
Gagak Bayan tersenyum senang mendengar laporan mata-matanya yang bernama Bangus.
" Sudah pasti apa yang kau lihat, Bangus?" Tanya Gagak Bayan untuk meyakinkan laporan yang ia terima.
" Saya melihat dengan mata kepala sendiri, Gusti," Bangus menjawab yakin," Beberapa saat setelah Jaka Wingit sampai di rumah Savitri, Suta dan Savitri pulang. Setelah itu menjelang sore, saya melihat Jaka Wingit dan temannya pergi naik kuda. Entah ke mana saya tidak bisa memastikan. Tapi desa terdekat ke arah itu ya Arcala, Gusti."
Gagak Bayan tertawa. Dugaannya benar. Jaka Wingit tidak ke mana-mana. Jadi sebentar lagi pasti akan bersedia menemuinya kalau tahu bahwa ia telah bertobat. Ia membuka kotak uangnya dan melempar 1 koin ke arah Bangus.
" Ini, terima hadiahmu!" Ujarnya.
Bangus menangkap uang itu dengan sigap. Wajahnya cerah seperti anjing dilempar tulang.
" Satu keping uang Ma perak?" desis Bangus sangat senang. Ma kependekan dari Masa, nama salah satu mata uang yang berlaku pada saat itu. 1 koin perak uang Ma jumlahnya sangat besar bagi Bangus. Itu seharga sepersepuluh 1 Ma emas, dan setara dengan 400 uang Gobog.
" Terima kasih, Gusti. Terima kasih!" Bangus berkali-kali menghatur sembah. Gagak Bayan memang sangat royal pada anak buahnya bila keinginan hatinya terpenuhi.
Lembu Peteng yang duduk agak menjauh mendengus iri. Ia merasa tugasnya sehari-hari jauh lebih berat, kadang harus berkelahi bertaruh nyawa, tapi sering yang mendapat hadiah besar justru orang-orang macam Bangus yang hanya bermodal mulut. Pantas saja namanya Bangus yang artinya congor, kerjaannya cuma jualan mulut panjang dan jilatan saja!
" Peteng, panggil Penjaga Kaputren, Bendahara, juga Juru Tulis dan semua Lurah Prajurit. Sekarang !" Ujar Gagak Bayan membuyarkan lamunan Lembu Peteng.
Lembu Peteng melaksanakan perintah dengan hati penuh pertanyaan. Apa lagi yang akan terjadi? Mengapa mendadak Gagak Bayan memanggil seluruh aparatnya? Keadaan segenting apa yang sedang dihadapi?
Setelah semua pembantu dan ponggawanya menghadap, Gagak Bayan bicara dengan gaya seorang penguasa, " Kalian pasti bertanya-tanya, untuk apa kuoanggil secara mendadak."
"' Ampun, Gustiku. Apakah kami melakukan kesalahan?" Juru Tulis yang paling pandai bicara mewakili menjawab.
" Tidak. Aku hanya ingin menyampaikan perintah yang sangat penting dan harus dilaksanakan mulai hari ini juga. Setelah perintah-perintahku nanti kalian pahami dan segera melaksanakan, selanjutnya apa-apa yang boleh kalian ceritakan di luar sebarkan itu seluas mungkin. Tapi apa-apa yang tidak boleh kalian ceritakan, jadikan rahasia dengan taruhan nyawamu dan keluarga kalian. Paham?"
Para pembantu dan ponggawa menyimak setiap kata Gagak Bayan dengan seksama. Wisma Gagak Nagara yang megah dan angker makin terasa mencekam oleh kesunyian. Yang terdengar hanya lamat-lamat suara Gagak Bayan menyampaikan pesan, perintah-perintah serta penjelasannya. Entah apa yang Gagak Bayan katakan, yang jelas expresi pendengar-pendengarnya terlihat berubah-ubah. Kadang bingung, tak percaya, takjub, tegang, senang, khawatir, dan seterusnya.
