
Detak jantung Julig berlarian melihat Panembah Swara terus menatapnya tajam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Meski ia tidak mampu menebak jalan pikiran Panembah Swara, namun jelas diamnya Panembah Swara sedang menyimpan pikiran. Entah karena didorong perasaan khawatir atau memang Panembah Swara memiliki kemampuan untuk melihat orang yang berdusta, Julig tidak berani mendesak lebih lanjut.
Panembah Swara mengibaskan tangannya, " Kau yakin itu harus kau lakukan, Nok?"
Julig tercekat. Sebenarnya mulai timbul rasa segan berbohong pada Panembah Swara yang begitu baik sikapnya. Bahkan di sudut hatinya ada semacam perasaan bahwa sesungguhnya Panembah Swara seolah-olah sudah tahu penyamarannya, namun entah kenapa ia tidak menunjukkan sikap keras padanya. Apalagi dalam kalimat terakhir nilai rasanya Panembah Swara seakan berkata ' apa penyamaran ini harus kau lakukan?'
.
Julig menghaturkan sembah dan menjawab lirih, " Mohon ampun, Bapa Guru. Ini memang harus hamba lakukan."
Panembah Swara tiba-tiba tersenyum, " Baiklah, lakukan, Nok! Bukankah waktumu tidak banyak?"
Perasaan Julig tersengat oleh kalimat 'waktumu tidak banyak'. Namun ia segera membuang perasaan yang datang mendera, mengingat waktu sudah sangat dekat dengan tengah hari wisan gawe segera ia mengangkat tenggok mendahului tangan Darsono yang sudah terulur, " Biar saya saja yang membawanya, Kang Darsono. Takutnya potnya saling tabrak kalau tidak diangkat hati-hati."
Darsono mengangguk dan membiarkan Julig membelitkan selendang gendong ke tenggok. Ia tidak tahu ketika membelitkan selendang, tangan Julig mengeluarkan 1 pot kecil yang ditinggalkan di balik tumpukan daun. Julig sedang merancang aksi akhir.
Darsono membawa Julig menyusur ke sisi timur dinding goa. Di sepanjang pojok langit-langit, terselip batang-batang bambu yang lebih besar. Benar sekali dugaan Julig, pipa-pipa bambu berukuran besar itu adalah jalur utama udara sebelum dipecah-pecah ke masing-masing ruangan dengan bambu yang berukuran lebih kecil. Beberapa saat kemudian, mereka mendaki jalan berundak serupa anak tangga. Mungkin ini anak tangga batu buatan. Anak tangga itu menembus lorong yang cukup dilalui oleh dua orang dewasa. Saat memasuki lorong itu Julig merasakan tiupan angin segar. Diam-diam Julig tersenyum sumringah, tujuannya untuk menemukan lobang udara sudah berhasil di depan mata.
Ujung dari lorong itu adalah lobang yang terbentuk dari cekungan badan goa. Di sekitar lobang goa terdapat batu datar yang cukup luas permukaannya untuk meletakkan pot-pot tanaman.
" Kita sudah sampai, Jeng, " ujar Darsono, " Silahkan kalau menata potnya."
" Tapi kok gelap tidak ada sinar matahari, Kang?""
Darsono menunjukkan tangan ke atas, " Ini sebenarnya ruang terbuka, tapi untuk sementara ditutup dengan anyaman bambu dan pohon-pohon rambat agar tidak terlihat siapapun. Dua hari yang lalu kita kedatangan dua orang jahat sampai harus menutup pintu goa dan menyamarkan lobang ini."
__ADS_1
" Ooo...sejahat apa dua orang itu? Apa mereka membunuh para siswa, Kang?"
Darsono mengangkat pundaknya tanda tak paham juga, " Menurut cerita siswa yang berjaga pada saat itu, ia yakin temannya dibunuh dengan sangat kejam. Tapi anehnya, keesokan hari saat kami mencari keberadaan mayatnya, kami temukan dia ketiduran tanpa bekas luka sedikitpun, dan baik-baik saja sampai sekarang. Aaahhh....entahlah apa mereka benar-benar orang jahat atau tidak. Yang jelas, mereka sangat sakti karena mampu lolos dari kejaran ribuan ular berbisa sehingga Bapa Guru memerintahkan menutupi goa dan lobang goa sampai keadaan benar-benar aman."
