KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
51 PRASASTI CUNGGRANG


__ADS_3

" Bapa Giri, apa pernah menemui kejadian suatu desa atau tempat berubah nama?" tanya Julig.


" Jarang sekali. Tapi pernah sekali seumur hidup saya menemui ada sebuah desa di lereng selatan berubah nama."


" Berarti ada kemungkinan suatu tempat berubah nama di suatu saat ya, Bapa?"


" Bisa saja itu, Nanda. Biasanya karena ada suatu kejadian besar, petunjuk dari Danyang ( penguasa gaib) tempat itu, atau kunjungan pembesar. Waktu desa di lereng selatan itu berubah nama, saya juga terlambat mengetahuinya karena beberapa bulan tidak ke sana."


" Begitu ya, Bapa? Jadi ada kemungkinan suatu wilayah tiba-tiba berubah nama menjadi Baswara misalnya tanpa sepengetahuan Bapa Giri karena Bapa ndak ada di tempat itu saat kejadian itu terjadi, kan?"


Ki Giri mengangguk-angguk, " Iya, kemungkinan itu ada."


" Termasuk ada seorang pembesar tiba-tiba memilih tinggal di suatu tempat, sedang Bapa Giri belum tahu hal itu?"


" Itu bisa juga terjadi, Ananda Julig. Maksudnya Demang Suranggana, kan?"


" Benar, Bapa, " jawab Julig. " Saya sedang mengira-ngira apa mungkin ada suatu tempat di lereng Pawitra sebelah barat ini yang tanpa sepengetahuan Bapa Giri kedatangan seseorang bernama Demang Suranggana, kemudian memilih tinggal di suatu desa dan mengganti nama desa itu dengan nama Baswara?"


Ki Giri mengangguk mengiyakan pemikiran Julig, Sebagai Demang, beliau memiliki wewenang untuk mengusulkan pergantian nama sebuah desa."


" Atau...mengapa tiba-tiba saya berpikir kunci keberadaan tempat itu justru pada nama Demang Suranggana? " gumam Julig.


" Maksudnya bagaimana, Nanda?" Ki Giri mengernyitkan dahinya.


" Namanya bukan Suranggana yang berarti Dewa yang sangat kuat, melainkan Su Anggana. Di sini Su menjadi Sur untuk mempermudah pengucapan saja. Yang benar adalah Demang ( penguasa) Su Anggana. Iya, Anggana itu yang harus kita cari sebagai nama atau keadaan tempat."


Ki Giri ikut terbawa alur pemikiran Julig. Memang lazim di masa itu penamaan orang diberi awalan Su yang artinya baik sebagai tambahan sebutan. Kata Su berubah makna menjadi Si saat menyebut nama seseorang misalnya si Julig, si Wingit, si Kidang, dan seterusnya. Seseorang yang bernama asli Anggana bisa saja disebut sebagai Su Anggana, kemudian awalan Su luluh untuk memperluwes pelafalan menjadi Suranggana. Sehingga Demang Suranggana bisa berarti penguasa tempat yang berujud Anggana.


" Iya, iya, benar sekali pemikiranmu, Amanda. Itu sangat mungkin terjadi!" Ki Giri berseru kagum mengakui kecerdasan Julig yang bisa berpikir demikian jauh.


" Jika begitu, menurut pengetahuan Bapa Giri, desa atau tempat mana di gunung ini yang ada lapangan besar karena Anggana berarti lapangan atau medan yang luas? " tanya Julig seraya berdebar-debar takut kalau mendapat jawaban yang mengecewakan lagi.

__ADS_1


Ki Giri tertawa lebar, " Kalau itu gampang, Ananda. Ada satu tempat yang sekelilingnya tidak boleh didirikan bangunan karena sangat sakral sehingga di sana seperti alun-alun luas. Di tengah-tengah lapangan itu bersemayam batu tulis Prasasti seratan Maharaja Medang Yang Mulia Mpu Sindok. "


" Di desa mana itu, Bapa Giri?" Julig bertanya tidak sabar.


" Desa terakhir lereng barat yang Andhika bertiga belum kunjungi. Desa Cunggrang, tempat bersemayamnya Prasasti Cunggrang!" jawab Ki Giri pasti.


Mata Julig bersinar terang, " Mohon maaf, kapan terakhir Bapa Giri berkunjung ke desa Cunggrang?"


" Sekitar 4 bulan yang lalu, Nanda."


" Jadi ada kemungkinan dalam 4 bulan ini desa itu didatangi Demang penguasa Anggana dan Bapa Giri belum tahu kalau mamanya mungkin sudah berubah jadi Baswara?" tanya Julig dengan antusias.


" Bisa saja itu terjadi, Ananda."


" Kalau begitu, biar kami segera berangkat ke sana, Bapa!" seru Julig terburu.


" Sebaiknya jangan sekarang, Ananda. Kebetulan saya hapal hari pasaran di Cunggrang. Besok pagi tithi 8 Suklapaksa tepat jatuh hari pasaran. Penduduk Cunggrang akan tumpah ruah di pasar, sehingga Andhika bertiga dapat memperoleh banyak keterangan tentang ada tidaknya Demang yang baru saja datang ke sana. Andhika bertiga sebaiknya istirahat dulu, berangkatlah saat tithi yoni dengan berkuda laju sedang, tidak perlu cepat-cepat. Pasti sampai di sana tepat Byar pagi hari saat ramai-ramainya pasar."


Mata Julig perlahan-lahan tertutup. Ia bisa tidur dengan beban perasaan agak ringan. Meski tidak sepenuhnya yakin, setidaknya ia memiliki harapan baru dapat menemukan tempat bernama Baswara tempat Demang Suranggana berada.


