
" Sudah mantap tekadmu untuk ikut aku?" tatap Upas Bumi dengan mata tajam.
" Sepenuh hati, Kangmas, " jawab Gagak Bayan.
" Kau harus tahu kalau ini gerakan besar. Nantinya bukan hanya aku, kau, dan Ksatria Rum yang terlibat. Banyak pembesar di dalam dan di luar istana yang akan ikut. Artinya, sekali masuk, tidak ada jalan untuk keluar. Sekali maju, tidak ada jalan untuk berputar. Kalau berhasil, tahta kerajaan imbalannya. Tapi kalau sampai gagal, nyawamu sendiri bayarannya. Karena ini jelas makar pada Majapahit. Jadi, sekali kau berkhianat yang berarti terbongkarnya rencana kita, kepalamu lepas dari leher. Maka angkat sumpah sekarang juga kalau kau ingin melanjutkan. Jika tidak, mundur dan lupakan pembicaraan ini, jangan pernah ceritakan tentang ini pada siapapun, atau kami terpaksa melenyapkanmu."
Gagak Bayan tersenyum datar. Dalam hatinya tertawa melihat Upas Bumi terlalu menganggap remeh dirinya. Mungkin karena selama ini kemampuan silat mereka setara. Namun Upas Bumi belum tahu bahwa kadigdayan Gagak Bayan sudah meningkat pesat, ditambah ajian Bayu Bajra yang telah dikuasainya, kekuatannya jauh berlipat-lipat. Bila saatnya tiba, membunuh Upas Bumi bukan hal sulit baginya.
" Aku, Gagak Bayan, bersumpah dengan saksi Bapa Angkasa dan Ibu Bumi, bersungguh turut serta dalam gerakan ini, dan bila berkhianat, biar kutuk leluhur menimpaku, " ucap Gagak Bayan mantap.
" Baik jika demikian, kita berbagi tugas. Aku akan menemui Ksatria Rum, sedang kau siapkan seorang saudagar kayu untuk membujuk penduduk desa agar bersedia menjual sebatang pohon utuh dari hutan."
" Maksudnya, Ksatria itu belum memiliki pohon yang itu?" tanya Gagak Bayan.
" Justru itu masalahnya. Hutan tempat tumbuhnya pohon itu hutan sakral. Tidak ada orang luar yang diijinkan mengetahui keberadaan hutan itu. Apalagi orang kulit putih yang mereka anggap siluman bermata biru, jelas tidak mungkin. Maka tugasmu sekarang adalah mencari pedagang kayu yang pandai membujuk . Kalaupun mereka tidak bersedia menjual sebatang pohon, setidaknya ada penduduk desa itu yang mau menunjukkan letak hutan keramat itu. Sementara aku dan Ksatria Rum memastikan kapal yang akan mengangkut kayu itu ke Negeri Atas Angin. Paham?"
Gagak Bayan mengangguk pelan. Rupanya pekerjaan yang harus dia lakukan tidak semudah yang dibayangkan sebelumnya. " Baik, aku sanggup, " jawab Gagak Bayan meski belum memiliki bayangan pedagang kayu yang dimaksud.
Setelah mendengar kesanggupan Gagak Bayan, Upas Bumi memberi informasi nama desa dan wilayah tempat Ksatria Rum melihat potongan kayu itu. Ia memberi waktu satu bulan sebelum mereka sepakat bertemu di Kotaraja bertiga dengan Ksatria Rum.
***
Sementara di ujung utara wilayah percikan Gagak Nagara, desa Dahayu masih memapar asri sebagaimana biasanya dengan keindahan alam dan jelita dara penghuninya. Masuk menerobos ke tengah, berdiri rumah paling besar dan megah tempat Suta saudagar kayu dan peternak besar yang namanya dikenal sampai ke Kadipaten-kadipaten yang jauh hingga batas Kotaraja. Sepeninggal Karna, nama Suta kian menjulang dan dihormati sebagai saudara angkat Ksatria Angker penguasa sesungguhnya dari Gagak Nagara. Apalagi putri tunggalnya Savitri yang kecantikannya tidak kalah dari putri bangsawan tinggi, adalah legenda hidup bukti adanya perawan desa yang pesonanya setara Ratu. Hanya bedanya, kalau dulu para pria perjaka sampai orang tua yang kaya raya berlomba-lomba menarik hati Savitri, sekarang tidak. Kabar yang sangat santer berhembus bahwa Savitri telah mengikat janji asmara dengan Jaka Wingit sang Ksatria Angker, membuat semua laki-laki ciut nyalinya untuk bersaing. Apalagi dalam hati mereka juga bersyukur, memang sudah selayaknya seorang dara seanggun itu berpasangan dengan laki-laki sesakti penguasa sejati Gagak Nagara. Maka dengan ketiadaan goda rayu semua orang, yang dilakukan Savitri hanya meningkatkan ketrampilan kaputren ( tugas-tugas kewanitaan) agar kelak sempurna sebagai wanita pilihan saat Jaka Wingit datang meminang.
