
Bregas duduk di sudut dinding warung. Tubuhnya masih sedikit gemetar karena ketakutan mengingat kejadian beruntun yang baru saja ia alami. Meski ada tiga kejadian yang membuatnya takjub dan senang, yaitu saat mengusap kepala macan raksasa, 'terbang' di atas alas Ketonggo, dan melihat pukulan Tapak Dahana yang dahsyat, namun ada dua kejadian lain yang membuatnya panas dingin saat mengingatnya. Dikejar ribuan ular berbisa dan yang paling mengguncang jiwanya adalah menyaksikan pembunuhan sadis oleh Kidang Panah yang mencabut batang tenggorokan penjaga goa.
Ia beringsut semakin melekatkan tubuhnya ke pojokan dinding warung saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Jangan-jangan Kidang Panah yang sangat sadis itu yang datang. Wajahnya sedikit lega setelah tahu yang datang ternyata Julig.
Julig mengerutkan keningnya melihat ekspresi wajah Bregas yang ketakutan.
" Ada apa, Kang? Kenapa Kang Bregas gemetar seperti itu?" tanya Julig sambil berlutut di depan Bregas.
" Tidak apa-apa, Raden. Saya hanya masih takut ingat waktu dikejar-kejar ratusan ular. Hiiiihhh....!!!" ujar Bregas seraya bergidik.
" Oooo...ndak papa. Yang penting akhirnya selamat dan itu ndak akan terulang lagi. Sekarang Kang Kidang memanggilmu untuk minta beberapa keterangan."
" Keterangan?" wajah Bregas kembali memucat mendengar nama Kidang Panah disebut. Seketika terlintas kembali bayangan penjaga yang kelojotan saat batang tenggorokannya dicabut dari leher. " Kenapa saya dimintai keterangan? Salah saya apa pada Raden Kidang Panah? Apa karena saya ngompol waktu digendong di punggungnya? Jika demikian, mohon sampaikan permohonan minta ampun saya kepada beliau. Tolong, Den."
Julig tersenyum, " Tidak. Itu tidak dipermasalahkan sama kang Kidang. Dia hanya ingin minta keterangan seputar pengalaman kakang waktu mengantar arca Bathara Kresna di sana."
" Tapi.... tapi... saya takut kalau bicara sama Raden Kidang Panah. Saya takut salah bicara...."
Julig baru sadar bahwa Bregas ketakutan pada Kidang Panah. Pasti karena melihat pembunuhan sadis pada penjaga goa itu. Sebenarnya Julig ingin bercerita bahwa itu semua hanya ilusi sihir, namun diurungkan ceritanya. Ada baiknya Kidang Panah tampil sebagai sosok yang menakutkan untuk mengimbangi Karna yang terlalu lembek pada lawan, agar orang-orang tidak berani memandang rendah mereka.
" Ya kalau Kang Bregas ndak berani bicara langsung dengan Kang Kidang, nanti kang Bregas berceritanya pada Kang Jaka Wingit saja. Lagipula, kan di sana ada kang Wingit, dia mampu meredam emosi Kang Kidang agar tidak marah-marah. Juga kang Kidang itu sebenarnya tidak sekejam yang kang Bregas lihat. Kang Kidang hanya garang kepada musuh-musuhnya. Kalau kepada teman dia baik banget."
" Ya Raden, saya nurut. Tapi nanti saya bicaranya sama Raden Jaka Wingit saja, daripada saya gemetaran kalau bicara dengan Raden Kidang Panah."
" Ya. Ayo kang, kita ke sana."
***
" Jadi waktu itu kau memasang arca dari pagi sampai sore baru selesai, Bregas?" tanya Kidang Panah menyela pembicaraan setelah Bregas menceritakan kejadian waktu mengantar patung Bathara Kresna.
__ADS_1
" Benar, Raden Jaka Wingit, " jawab Bregas.
" Heh, Bregas! Aku yang tanya, kau malah menjawabnya sama Wingit, " ujar Kidang Panah kesal.
Bregas tergagap, " Iya, iya maaf, saya salah menyebut nama Raden."
Julig tersenyum, menepuk-nepuk bahu Bregas untuk menenangkan, " Dia masih ketakutan karena ingat dikejar ular-ular tadi, Kang. Jadi perhatiannya lompat-lompat. Tenang dong, Kang Bregas. Tenang dan fokus pada pertanyaan ya? Habis ini aku yang nanya ya?"
Bregas mengangguk perlahan.
" Selama kang Bregas ada di sana, apa ada orang yang keluar masuk ke goa?" tanya Julig.