***
Memasuki hari kedua Karna menginap di Desa Arcala, ia bermalam di rumah Ki Buyut kebo Ireng yang menerimanya dengan sangat gembira. Dari apa yang diceritakan oleh Julig, ia segera mampu menebak bahwa Karna yang memperkenalkan diri sebagai Jaka Wingit adalah murid tunggal Mpu Angalas yang sakti mandraguna, ahli sastra, sekaligus misterius antara ada dan tiada. Kebo Ireng merasa sangat beruntung, di usianya yang cukup senja diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa Mpu Angalas benar-benar ada, bahkan ia bisa berbincang-bincang dengan muridnya yang berkepribadian satria sejati. Meski Kebo Ireng hanya membatin, ia menduga bahwa rencana Karna ke Kotaraja Majapahit adalah perintah Mpu Angalas, dan itu pasti ada tujuan besar di dalamnya. Maka ia tanpa diminta memberikan masukan dan menceritakan tentang apapun yang ia ketahui tentang Kotaraja. Karna memang sudah memiliki bekal pengetahuan yang cukup memadai tentang kehidupan di Kotaraja, tetapi itu hanya wawasan dasar yang terjadi 27 tahun yang lalu sejak Mpu Angalas menginjakkan kaki untuk berpamitan pada Prabu Kalagemet. Padahal, sekarang Bhumi Majapahit sudah di bawah kuasa Ratu Tribhuwana Tunggadewi. Tentu ada perbedaan gaya dan undang-undangnya, serta pejabat-pejabat istana sudah berganti. Apalagi menurut cerita Kebo Ireng, kendali pemerintahan sekarang dipegang oleh Mahapatih Gajahmada yang sangat jujur, disiplin dan bercita-cita mempersatukan Nusantara.
" Gusti Mahapatih Gajahmada berikrar mempersatukan Nuswantara dalam satu phanji Gula Klapa, Bapa?" Tanya Karna penuh takjub.
" Benar, Ananda Wingit," Kebo Ireng menjawab," Itu diikrarkan beliau saat upacara pentasbihannya sebagai Mahapatih. Beliau ingin melanjutkan usaha yang sempat tertunda Prabu Airlangga Kaswargan ( Kaswargan \= almarhum \= telah di Surga)."
" Haaaahhh....," tak sadar Julig yang ikut mendengarkan melongo.
Karna terkesima. Seketika ia membayangkan apa yang disebut Nusantara selama ini. Nuswantara adalah wilayah 'raksasa' yang selama ini dianggap dongeng masa lampau. Dari cerita yang didengarnya dari Mpu Angalas, pada jaman dahulu kala, Nuswantara adalah wilayah kerajaan tunggal teragung, terkuat, dan berbudaya sangat tinggi. Semua peradaban yang hidup di atas bumi di bawah kolong langit belajar dari Nuswantara kuno. Kemudian oleh sebuah bencana maha dahsyat berupa letusan Gunung Purba yang tidur di bawah permukaan bumi hingga membentang sampai dasar laut, kemaharajaan negara Nuswantara hancur berkeping-keping menjadi puluhan ribu pulau besar dan kecil seperti; Jawadwipa ( Jawa yang artinya rumah atau dalam ), Swarnadwipa ( Pulau emas, Sumatera), Warunapura ( Persemayaman Dewa Air, sekarang Kalimantan), Sulabesi ( Sulawesi, Pulau Besi ), Janggi ( Rempah-rempah, Irian Papua ), Seran ( Seram, Maluku), Bali, Tumasik ( Singapura), dan ribuan pulau-pulau kecil lainnya. Hancurnya kemaharajaan Nuswantara membuat penduduknya yang berhasil selamat dari bencana maha dahsyat itu berpencar ke seluruh dunia membentuk peradaban dan kerajaan baru di tempat mereka terdampar. Namun, naluri kerinduan yang tertanam secara genetik di tiap jiwa sadar para raja senantiasa mengenang dan bercita-cita untuk menyatu kembali. Sementara, kondisi geografis yang sudah sangat berubah dalam kurun ribuan tahun membuat generasi setelahnya lupa pada Kebenaran itu, sehingga menghasilkan sikap ego politik dan kesukuan yang berbeda-beda. Kerajaan-kerajaan kecil berdiri dengan kepongahan masing-masing tidak sudi takluk satu sama lain, hingga cita-cita yang pernah dicetuskan secara diam-diam oleh prabu Airlangga di masa kerajaan Kediri dianggap mimpi siang bolong yang tidak mungkin menjadi nyata. Dan kini, Mahapatih baru yang bernama Gajahmada berani menanggung kutukan itu? Seketika Karna takjub dan jatuh cinta pada cita-cita Gajahmada.
