
Hari yang diimpi-impikan Julig tiba. Tepat tithi 15 Suklapaksa, 3 Ksatria telah berdiri tepat di depan Wringin Lawang, pintu gerbang Kotaraja yang terbuat dari logam berukir indah. Rombongan Mahapatih Gajahmada, Mpu Kuricak, dan Panembah Swara sudah mendahului agar tidak terlalu mencolok mata bila datang dalam rombongan besar. Tiga Ksatria dibekali lencana khusus bertanda Mahapatih sehingga tidak akan mendapat hambatan bila ingin ke mana saja sampai masuk ke Puri Kepatihan sebagai tujuan akhir.
Mulut Julig tiada henti berdecak kagum menyaksikan kemegahan, keindahan bangunan dan meriahnya suasana begitu masuk Kotaraja yang berukuran setengah laksa depha bujur sangkar ( sekitar 10 km x 10 km ) terlingkari tembok tinggi dengan ketebalan ganda. Jalan utama kereta dan kuda dibangun dari batu bata merah besar sehingga rata tiada berlobang saat dilintasi roda. Di sisi jalan ada semacam jalur untuk pejalan kaki dan pedagang berlantai ubin batu. Di antara beberapa ubin batu terselip ubin besar berbentuk segi enam berlapis emas dan perak selang-seling. Rumah warga biasa dibangun dari batu bata beratap rumbai, genteng, atau sirap ( potongan-potongan kayu) yang menunjukkan status sosial ekonominya. Lebih-lebih rumah para pejabatnya, dibangun lebih tinggi beberapa depha untuk menghindari banjir. Undak-undakannya disusun dari batu kali, marmer, ada juga yang berselang-seling ubin lapis emas perak. Bahkan dindingnya ada juga yang berlapis emas, berukir gambar para dewa, reshi, atau ksatria, sebagaimana pernah tercatat oleh seorang petualang rohaniawan Eropa pasca Marco Polo.
Bangunan Kotaraja terbagi atas beberapa blok menurut falsafah tata letak dan profesi penghuninya. Teratur rapi di bagian Timur tempat tinggal pemuka pendeta Siwa Hyang Brahmaraja, di Selatan Buddha-sangga, bagian Barat tempat para arya, menteri, dan sanak-kadang Adiraja, juga gedung pemerintahan seperti Kejaksaan, serta pusat-pusat peribadahan. Di antaranya membentang Bubat ( alun-alun ) tempat Maharaja menggelar pertemuan umum, memberi hiburan rakyat atau gelar pasukan saat menjelang perang. Pada setiap blok dikelilingi parit-parit sebagai sistem pengairan dan pembuangan limbah kota.
Keseluruhan Kotaraja dibelah oleh kanal besar ( sungai buatan) selebar 10 sampai 15 depha ( 30 meter) dengan kedalaman 2 depha ( 4 meter) sebagai sistem utama perairan sekaligus penanggulangan banjir.
Karena aktivitas yang sangat tinggi dan berlangsung setiap hari, Kotoraja nyaris tidak mengenal hari pasaran. Aktivitas perniagaan berjalan sepanjang tahun di pasar-pasar yang biasanya terletak di tepian kanal yang memiliki pelabuhan sungai.
Maka, begitu memasuki Kotaraja, mata Julig dimanjakan oleh pemandangan lalu lalang pedati pedagang, kereta para pembesar, barisan para prajurit, dan seniman yang mbarang ( ngamen) di depan rumah orang kaya atau pejabat. Beberapa kali mereka juga berpapasan dengan rombongan prajurit membawa mengusung tandu yang di dalamnya duduk pembesar istana atau putri bangsawan tinggi yang sedang pelesir mencuci mata.