" Ada, tapi ya mereka sendiri."
" Maksudmu murid-murid Panembah Swara?"
" Iya, Raden."
" Tidak. Panembah Swara sama sekali tidak memperlihatkan diri. Tapi dari perbincangan siswa-siswa yang mengawasi pemasangan arca, katanya Sang Guru sedang semadhi mempersiapkan diri untuk upacara membuat karangan bunga daun tulasi ( selasih) untuk memuja Bathara Kresna. "
" Padahal untuk membuat satu karangan bunga tulasi membutuhkan 1 laksa ( 1 laksa \= 10.000 ) lembar daun. Berarti mereka mempunyai banyak tanaman tulasi di sana. Tapi tadi aku tidak melihat ada tanaman tulasi di sekitar goa. Apa mereka menanam di dalam goa? Berarti harus ada ruang terbuka di dalam goa itu agar tanaman tumbuh baik, " Karna bergumam.
" Oh tidak, Raden Jaka Wingit, " ujar Bregas. " Daun dan tanaman tulasi diantar oleh seorang pedagang perempuan."
" Maksudnya?" tukas Kidang Panah cepat. " Tadi kau bilang tidak ada orang luar yang keluar masuk ke goa itu. Sekarang kau bilang ada pedagang yang mengantar daun tulasi ke sana. Yang benar yang mana!"
Bregas tergagap. Ia menepuk jidatnya sendiri. " Oh iya, saya lupa, Raden. Pagi menjelang pecat sawed ( sekitar jam 10) ada perempuan setengah tua datang masuk ke dalam goa mengantar daun, kayu, serta pohon tulasi hidup dalam pot. Saya tahu itu karena ada seorang murid mempersilahkan ia masuk untuk mengantar keperluan sembahyang."
Julig menepukkan tangan dan berteriak girang, " Itu! Itu yang kita butuhkan. Maaf, kang Bregas, waktu itu kakang masih ingat tithi (tanggal) berapa memasang arca?"
__ADS_1
" Ingat sekali, Raden. Karena bersamaan dengan lahirnya sapi peliharaan saya, jadi saya tandai. Itu tithi 3 Suklapaksa."
Julig tiba-tiba berdiri, spontan menari-nari kegirangan, " Aku sudah tahu caranya! Ini pasti berhasil."
Kidang Panah antara girang mendengar ucapan Julig yang penuh harapan namun belum mampu menebak apa yang sedang dipikirkan Julig, bertanya dengan nada memaksa, " Apa mskdudmu, Julig? Jelaskan sekarang!"
" Kalau saya jelaskan sekarang, berarti kita melibatkan kang Bregas. Apa memang kang Bregas harus terlibat dalam tugas kita ini?"
" Oh tidak!" jawab Kidang Panah cepat. Ia tidak ingin melibatkan orang luar secara langsung di tugas yang sangat rahasia ini. " Bregas tidak perlu terlibat dalam rencana ke depan nanti. Kecuali kau masih butuh ketenangan tambahan. Kalau kau sudah merasa cukup, Bregas boleh pergi sekarang."
" Kang Bregas jangan pergi dulu sekarang," jawab Julig. " Aku masih perlu sedikit keterangan tambahan. Kang Bregas tahu nama perempuan penjual bunga itu?"
" Tidak tahu, Raden."
" Tahu dia tinggal di desa apa?"
Bregas kembali menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu.
" Waduh!" Julig mendesah, " Padahal aku harus ketemu dengannya."
Mendengar Julig mengeluh, Kidang Panah dan Karna yang semula menyala penuh harapan menjadi sedikit meredup.
" Tapi, Raden. Darimana pun asal desanya, hanya ada satu jalan yang pasti dilalui orang dari desa manapun kalau mau masuk ke alas Ketonggo. Karena itu satu-satunya jalur yang ada jalan setapaknya sehingga aman dari gangguan binatang buas. Waktu saya mengantar patung Bathara Kresna, saya dan Wito juga melewati jalan itu."
" Bagus!" Julig berteriak tertahan. Sinar matanya yang jernih menyala gembira, " Berarti kita bisa mencegat perempuan itu di jalan itu kan?"
" Benar, Raden."
" Cukup. Keterangan yang saya butuhkan dari kang Bregas sudah cukup, Kang Kidang."
__ADS_1
Kidang Panah tersenyum tipis. Meski belum lega sepenuhnya karena belum mendengar penjelasan rencana Julig, namun ia yakin bahwa kecerdikan Julig bisa diandalkan. Kidang Panah mengangguk mantap.
***