KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
52 TITIK TERANG


__ADS_3

Matahari telah mengintip dari timur. Sinarnya lembut keemasan menerpa pasar desa Cunggrang yang sudah menggeliat dengan aktivitas hari pasaran mempertemukan penjual dan pembeli. Bagi warga desa, hari pasaran adalah kemeriahan suasana yang tidak boleh dilewatkan oleh siapapun. Tua muda, laki perempuan tampil dengan busana terbaik untuk menunjukkan kecantikan dan ketampanan, serta status sosial ekonomi.


Dagangan bumbu yang paling diburu oleh para warga desa gunung adalah garam yang harus didatangkan dari daerah pantai, juga merica yang hanya tumbuh baik di dataran rendah. Selanjutnya bahan busana seperti kain sutera untuk kalangan orang kaya dan perhiasan dari logam. Gading sebagai bahan baku hulu keris juga laris dicari meski harganya sangat mahal. Di luar itu, semua bahan makanan dari beras sampai daging segala jenis binatang sangat mudah ditemukan karena produk lokal, kecuali ikan laut yang diawetkan dengan tehnik penggaraman harus didatangkan dari wilayah pesisir sehingga harganya sangat mahal dibanding daging ayam, kerbau, kambing, dan celeng yang gampang diburu di hutan sekitar.


Tiga Ksatria Karna, Julig, dan Kidang Panah datang tepat wayah Byar ( sekitar jam 6 sampai 7). Pasar sudah sangat ramai dengan warung yang menyediakan berbagai menu makan dan warung minuman segar dawet, cao, sampai arak telah padat dikunjungi pelanggan.


Julig yang biasanya sangat semangat melihat keramaian, kali ini tidak menunjukkan minat untuk bersenang-senang. Pikirannya dipenuhi kesibukan menduga-duga apakah benar ada bukti nyata keberadaan Baswara dan Demang Suranggana di desa ini. Demikian pula Karna dan Kidang Panah tampak mengedarkan pandangan untuk melihat tanda-tanda kebenaran dugaan Julig.


" Kita cari kedai arak yang paling ramai, " ucap Kidang Panah.


" Tidak warung nasi saja, Kang?" tanya Julig.


" Tidak, " jawab Kidang Panah yang berlatarbelakang begal sehingga paham pola kehidupan jalanan, " Jika kau ingin mengetahui seluk beluk hingga hal-hal yang paling tersembunyi dari suatu wilayah, datanglah ke tempat orang mabuk. Orang yang sedang mabuk biasa tidak mampu mengendalikan omongannya sehingga gampang membongkar rahasia."


" Tidak makan dulu, Kang?"


" Makannya di kedai tuak juga. Di sana pasti jual makanan pengantar minum. Biasanya masakan daging. Tapi kalau kalian ingin makan nasi sayur ya silahkan mampir ke warung nasi. Aku ke kedaiarak, kutunggu di sana."


" Tidak, Kang. Saya ikut Kang Kidang saja, " sahut Karna yang belum tahu banyak kehidupan dunia ramai.


" Saya juga ikut kang Kidang, " kata Julig. " Itu di depan sana seperti kedai tuak bagus!"


" Ya, kita ke sana!"


Mereka bertiga menuju kedai tuak yang terlihat paling bagus di antara yang lain.


" Bawakan arak terbaik!' ujar Kidang Panah kepada pemilik kedai.


" Yang termahal, Den?" tanya pemilik kedai dengan mata berbinar membayangkan rejeki nomplok karena melihat ketiganya orang asing pasti membawa uang banyak.


" Ya, " jawab Kidang Panah. " Sekalian masakan daging terenak untuk tiga orang!,"

__ADS_1


Pemilik kedai tuak tersenyum lebar. " Masakan daging pengantar minum di kedai ini terkenal sampai ke Kotaraja, Den. Kalau mau ukuran besar ada, tapi memang agak mahal sih...."


Kidang Panah melemparkan tiga keping uang Ma perak ke meja, " Ini cukup tidak?"


Pemilik kedai itu memelototi tiga keping uang Ma perak yang masih berputar-putar di atas permukaan meja.


" Cukup! Cukup! Sangat cukup, Den! Hehehe...." ia menyeringai sambil secepatnya memungut 3 keping uang perak itu seperti takut kalau ditarik lagi oleh Kidang Panah.


" Kalau nanti arak, masakan daging, dan pelayananmu baik, aku tambah lagi bayarannya " sambung Kidang Panah.


" Oooohhh... pasti! Pasti terbaik. Kedai saya terkenal paling memuaskan di seluruh gunung Pawitra ini, " jawab pemilik kedai dengan muka menjilat.


Tak perlu menunggu terlalu lama, sekendi besar arak terbaik dan masakan daging tersaji di bangku 3 Ksatria yang sengaja oleh pemilik kedai ditata secara khusus karena bayaran yang ia terima sangat besar dibandingkan dengan harga wajar.


" Julig, kau jangan minum arak banyak-banyak. Kalau aku sudah terbiasa minum sejak jadi begal, jadi tidak masalah. Kau makan saja. Ini aku pesan arak ukuran besar hanya biar bisa memantau omongan orang sekitar kedai saja. Wingit juga tidak perlu minum kalau tidak terbiasa, " kata Kidang Panah.


" Iya, Kang. Saya juga tidak ingin mabuk sebelum tugas kita menemui titik terang, " jawab Julig.


" Sampurasun...," terdengar suara yang nadanya sangat-sangat berbeda dibandingkan dengan suara-suara kasar para pemabuk. Itu suara kenes perempuan.


" Rampes, " sahut pemilik kedai.


