, jangan salahkan aku kalau menghajarmu dengan keras," sahut sang penyerang.
Belum sempat Karna menjawab, orang itu sudah melompat seperti terbang menyambar ke arah Karna dengan memutar tongkatnya. Kecepatan terbangnya yang begitu tinggi membuat Karna tidak siap mengantisipasi ayunan tongkat kayu yang tiba-tiba saja mendarat di pipinya.
" Plak!"
Seketika pipi Karna membentuk lajur merah terhantam tongkat kayu.
Meskipun tidak menimbulkan luka, tetapi kecepatan serangan yang luar biasa membuat Karna terhenyak menyadari bahwa lawannya memiliki kemampuan yang jauh di atas dugaannya. Belum pernah Karna mendapati gerakan makhluk hidup secepat itu. Selama berlatih silat di alas Sunyakama, Karna sudah terbiasa berlatih dengan hewan-hewan yang memiliki kecepatan serang tertinggi. Ia dengan mudah menghindari dari patokan ula Sendok ( Kobra) juga ula Lanang ( King Kobra) yang sering digodanya untuk diajak bermain. Hampir tiap hari Karna juga melatih diri dengan kecepatan tamparan cakar Harimau, semua dengan mudah diatasi. Tapi kecepatan serangan orang misterius ini sungguh di luar dugaan. Puluhan kali lebih cepat daripada kecepatan tamparan cakar macan.
Dengan kejadian kecolongan di gebrakan pertama itu, Karna memusatkan perhatiannya pada arah datangnya serangan. Yang ia perhatikan adalah gerakan bahu dan lengan penyerangnya sebagai petunjuk arah ayunan tongkatnya akan menyasar ke arah mana.
Upaya Karna berhasil. Dengan melihat gerak bahu dan lengan penyerangnya, serangan selanjutnya yang datang bertubi-tubi dengan kecepatan kecepatan sangat tinggi selalu dapat dihindari sebelum ujung tongkat penyerang menjangkau sasaran. Ada sekitar 50 jurus telah dilancarkan, tak ada satupun yang mampu mendarat di tubuh Karna.
Namun, hal itu juga merugikan Karna yang hanya sibuk menghindari serangan tanpa sanggup melancarkan satupun serangan balasan. Jika situasi pertarungan ini tetap dilanjutkan, tidak akan ada pihak yang menang maupun yang kalah. Paling-paling keduanya hanya akan kelelahan. Di mana sang penyerang kehabisan tenaga karena lelah menyerang tanpa hasil, sementara tenaga Karna juga terkuras hanya untuk menghindar tanpa sempat memberikan serangan balasan karena rapatnya serangan yang tanpa jeda. Karna menyadari, lawan yang dihadapi memiliki keunggulan kecepatan di atas kemampuannya. Satu-satunya jalan, Karna harus menggunakan tenaga, siapa tahu tenaganya lebih besar daripada tenaga lawan.
Setelah melewati jurus ke-70, Karna mengambil inisiatif berspekulasi membenturkan tenaga dengan menerima pukulan tongkat untuk mengukur kekuatan lawan dengan mengesampingkan kecepatan serangan.
" Plak!"
Tongkat penyerang mendarat mulus di dada Karna yang sengaja tidak menghindar.
Hantaman tongkat yang demikian keras dan secepat kilat menghasilkan daya bentur yang sangat besar seumpama lesatan batu meteor menghujam tanah.
Meski Karna sudah mengantisipasi benturan itu dengan memusatkan tenaga murninya di dada, namun tak ayal daya hantamnya membuat napas Karna tersedak.
Si penyerang misterius senang mengira serangannya berhasil, tidak tahu bahwa itu memang disengaja Karna yang ingin mengubah jalannya pertarungan. Ia tidak menyadari bahwa Karna hanya ingin memanfaatkan waktu sekejap saat tongkatnya tertahan di dada Karna dapat menangkap tongkatnya.
Karena telah mengukur kemampuan beladiri lawannya yang di atas rata-rata, Karna memutuskan untuk menggunakan ajian Tapak Dahana yang mengandung sifat inti api. Ia salurkan setengah tenaga ke gagang tongkat yang dicengkeramnya. Seketika tongkat itu menjadi bara yang dengan cepat menjalar maju menuju hulu yang digenggam sang penyerang.
