KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
73 JULIG BERULAH


__ADS_3

" Bagaimana, Ki Juru Tanding?" tegas Kidang Panah, " Tantanganku mau diberi hadiah sesuai dengan jumlah orang yang kuhadapi tidak? Kalau tidak, aku turun panggung."


Juru Tanding tampak kebingungan, " Aduh, bagaimana ya ini, Ki Wulung? Soalnya belum pernah ada kejadian seperti ini sebelumnya."


" Terima saja, Ki Juru !" seru salah seorang prajurit yang merasa diremehkan, " Kalau perlu biar kami yang urunan membayar hadiahnya saat Jaka Wulung yang congkak ini turun dari panggung dengan ditandu. Aku sudah tidak sabar menghajar mulut besarnya!"


Sementara ribuan penonton yang ingin segera menyaksikan pertarungan bersorak-sorai, " Tanding! Tanding! Tanding!"


" Aku juga mau urunan bayar hadiah Jaka Wulung asal pertarungan tetap dilangsungkan!" teriak seorang penonton yang kelihatan kaya raya dengan pakaian bagus.


" Tarung ! Tarung ! Tarung ! " sorak-sorai penonton mendesak pertarungan satu lawan lima segera dilangsungkan.


" Baiklah... baiklah...!' ujar Juru Tanding, " Saya perkenalkan satu-satu para petarung. Yaitu..."


" Tidak perlu perkenalan. Terlalu lama!' seru prajurit yang sudah naik pitam kehilangan harga diri. " Jaka Wulung, persiapkan dirimu sekarang. Jangan kau anggap kami curang kalau kau turun dari panggung dengan dipikul tandu. Kau yang minta itu sendiri."


Kidang Panah mengangguk, " Silahkan Kakang para prajurit memulai, " ujarnya sambil menakupkan tangan ke depan dada sebagai tanda penghormatan untuk memulai pertarungan.


Lima Prajurit mengelilingi Kidang Panah dari 5 arah yang berbeda. Di balik kain yang menutup wajahnya, Kidang Panah tersenyum ingat saat-saat ia menjadi pemimpin begal dulu, hal seperti ini sudah jadi bagian rutin sehari-hari. Bedanya, kalau dulu tanpa segan ia akan membantai semua prajurit yang pada waktu itu dianggap sebagai musuhnya, sedang sekarang ia hanya bermain-main untuk menyenangkan hati Julig, lagipula ia sekarang adalah bagian prajurit Majapahit juga meski rahasia.


" Huaaahhh... hyaaaaattt....!!!"


Lima orang menerjang secara bersamaan ke arah Kidang Panah. Meski bagi rata-rata prajurit, serangan mereka tergolong sangat cepat dan kuat, namun di mata Kidang Panah, gerakan mereka terlalu lamban dan lemah.


Dua orang menerjang dengan melompat dari timur dan barat, sedang tiga orang menyerang dengan berlari untuk memukul.


Kidang Panah tidak menghiraukan yang berlari, pandangannya hanya tertuju pada dua penyerang yang melompat berlawanan arah. Ia tekuk kakinya, menunggu kedatangan kaki mereka sampai di jangkauan serang.


Yang duluan datang tentu yang melompat. Kidang Panah sigap menghindar dengan menggeser bahunya ke Barat, maka serangan yang datang dari Timur luput dari sasaran, bahkan tubuhnya terus melayang menerjang temannya sendiri yang sedang berlari di belakang Kidang Panah.


Akibatnya, dua orang jatuh bergelimpangan.


Bersamaan dengan itu, saat serangan yang dari Barat datang, Kidang Panah menangkap pergelangan kaki sang penyerang sehingga ia kehilangan keseimbangan.


Dengan enteng Kidang Panah memutar prajurit yang ditangkapnya untuk menghalau dua orang lain yang sedang menuju ke arahnya.


" Bluuukkk... bug...aduh! Arrrrrggghhh....!!!"


Dalam satu gebrakan, 3 orang menyusul terlempar membentur lantai panggung.


" Braaaakkk...!!!"


Kidang Panah berdiri dengan tenang sambil mengibaskan-ngibaskan tangan seolah mengusir debu yang menempel.


Gemuruh sorak-sorai penonton melihat dalam satu gebrakan 5 prajurit dibuat tumbang oleh Jaka Wulung yang tidak dikenal.


Sementara, 5 prajurit yang dilanda rasa malu mendalam segera menerjang lagi untuk menebus kekalahan di jurus pertama.


Namun, kali ini Kidang Panah ingin memberi mereka pelajaran bentuk lain. Ia sengaja memperkeras tubuhnya agar mereka memukulinya dengan bebas.


" Bak...buk...bak...buk... plak... plak.. !"