" Bahkan," Kebo Ireng melanjutkan ceritanya," Sang Mahapatih dalam sumpahnya bertekad tidak akan mengenyam kenikmatan dunia dalam ujud apapun sebelum janjinya terbayar tunai. Beliau amukti ( menikmati) Palapa ( buah yang sangat pahit ) sebagai kemewahan tertinggi."
Seisi Pringgitan ( ruang tamu) dilanda hening. Masing-masing membayangkan seperti apa ujud Mahapatih Gajahmada yang demikian agung hasratnya untuk Negara. Bagaimana caranya mewujudkan keinginan yang nyaris tak masuk akal tersebut, mengingat setiap kerajaan yang ada di Nusantara lama kini sudah memiliki corak yang sangat berbeda satu sama lain. Alamnya, bentuk pemerintahan, perilaku, bahasa, kepercayaan, seni, hingga bentuk kesaktiannya. Bagaimana cara mempersatukannya? Karna mendesahkan nafas, demikian pula Julig.
__ADS_1
" Ingat kan pesan wasiat yang kaswargan Mpu Sutasoma?" Kebo Ireng memotong lamunan Karna dan Julig, "Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharna Mangrwa. Yang artinya, secara warna dan bentuk seolah-olah beda, namun sesungguhnya hanya satu, tidak ada kebenaran yang saling bertentangan. Tampaknya itu yang diyakini oleh yang mulia Mahapatih dalam menatap Nuswantara. Apapun coraknya, sesungguhnya kita satu. Satu saudara, tak terpisah dan tak bertentangan satu sama lain."
Karna terkesiap dengan kalimat Kebo Ireng. Ia sudah hapal dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharna Mangrwa. Ternyata tafsirnya bukan hanya tentang masalah harmonisasi agama Siwa ( Hindu ) dan Budha serta agama-agama lokal lain yang jumlahnya tak terhitung. Tafsir yang digambarkan Kebo Ireng merambah sampai cara berkehidupan berbangsa dan bernegara. Sungguh dalam wasiat Leluhur sesungguhnya.
" Jika demikian, saya Jaka Wingit siap berada di barisan terdepan sebagai tombak atau bahkan sebagai alas kakinya Gusti Gajahmada dalam melangkah untuk mewujudkan cita-cita luhurnya."
Kebo Ireng tersenyum senang. Seperti dugaannya, Mpu Angalas tidak salah memilih Jaka Wingit sebagai murid tunggalnya. Semangat dan niatnya sangat murni.
" Jadi begini....," Belum sempat Kebo Ireng menyelesaikan kalimatnya, terdengar teriakan riuh warga desa memanggil namanya dari luar rumah.
' Ki Buyut....!!! Ki Buyut, gawat ! Prajurit Gagak Bayan menuju balai desa !"
Sontak Karna bangkit dari duduknya.
Tanpa sadar karena khawatir keselamatan warga Arcala yang disatroni oleh prajurit Gagak Bayan, Karna menjejak kaki menggunakan daya peringan tubuh yang membuatnya dalam sekejap telah sampai di pelataran rumah. Kebo Ireng terkesima melihat kecepatan gerak Jaka Wingit dan sadar bahwa kesaktian yang diceritakan Julig bukan isapan jempol.
" Mana prajurit Gagak Bayan? Apa ada penduduk yang terluka?" Tanya Karna dengan nada cemas.
Orang yang ditanya bukannya menjawab malah melongo. Ini demit apa manusia, kok dalam sekejap mata tanpa diketahui arah datangnya sudah sampai di pelataran balai desa?
" Ada apa? Mengapa ki Sanak diam?' tanya Karna heran.
" Eeeeee.... anu....anu," jawab yang ditanya gugup, " Anu... rombongan mereka baru masuk tugu desa!" Katanya sambil menuding ke arah tugu desa yang terlihat bayang-bayang derap beberapa kuda membawa rombongan prajurit Gagak Bayan.