Sang penyerang nyaris melepaskan gagang tongkat ketika merasa hawa panas seolah bara sepuhan pande besi menyengat telapak tangannya.
" Aaaarrrrggghhhh...."
Saat sang penyerang tersengat hawa panas sehingga gerakannya tak terkendali dengan baik, Karna mengirim pukulan Tapak Dahana yang mendarat dengan mulus di dada penyerangnya.
" Buuukkk...!"
Akibatnya, tubuh sang penyerang terhempas 3 depha ke pohon mangga hingga batangnya terguncang karena kerasnya daya benturan. Beberapa buah mangga matang berjatuhan. Yang lebih dahsyat, pakaian sang penyerang mengepulkan asap akibat terbakar hawa panas sehingga mengeluarkan bau sangit.
Karna terkejut melihat pemandangan itu. Padahal ia hanya mengerahkan setengah bagian dari ajian Tapak Dahana. Ia segera sadar bahwa lawannya hanya unggul dalam hal kecepatan gerak dan meringankan tubuh. Tapi dalam hal tenaga, lawannya tak sebanding sama sekali dengannya. Penyerang itu terbatuk-batuk sesak napas karena hantaman tenaga panas di dada serta benturan keras di punggungnya.
Merasa di atas angin, Karna yang tidak pernah memiliki niat untuk menghabisi lawan-lawannya ingin menyudahi pertarungan yang sudah tidak imbang itu.
" Kisanak, sudahi saja pertarungan ini. Saya tidak ingin mencelakai Anda."
Sang penyerang terdiam sejenak untuk menata napasnya. Ia duduk bersila tak merespon ajakan Karna.
Ada sekitar 5 kejap mata ia tampak melakukan pernapasan khusus, lalu menggerakkan bibirnya, " Belum selesai, Bocah Sakti. Hadapi kami sekarang!"
Karna bertanya-tanya mengapa lawannya berkata 'kami' dan bukan aku, apa ia bersama temannya?
Pertanyaan hati segera terjawab. Orang itu berdiri dengan dua telapak tangan tertangkup di depan dada. Kemudian dengan perlahan dua telapak tangannya saling menjauh. Siku kiri melebar ke kiri, yang kanan melebar ke kanan. Bergerak melewati batas bahu, terus bergerak lagi, lagi dan lagi hingga menciptakan lengan baru
__ADS_1
Karna terkejut. Ia melihat lawannya membelah diri menjadi 3 orang yang persis paras maupun perawakannya, tidak bisa dibedakan sedikitpun.
" Sihir...." desis Karna.
Karna pernah mendengar jenis ilmu kesaktian ini dari gurunya. Sihir termasuk jenis ilmu gaib yang dapat dikuasai dengan laku puasa, pernapasan, dan meditasi khusus yang sangat ketat dan disiplin. Namun karena berat dan lamanya mempelajari jenis ilmu ini bila dengan cara mengolah daya pribadi, kebanyakan pemilik sihir memilih jalan pintas yang bersifat hitam dengan meminjam kekuatan dari luar berupa kerja sama dengan makhluk gaib. Meski semua jenis Ilmu, baik yang tergolong hitam maupun putih, tidak seketika berarti baik dan jahat, karena penggunaan ilmu hitam maupun putih tergantung kepada niat pemiliknya, namun perolehan ilmu melalui jalan hitam mengandung bahaya tersendiri. Hubungan yang erat dengan makhluk gaib beresiko terpapar energi yang berupa napsu amarah, tamak, dan tinggi hati. Apalagi bila ditambah dengan syarat-syarat perjanjian yang tidak benar dengan makhluk gaib, bisa merubah karakter seseorang bahkan hingga keselamatan jiwanya menghadapi kematian. Namun, itu adalah pilihan masing-masing pencari ilmu, dan Karna menghormati pilihan sesama pencari ilmu. Yang ditekankan oleh Mpu Angalas pada Karna adalah penggunaannya, bukan ilmunya.
Karna yang belum pernah menghadapi ilmu sihir secara langsung tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia hanya mencoba memfokuskan perhatian pada seseorang yang berdiri di tengah, karena itulah sosok manusia aslinya, sedang dua orang lainnya hanya ilusi. Namun apa yang dilakukan Karna sia-sia. Tiba-tiba tiga sosok itu saling melompat berpindah tempat satu sama lain dengan sangat cepat sehingga keberadaan manusia aslinya kini tidak lagi dapat dipastikan. Melihat keadaan ini, Karna memutuskan untuk menunggu mereka menyerang saja.
