KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
66 MEMBENTUR DEMANG SURANGGANA


__ADS_3

Andai ia mempunyai pilihan, Ki Bekel lebih baik tidak memimpin perang yang tidak masuk akal di hadapan semua teori pertempuran ini. Bagaimana bisa masuk akal, jika ia memimpin 500 prajurit melawan 1 orang namun ragu-ragu mengambil keputusan menyerang? Andai pemimpin perang lain mendengar hal ini, pasti ia akan jadi bahan tertawaan.


" Persetan dengan semua teori dan anggapan orang. Mereka tidak tahu situasi dan lawan yang kuhadapi, " dengus pikiran Bekel yang tidak ingin mengulang kesalahannya menyerang dengan panah namun hasilnya justru membuat kerugian besar saat Karna mengembalikan panahnya. Sebelum melancarkan serangan panah, ia harus menyiapkan pertahanan dulu.


" Siaga tameeeengg...!" seru Ki Bekel mengeluarkan perintah janggal seolah-olah pasukannya yang sedang terserang dan bukannya sedang meringkus satu orang.


Segera perintah Ki Bekel dijalankan 500 prajurit Baswara yang duduk dalam posisi menekuk satu kaki dan menutupi tubuh mereka dengan aman sehingga hanya bagian mata ke atas yang terlihat untuk mengintip sasaran.


Karna yang sudah mengira-ngira siasat pertahanan mereka dari badai Bayu Bajra melirik dua karung besar pasir kasar yang ia letakkan di kiri kanan sampingnya. Ia melihat sekilas mata-mata yang mengintip di sela-sela perisai, menang bagian tubuh itu yang akan ia serang.


Beda dengan pertarungan terakhir di mana Karna menunggu dulu terlontarnya ratusan anah panah untuk dimanfaatkan sebagai serangan balik, kali ini tidak. Justru Karna yang akan mendahului menyerang.


Dengan cepat Karna melakukan patrap pernapasan Bayu Bajra sambil mengaktifkan pusaran Cakra berunsur udara dalam tubuhnya. Menekannya ke arah 8 penjuru sehingga tercipta hampa yang menghisap daya angin sekitar menuju dan mengisari tubuhnya dalam bentuk putaran dedebuan lembut semacam kabut.


" Siaga Pan...." seru Ki Bekel yang ingin memerintahkan prajuritnya untuk menyiapkan panah. Namun belum usai kata-katanya, Karna sudah melompat lurus berputar ke udara sambil mengangkat dua karung pasir.


" Bayu Bajra...!!!"


Berbarengan dengan hentakan suara Karna, tangannya memukul karung pasir hingga pecah berhamburan. Ketika jutaan butir pasir masih melayang di udara, sebentuk badai berkekuatan raksasa menghantamnya membuat terbang ke segala arah dalam warna kabut pekat berkecepatan sangat tinggi.


Ki Bekel dan 500 prajurit Baswara tidak menyangka akan mendapat serangan badai dalam bentuk baru ini. Yang mereka antisipasi pertahanan tubuh dari panah yang berbalik arah, tetapi yang datang ternyata serangan jutaan butir pasir yang tidak mungkin ditangkis dengan cara apapun!


" Trakk...Trak. trakk....!!!" terdengar jutaan butiran pasir kasar menghantam 500 perisai.


" Aduh, matakuuuuu....!!!"


" Aaaarrrrggghhhh.....!!!"


" Aku tidak bisa melihat....!!!"


Terdengar jeritan sana-sini.


Tidak ada satupun prajurit yang terluka parah oleh badai pasir ini, namun mereka semua mengalami kebutaan sesaat akibat matanya dipenuhi butiran pasir. Seketika formasi pertahanan mereka hancur total akibat para prajurit panik berlarian saling tabrak.


" Aiiirrr....aiiirrr. . Sumurnya manaaaaa.....!!!" Buyar semua perhatian mereka pada perang yang sedang dihadapi kecuali mencari air untuk membasuh mata.