Tak berapa lama kemudian, rombongan prajurit Gagak Bayan datang. Ada 8 orang prajurit dengan 8 ekor kuda. Anehnya, mereka tidak datang sendiri. Ada 3 wanita muda diboncengkan dalam rombongan berkuda itu, dan prajurit-prajurit yang biasanya bersikap tengil tidak membawa senjata, kecuali keris yang memang pasti terselip di setiap pinggang laki-laki satria sebagai tanda status. Bahkan mereka mengenakan pakaian biasa seperti orang awam tanpa atribut keprajuritan.
'' Sampurasun ! " Ludah prajurit itu memberikan salam. ( Sampurasun pada masa Majapahit adalah salam pembuka yang lazim dilakukan oleh semua pengguna bahasa Jawa Kuno dalam berbagai suku. Sampurasun berarti; permisi, saya mohon maaf).
" Rampes !"
Lurah prajurit itu mengatupkan tangan hormat pada Kebo Ireng yang sudah menyusul di pelataran dan khususnya kepada Karna yang sangat ia takuti.
" Ada kepentingan apa ki Sanak berkunjung ke sini?" Tanya Kebo Ireng agak sinis.
" Mohon maaf, Ki Buyut. Kami ke sini untuk menunaikan tugas dari Gusti Gagak Bayan. Mohon tidak menjadi salah paham. Apalagi kepada Tuan Jaka Wingit, Gusti kami sudah menyatakan takluk, jadi tidak mungkin kami yang taklukan berniat buruk melainkan menyerahkan diri kepada Anda sekalian."
" Sudaaahhh.... endak usah kalian itu plintat-plintut," Julig yang selama ini takut pada mereka menyela karena merasa kuat di sini ada Jaka Wingit yang mereka takuti. Kalau tidak sekarang, kapan lagi punya kesempatan mengejek orang-orang yang biasa sewenang-wenang itu?
" Kami tidak plintat-plintut, Julig," jawab Lurah Prajurit itu sambil sedikit melempar tatapan tajam pada Julig.
" Kalo endak plintat-plintut, ngapain omonganmu kayak kentut?" Julig mencibir. Kebo Ireng tersenyum melihat gaya muridnya yang tiba-tiba sok berani karena ada Jaka Wingit di dekatnya.
" Eh, malah melotot !" Julig meneruskan usilnya," Pengen dihajar lagi sama kakangku Jaka Wingit? Mau? Mau? Sini kau maju! Biar aku yang hajar kamu. Aku sudah diajari Bayu Bajra. Ayo maju sini !"
Mendengar kata Bayu Bajra, lurah prajurit itu trauma. Dipikirnya gertakan Julig benar. Tanpa sadar ia mundur selangkah. Sikapnya menjadi waspada, membentuk kuda-kuda. Orang-orang yang sudah berkumpul di pelataran balai desa tertawa lirih. Wajah lurah prajurit itu seketika merah menahan malu. Hatinya mendidih marah tapi begitu melirik Jaka Wingit, seketika nyalinya ciut dan menundukkan muka.
__ADS_1
Karna merasa kasihan. Ia menatap Julig agar berhenti mempermalukan para prajurit Gagak Bayan. Julig membalas dengan gaya cengengesan, " Baiklah, baiklah. Kali ini aku ampuni kalian."
" Kakang Lurah," kata Karna memutuskan godaan Julig, " Apa yang ingin Anda sampaikan, silahkan."
Lurah prajurit itu tersenyum lega. Dalam hatinya kian memuja kepribadian Jaka Wingit yang tidak pernah membiarkan orang terhina meskipun sudah jelas kalah. Andai saja Gagak Bayan sebagai junjungannya memiliki sifat mulia seperti Jaka Wingit, tanpa dibayar pun dia rela mengabdi sampai mati, demikian batinnya.
