
Usai mampu mengendalikan sengatan tenaga raksasa yang menerobos dan menguasai tubuhnya, Karna ingat tentang ajian Sapu Jagad. Kepada Kidang Panah dan Julig, ia menceritakan sedikit tentang watu lintang ( meteor ) Sapu Jagad yang diberikan oleh gurunya saat malam perpisahan mereka di alas Sunyakama ( lihat episode1). Ia tidak menyangka, malam ini daya tersembunyi dari meteor itu aktif dan mengeluarkan energi sedahsyat itu.
" Jadi ajian Sapu Jagad yang kau miliki sifatnya anugerah alam seperti Murli Katong yang tidak bisa dipelajari namun tahu-tahu merasuk dalam tubuhmu dengan perantara watu lintang yang bersinar tadi?" tanya Kidang Panah.
" Benar, Kang. Tapi aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara menggunakan ajian ini. Bahkan ketika dayanya tiba-tiba bangkit seperti tadi, seluruh tubuhku tak berdaya diterobos begitu saja tanpa aku mampu mengendalikan, apalagi melawannya. Dan aku juga tidak tahu, mengapa tiba-tiba watu lintang ini membara dan menyengatkan tenaganya?"
Julig yang sedari tadi menyimak cerita Karna menyeletuk, " Tadi kang Wingit cerita kalau Bapa Mpu Angalas berpesan bahwa ajian Sapu Jagad akan bangkit dengan sendirinya saat Kakang menyelesaikan tugas atau memberikan satu Dharma bhakti kepada kebaikan atau Negara. Bisa jadi saat sekarang kita sudah mendapatkan titik terang untuk mencari cincin cap Mahapatih, itu termasuk bagian proses keberhasilan Kang Wingit berbakti pada Negara. Jadi ajian Sapu Jagad bangkit dayanya untuk mendukung Kakang menyelesaikan tugas ini."
Kidang Panah mengangguk-angguk, " Bisa jadi yang dikatakan Anak Kancil ini benar."
Julig yang sudah lega setelah melewati satu hari yang sangat mendebarkan penuh pertaruhan nyawa kumat lagi cengengesannya, " Kapan sih Jaka Julig ndak berkata benar? Kalau aku ndak jadi perempuan dan ngasih saran Kang Kidang mengancam Panembah Swara dengan menghancurkan seruling, apa bisa dapat sobekan surat Mahapatih?"
" Iyaaaaaaa....!!!" sahut Karna dan Kidang Panah nyaris bersamaan. Dengan gemas Kidang Panah menepuk pelipis Julig pura-pura ingin menempeleng.
Julig terkikik meloncat menghindari tangan Kidang Panah yang sudah terulur.
Merasa kehilangan sasaran, Kidang Panah mengubah arah tangannya untuk menepuk-nepuk pundak Karna. Ia sudah tidak merasa sengatan listrik lagi," Nanti kalau kita ketemu guruku Mpu Kuricak, kalau mau, kau bisa tanya bagaimana cara mengendalikan mustika langit itu. Siapa tahu karena guruku seperguruan dengan gurumu Mpu Angalas, beliau memiliki pemahaman tentang itu."
" Iya, Kang. Saya akan tanyakan itu kepada Paman Guru, " sahut Karna.
Setelah merasa siap, 3 Ksatria berbeda karakter dan kemampuan itu berpamitan kepada pemilik warung. Saat berpamitan, Kidang Panah memberi sejumlah uang kepada Bagya untuk memperbaiki dinding warung yang jebol. Meski berkali-kali Bagya menolaknya dengan alasan bahwa semua biaya mereka sudah ditanggung oleh pihak Wilwatikta, namun Kidang Panah berkeras memberikan uang yang lebih dari cukup kepadanya. Untuk Bregas, Kidang Panah menambah uang terimakasih atas bantuannya menemukan Panembah Swara berupa satu keping lagi uang Ma emas yang diterima oleh Bregas dengan cucuran air mata haru. Tak disangka orang dengan pembawaan setegas dan sekejam Kidang Panah sejatinya sangat dermawan dan baik hati pada bawahannya. Dari Mpu Kuricak, Kidang Panah memang diberi bekal uang dan perhiasan emas permata yang sangat banyak untuk menyelesaikan tugas tugas ini. Dasar Kidang Panah memiliki kegemaran menolong orang miskin, sekali ia memegang harta benda, pasti dihamburkan untuk membantu orang yang kekurangan. Pada saat melihat pancar bahagia di mata orang miskin, Kidang Panah sangat senang.
__ADS_1
" Kau benar-benar sudah pulih kondisi tubuhmu, Wingit?" tanya Kidang Panah sembari meletakkan di kantong pelana kuda bekal jerami untuk kuda dan makanan kering untuk mereka bertiga selama dalam perjalanan.
" Kondisi tubuhku sangat baik, Kang. Bahkan sekarang setelah tenaga Sapu Jagad terkendali, rasanya sangat bugar seperti baru bangun tidur. Malah seperti dapat tambahan tenaga, lebih segar dari hari-hari sebelumnya."
