
Setelah melalui pertempuran selama berhari-hari yang hampir memporak-porandakan kehidupan di sekitar gunung Arjuna, penguasa dasar bumi Naga Antaboga harus mengakui keunggulan Semar. Sebagai konsekuensinya, Naga Antaboga harus menutup celah yang pecah antara laut dan kaki gunung Arjuna dengan tubuhnya. Ia ditugaskan untuk menjaga gunung Arjuna secara gaib hingga waktu yang tidak tertentu sampai lorong laut tertutup sepenuhnya. Itulah sebabnya hingga kini gaib Gunung Arjuna dijaga oleh Naga Antaboga. Sementara cerukan tanah yang terlanjur tercipta dinamakan desa Jalanidhi yang berarti Samudera. Sedangkan di bagian terdalam yang tidak layak huni dibatasi oleh kapal raksasa yang dibelah-belah menjadi kayu, ditancapkan di segenap penjuru cekungan. Lama kelamaan, kayu kapal merapuh sehingga serbuknya menutupi permukaan cekungan dan menumbuhkan kayu jenis baru yang sangat besar dan tinggi untuk meraih sinar matahari di permukaan tanah datar. Cekungan yang kemudian menjadi hutan pohon raksasa itulah yang kemudian hari menjadi hutan sakral yang tidak diketahui letaknya oleh orang luar kecuali warga desa Jalanidhi, itupun hanya. beberapa orang terpilih yang boleh masuk, sebab jalannya tanahnya serupa mangkok yang curam. Sekali salah langkah, orang akan jatuh terperosok ke palung yang sangat dalam.
Warga desa Jalanidhi merahasiakan keberadaan hutan sakral itu karena memegang pesan leluhur yang disampaikan secara turun temurun bahwa sebatang kayupun tidak boleh keluar dari desa hingga nanti datang seorang keturunan pemilik kapal yang akan mengembalikan kapal yang sudah berujud pohon itu ke samudera raya. Menurut pesan leluhur, kapal yang menjelma hutan itu adalah kapal Nusantara, sehingga pewaris yang berhak mengambilnya adalah pelaut yang akan mengarungi seluruh perairan Nusantara.
Berita Sumpah Palapa Gajahmada untuk menyatukan Nusantara dalam satu panji Gula Klapa sempat menghentak warga desa Jalanidhi. Banyak orang menghubung-hubungkan hal itu dengan wasiat leluhur mereka sangat percayai tuahnya. Mereka menduga-duga apakah Gajahmada adalah orang yang dimaksud, sehingga ada beberapa tetua mengusulkan untuk mengirim utusan ke Kotaraja dan menceritakan perihal pohon keramat Baita kepada sang Mahapatih. ( Baita \= Kapal). Namun Buyut desa yang bernama Ki Sambang Segara tidak menyetujui hal itu. Menurut Ki Sambang Segara, pesan leluhur sangat jelas disuruh menunggu, bukan mencari. Penalarannya jelas, orang yang kehilangan sesuatu pasti akan mencari barang yang hilang, bukan menunggu ada orang yang menemukan. Jadi pasti, pewaris pemilik kapal Nusantara itu yang akan datang ke Jalanidhi, bukan Jalanidhi yang menyodorkan diri. Akhirnya, meski mereka sangat berharap kedatangan Gajahmada ke desa itu, atau setidaknya mengirim utusan yang jelas untuk me seencari kayu kapal, mereka tidak berani mengambil inisiatif untuk menceritakan kayu langka yang hanya ada satu-satunya di dunia itu kepada siapapun.
Sekitar sepuluh tahun yang lalu desa Jalanidhi kedatangan tamu asing yang bentuk wajah, kulit, maupun perawakannya belum pernah mereka saksikan sebelumnya.Tamu asing itu seorang laki-laki berperawakan tinggi besar seperti raksasa' sehingga orang harus mendongakkan kepala kalau ingin bicara dengannya. Berkulit putih seperti sangat tipis sehingga warna darahnya membayang menembus kulit. Rambutnya sewarna rambut jagung. Yang paling mengerikan adalah matanya yang berwarna biru kecoklatan seperti siluman. Penampakannya yang tidak wajar membuat anak-anak lari ketakutan saat ia masuk ke desa Jalanidhi dengan menunggang kuda besar. Para pemuda desa Jalanidhi pun terkejut dengan kedatangan makhluk asing serupa manusia itu. Mereka segera menghunus pedang, namun makhluk asing itu mengangkat tangannya dan mengeluarkan suara dengan bahasa yang tidak bisa dimengerti.
Nyaris saja terjadi salah paham dan pembantaian oleh para pemuda desa kalau Ki Sambang Segara tidak segera datang dan berteriak, " Tahan! Jangan serang dia! Dia manusia seperti kita. Asalnya dari daratan yang jauh di balik Negeri Atas Angin yang sangat dingin. Aku pernah mendengar cerita dari pedagang Parsi dan Gujarat, dia bangsa Rum! "
" Benarkah, Ki Buyut? Apa dia bukan termasuk bangsa raksasa?" sahut seorang warga.
" Bukan! Mereka manusia wajar seperti kita!" sahut Ki Sambang Segara.
" Kalau begitu, tolong tanyakan siapa namanya dan apa keperluannya masuk ke desa kita, Ki Buyut?" pinta warga itu.
Ki Sambang Segara menggelengkan kepalanya, " Aku tidak tahu bahasanya. Hanya beberapa pedagang Gujarat dan Parsi yang bisa memahami bahasa orang Rum. Kalau di Kotaraja, paling hanya pujangga Kraton yang menguasai bahasanya. Aku akan menanyakan dengan bahasa isyarat saja."
