
Suasana yang semula sangat meriah mendadak menjadi sedikit kaku. Kekaguman orang-orang pada Jaka Wingit makin besar setelah tanpa sengaja ia menunjukkan kekuatannya lewat suara. Namun, kini orang-orang terdiam tanpa kata setelah mendengar Jaka Wingit menyuruhnya mereka hening. Dalam hati mereka bertanya-tanya apa kesalahan yang telah mereka perbuat dengan sorak-sorai pujian? Bukankah sudah lumrah seseorang yang berjasa mendapatkan pujian?
Sikap Jaka Wingit yang tak melanjutkan jalan kudanya memaksa Suta dan Ki Buyut pun berhenti. Julig memutar akal untuk mencairkan.suasana. Ia menepuk pinggang Jaka Wingit dan berkata, " Kang Wingit, boleh saya bicara?"
" Silahkan," sahut Karna datar.
" Intinya Kakang ndak mau dipanggil sebagai Mahaksatria, kan?"
Karna mengangguk, " Aku tidak ingin membuat masalah yang tidak perlu. Lagipula, itu nama pemberian guruku. Tidak boleh diganti."
" Ndak diganti, Kang. Cuma mereka ingin memanggilmu dengan sebutan kesayangan."
"Mahaksatria bukan sebutan sayang. Itu gelar Raja."
" Bagaimana kalau Jaka Wingit diberi nama kesayangan yang searti tetapi ndak bermakna gelar kepangkatan. Ya khusus buat mereka saja agar ndak kecewa. Apa Kakang ndak kasihan melihat ribuan orang yang telah datang, kebanyakan jalan kaki dari seluruh pelosok Gagak Nagara hanya untuk melihat Kang Wingit?"
" Maksudnya nama yang searti?" Karna bertanya dengan nada menyelidik.
" Misalnya....eeee....gimana kalau Ksatria Angker? Kan ksatria sebenarnya ndak hanya gelar atau kasta, bisa juga berarti sifat keberanian dan tanggung jawab? Sifat itulah yang menurut mereka sangat cocok ada pada diri kang Wingit, sedang Angker searti dengan Wingit. Ksatria Angker, gak bikin masalah kan?"
Suta dan Ki Buyut Kebo Ireng menoleh ke arah Julig. Kebo Ireng yang sangat paham kecerdasan muridnya tidak terkejut, karena dibalik pembawaannya yang suka cengengesan, ia tahu Julig berotak encer, makanya ia angkat sebagai muridnya.
" Ksatria Angker nama yang bagus sekaligus tidak mengundang masalah, Ananda Jaka Wingit, " Ki Buyut Kebo Ireng mendukung usulan Julig.
Karna menarik napas halus. Ia melihat sekeliling pelataran. Dilihatnya ribuan pasang mata menatapnya dengan pandangan berharap dan menunggu. Hatinya merasa kasihan kalau harus mengecewakan perasaan mereka.
" Baiklah, Julig. Tapi kamu yang bicara. Aku malas bicara tentang nama," ujar Karna.
Julig tersenyum lega," Beres, kalau cuma masalah ngomong, serahkan pada adimu Julig ini."
__ADS_1
Dari balik punggung Karna, Julig menyembunyikan wajahnya. Entah apa yang ingin ia perbuat, telapak tangan kirinya menutup mulut.
Tiba-tiba terdengar suara cuitan Gagak. Seperti ada seekor gagak raksasa melintas di pelataran Wisma dan bercuit dan berkoar dengan suara parau yang keras. Semua orang memutar mata bahkan kepala untuk mencari keberadaan Gagak yang jika ditilik dari suaranya pasti sangat besar. Termasuk Gagak Bayan ikut penasaran. Ada cerita kuno yang sangat dipercayai oleh seluruh warga Gagak Nagara, bahwa wilayah mereka dijaga oleh kekuatan sakti dalam ujud Gagak Raksasa yang bersifat gaib. Gagak gaib itu akan memperlihatkan diri atau memperdengarkan suaranya apabila terjadi peristiwa yang sangat penting di Gagak Nagara. Setelah memastikan bahwa Gagak Gaib tidak memperlihatkan ujud kecuali suaranya, warga masyarakat menggumamkan salam kerahayuan pada Gagak Gaib dengan caranya masing-masing. Mereka meyakini, kedatangan Gagak penjaga gaib itu ada hubungannya dengan Jaka Wingit. Maka, semakin takluk hati semua orang pada Jaka Wingit.
Sementara Karna, Suta, dan Ki Buyut tahu bahwa suara itu sebenarnya berasal dari mulut Julig yang mampu meniru suara binatang. Mereka membiarkan ulah Julig dan menduga ada rencana di balik tetiruan suara gagak gaib itu.