Benar. Tiga orang itu melakukan serangan serempak dari arah dan sasaran serang berbeda-beda. Satu dari arah kiri menyasar kepala, yang kedua dari arah kanan mengarahkan tongkat ke paha, sedang orang ketiga dari tengah menyasar langsung menusuk ulu hati.
Dengan menggerakkan tangannya membentuk pusaran melingkar, Karna menahan 3 serangan serempak itu.
" Pletak...Tak...tak ! " terdengar benturan 3 tongkat tertahan oleh putaran tangan Karna.
Akibatnya, 3 orang itu terdorong setindak. Namun sekejap kemudian mereka menyerang bersamaan lagi dengan mengayun-ayunkan tongkat sangat cepat menghujani seluruh bagian tubuh Karna.
10 jurus berlalu... tiba-tiba satu tongkat entah datang dari orang yang ke berapa mendarat di tengkuk Karna.
" Plak!"
Karna mendengus tipis dan memutuskan mengubah strategi perkelahian. Kalau terus bertahan, ia akan kelelahan sendiri menahan serangan 3 orang tanpa tahu siapa orang yang asli dan yang mana yang hanya ilusi sihir. Ia harus menyerang dengan memfokuskan salah satu saja.
Karna memilih orang pertama yang paling dekat jaraknya.
Saat orang pertama mendekat, Karna menatap bagian dadanya. Tanpa menghiraukan dua serangan lain yang dengan bebas memukuli tubuhnya dengan tongkat, Karna mendaratkan satu tendangan kilat ke dada orang pertama.
" Bluk...!!!
" Braaaakkk....!!!"
Orang pertama terjatuh keras ke tanah. Tendangan Karna yang sangat keras menghempaskan tubuhnya.
Orang itu muntah darah.
Tapi tiba-tiba terjadi hal yang tidak masuk akal. Dari darah yang dimuntahkan orang pertama, ketika menetes ke tanah berubah menjadi orang baru lagi.
Kini justru Karna menghadapi 4 orang!
" Braaaakkk...!!!"
Orang kedua jatuh dengan lebih keras lagi. Namun kali ini ia tidak muntah darah. Yang terjadi justru terhempas hancur menjadi debu. Namun, tiba-tiba dari kepulan debu muncul dua orang baru dalam keadaan segar bugar.
Kini lawan Karna menjadi 5 orang.
" Candrabirawa? " desis Karna.
Candrabirawa adalah ajian pamungkas yang dimiliki oleh Prabu Salya sang Panglima Perang Kurawa dalam pewayangan Bharatayudha. Konon dengan ajian ini, Prabu Salya dapat menciptakan ribuan bahkan jutaan raksasa-raksasa kerdil yang sangat ganas hasil dari membelah diri tiap kali meneteskan darah atau terpenggal anggota tubuhnya. Namun yang dihadapi Karna kali lebih lagi. Mungkin ini adalah pengembangan Candrabirawa sehingga mampu menciptakan ujud manusia dalam jumlah tak terbatas tiap kali diserang atau meneteskan darah.
Karna menghentikan serangannya karena sadar sia-sia jika cara ini tetap dilanjutkan, yang terjadi justru lawan yang dihadapinya akan bertambah banyak sementara manusia aslinya tidak diketahui yang mana.
" Kau menyerah, Bocah Sakti? Hahahaha...." Lima orang itu tertawa bersamaan mengejek Karna yang mematung memikirkan cara menghadapi ilmu sihir yang di luar akalnya.
Karna mengingat-ingat apa yang dilakukan Pandawa saat menghadapi ajian Candrabirawa yang telah menjelma menjadi ribuan raksasa jadi-jadian membantai para prajurit. Waktu itu Pandawa tertua yaitu Yudhistira yang tidak bisa berkelahi justru yang ditugaskan untuk menghadapi Prabu Salya yang sakti mandraguna. Yudistira yang hanya penuh welas asih tidak mempunyai keinginan sedikitpun untuk menyakiti Prabu Salya. Ia menghunuskan anak panah asal-asalan sambil berserah diri kepada Dewata Yang Agung. Panahnya dilepas tanpa melihat sasaran sehingga jatuh ke tanah. Namun justru kebeningan jiwa Yudistira yang tidak mengenal amarah itulah yang membuat ribuan raksasa yang sesungguhnya ujud dari ilusi napsu amarah Prabu Salya lenyap hancur ditelan kemurnian Yudistira yang tak terpengaruh ilusi.