Begitu salam itu dijawab, masuklah seorang perempuan yang penampilannya sangat berbeda. Penuh kesegaran dan mengundang gairah. Para peminum arak yang kebetulan yang kesemuanya lelaki menatap kehadiran wanita itu.


" Waaaahhh... cantiknyaaaa...."


" Wuiiiihhh.... bibirnya merah...."


Seketika para pemabuk celometan atas kehadiran wanita itu.


Namun, tampaknya wanita itu sudah terbiasa dengan situasi ini. Tanpa canggung ia melanjutkan langkah memasuki kedai yang dipenuhi para pemabuk untuk mendekati pemilik kedai tuak.

__ADS_1


Pemilik kedai tuak itu terlihat sangat gugup oleh kedatangan wanita itu. Dengan tergesa-gesa ia berkata, " Ni Smara, mengapa kau datang sepagi ini? Harusnya kau datang malam nanti sesuai perjanjian!"


Perempuan sensual yang ternyata bernama Smara ( asmara) ini dengan senyum menggoda berkata, " Kang Kusa apa keberatan kalau saya datang lebih awal? Siapa tahu kang Kusa juga butuh kasih sayang saya? Hihihi..."


Pemilik kedai tuak yang bernama Kusa itu mendelikkan mata, " Kau gila, Ni Smara! Aku tidak mau ribut sama istriku. Kau pulanglah dulu, nanti malam baru datang ke sini. Yang menginginkan kau itu prajurit, jangan main-main!'


Perempuan bernama Smara itu justru tertawa mengejek, " Jangankan cuma prajurit rendahan, perwira prajurit saja sudah biasa kubuat menangis memohon kalau aku sudah menarik kainku. Hihihi..tenang saja. Aku datang pagi-pagi ke sini daripada kalau ke sini terlalu sore jalanan sangat gelap. Kalau aku datang terlambat, kau juga bisa kena masalah sama prajurit itu, aku ke sini untuk tidur dulu. Kau ada kamar di belakang warung untuk aku tidur kan?" jawab Ni Smara dengan gaya tinggi tidak menghargai Kusa yang dianggapnya hanya orang rendahan, beda dengan para pelanggannya dari kota yang hampir semuanya pembesar setidaknya setingkat lurah prajurit.


" Ya sudah, Ni Smara langsung masuk saja ke kamar belakang untuk tidur. Nanti aku bicara sebentar denganmu!" kata Kusa untuk mengakhiri pembicaraan yang menurutnya berbahaya itu.


Ni Smara dengan sangat tenang melangkah menuju ruang belakang warung. Ketika ia melihat meja 3 Ksatria yang ditata dengan khusus, ia melirik dan melihat penampilan Karna, Kidang Panah, dan Julig yang terlihat sangat lain. 3 Ksatria itu berbeda dengan para pemabuk di kedai itu. Tiga-tiganya sangat tampan meski dengan tipe yang berbeda, dan tubuh mereka bersih menandakan terpelajar atau orang kaya. Ia melempar senyum genit dan sedikit mengubah gaya jalannya sehingga terkesan menggairahkan.


Melihat cara berjalan Ni Smara yang menggairahkan, bukannya 3 Ksatria yang terpancing, justru para pemabuk lainnya yang bereaksi dengan bersiul menggoda, " Waaaahhh... ternyata kedai Kang Kusa sekarang menyediakan Jalir cantik juga ya? Cocok ini, aku suka. Tidak perlu jauh-jauh ke kota. Eh, kau sudah menghubungi Juru Jalir juga untuk ini, kan? Aku mau tidur sama perempuan itu sekarang. Berapa pajak dan harganya? Aku bayar sekarang juga! Aku mau jadi laki-laki pertama yang tidur sama dia. Kalau ada yang berani mendahuluiku, biar aku tarik telinganya sampai putus!" ujar seorang laki-laki bertubuh kekar yang tampaknya seorang jagoan desa Cunggrang.


" Ya mana mungkin kami berani mendahului Kang Coglok ( Coglok \=Tabung Besar), " sahut pemabuk yang lain. " Kang Coglok kan juragan kami. Wong kerbau besar saja bisa dibanting sama Kang Coglok, apalagi kami?"


Coglok terbahak-bahak pongah mendengar jilatan anak buahnya. " Hahaha ..kau cari selamat rupanya. Berapa? Berapa harga perempuan itu beserta pajaknya, Kusa? Biar aku bayar sekarang! Enak ini kalau begini. Aku tidak perlu jauh-jauh pergi ke kota untuk cari Jalir!"


Kusa si pemilik kedai tuak panik melihat Coglok


sang jawara desa menginginkan tidur dengan Jalir Smara. Untuk mencegah agar Coglok yang kekuatan tubuhnya sangat mengerikan tidak bertindak lebih jauh, terpaksa Kusa berterus terang menyebut nama pelindungnya," Mohon ampun, ampuni saya, kang Coglok. Bukannya saya menolak. Tapi perempuan itu bukan Jalir. Dia kekasih seorang prajurit Baswara ! Mohon kang Coglok tidak mengganggunya!'


" Prajurit Baswara? " Coglok bergumam lirih. Nyalinya ciut seketika mendengar nama Baswara.


" Baswa..." Julig nyaris terpekik gembira ikut menyebut nama Baswara, tapi Kidang Panah menbekap mulut Julig sehingga tidak bisa menyelesaikan seru kagetnya.


" Sssstttt....Diam dulu, Anak Kancil! Sekali lagi kau berhasil memecahkan teka-teki tugas ini. Tapi sekarang, dengarkan saja mereka dulu!"


Mata 3 Ksatria itu berbinar-binar. Misteri keberadaan Baswara sebentar lagi terkuak di depan mata!


***

__ADS_1


__ADS_2