Belum sempat Kidang Panah menjawab, Julig menyeletuk, " Wah, kebetulan sekali kalau tambah kuat, Kang. Nanti kalau aku lelah, Kang Wingit bisa nggendong aku. Tapi karena sekarang aku sudah naik kuda sendiri, aku ndak usah turun dari kuda. Jadi Kang Wingit nggendong kuda Seta sambil aku tetap duduk di punggungnya. Kan bisa saja kuda lelah?"
Kidang Panah menahan tawanya membayang Karna menggendong kuda yang sedang dinaiki Julig, " Heh, Anak Kancil gak tahu sopan santun, sini kutempeleng kau berani kurang ajar sama kakangmu Wingit!"
Tapi Julig sudah mendahului dengan mencongklang Kuda Seta yang laju larinya sejajar dengan Kuda Gelap milik Karna. Sementara kuda milik Kidang Panah meski juga kuda bagus tapi tak sebagus dua kuda itu.
Julig tertawa terbahak-bahak mengejek kuda Kidang Panah yang tak berhasil mengejarnya.
Kidang Panah berteriak, " Anak Kancil, kau jangan sok tahu lari paling depan. Memang kau tahu jalan ke Kotaraja?"
" Kurang ajar! " seru Kidang Panah menikmati waktu bercanda seperti saat ia menggoda adiknya, " Sekali kau kutangkap, aku gunduli kepalamu biar tidak bisa menyamar lagi jadi perempuan.'
" Siniiiii....siniiiii...kejar aku kalau mampu. Ingat kan kata Panembah Swara musuh besar Kakang itu, bahwa seorang Ksatria dinilai dari perbuatannya, bukan dari kata-katanya. Buktikan saja kalau kang Kidang mampu mengejar aku!"
Kidang Panah makin gemas, ia menepuk perut kudanya agar berlari makin kencang. Namun akan dipaksa dengan cara apapun, kuda Kidang Panah tetap tidak mampu menyejajari kualitas kuda Seta millik Julig.
Menyadari Kidang Panah berusaha memacu laju kudanya melebihi batas kemampuannya, Julig sengaja memperlambat laju lari kudanya.
__ADS_1
Beberapa kejap kemudian, Kidang Panah sudah berada tepat belakang punggung Julig. Tangan kirinya terulur untuk menjitak kepala Julig. Julig yang sengaja menggoda Kidang Panah tahu bahwa Kidang Panah akan menjahili dirinya. Ia menghentak tali kekang kuda Seta sehingga kakinya setengah melompat kencang meninggalkan kuda Kidang Panah.
Tangan Kidang Panah yang sudah melayang untuk menjitak kepala Julig menemui sasaran kosong.
Julig tambah kesenangan menggoda Kidang Panah yang sangat menyayanginya, " Hahaha...makanya, beli kuda yang bagus. Kalau aku sih kuda macam gitu pantasnya disate saja. Lagian, wong punya duit paling banyak kok kudanya paling jelek. Malu dong! Jadi orang itu ndak usah ngirit-ngirit. Orang kaya tapi ndak berani beli kuda bagus itu bukan ngirit namanya, tapi pelit! "
Kidang Panah geram disebut pelit.
" Awas kau ya Anak Kancil kurang ajar. Nanti di kota pertama kita singgah, aku beli kuda termahal, terbagus yang ada di situ. Kita balapan di jalan! "
" Sudaaaahhh....sudah, Kang! Sekali lagi, ingat-ingat pesan musuh besar Kakang si Panembah Swara, bahwa Ksatria itu dinilai dari bukti, bukan omongannya. Buktikan dulu, baru nantang balapan lawan kuda Seta. Jangan omong dulu baru balapan. Hahahaha.... "
Kidang Panah tidak bisa menahan tawanya, " Hahaha....kurang ajar kau, Siluman Kancil!'
Karna tersenyum melihat tingkah Kidang Panah dan Julig yang sudah demikian dekat seperti kakak beradik memanfaatkan waktu luang untuk bercanda setelah seharian bersabung nyawa.
Sementara waktu menggelincir ke tengah malam. Bulan malu-malu berpendar sedikit di balik awan. Depak kaki diiringi sesekali ringkik kuda membelah malam merobek sunyi.
Di belahan lain tempat mereka sedang menuju, di belakang jajaran gunung, hutan, dan sungai, Kotaraja Majapahit tengah menggeliat. Berbenah mengukir sejarah baru yang nantinya akan membentuk wajah Nusantara selama beberapa abad ke depan. Di Wilwatikta tempat bertahta Ratu Agung Tribhuwana Tunggadewi (1328-1350), duduk di bawahnya seorang Ksatria, sang organisator ulung, perancang strategi perang, pendekar pilih tanding, seorang penghayat kebijaksanaan Buddha yang terbiasa mewawas pikiran sedang memutar nalar dan perasaan untuk merekrut orang-orang terbaik di antara kawula Majapahit sebagai tangan kanannya.
Orang yang memiliki cita-cita agung dengan latar belakang keluarga yang tidak jelas itu bernama Gajahmada. Dan 3 Ksatria Bhumi Majapahit sedang menuju ke arahnya untuk membantunya dengan segala taruhan daya, upaya, raga, pikiran, bahkan nyawa.
__ADS_1
***