Ki Sambang Segara menepuk-nepuk dadanya sambil menyebutkan nama, " Sambang Segara....Sambang Segara!"
Kemudian ia menudingkan telunjuknya.
Orang asing yang sebenarnya berasal dari Itali itu paham dengan isyarat perkenalan. Ia ganti menepuk dadanya dan berkata, " Barbro...Barbro!"
Ki Sambang Segara pun segera mengerti bahwa orang asing itu bernama Barbro. Ia tidak menyadari bahwa itu bukan nama sebenarnya, Barbro dalam bahasa Romawi berarti Mancanegara, orang yang datang dari luar Nusantara.
__ADS_1
" Barbro, untuk apa kau datang ke sini?" tanya Ki Sambang Segara sambil memberi isyarat dengan menunjukkan tanah.
Barbro menjawab dengan isyarat
membentuk lingkaran dengan kedua tangannya untuk menjelaskan bahwa ia sedang berjalan-jalan ingin melihat-lihat wilayah Majapahit.
Ki Sambang Segara menjawab dengan senyuman sembari kuda,'.,imenggerakkan ibu jari sebagai tanda selamat datang. Barbro membalas dengan senyuman dan turun dari kuda secara perlahan-lahan untuk menunjukkan bahwa ia datang dengan damai tanpa bermaksud memusuhi.
Ki Sambang Segara menyodorkan kotak sirih pinang sebagai jamuan pokok kepada tamu yang baru datang. Barbro yang sedikit banyak telah mempelajari adat Nusantara pun segera meramu kinang untuk dihisap. Melihat suasana yang bersahabat, anak-anak yang semula bersembunyi ketakutan di balik punggung orang tuanya perlahan-lahan berani mendekat Barbro mencuri-curi kesempatan memegang dan mencubit lengan Barbro yang sangat asing bagi pemandangannya.
Sebagai pelaut yang telah mendampingi pastor Odirico mengelilingi hampir separuh Bumi, Barbro sedikit banyak memahami kaidah dasar pergaulan dunia. Hampir di seluruh daratan yang pernah ia kunjungi memiliki satu kesamaan etika, bila ingin diterima oleh suatu lingkungan baru, seseorang harus bisa mengambil hati anak-anak yang polos sebagai bukti ketulusan seorang tamu. Apalagi dalam budaya Itali ekspresi wajah merupakan hal yang sangat penting sebagai pengganti bahasa tutur. Ia gerak-gerakkan matanya yang biru, kembang-kempiskan hidung dan sesekali menjulurkan lidahnya. Karuan saja bocah-bocah merasa kesenangan hingga tertawa terkekeh-kekeh.
Suasana yang akrab itu memancing sifat dasar manusia Nusantara yang ramah. Tidak terlalu lama kemudian, warga desa Jalanidhi yang merasa mendapat kunjungan tamu makhluk asing yang unik menjamu Barbro dengan masakan lezat dan buah-buahan terbaik. Mereka terlibat ' pembicaraan' akrab yang dilakukan dengan bahasa isyarat dan mimik muka.
" Satu ....dua....tiga....tariiiikkkk....!"
" Sreeekkkk....!" terdengar suara gesekan qntara benda yang tampaknya sangat besar dan berat dengan tanah.
" Satu....dua...tiga... tariiiikkkk....!'
" Kraaaakkkk....!"
Terdengar ranting-ranting patah.
" Satu...dua...."
__ADS_1
" Tungguuuu....!" tiba-tiba Ki Sambang Segara berteriak dan melompat dari tempat duduknya. " Jangan bawa pohon Baita ke sini dulu, ada orang asiiiingg...!"
Barbro yang belum tahu bahasa Jawa Kawi tidak mengetahui maksud teriakan Ki Sambang Segara. Ia mengira ada bahaya yang datang sehingga bermaksud ikut membantu. Begini Ki Sambang Segara berlari, Barbro mengikuti dari belakang.
Saat menyibak rerimbunan pohon, Barbro melihat pemandangan yang belum pernah ia saksikan sebelumnya!
Sebatang pohon raksasa sedang ditarik oleh puluhan orang yang masing-masing memegang tambang. Ukuran pohon itu begitu besarnya hingga diameternya selebar tiga kali tinggi orang dewasa. Tekstur kayunya sangat padat sehingga dapat dipastikan kedap air. Warnanya bersemu logam menandakan kekerasan sekaligus liat tanda tidak mudah patah. Sebagai pelaut yang memahami kayu bahan kapal, Barbro segera tahu bahwa ini adalah pohon terbaik di dunia yang sempurna untuk membuat kapal raksasa secara ukuran maupun ketahanan materinya.
Ketika matanya terbelalak terpesona, ia tidak menyangka bahwa itu adalah pantangan terbesar yang tidak boleh dilanggar di desa Jalanidhi. Orang asing di luar desa dilarang melihat pohon keramat itu karena dikhawatirkan akan merampas atau mengabarkan ke dunia luar sehingga terjadi penjarahan.
" Bunuh dia!" pekik Ki Sambang Segara..
" Sriiiingggg....!!!"
Seluruh pemuda desa mencabut pedang.
Melihat hal itu, Barbro segeramenyadari bahwa dirinya dalam bahaya. Ia pun menghunus pedang untuk menghadapi situasi terburuk.
Sebagai pelaut antar benua, pertarungan adalah makanan sehari-hari Barbro saat menghadapi bajak laut, jadi ia tidak begitu khawatir kalau hanya menghadapi puluhan pemuda desa tak terlatih.
Barbro tersenyum sinis, " Suatu saat aku akan bawa pohon itu, " ucapnya lirih dalam bahasanya sendiri.
" Seraaaaanggg....!" seru Ki Sambang Segara.
***
__ADS_1