Karna membandingkan situasi yang dialami Yudistira dengan apa yang sedang dihadapinya kini. Ia memutar akalnya dan meraba-raba cara ujud dari kemurnian niat. Untuk mengalahkan ilusi, ia harus mematikan ilusi.
Seketika perkataan yang pernah diucapkan oleh Mpu Angalas terngiang kembali. Bahwa niat adalah buah pikiran, sedang pikiran merupakan tanggapan akal atas keadaan luar yang tertangkap oleh indera. Artinya, Karna harus memadamkan pikiran dengan menutup indra yang sedang terpengaruh oleh ilusi. Sedangkan indera yang sedang terpengaruh oleh ilusi sekarang adalah mata!
Karna segera menundukkan wajah dan menutup matanya. Dengan perlahan ia menjatuhkan diri duduk setengah jongkok dengan satu kaki tertekuk, tangannya mencengkram tanah untuk menggenggam tanah pasir dan kerikil.
Dengan memejamkan mata, ilusi yang berujud 5 orang tak lagi mengganggu penglihatan dan pikiran Karna. Sementara sang penyerang Karna diam-diam terkejut dengan cara baru Karna itu. Ia tidak dapat menduga apa yang akan dilakukan Karna.
Tak mau membuang waktu, 5 orang jadi-jadian itu menerjang Karna yang sedang berlutut.
Tiba-tiba tangan Karna bergerak sangat cepat melontarkan pasir dan kerikil ke segala arah. Ini adalah rencana Karna seperti saat Yudistira melontarkan panah tanpa melihat sasaran.
Pasir dan kerikil berhamburan ke segala arah menerpa 5 orang penyerangnya.
__ADS_1
Karna memasang pendengarannya kuat-kuat. Itulah cara yang ia gunakan untuk membedakan antara orang sesungguhnya dengan 4 orang bayangan yang tidak nyata. Bila pasir atau kerikil itu menyentuh badan asli, pasti menimbulkan suara. Sedang badan bayangan pasti tidak bersuara karena memang sesungguhnya hanya hampa.
" Tik...!" Terdengar suara lembut sekali saat sebutir kerikil kecil mengenai tubuh.
Pendengaran Karna yang sangat kuat segera tau arah mana tubuh penyerang yang sesungguhnya.
Secepat kilat Karna melesat dengan mengirimkan sepertiga tenaga Tapak Dahana karena Karna tidak ingin mencelakakan penyerangnya. Sepertiga saja cukup karena tadi saat dipukul setengah tenaga penyerangnya hampir mengalami luka dalam.
" Plaaaakkkk....!"
" Aaaarrrrggghhhh....!!!" Tubuh si penyerang terpental ke udara oleh daya Tapak Dahana yang membakar kulit yang terpukul hingga gosong.
Karna menyusulkan lagi satu tendangan yang membuat tubuh penyerangnya berputar sebelum jatuh ke tanah.
"'Bruuuukkkk...!!!"
Karna membuka matanya kembali dan benar saja yang tertinggal hanya tubuh tunggal penyerangnya sementara 4 manusia hasil sihir telah lenyap entah ke mana.
Karna melangkah mendekati tubuh penyerangnya yang duduk terengah-engah menahan panasaan akibat dahsyatnya hawa Tapak Dahana.
" Kau memang hebat, Karna, " ujar sang penyerang dengan napas tersengal.
" Karna?" Karna terkejut. Di seluruh dunia tidak ada yang tahu bahwa namanya Karna kecuali Mpu Angalas. " Darimana Kisanak bisa tahu nama saya Karna?"
" Haaahhh...." orang itu menghembuskan napas pendek untuk menetralisir hawa panas yang masih berputar-putar di tubuhnya. Ia kemudian melepaskan topeng kayu dari wajahnya, sehingga terlihat wajah seorang lelaki berumur kira-kira 30 tahun yang berwajah keras namun tampan.
