KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
38 KARUNIA TULASI DEWI


__ADS_3

" Biyungmu sakit apa, Nok?" tanya Panembah Swara bernada lembut namun masih dengan tatapan sangat tajam.


Julig yang sudah kepalang tanggung membuang rasa bersalah karena berbohong demi keberhasilan penyamarannya, " Panas dingin dan tubuhnya berat untuk berjalan, Bapa Panembah."


Panembah Swara mengangguk-angguk, tidak mendesak lebih jauh justru menunjukkan perhatian, " Nanti setelah selesai dari sini kau bawa jamu buatanku untuk biyungmu Nini Hinten. Semoga dengan uluran sakti Shri Krishna, biyungmu cepat sembuh dan pulih seperti sedia kala. "


" Hamba, Bapa Guru. Terima kasih atas perhatian dan doanya kepada biyung hamba, " sembah Julig yang makin heran tidak menemukan sedikitpun tanda-tanda karakter jahat pada diri Panembah Swara.


" Baik. Apa jumlah daun tulasi dewi yang untuk merangkai karangan bunga sudah tepat kau hitung jumlahnya satu laksa untuk tiap karangan?"


" Iya, Bapa Guru. Sesuai yang diajarkan Biyung, hamba sudah hitung dengan cermat dan memecah-mecah jumlahnya ke dalam bingkisan kecil, setiap bungkus kecil ada seribu helai, jadi tinggal ambil sepuluh bungkus untuk satu karangan bunga, Bapa Guru."


" Bagus sekali. Kau cepat sekali belajarnya, Nok. Tapi karena tiap karangan bunga tidak boleh kurang atau lebih dari 1 laksa ( 10.000 ) helai daun, boleh aku hitung ulang?" ujar Panembah Swara lembut.


" Ooohh...tentu saja, tentu saja, Bapa Guru. Bagaimanapun hamba baru belajar, bisa saja salah hitung, " jawab Julig.


" Darsono, " seru Panembah Swara kepada murid yang mengantarkan Julig, " Panggil sepuluh orang siswa untuk membantu dara Endah Sulistya menghitung ulang daun tulasi agar cepat selesai. Masing-masing orang menghitung satu bungkus dan pastikan tiap bungkus berisi seribu daun."


" Sandhika dhawuh, Bapa Guru."

__ADS_1


Dibantu oleh sepuluh siswa, Julig menghitung ulang daun tulasi di bawah penerangan obor. Sambil pura-pura sibuk menghitung, mata Julig terus berkeliaran melirik seluruh dinding goa. Ada 4 obor menyala terang di ruang khusus Panembah Swara itu. Jelas harus ada aliran udara yang cukup besar sehingga api tetap menyala. Namun hingga sekarang, Julig tak bisa menemukan sumber aliran udaranya. Api yang menyala di obor terlalu tenang karena tidak ada desir angin yang mengubah arahnya. Julig menduga, goa ini dilengkapi jalur aliran udara tertata sangat baik sehingga udaranya menyebar secara merata. Ia dapat memastikan goa ini tidak sepenuhnya alami, namun sudah diubah, ditambah atau dikurangi untuk menghasilkan rancangan sempurna sebagai tempat tinggal untuk banyak manusia.


" Gerah juga ya sebenarnya kalau pintu goa ditutup sampai 3 hari seperti ini? " tiba-tiba seorang berguman sambil menyeka keningnya yang agak berkilau karena keringat.


" Iya sih, tapi ya namanya darurat, daripada dua orang jahat itu menerobos masuk, bisa mati kita semua. Lagipula ternyata Bapa Guru juga sudah mempersiapkan untuk menghadapi keadaan seperti ini. Saya tidak menyangka, pemasangan bambu-bambu kecil yang disebar ke sepanjang langit-langit goa sepekan yang lalu ternyata untuk pembagian aliran angin. Guru kita benar-benar Waskita, pasti Shri Krishna sendiri yang bicara dengannya sehingga beliau bisa weruh sadurunge winarah ( tahu sebelum terjadi)," ujar siswa satunya lagi.


Julig terkesiap mendengar pembicaraan mereka. Matanya seketika melirik ke atas untuk melihat langit-langit goa. Kalau tidak cermat memang tidak bisa dilihat, di antara jajaran stalagnit terselip bambu-bambu berukuran lebar satu lengan orang dewasa yang saling bersambung membentuk pipa saluran udara dari satu ruang ke ruang lain. Ia baru tahu jawabannya sekarang mengapa di dalam goa itu tidak terasa ada desir-desir angin sebab udara telah dipecah-pecah secara rata sehingga cukup untuk bernapas dan menyalakan obor penerangan. Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, di mana pangkal pipa-pipa bambu itu berada? Dengan mengetahui keberadaan hulu pipanya, ia akan tahu asal udara itu. Dan itu pasti lobang yang cukup besar, karena untuk mampu menyediakan udara segar di goa yang cukup luas ini harusnya lobang asal anginnya besar. Andai ia bisa menyusuri pipa-pipa itu, pasti akan ketemu lobang itu. Tapi bagaimana caranya? Untuk mencari alasan berjalan-jalan secara leluasa menyusuri goa itu nyaris tak mungkin. Penghuni goa yang sudah tidak menaruh curiga bisa saja berubah jadi curiga jika tanpa alasan yang kuat ia menyusuri goa di tengah situasi darurat menghadapi dua orang 'jahat' Karna dan Kidang Panah. Apalagi tugas menghitung ulang daun tulasi juga belum usai dilakukan.