Bunyi pukulan dan tendangan mendera sekujur tubuh Kidang Panah yang diam saja sebelum memilih satu orang untuk diseret berhadapan wajah dengannya. Orang itu kaget setengah mati saat Kidang Panah memperagakan pukulan-pukulan kilat bertubi-tubi yang tidak bisa diikuti pandangan mata.

__ADS_1


" Buk...buk.. buk...buk..buk...!" dalam sekejap mata Kidang Panah melancarkan belasan pukulan yang menyusur dari perut, dada, leher, dagu dan wajah.


Akibatnya, begitu tangan Kidang Panah sampai di kening, ia tinggal mendorong saja, orang yang di depannya sudah roboh, sebab ketika satu pukulan mendarat di dagunya, sebenarnya orang itu sudah kehilangan tenaga untuk berdiri.


Setelah orang pertama jatuh, Kidang Panah menarik orang kedua dan melakukan hal yang sama. Orang ke dua jatuh menimpa orang pertama.


Demikian juga orang ketiga.


Ketika sampai orang keempat, prajurit itu sadar bahwa Jaka Wulung bukan lawan yang sepadan baginya. Percuma saja dilawan, hasilnya malah merugikan diri sendiri. Ia mengangkat tangannya memberi hormat sebelum diberondong pukulan beruntun, " Saya menyerah. Saya mengakui kedigdayaan Kang Jaka Wulung."


Tindakan prajurit ke empat itu segera diikuti oleh prajurit ke lima yang juga secara ksatria menerima kekalahannya, " Saya menerima kekalahan. Terima kasih Kang Jaka Wulung telah memberi pelajaran kepada kami."


Kidang Panah membalas penghormatan mereka, " Terima kasih kembali. Kakang berlima prajurit hebat, mungkin saya lebih beruntung karena lebih giat berlatih. "


Juru Tanding mengangkat tangannya untuk mengumumkan pemenang, " Pertarungan pertama dimenangkan oleh Ki Jaka Wulung dengan hadiah satu keping uang Ma emas dan sehelai kain bagus dari Yang Mulia Maharatu Wilwatikta!"


" Hidup Jaka Wulung! Hidup Jaka Wulung !' membahana sorak mengelu-elukan nama Jaka Wulung, terutama bagi orang yang menang taruhan. Apalagi pasar taruhan tadi Jaka Wulung menjadi pihak asor ( bukan unggulan), sehingga perbandingan taruhannya adalah satu banding lima. Bandar judi yang pasang di posisi unggul merengut rugi terlalu banyak.


" Sekarang, siapa di antara Ki Sanak yang akan menantang Jaka Wulung? Hadiahnya sudah sangat besar, dua keping uang Ma emas!" seru Juru Tanding dengan sangat semangat.


Namun, peragaan kehebatan Kidang Panah tentu saja membuat nyali yang hadir jadi ciut. Jangankan seorang, 5 prajurit pilihan saja tumbang hanya dalam beberapa jurus.


" Cepat, Kang Wingit! Hadiahnya tambah besar, " ujar Julig sambil mendorong punggung Karna untuk segera maju.


" Zzzzuuuttt.... Tap!"


" Aku menantangnya! " kata Karna yang sudah berdiri di panggung.


" Baik, kita ada pendatang baru..." seru Juru Tanding yang segera diikuti sorak-sorai penonton.


" Nama saya Kuda Alas, " jawab Karna asal-asalan.


" Hidup Kuda Alas! Hidup Jaka Wulung !' seru Juru Tanding diikuti khalayak yang hadir.


Namun, untuk pertarungan ini, bandar judi bermaksud menebus kekalahannya. Ia memasang Jaka Wulung yang sudah terbukti kehebatannya sebagai unggulan dengan perbandingan taruhan 10 banding 1. Tentu saja orang yang bermodal sedikit lebih memilih menjagokan Kuda Alas karena mengharapkan kemenangan 10 kali lipat. Sementara yang modalnya besar mengambil posisi aman dengan memasang Jaka Wulung. Akibatnya uang pemasukan imbang. Bandar judi tersenyum sumringah, jelas Jaka Wulung yang hebat yang akan menang dan hasilnya ia akan berhasil menebus kekalahannya bahkan ada kelebihannya.


Dua Ksatria sudah saling berhadapan. Keduanya sama-sama tersenyum di balik topeng.


" Cepat kalahkan aku, Karna, " desis Kidang Panah lirih, " Kita pura-pura bertarung dengan kecepatan sangat tinggi biar yang menonton bingung tidak bisa mengikuti gerakan kita, nanti tahu-tahu aku terlempar jatuh. Sudah tidak sabar aku mau kasih pelajaran sama Julig. Kita orang tua dikerjai habis-habisan sama anak setan itu!'


Karna tertawa lirih mendengar sungut-sungut Kidang Panah.