Apalagi hari ini tepat malam Purnama. Sebuah panggung besar telah didirikan oleh Sang Maharatu untuk memberi suguhan mata ( tontonan / hiburan ) pada seluruh kawula. Hiburan yang paling digemari oleh rakyat pada waktu itu adalah Ringgit ( Wayang), namun yang paling ditunggu-tunggu oleh para muda dan prajurit tentu saja pertandingan kadigdayan ketrampilan bela diri. Setiap orang akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjadi pemenang dalam lomba ini asal berani bertarung di atas panggung. Bagi rakyat biasa, di samping untuk mendapatkan hadiah berupa uang atau busana yang bagus, petarung yang menunjukkan kualitas di atas rata-rata bisa diangkat sebagai prajurit resmi kraton, meski pada dasarnya, seluruh rakyat laki-laki Majapahit dianggap sebagai prajurit yang berkewajiban bela Negara ( wajib militer) yang sewaktu-waktu siap berperang saat Negara membutuhkan. Sedangkan bagi prajurit, kemenangan di atas panggung bisa menaikkan pangkatnya apabila sanggup mengalahkan lawan yang lebih tinggi kepangkatannya. Panggung adu kadigdayan ini biasanya hanya berlangsung satu hari, kecuali untuk perayaan hari-hari besar tertentu, bisa berlangsung sampai 3 hari sebelum panggung dibongkar lagi dan alun-alun kosong.
Panggung tanding kadigdayan itu sudah dipenuhi ribuan orang penonton yang bersorak-sorai menjelang pembukaan pertarungan pertama.
" Kang Kidang...kang Wingit, ikut saja tanding kadigdayan. Pasti menang terus dan dapat hadiah banyak, " ujar Julig yang kumat lagi sifat isengnya setelah melihat ada tumpukan hadiah berupa kain yang sangat bagus dan ratusan keping uang berbagai jenis.
Kidang Panah tertawa, " Hahaha... tidak boleh. Itu panggung untuk rakyat dan prajurit biasa. Kasihan mereka kalau hadiahnya kita ambil."
Julig merajuk," Halaaahh... sebentar saja, Kang. Beberapa kali pertarungan saja. Hadiahnya gampang, nanti kalau ujudnya uang, bisa kita bagikan lagi pada orang-orang itu. Tapi aku pengen hadiah kain yang itu, Kang. Sepertinya bagus banget. Nanti kalau dapat hadiah kain itu, jangan dikasih ke orang, buat aku saja."
" Sudah-sudah, tidak usah, " tukas Kidang Panah, " Nanti aku belikan kain yang bagus buat kamu, Julig!"
Julig menghentikan jalan kudanya, " Ya sudah kalau Kakang berdua ndak ada yang mau bertarung biar aku saja yang bertarung untuk dapat hadiah kain itu. Pokoknya aku mau kain itu, ndak mau kain yang lain!"
Kidang Panah bersungut-sungut melihat Julig merajuk, " Heh, kau anak tak tahu diri. Aku tahu hawa murnimu sudah bangkit, tapi kamu belum bisa mengendalikannya, belum bisa kau pakai untuk bertarung. Jangan gegabah, kau belum tahu lawanmu nanti siapa. Kalau dia orang sakti kau bisa celaka!"
"Ini bukan masalah orang sakti atau ndak, ini masalah aku mau kain hadiah itu. Dan aku ndak takut! " sahut Julig sengit, " Tahu gini mending kemarin aku ndak sembuh. Biasanya orang sembuh dari sakit parah kan dikasih hadiah? Eh, ini malah ndak. Pengen hadiah kain bagus aja ndak dikasih. Percuma juga aku sembuh. Percuma juga punya 2 kakang sakti!"
Kidang Panah menatap Karna. Sementara Karna hanya tersenyum melihat keisengan Julig kambuh lagi.
" Julig, kalau aku dan kakangmu Wingit tampil di panggung, kita bisa dikenali orang. Padahal kita ini prajurit rahasia, tidak boleh dikenali sembarangan orang, " jawab Kidang Panah memberi alasan terakhir.