Sementara waktu terus bergerak, Julig belum juga menemukan cara yang tepat untuk menyusuri hulu asal aliran udara. Perintah Panembah Swara untuk menghitung ulang daun tulasi dewi lepas dari perencanaannya. Ketepatan jumlah yang harus 1 laksa tepat untuk setiap karangan bunga membuat para siswa sangat cermat sehingga penghitungan berjalan sangat lamban dan memakan waktu. Julig mulai resah khawatir kehabisan waktu sehingga sebelum mencapai tengah hari Wisan Gawe ia belum menemukan lobang udara. Jika demikian sia-sia semua usaha penyamarannya. Karna dan Kidang Panah akan mengira dirinya dalam bahaya sehingga nekat menggunakan jalan darah hidup atau mati.


Demikian pula kondisi di luar goa. Kidang Panah dan Karna sudah sangat gelisah. Matahari sudah beranjak naik, tak juga terdengar isyarat suara gagak dari Julig. Sementara dari tadi Kidang Panah bercerita tentang latar belakangnya sebagai begal yang meninggalkan adik tunggalnya di rumah selama 10 tahun. Ia bercerita dalam petualangannya, tak ada orang lain yang paling dirindukan kecuali adiknya. Hingga saat ia dibebaskan oleh Mahapatih Gajahmada dan Putri Padma Dewi, kesempatan pertama yang ia ambil adalah menengok adik tunggalnya. Adik tunggal Kidang Panah seumuran Julig, sehingga saat mengenal Julig, ia merasa mendapat ganti seorang adik di perjalanan. Maka Kidang Panah sangat menyayangi Julig dan bersumpah akan membunuh siapa saja yang mencelakai Julig.


" Tengah hari tidak lama lagi. Kalau sampai tidak ada kabar juga dari Julig, aku akan menyabung nyawa. Terserah kau ikut atau tidak, Karna," gumam Kidang Panah.


Di dalam goa, Julig sudah selesai menghitung daun tulasi dewi bagiannya. Ia melirik siswa yang paling dekat dengannya, hampir selesai juga. Dengan menyabarkan diri ia menunggu siswa yang lain selesai.


" Akhirnya, selesai juga! Hitungan Diajeng Endah sangat tepat, tidak lebih tidak kurang!" ujar siswa itu sambil menggeliatkan punggungnya yang pegal. Saat ia menggeliat, lengannya menyenggol tenggok yang berisi bibit pohon tulasi hidup. Tenggok itu miring hampir jatuh, isinya tersingkap, sebuah pot bergerak membentur pot sebelahnya.


Melihat bibit pohon tulasi, dada Julig berdetak, otaknya yang cerdas bergerak, inilah jalannya! Mungkin Panembah Swara mampu mengantisipasi penutupan goa dengan membuat saluran angin, tapi bisa saja ia lupa, bahwa agar tanaman tulasi bisa hidup, ia harus diletakkan di ruang terbuka yang bukan hanya cukup udara, namun juga air dan sinar matahari. Artinya, pot-pot ini yang akan membawa Julig ke lobang udara dan ruang terbuka yang kontak langsung dengan dunia di luar goa.

__ADS_1


Julig menjatuhkan badan menghatur sembah untuk berbicara kepada Panembah Swara, " Mohon ampun, Bapa Guru. Hamba mohon diperkenankan menyampaikan sesuatu yang sangat penting."


Panembah Swara menatap Julig dan mengangguk, " Sampaikan, Nok!"


" Hamba lupa menyampaikan, bahwa disamping daun dan kayu kering, hamba juga disuruh biyung untuk membawa bibit pohon tulasi hidup sebanyak 9 pot. Mohon petunjuk Bapa Guru, harus diletakkan di mana pot-pot ini?"


Panembah Swara terlihat diam sejenak. Tampaknya dia juga baru ingat memesan bibit pohon tulasi untuk dipelihara. Padahal untuk memelihara pohon harus dilakukan di ruang terbuka.


" Ya...ya...ya.. aku juga lupa menanyakan bibit tulasi dewi pesananku. Padahal menanam pohon tulasi dewi itu juga tidak kalah penting. Baik-baik, kau cermat sekali telah mengingatkan aku, Nok " ujar Panembah Swara, " Darsono, bawa pot-pot pohon itu, letakkan di ruang udara di atas. Jangan lupa, tutupi lagi atapnya dengan anyaman daun agar tidak ada orang yang tahu lobang udaranya."


" Sandika Dhawuh, Bapa Guru, " jawab Darsono seraya akan mengangkat tenggok yang berisi bibit pohon.


Melihat Darsono akan membawa tenggok itu sendirian yang berarti tidak mengajaknya, Julig yang baru saja menemukan cara menuju lobang udara terbuka tidak ingin kehilangan kesempatan satu-satunya itu.


Buru-buru Julig menghatur sembah untuk mendahului Darsono yang akan mengangkat tenggok, " Sekali lagi hamba mohon beribu ampun, Bapa Guru. Hamba mendapat perintah dari biyung hamba, bahwa hamba harus ikut mengatur tatanan pot-pot bibit pohon ini, mengingat ujudnya masih bibit yang sangat ringkih, sehingga harus dipastikan cara meletakkannya agar tidak terpapar sinar matahari secara berlebihan atau kekurangan, juga kemungkinan bila terkena air hujan terlalu deras akan merusaknya. Mohon perkenan Bapa Guru agar hamba yang mengatur letak-letak potnya."


Panembah Swara menatap Julig tanpa suara. Sinar mata Panembah Swara memang sangat tajam. Sulit diketahui maknanya, apakah tatapan biasa, menyelidik, atau sedang murka.


***

__ADS_1


Contoh tumbuhan Tulasi Dewi atau Kemangi Suci



__ADS_2