Benar saja. Setelah yakin bahwa semua orang percaya itu adalah suara gaib, Julig menghentikan tetiruan suaranya. Ia berdiri di atas punggung kuda agar tubuhnya yang pendek bisa terlihat oleh seluruh orang. Karena Julig berdiri dengan satu tangannya memegang pundak Karna, tentu semua orang yang pusat perhatiannya tertuju kepada Jaka Wingit semua menjadi melihat Julig.
Julig mengangkat satu tangannya sebagai tanda minta perhatian. Untuk masalah suara, Julig memiliki bakat alami. Entah pita suara, diafragma atau kerongkongannya yang istimewa, Julig tidak memiliki masalah mengatur tinggi rendah nada, merubah warna maupun keras pelan suaranya, sehingga dengan gampang pembicaraannya bisa ditangkap oleh orang banyak meski tanpa menggunakan pengeras suara seperti corong yang terbuat dari lilitan lontar atau kerang besar.
" Bapa, Biyung, Kisanak dan Nyisanak semua, saya adindanya kakang Jaka Wingit mohon perhatian!" ucap Julig.
Karena Julig mencatut nama Jaka Wingit sebagai kakaknya, seluruh mata dan telinga kini tertuju pada Julig yang dengan sangat senang menikmati perannya sebagai juru bicara seorang pendekar yang dicintai oleh semua orang di Gagak Nagara. Sambil menahan senyum-senyum usilnya, Julig melanjutkan bicaranya.
" Anda semua sudah mendengar sendiri, Eyang Gagak Nagara yang gaib telah hadir di antara kita untuk menyambut kakang saya pendekar yang tampan dan sakti mandraguna kan?"
Sementara, ribuan orang seisi pelataran Wisma tampak manggut-manggut menyetujui pendapat Julig. Melihat reaksi yang demikian, Julig makin yakin telah menguasai keadaan.
" Jadi sebenarnya yang terjadi tadi pembicaraan gaib antara Kakangku dengan Eyang Gagak. Dalam pembicaraan itu Kakang Jaka Wingit menyampaikan salam hormat kepada Eyang Gagak, dan Eyang Gagak pun memberi restu kepada Kakang Jaka Wingit untuk memimpin kita semua ..."
Mendengar kata-kata Julig bahwa Jaka Wingit telah direstui oleh Eyang Gagak untuk menjadi pemimpin baru, ribuan orang serentak berteriak histeris bahagia. Mereka akan memiliki pemimpin baru yang menggantikan Gagak Bayan. Seorang pemimpin baru yang luar biasa. Muda, tampan, bijaksana, dan sakti mandraguna. Apalagi para dara, pupil mata mereka serentak membesar membayangkan tiap hari bisa melihat Jaka Wingit pujaannya sebagai pemimpin yang menetap di Wisma.
Seketika tanpa diberi aba-aba, ribuan orang kembali meneriakkan nama Mahaksatria," Jaya! Jaya! Jaya pemimpin baru Gagak Nagara, Mahaksatria Jaka Wingit! Mahaksatria! Mahaksatria! Mahaksatria!"
Karna dengan kesal menegur Julig, " Kau malah mengarang cerita, Julig. Ini malah bikin tambah parah. Hentikan omong kosongmu!"
Suta dan Kebo Ireng turut mendelikkan matanya untuk menegur Julig. Tapi Julig justru nyengir dan berkata, " Tenang, Kang Wingit. Percayalah padaku untuk masalah kata-kata. Saya hanya membiarkan mereka meluapkan keinginannya,__ sekaligus bikin jera Gagak Bayan. Sabar sebentar, Kang. Sebentaaaarrr...saja. Nanti akan saya hentikan. Ceritanya akan saya balik, tapi.tunggu dulu reaksi Gagak Bayan. Biar dia terjebak dengan situasi ini dulu."
" Maksudmu, kau belum percaya pada niat baik Gagak Bayan?" tanya Kebo Ireng.
__ADS_1
" Bukannya ndak percaya, Guru. Hanya berjaga-jaga. Karena saya belum pernah melihat ada ular mendadak menjadi kelinci dalam semalam."
Ki Buyut Kebo Ireng tersenyum. Ia senang Julig mampu memahami politik yang penuh kemungkinan. " Ada baiknya Ananda Wingit membiarkan Julig menjalankan caranya dulu," kata Kebo Ireng kepada Karna yang ia nilai masih sangat lugu dalam menyikapi buasnya tingkah manusia di luar hutan.
Karna mengangguk, percaya pengalaman dan kebijaksanaan Ki Buyut Kebo Ireng dalam menghadapi jebakan dunia ramai yang masih sangat asing baginya. Ia tekan keinginan hatinya untuk menghentikan sorak-sorai yang makin membahana menyebutkan Jaka Wingit sebagaiaa Mahaksatria dan pemimpin baru Gagak Nagara.