" Kan bisa wajahnya ditutupi kain atau topeng? Itu tidak melanggar peraturan kan?" sergah Julig tak mau kalah. " Tapi terserah kang Kidang kalau memang pelit. Biar aku yang bertarung."
Kidang Panah mengibaskan tangannya, khawatir kalau Julig benar-benar nekat naik ke panggung pertarungan. " Ya sudah. Kamu jangan cerewet, aku nanti naik ke panggung. Tapi sekali saja, begitu dapat hadiah kain itu langsung turun."
__ADS_1
" Hehehe... gitu dong. Itu baru namanya Kakang yang baik hati dan tidak pelit sama adiknya, " kata Julig cengengesan. " Tapi sepertinya tidak bisa kalau cuma sekali, Kang."
" Haduuuhhh.... apalagi maumu, Anak bandeeell? " potong Kidang Panah kesal.
" Bukan mauku. Tapi kan peraturannya memang gitu. Pemenang pertandingan akan ditantang orang lain sampai semua orang menyerah dan tidak ada yang berani menantang. Jadi nanti setelah Kang Kidang menang, kang Wingit harus maju pura-pura menantang Kang Kidang...."
" Haaahhh...??? " Karna memotong perkataan Julig, " Aku juga harus ikut naik panggung?"
" Iya, Kang. Ini sesuai peraturan dan biar penonton senang. Setelah beberapa jurus, Kang Wingit yang menang, jadi Kang Kidang bisa turun panggung."
" Terus aku harus melayani semua penantang baru sampai habis semua? Aku tidak bisa pura-pura selama itu, Julig, " Karna protes.
Julig tiba-tiba tertawa ngakak. Ia seperti sudah mempunyai rencana yang bagus, " Hahaha... setelah Kang Wingit, itu urusanku. Percayalah, aku sudah tahu caranya biar kang Wingit tidak perlu bertarung lama-lama karena nanti tidak akan ada orang yang berani maju menantang."
" Maksudmu? " tanya Karna tak paham.
" Sudahlah, serahkan urusan itu pada Pendekar Jaka Julig sang Penakluk. Hihihi.... sekarang yang penting Kang Kidang maju dulu melawan orang-orang yang sudah berdiri di panggung itu. Urusan yang lain pasti beres. Oh iya itu ada 5 orang yang di panggung, biar cepat, Kang Kidang berani ndak nglawan mereka sekaligus?'
Kidang Panah menggeleng-gelengkan kepalanya gemas pada Julig. Namun daripada Julig nekat naik panggung, ia mengangguk menyanggupi, " Iyaaaaaaa....aku akan lawan mereka sekaligus biar cepat selesai urusan konyolmu ini!"
Julig tertawa terkekeh. Sementara juru tanding kadigdayan sudah memukul bendhe untuk menyampaikan pengumuman.
" Hidup Maharatu...Hidup Majapahit...Jaya Wilwatikta...!!!" gemuruh sorai rakyat Majapahit memenuhi angkasa Bubat.
Juru tanding mengangkat tangannya untuk mengakhiri sorak-sorai, " Di atas panggung telah berdiri 5 Ksatria pilih tanding yang kesemuanya adalah prajurit perkasa Wilwatikta yang sudah pernah berperang sampai 10 kali pertempuran. Di antara mereka pernah mengalahkan musuh-musuhnya sampai membunuh. Bahkan ada yang pernah membunuh 15 prajurit musuh dalam satu perang besar. Sekarang, Negara memberi kesempatan kepada siapapun, tua muda, besar kecil, untuk menantang salah satu di antara mereka berlima bertarung secara adil dan ksatria di atas panggung. Pemenangnya akan mendapatkan hadiah besar berupa uang dan kain yang mahal. Ayo, silahkan naik ke panggung dan ambil kesempatan mendapatkan hadiah atau bahkan bisa diangkat sebagai prajurit sejati Majapahit. Tanding kadigdayan dimulai begitu ada penantang yang naik panggung, atau mereka berlima akan bertarung satu sama lain untuk mendapatkan hadiah. Silahkan, penantang dari bawah panggung diutamakan!"