Yang lebih beruntung Coglok dan kawan-kawan, karena sumber badai ada di sebelah barat laut sedang mereka menyaksikan jalannya pertempuran dari sisi berseberangan di atas pagar Tenggara yang paling jauh, maka mereka dapat melihat perjalanan badai pasir yang berwarna gelap.


" Badai pasiiiirrrr...lindungi mata kaliaaannn!!!" seru Coglok.


10 kawanan Coglok melindungi mata mereka dengan lengan saat butiran pasir menerjang. Mereka memang selamat dari badai pasir, namun kekuatan angin yang datang cukup membuat goyang pagar kayu Baswara yang mereka naiki, sehingga mereka kehilangan keseimbangan tubuh dan jatuh bergedebukan masuk halaman benteng Baswara.

__ADS_1


Untung saja pada saat kawanan Coglok jatuh ke benteng para prajurit masih dalam kondisi buta kehilangan penglihatan sesaat dan berlarian panik tanpa arah untuk mencari air pembasuh mata. Kesempatan emas ini dimanfaatkan oleh Coglok dan kawan-kawan untuk membalas sakit hati karena pernah dihajar oleh para prajurit.


" Heiii... Prajurit Baswara, kalian buta ya tidak bisa melihat kedatangan kami, pasukan Bathara Yamadipati yang akan mencabut nyawa kalian?"


" Dasar prajurit-prajurit bodoh! Kalian butuh air kan? Kencing saja ke muka satu sama lain, kan bisa. Atau air kencing kalian sudah terlanjur habis setelah terkencing-kencing takut menghadapi Raden Jaka Wingit ya? Itu Raden juragan kami!"


Melihat ulah kawanan Coglok yang membahayakan nyawa mereka sendiri, Karna berteriak dari kejauhan, " Kalian minggiiiirrr... keluar dari benteng! Ini belum selesaiiii....!!!"


Coglok buru-buru menarik kawanannya untuk memanjat pagar dan keluar dari benteng.


" Ayo, kita pergi dari sini!"


Kawanan Coglok sudah kembali lagi nangkring di atas pagar.


" Hidup Raden Jaka Wingit!"


" Hidup Raden Jaka Wingit juragan kami!"


" Hancurkan Baswara !!!"


" Hancurkan Baswara, Raden Digdaya!"


Seru kawanan Coglok dengan nada sangat puas dan bahagia dapat menyaksikan jalannya pertempuran ajaib sekaligus memperoleh kesempatan mengolok-olok prajurit Baswara yang selama ini sangat mereka takuti. Setelah itu mereka melompat turun berlarian masuk. ke hutan, menunggu sewaktu-waktu dapat perintah baru dari Karna.


" Braaaakkk...!!! " pintu rumah utama hancur seketika terhantam Tapak Dahana.


" Demang Suranggana! Keluar kau!" seru Karna begitu masuk ke rumah utama yang tidak terlihat seorangpun.


" Demang Pengkhianat Negara, keluar kau! Jangan jadi pengecut!" teriak Karna dengan nada geram. Tidak seperti saat menghadapi musuh-musuh sebelumnya, Karna memang sangat membenci pengkhianat Negara. Sesuai perintah Mpu Angalas, manusia yang berbuat khianat terhadap Negara pantas dilenyapkan. Sebab itu dalam menghadapi musuhnya kali ini, Karna bersikap keras dan tidak ragu-ragu membunuhnya dalam pertarungan nanti. Apalagi Karna ingin menyelesaikan pertarungan malam ini secepat mungkin karena ingin segera tahu perkembangan kondisi Julig.


" Surang.....' teriak Karna lagi. Namun belum usai teriakan Karna, sebentuk tawa terdengar keras menggema di seisi ruangan.


" Hahahaha.... ternyata kau hanya anak ingusan. Boleh....boleh juga kemampuanmu, anak bau kencur! "


Karna terkesiap, menatap ke asal suara tawa itu. Terlihat sesosok laki-laki dengan santai berjalan meniti blandar ( balok penyangga atap rumah Jawa).