" Aku Kidang Panah. Aku tahu namamu dari guruku yang menyuruhku untuk menemuimu. Nama guruku Mpu Kuricak."
" Mpu Kuricak?" Karna berlutut agar dapat sejajar dengan Kidang Panah yang masih terduduk lemah. Tenaganya terkuras habis setelah menerapkan ajian Candrabirawa versi Mpu Kuricak ditambah pukulan Tapak Dahana yang sangat panas. " Saya belum pernah mendengar nama Mpu Kuricak, kang Kidang."
"'Mpu Kuricak adalah adik seperguruan gurumu Mpu Angalas, " ujar Kidang Panah. " Mereka memang sudah puluhan tahun tidak bertemu secara raga, namun selalu berhubungan secara batin dengan raga sukma. Mpu Angalas yang memberi tahu guruku tentang namamu."
' Jagad Dewa Bathara!" Karna duduk bersila di hadapan Kidang Panah. " Biar saya bantu menetralisir hawa panas pukulan tadi, Kang," ujar Karna sambil menebakkan telapak tangannya ke dada Kidang Panah dan menyalurkan hawa dingin Tirta Gumulung."
" Aku diutus guruku untuk menemuimu karena ada tugas sangat penting menyangkut masalah negara. Untuk kepentingan Bhumi Majapahit," ucap Kidang Panah di sela-sela proses netralisir hawa panas dan dingin.
" Mengapa saya dilibatkan dalam masalah sepenting itu, Kang Kidang?"
" Aku tidak tahu. Yang jelas kata Mpu Kuricak, ini juga perintah dari gurumu. Apa kau keberatan?'
" Tidak, Kang. Tentu saya siap melaksanakan apapun perintah guru. Apalagi menyangkut kepentingan Bhumi Majapahit, Guruku Mpu Angalas berpesan aku harus membantu Negara."
Proses netralisir tenaga selesai, tubuh Kidang Panah kembali bugar seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
" Terima kasih. Kau baik sekali, Karna."
" Tidak apa-apa, Kang. Lagipula kita saudara seperguruan."
" Tapi kau terlalu baik. Itu bisa membahayakan keselamatanmu sendiri nanti."
" Kenapa, Kang?"
" Tadi harusnya kau biarkan aku membunuh Gagak Bayan."
" Gagak Bayan sudah menganggap saya sebagai saudara, Kang."
Kidang Panah tertawa, " Hahaha...saudara apa? Kau salah! Atau sekarang aku kembali lagi ke Wisma Gagak Nagara untuk membunuh Gagak Bayan saja?"
" Jangan, Kang. Jangan membunuh orang tanpa alasan yang sangat kuat. Beri dia kesempatan berubah menjadi orang baik."
" Kau tidak tahu, Karna. Ada jenis manusia yang tidak bisa berubah sampai mati. Dan Gagak Bayan adalah jenis manusia seperti itu. Biar aku bunuh dia!" sahut Kidang Panah.
" Tidak. Mohon tidak membunuh orang di hadapan saya tanpa alasan yang sangat kuat."
Kidang Panah mendengus pendek, " Ingat saja kata-kata ini, Karna. Nanti kau akan sangat-sangat menyesal telah memberikan kesempatan hidup pada manusia terkutuk seperti Gagak Bayan!"
Karna tidak menjawab. Ia tidak ingin berdebat tentang masalah masa depan yang belum pasti.
__ADS_1
Kemudian Kidang Panah mengajak Karna berangkat secepatnya menuju Kotaraja untuk melaksanakan tugas negara yang disampaikan oleh Mpu Kuricak. Namun Karna menolak karena teringat pada Julig dan Savitri. Ia minta waktu sehari untuk menemui Savitri untuk berpamitan. Di samping itu, Karna ingin mengajak Julig ikut serta. Sejak kejadian di Wisma Gagak Nagara, Karna merasakan Julig mempunyai banyak kelebihan yang bisa menyelesaikan berbagai masalah rumit. Kidang Panah menyetujui permintaan Karna dan berjanji akan bertemu di batas tugu Gagak besok malam.
Disepakati mereka akan berangkat bertiga, yaitu; Karna, Kidang Panah, dan Julig. Tiga orang berbeda karakter namun memiliki kelebihan masing-masing akan siap menjelang petualangan baru, petualangan yang jauh lebih besar daripada yang pernah mereka lakukan.