" Terima kasih, Tuan Jaka Wingit. Nama saya Hangsa, diutus oleh Gusti Gagak Bayan untuk mengantarkan kembali 3 dayang-dayang asal Arcala untuk kembali ke rumah orangtuanya sebagai orang merdeka. Tadi pagi Gusti Gagak memberikan surat kebebasan kepada semua gundik dan dayang-dayang yang memilih untuk kembali ke rumahnya dengan dibekali masing-masing 5 keping emas uang Ma sebagai pesangon agar bisa digunakan untuk kehidupan sekaligus modal membangun rumah, sawah atau beternak. Juga Gusti memberi surat pembebasan hutang kepada semua warga Arcala yang menunggak pajak maupun yang berhutang secara pribadi. Ini semua karena didasari syukur Gusti kami setelah diampuni nyawanya oleh Tuan Jaka Wingit. Beliau bertekad memulai hidup dalam Dharma. "
" Benarkah katamu?" Kebo Ireng bertanya nyaris tak percaya akan apa yang didengarnya.
" Benar, Ki Buyut. Bahkan sekarang kamipun bukan prajurit lagi, tetapi abdi dalem Gagak Nagara. Gusti Gagak Bayan telah membubarkan kekuatan keprajuritannya agar tidak bertentangan dengan hukum Negara Majapahit."
Karna meskipun masih menyimpan keraguan, namun ada rasa syukur juga ternyata apa yang terjadi kemarin telah membawa kebaikan bersama. Sementara Ki Buyut Kebo Ireng berjalan mendekati tiga perempuan muda asal Arcala yang sempat dijadikan budak napsu oleh Gagak Bayan dengan kedok sebagai Dayang.
" Sumi, Ratri, Widya, apa kalian diperlukan dengan baik dan benar-benar dimerdekakan?" Kebo Ireng bertanya dengan tatap mata menyelidik.
Tiga perempuan itu menghatur sikap hormat dan menjawab," Benar, Ki Buyut. Kami dimerdekakan dan diberi pesangon masing-masing 5 keping Ma Emas."
Kebo Ireng tersenyum, " Puji syukur pada Dewata yang Agung."
Karna mengangguk-angguk lega.
Belum sempat rasa bahagia ternikmati, tiba-tiba dari arah timur laut berderap seekor kuda dengan pengendara seorang remaja seumuran Julig.
" Julig...!!! " Pengendara kuda itu berteriak. " Celaka ! Gagak Bayan dan prajuritnya menyatroni rumah Savitri !" Rupanya pengendara itu adalah teman Julig dari desa Dahayu yang ditugaskan mengawasi rumah Savitri.
Mendengar nama Savitri disebut, Karna tanpa pikir panjang segera memanggil kudanya.
' Gelaaaap....!"
Terdengar ringkikan disusul sosok kuda Gelap yang sudah berlari ke samping Karna siap ditunggangi. Si Gelap memang kuda yang sangat cerdas. Hanya butuh waktu 2 hari, ia sudah mampu sejiwa dengan Karna sebagai majikan barunya.
" Aku ikut, Jaka Wingit !" Kebo Ireng yang penasaran pun segera menaiki pelana kudanya. Sementara Julig tanpa diminta sudah duduk membonceng Karna.
" Tunggu !" Hangsa sang lurah prajurit mengangkat tangannya, " Ini pasti kesalah-pahaman !"
" Diam kau, Hangsa !" Kebo Ireng membentak keras. "Kalian memang pendusta laknat! Kalian disuruh bermanis-manis di sini untuk menahan agar Jaka Wingit tidak ke Dahayu biar Gagak Bayan bebas menculik Savitri kan? Sekarang, kalian semua prajurit jadi-jadian keluar dari desaku! Sekarang juga !"
" Tapi Ki Buyut, kami...."
" Pergi dari Arcala ! Sekarang !" Kebo Ireng menghardik penuh kemarahan.
Melihat ekspresi kemarahan yang memuncak dari Kebo Ireng, Hangsa memutuskan untuk mundur. Ia perintahkan seluruh anak buahnya kembali ke Wisma Gagak Nagara.
Karna, Kebo Ireng, dan Julig tidak membuang waktu. Dengan kekhawatiran yang sangat besar takut terlambat datang, mereka memacu kuda sekencangnya menuju Dahayu. Kali ini mungkin Karna tidak akan memaafkan lagi Gagak Bayan bila terjadi hal yang buruk terhadap Savitri.
__ADS_1
" Savitri, tunggu aku, " bisik Karna dalam hati yang teraduk-aduk oleh rasa khawatir, marah, dan rindu pada sosok wanita yang baru dikenalnya dalam satu tatapan mata.
***