" Baik, sekarang kita lakukan, Kang!" bisik Karna.


" Wuzzzz....!'"


Keduanya bergerak memutar saling menyerang beradu pukulan dan tendangan dengan kecepatan tinggi sekali. Akibatnya, yang terlihat hanya dua bentuk bayangan saling berkelebat dan menggulung tidak jelas siapa yang menyerang dan siapa yang terdesak. Di sela-selanya, hanya terdengar suara benturan baku hantam dan teriakan-teriakan kaget serta mengaduh.


Karuan para penonton bertepuk tangan kagum menyaksikan Dua Ksatria tak bisa dilihat ujudnya kecuali bayangan yang bergerak maju mundur.


Tiba-tiba....


" Plaaaakkk.....Buuuugggg....!!! " terdengar seperti suara pukulan yang telak mendarat, disusul sebuah teriakan.

__ADS_1


" Aaaarrrrggghhhh.....!"


Lalu sesosok bayangan terlempar keluar dari panggung. Dan sesosok lagi berdiri tegak tepat di tengah panggung sambil menangkupkan tangan hormat pertanda pertarungan sudah selesai.


". Haaaah...???" seluruh penonton melongo tak percaya.


Orang yang berdiri tegap di panggung adalah Kuda Alas. Jadi bayangan yang terlempar kalah sudah tentu Jaka Wulung.


" Hidup Kuda Alas...!!! Hidup Kuda Alas...!!!" sorak-sorai penonton terutama para pejudi asor yang menang taruhan.


" Mati aku!" seru bandar judi yang kembali kalah sambil memukul dahinya sendiri. Ia harus membayar 10 kali lipat buat yang bertaruh untuk Kuda Alas. Seketika dalam dua kali pertandingan, modalnya habis tanpa sisa akibat dua kali salah memasang unggulan.


" Pemenangnya adalah Kuda Alaaaassss...! Ayo, siapa yang berani menantang Kuda Alas?" seru Juru Tanding.


Para penonton saling tatap satu sama lain. Melihat kehebatan Kuda Alas yang dalam waktu singkat mampu melempar Jaka Wulung sampai keluar dari panggung, siapa yang tidak keder?


Tidak ada yang berani naik panggung meski berkali-kali Juru Tanding menaikkan nilai hadiah hingga 5 keping uang Ma emas. Jumlah yang sangat besar.


" Baiklah, karena tidak ada penantang untuk Kuda Alas, tanding Kadigdayan kita tutup sampai di sini," ujar Juru Tanding.


Tiba-tiba terdengar suara, " Tunggu! Aku menantang Kuda Alas bertarung !"


Semua penonton mencari arah suara itu. Namun ditunggu sampai beberapa saat belum terlihat juga siapa yang nekat menantang Kuda Alas. Mereka celingukan, tak terlihat juga ada orang melompat ke panggung atau berlari menyeruak kerumununan.


" Siapa yang menantang tadi?" tanya Juru Tanding memastikan.


" Aku!" terdengar suara dari bawah panggung.


Para penonton menatap ke arah suara itu.


" Kau berani menantang Kuda Alas?" tanya seorang penonton dengan nada tak percaya.


" Iya, aku menantangnya!" jawab orang itu tegas.


" Lalu mengapa tidak melompat ke panggung seperti yang lain?"


" Ah, aku ndak mau melompati kepala kalian. Bisa sih aku melompat tinggi, tapi ndak sopan itu namanya. Sekarang bantu aku naik panggung!"


" Oh...iya.. ya!" sahut penonton sambil mengangguk.


Penantang baru itu naik ke panggung. Perawakannya sama sekali tidak meyakinkan. Sedikit lebih pendek dari kebanyakan laki-laki, dan kulitnya bersih terang seperti perempuan.


" Maaf, Ki Sanak, " ujar Juru Tanding, " Andhika benar-benar ingin bertarung melawan Kuda Alas yang sakti?"


" Tentu saja! Sakti apa dia? Kalian saja yang belum lihat kesaktianku!" jawab penantang itu ketus.


" Baiklah, boleh diperkenankan nama Ki Sanak?"


" Namaku Kidang Wingit! Satria dari Gunung Mahendra! Karena lawanku berat, aku ingin hadiahnya dinaikkan jadi 10 keping uang Ma emas!" jawab Penantang itu.


Karna yang sebenarnya sudah akan mengambil hadiah hingga tidak menghadap ke depan jadi menoleh menatap penantang barunya.


Begitu menatap penantang barunya, seketika Karna menepuk dahinya sendiri dan mendesah, " Jagad Dewa Bathara!!! Apalagi yang dilakukan Julig?"

__ADS_1


Benar. Penantang baru itu adalah Julig yang dengan petentang-petenteng berjalan ke arah Karna sambil mengedipkan matanya.


***


__ADS_2