Para penonton saling berpandangan untuk mencari orang yang berani menantang salah satu di antara 5 prajurit tangguh itu. Namun karena gambaran yang dibawakan oleh Juru Tanding terlalu hebat, dari kalangan rakyat jelata tidak ada yang berani mendahului menantang. Tampaknya mereka menunggu kelima prajurit itu memperlihatkan kemampuannya terlebih dulu sebelum memutuskan berani menantang atau sekedar menonton.
" Kang Kidang, cepat sebelum mereka bertarung sendiri!" seru Julig.
" Iya iya, ini aku sedang menutupi wajah!" sahut Kidang Panah sambil menalikan kain penutup wajahnya.
" Baiklah... baiklah..., " ujar Juru Tanding. " Karena belum ada yang menantang. Pertarungan akan terjadi antara mereka berlima dengan hadiah 200 keping uang gobok. Pertama, saya perkenalkan...."
" Tunggu!" seru Kidang Panah. " Aku menantang mereka!"
" Zuuuuttt...!" Kidang Panah berkelebat dan sekejap kemudian sudah ada di atas panggung.
__ADS_1
Penonton bertepuk tangan, bersorak-sorai melihat munculnya Kidang Panah sebagai penantang. Beberapa orang yang senang berjudi segera mencari lawan bertaruh siapa pemenangnya.
" Rahayu, Ki Sanak. Perkenalkan nama Ki Sanak siapa dan pilihlah lawan satu di antara mereka, " ujar Juru Tanding.
" Rahayu, " sahut Kidang Panah memberi hormat, " Saya Jaka Wulung menantang mereka dengan syarat hadiah 1 keping uang Ma emas dan sehelai kain paing bagus yang ada di situ.'
" Oh, maaf Ki Jaka Wulung. Peraturannya, hadiah pertarungan pertama hanya 200 keping uang gobok. Untuk sekeping uang Ma emas dan kain busana yang bagus nanti kalau Ki Wulung bisa menang beberapa kali berturut-turut dengan lawan yang berbeda. Jadi sekarang, silahkan bertanding dengan salah satu di antara mereka dulu."
" Kelamaan. Aku bilang menantang mereka. Artinya, aku menantang mereka berlima menghadapi aku sendirian, sekarang juga! Jadi lumrah kalau hadiah yang kuminta berlipat-lipat!" jawab Kidang Panah.
" Hah?" Juru Tanding itu melongo, " Ki Jaka Wulung tidak salah ucap? Mereka semua prajurit yang sangat hebat. Ki Sanak menantang mereka mengeroyok?"
" Iya, tapi hadiahnya seperti yang kuminta!" sahut Kidang Panah dingin.
Mendengar ucapan Kidang Panah, ribuan penonton menjerit histeris merasa akan mendapat tontonan yang sangat langka, seorang tak dikenal yang wajahnya tertutup kain menantang dikeroyok 5 prajurit yang sangat tangguh.
" Hidup Jaka Wulung... Hidup Jaka Wulung...!!! " sorak-sorai penonton membahana.
Sementara 5 prajurit Majapahit yang ditantang Kidang Panah seketika memerah mukanya merasa disepelekan di depan ribuan orang.
" Hrrrr..... keparat kau, Jaka Wulung!" geram seorang prajurit.
***
Ilustrasi Kotaraja Majapahit dari berbagai sumber kitab dan penggalian arkeologis
Suasana Pasar di tepian Kanal ( Pelabuhan Sungai)
Ilustrasi gaya bangunan Kraton Majapahit dengan pendekatan Istana di Bali
Ilustrasi bangunan rumah warga Kotaraja Majapahit
__ADS_1