" Turun hadapi aku atau aku yang menyusul ke sana! " hardik Karna.


" Tidak perlu repot-repot, bocah. Aku bisa turun sendiri."


Demang Suranggana melompat turun.

__ADS_1


" Buk!" terdengar suara dentuman keras saat kaki Demang Suranggana menyentuh lantai tanah.


" Kraaakkk....!!! " Lantai marmer retak memanjang dengan 4 garis retakan dari bawah telapak kaki Demang Suranggana hingga ke sudut ruangan. Terjadi gencangan seperti gempa yang menggetarkan dinding rumah.


Karna bereaksi waspada atas unjuk kekuatan yang sedang dilakukan oleh Demang Suranggana untuk menguji nyalinya. Dalam hati Karna mengakui, belum pernah ia menghadapi lawan yang dalam gebrakan pertama sudah mampu menunjukkan kekuatan sebesar itu. Matanya menatap sosok Suranggana yang tinggi besar dengan perawakan kokoh. Namun yang membuatnya tampak berbeda adalah wajahnya ternyata ditutup topeng batu tipis dari batas lobang hidung sampai ke atas. Sinar matanya berkilat penuh kekuatan dan kepercayaan diri. Dan benar, di jari tangan kanannya terselip cincin cap. Itulah cincin Gajahmada yang harus ia rebut.


" Serahkan cincin cap Mahapatih Gajahmada kepadaku! " ucap Karna tanpa basa-basi.


' Kalo tidak?" sahut Demang Suranggana.


" Aku bunuh kau!"


" Coba saja kalau mampu!"


" Hiyaaaatttt....!" Karna menerjang tanpa membuang waktu.


Tangan Karna membentuk tapak. Maju dengan kecepatan kilat mengerahkan ajian Tapak Dahana setengah bagian. Setengah bagian ditambah setengah lagi dari aktifnya Sapu Jagad berarti sekuat dan sepanas Tapak Dahana di puncak tertinggi.


Belum sampai ke sasaran pun hawa api yang keluar dari tangan Karna yang membara sudah menyengat pakaian Demang Suranggana hingga mengeluarkan asap. Namun kali ini Karna memang tidak peduli kalau harus membunuh seorang pengkhianat Negara dengan satu pukulan.


Entah Demang Suranggana menyadari bahaya Tapak Dahana atau tidak, ia tampak tidak mengeluarkan reaksi secara berlebihan kecuali mengokohkan kuda-kuda. Ia tidak berusaha menghindar sengaja menyambut benturan yang akan terjadi.


Tangan Karna sudah berjarak sejengkal dari Demang Suranggana.


Demang Suranggana mengangkat lengannya untuk menangkis pukulan yang datang.


" Deeeeesssss.....Buuuuugggg....!!!"


Terjadi benturan hebat sehingga memercik bunga api di antara telapak tangan Karna dan lengan Demang Suranggana.


Akibatnya....


Kaki Demang Suranggana yang masih terpaku di lantai marmer terdorong ke belakang 5 tindak. Lantai marmer yang dilalui telapak kakinya hancur ambles terlihat tanahnya.


Namun.....


Tubuh Karna terlempar ke belakang seperti dibanting membentur saka utama rumah yang terbuat dari pohon jati utuh hingga retak.


Karna tersentak tak percaya. Tenaga yang keluar dari lengan Demang Suranggana berhasil menghadang Tapak Dahana. Padahal, dengan pengerahan Tapak Dahana sebesar itu, pohon jati besar pun akan tumbang!


Sementara Demang Suranggana malah tersenyum mengejek, " Hehehe....hanya sebatas itu kemampuanmu ternyata," katanya seraya mengibas-ngibaskan kain pakaiannya yang terbakar menjadi arang.

__ADS_1


Karna mendengus, " Jangan girang dulu, Jahanam. Aku bahkan belum mulai apa-apa."


***


__ADS_2