" Tapi kalau ruang ini tertutup sinar matahari terus menerus, tanaman-tanaman ini tidak bisa tumbuh, Kang, " kata Julig sambil menata pot-pot bunga. Julig berharap dengan pertanyaan itu, Darsono akan menunjukkan cara membuka atap penutup.
Darsono terpancing, " Jangan khawatir, Jeng Endah. Ini hanya sementara. Untuk membuka atapnya juga gampang, " ujar Darsono sambil berjalan ke pojok ruangan. Ia mengambil sebatang galah dan mengangkat mendorong permukaan atap itu.
Seketika sinar matahari menerobos masuk dari sudut atap yang terangkat. Saat melihat terik matahari, Julig terkesiap. Tengah hari Wisan Gawe beberapa saat lagi tiba. Pasti Kidang Panah dan Karna sudah bersiap-siap menerjang menempuh jalan darah. Julig harus mengabarkan keberadaan lobang ini sekarang juga. Tapi sayangnya masih ada Darsono di sana. Ia tidak mungkin melakukan itu. Untung di saat akhir Julig sudah memikirkan hal itu.
" Waduh, Kang. Ternyata ada 1 pot lagi ketinggalan di dalam lagi. Boleh minta tolong diambilkan? Saya kelelahan kalau bolak-balik mendaki undak-undakan, " seru Julig dengan nada memohon.
" Oh, ada yang ketinggalan satu? Ya saya ambilkan, " ujar Darsono seraya membalikkan badannya dan berjalan masuk ke lorong angin.
Begitu badan Darsono lenyap ke dalam lorong, Julig mengambil galah untuk membuka atap ruang. Dengan menarik napas kuat-kuat, ia pergunakan kemampuannya meniru suara binatang.
Wajah tegang Karna dan Kidang Panah yang semula bersiap menyerang karena tengah hari sudah tiba mendadak cerah.
" Itu isyarat Julig, Kang! Dia selamat!" seru Karna nyaris memekik karena gembira.
Kidang Panah memasang kuat-kuat pendengarannya untuk menduga arah suara itu. Saat matanya menatap badan goa sebelah timur atas, ia menangkap ada gerakan daun rambat naik turun.
" Di sana, Karna!" bisik Kidang Panah. Karna mengangguk, ia juga sudah dapat menentukan tempat asal suara Julig.
Tanpa membuang waktu sedikitpun, dua ksatria sakti ia menjejakkan kaki, meluncur seperti terbang dari satu dahan ke dahan lain menuju lobang udara tempat Julig berada.
__ADS_1
" Zzzzuuuutttt....!!!" Gerak luncuran tubuh Karna dan Kidang Panah nyaris tidak menimbulkan suara sedikitpun kecuali seruak daun yang terterpa tubuh mereka.
Para penjaga goa melihat dua kelebat bayangan di udara, namun mereka tidak dapat memastikan itu bayangan apa.
" Itu tadi bayangan apa ya?" ujar salah seorang penjaga goa.
" Burung mungkin, " jawab penjaga yang lain.
" Aku belum pernah lihat burung sebesar itu. Ah, sudahlah...memang banyak hewan aneh di alas Ketonggo ini. Lagipula itu juga tidak biasa ada suara gagak bersahutan di tengah hari begini. "
" Iya, yang penting bukan dua orang jahat itu saja."
" Tap ! Tap ! " Kaki Karna dan Kidang Panah bersamaan mendarat di permukaan badan goa yang tertutup atap.
Julig mengangkat galahnya tinggi-tinggi sehingga Karna dan Kidang Panah dapat masuk.
" Kau baik-baik saja, Anak Kancil?" tanya Kidang Panah sambil memegang pundak Julig untuk memastikan tidak ada luka di badannya.
Julig tersenyum, " Baik-baik saja, cuma gerah di dalam goa tertutup pake kemben. Aku mau ganti pakaian laki-laki lagi saja. Ini pakaiannya aku sembunyikan di tenggok."
" Terserah kau. Aku dan Wingit harus jalan lewat mana?"
" Masuk ke lorong itu, Kang. Setelah sampai lorong, jalan ikuti dinding goa sebelah timur. Lurus saja, di ruang pertama ada Panembah Swara di situ."
" Baik, kau di sini saja, biar aku dan Wingit yang menyelesaikan urusan di dalam."
__ADS_1
***