***


Desa Cunggrang pada mulanya hanya desa biasa. Namun karena lereng gunung Pawitra sebagai pengganti gunung Mahameru dipenuhi oleh berbagai tempat persembahyangan dan pertapaan agama Siwa Buddha berupa Patirthan, Candi, dan asrama para Reshi, maka warga desa bergotong royong membangun dan merawat tempat-tempat suci dengan tulus dan senang hati. Kesungguhan warga desa itu terdengar sampai ke telinga istana Medang ( Mataram Kuno) yang diperintah oleh Maharaja Mpu Sindok, pendiri wangsa Isyana. Pada tahun 851 Saka, tepatnya 18 September 929 Masehi, sebagai tanda terima kasih dan pujian atas ketulusan warga desa ( pujian dalam bahasa Sansekerta disebut Prasasti), Mpu Sindok sebagai raja yang berkuasa mendirikan sebuah prasasti yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Cunggrang, yang kemudian diabadikan harinya sebagai hari jadi Kabupaten Pasuruan, sebab nama Pasuruhan memang disebutkan secara langsung di Prasasti itu. Dengan adanya prasasti itu, desa Cunggrang dikukuhkan sebagai desa Sirna ( lenyap), artinya kewajiban untuk membayar pajak kepada Kerajaan Medang ditiadakan sebagai ganti biaya perawatan dan pemeliharaan tempat-tempat suci yang ada di sana. Desa Cunggrang naik status dari desa biasa menjadi wilayah perdikan ( otonom). Sabda Maharaja yang berbentuk prasasti pada hakekatnya sama dengan kehadiran raja itu sendiri, sehingga untuk menghormatinya, di sekeliling Prasasti Cunggrang dikosongkan dari segala bangunan seperti lapangan luas ( Yang dalam bahasa Sansekerta disebut Anggana ). Karena itulah cara berpikir Julig dianggap masuk akal oleh Ki Giri.


Tepat melewati dua pertiga malam, wayah tithi yoni tiba. Sebagai orang yang sudah terbiasa menggunakan waktu terbaik untuk meditasi, tanpa dibangunkan, Karna dan Kidang Panah bangkit dari tidurnya. Mereka seperti sudah diperintah secara alam bangkit duduk bersila.


Mendengar suara gerakan, Julig pun terbangun dari tidurnya. Melihat dua kakangnya duduk dalam sikap semadi, ia menunggu waktu sejenak sebelum mengajak mereka berdua berbincang tentang rencananya.


Setelah dirasanya cukup waktu agar jangan sampai terlambat melakukan perjalanan ke desa Cunggrang, Julig membuka percakapan, " Mohon maaf Kakang berdua, saya terpaksa mengganggu waktu semadi kalian. Ada hal yang sangat penting untuk saya sampaikan."


Karna dan Kidang Panah secara bersamaan membuka mata mengakhiri meditasinya," Iya, ada apa, Julig?"

__ADS_1


" Begini, sebentar saya bangunkan Ki Giri dulu agar ikut menjelaskan, " jawab Julig seraya berdiri mencari keberadaan Ki Giri karena pohon besar itu sangat lebat daunnya sehingga cahaya bulan tidak mampu menembusnya.


Julig berjalan memutari pohon, namun sosok Ki Giri yang dicari tidak berhasil ditemukan. Juga kuda yang sore kemarin masih tertambat tak juga ada di tempat.


" Ki Giri sidah pergi, Kang! " seru Julig.


Kidang Panah yang waspada pada setiap kemungkinan segera memeriksa barang-barang bawaan terutama surat Mahapatih, siapa tahu Ki Giri seorang pencuri sakti yang menyamar.


" Wingit, Julig, periksa barang-barang kalian ada yang hilang tidak!" seru Kidang Panah.


Julig dan Karna memeriksa seluruh barang bawaannya. Setelah yakin tidak ada satupun barang yang hilang, Karna berkata, " Mungkin Ki Giri pergi tanpa pamit karena harus segera melanjutkan perjalanan tapi tidak ingin mengganggu tidur kita."


" Iya, ya syukur tidak ada barang yang hilang. Kau mau bicara tentang apa, Julig?" ujar Kidang Panah dengan nada datar karena begitu bangun tidur kembali teringat kelanjutan tugas yang masih menemui jalan buntu.


" Tentang letak Baswara dan keberadaan Demang Suranggana, Kang. "


" Hah? Kau punya petunjuk keberadaan tempat itu, Anak Kancil?" sahut Kidang Panah yang berubah antusias begitu mendengar nada harapan dari jawaban Julig. Ia kembali menyebutnya sebagai Anak Kancil sebagai tanda kekagumannya atas kemampuan berpikir Julig.


" Iya, Kang. Biar saya jelaskan dasar pemikiran saya...." jawab Julig. Selanjutnya ia menceritakan nalar dan isi pembicaraannya dengan Ki Giri.


Sepanjang Julig bertutur, Karna dan Kidang Panah mengangguk-angguk menerima kejernihan nalar Julig. Hingga akhirnya Julig mengakhiri paparan penjelasannya, Kidang Panah berseru, " Kita berangkat sekarang juga, jangan sampai terlambat wayah Byar harus sudah sudah sampai ke pasar Cunggrang!"


Tiga kuda bertunggangan 3 Ksatria utama itu segera menerobos dini hari, menyeruak jalan setapak sebagaimana petunjuk Ki Giri kepada Julig. Terus ke Timur menuju desa terakhir yang sangat masyhur kesakralannya. Ke desa Cunggrang di wilayah Pasuruhan tepat di hari pasaran tithi 8 Suklapaksa.


***


PRASASTI CUNGGRANG


Di Kaki Gunung Pawitra ( Penanggungan), Pasuruan


__ADS_1



__ADS_2