Strategi Julig terbukti benar. Dengan mengarang cerita bahwla Jaka Wingit telah ditunjuk secara gaib oleh Eyang Gagak sebagai pemimpin baru di Gagak Nagara, membuat Gagak Bayan tersudut memakan paksa buah simalakama. Di satu sisi ia menginginkan Jaka Wingit tinggal lama di Wisma agar ia memiliki cukup waktu untuk menyerap ajian Bayu Bajra yang ia impikan. Namun, di sisi lain, seluruh warga Gagak Nagara kini memiliki kepercayaan bahwa Jaka Wingit adalah pemimpin terpilih yang akan menggantikan posisinya. Itu kondisi di luar rencananya. Yang ia inginkan adalah, Jaka Wingit tinggal di Wisma sebagai tamu kehormatan saja, bukan sebagai penguasa baru. Sambil menjamunya, ia bisa belajar ajian Bayu Bajra dengan memanfaatkan keluguan Jaka Wingit, sementara ia masih jadi penguasa tunggal di daerah otonom yang memiliki hak istimewa. Kalau keadaannya seperti ini, semua rencananya sia-sia belaka. Jika Jaka Wingit menjadi penguasa baru Gagak Nagara atas keinginan rakyat, otomatis Jaka Wingit akan tinggal di Wisma dan ia bisa saja disingkirkan, lalu bagaimana bisa mempelajari Bayu Bajra jika ia tersingkir?
Tiap kali terdengar kata Mahaksatria, Gagak Bayan ikut berteriak untuk menyemangati rakyat. Tetapi begitu terdengar seruan kata ' pemimpin baru', ia pura-pura tidak mendengar. Otaknya bekerja keras untuk memikirkan bagaimana caranya ia mempelajari Bayu Bajra dari Jaka Wingit dengan sangat cepat, kalau perlu cukup semalam saja, setelah itu Jaka Wingit harus secepatnya pergi dari Gagak Nagara sebelum seluruh rakyat mengangkatnya sebagai pemimpin baru.
Otak Gagak Bayan memang sangat cepat cara kerjanya kalau sudah menyinggung ambisi kekuasaan dan kesaktian. Ia rubah seluruh rencananya dari yang halus menjadi kasar. Dari yang lambat menjadi cepat. Dari yang agak tulus menjadi penuh jebakan. Pokoknya, malam ini ia harus mengetahui inti dari ajian Bayu Bajra. Bagaimanapun caranya akan ia tempuh. Kata kuncinya adalah; Jaka Wingit harus mengajarkan inti Bayu Bajra malam ini juga, setelah itu, Jaka Wingit harus pergi secepatnya sebelum semua terlambat dan rakyat mengangkat paksa Jaka Wingit sebagai pemimpin baru menggantikan dirinya.
Wajah Gagak Bayan berubah-ubah antara merah padam karena marah dan memucat ketakutan tiap kali mendengar rakyat mengelu-elukan kalimat ' Pemimpin Baru'.
Ia sangat marah, tapi juga sangat takut. Bisa saja dalam kemarahan ia nekat menerjang rakyat yang meneriakkan nama Jaka Wingit lalu membunuhnya. Dengan kemampuannya, ia bisa saja membunuh satu dua orang di antara mereka agar mereka kapok. Tapi, yang selanjutnya terjadi bisa sangat mengerikan.. Rencana busuknya akan langsung terbuka, dan Jaka Wingit akan melawannya. Gagak Bayan tidak bisa membayangkan andaikan Jaka Wingit benar-benar marah, dalam satu gebrakan nyawanya pasti melayang.
Gagak Bayan melihat sekelilingnya. Ada begitu banyak wanita cantik yang terlihat sangat memuja Jaka Wingit. Ia kemudian melihat hidangan makanan, di sana ada ratusan kendhi berisi tuak, minuman keras yang sangat memabukkan. Tiba-tiba ia melihat jalan keluar.
Inilah yang harus Gagak Bayan lakukan. Menjebak Jaka Wingit yang masih sangat-sangat polos dengan berbagai kesenangan yang belum pernah ia nikmati seumur hidup. Yaitu, kelembutan wanita dan kedahsyatan mabuk tuak.
Gagak Bayan terbahak-bahak membayangkan kemurnian Jaka Wingit melawan keruhnya kesenangan duniawi yang belum pernah ia nikmati.
" Hahahaha...benar! Benar sekali, adhiku yang tampan dan sakti mandraguna Mahaksatria Jaka Wingit adalah pemimpin yang terpilih. Ke sinilah, adhiku terkasih....ke sinilah, " Gagak Bayan berteriak dengan sukacita.
Mendengar kata-kata Gagak Bayan, gemuruh dukungan khalayak pada Jaka Wingit sebagai pemimpin baru makin menggelora. Menggelegar memenuhi angkasa Gagak Nagara.
Sementara raut wajah Karna tampak bingung tidak paham apa yang tengah terjadi, Ki Buyut menepuk pundaknya dan berkata, " Tenanglah, Ananda Jaka Wingit. Julig sudah mencengkeram kepala ular.itu."
"""
__ADS_1