Seperti pagi ini, Savitri tampak sibuk merajut kain yang rencananya akan dibuat sebagai selendang untuk dipersembahkan kepada Jaka Wingit. Suta dan istrinya sudah paham, hampir semua karya kewanitaan yang Savitri cipta ditujukan untuk Karna. Mereka membiarkan dan ikut mendukung hal itu, meski di hati terdalam terselip juga kekhawatiran mengingat tugas yang diemban Jaka Wingit bukan tugas yang ringan sehingga waktu kedatangannya tidak dapat diperkirakan secara pasti. Belum lagi mengingat sifat kesetiaan laki-laki yang sulit dipegang keteguhannya bila di perjalanan menemui wanita cantik yang lain, apalagi tujuan Jaka Wingit adalah Kotaraja yang penuh putri saudagar dan bangsawan, tentu akan bertemu dengan banyak sekali wanita menarik. Yang dapat mereka lakukan hanya mendukung dan menyebut dalam doa nama Savitri dan Jaka Wingit agar berjodoh di kemudian hari.
" Kau bikin apa, Savitri?" tanya Suta saat melihat putrinya duduk bersimpuh di lantai sambil menata kain dan helai benang warna-warni.
" Selendang, Romo, " ujar Savitri lembut. Cara bicara Savitri memang selalu lembut karena sedari kecil dididik adab bicara kebangsawanan.
" Oh... ternyata kau juga bisa menggambar wayang..Aduh, aku terlalu sibuk pergi ke sana ke mari sampai tidak tahu kalau putri cantikku bisa membuat sulam gambar wayang. Apa ini?" ujar Suta memicingkan matanya membolak-balik sulaman yang sudah jadi, " Oh...wayang Arjuna Wiwaha karya yang kaswargan Mpu Kanwa ternyata. Bagus sekali."
__ADS_1
Savitri tersenyum bangga, " Benar, Romo. Itu Arjuna dengan Dewi Suprabha saat menyelamatkan Kahyangan."
" Ya...ya...ya, aku tahu. Terus ini bidadari-bidadari yang lain sedang iri melihat kemesraan mereka. Hahaha...kamu yang jadi Dewi Suprabhanya ya, Savitri?"
Savitri tertawa lirih tanpa memperlihatkan giginya yang kecil-kecil tertata, " Ah tidak, Romo. Saya tidak secantik Dewi Suprabha."
" Siapa bilang putriku tidak secantik Dewi Suprabha? Buktinya semua laki-laki yang melihat kamu pasti langsung jatuh cinta."
" Tidak juga, Romo. Buktinya sekarang tidak ada laki-laki yang datang ke sini untuk melihat saya."
" Hahaha...itu karena mereka takut sama Arjunamu yang sekarang sedang di Kotaraja. Ya kan?"
Diingatkan Kotaraja yang berhubungan dengan Jaka Wingit yang selalu ada dalam pikirannya, pipi Savitri bersemu merah jambu antara rindu, resah, dan malu tersipunya seorang perawan. Sutapun sedikit menyesal melihat Savitri jadi menundukkan wajah seperti sedang terbebani suatu pikiran.
Bapak dan anak itu jadi terdiam tanpa bicara. Savitri kembali menenggelamkan diri dalam kesibukan menyulam selendang yang masih setengah jadi.
Ada sekitar sepenjarangan air mereka terdiam hingga terdengar ringkik kuda dan depak kaki memasuki pelataran rumah.
" Ada tamu datang tampaknya, Nok, " ujar Suta seraya berdiri untuk melihat siapa yang datang.
' Hmmm....Gagak Bayan. Ada apa dia ke sini? Tidak biasanya dia mendatangi warga, apalagi sudah lama dia tidak keluar dari Wisma, " ucap lirih Suta.
Mendengar nama Gagak Bayan disebut, Savitri buru-buru meringkas kain dan benangnya untuk dibawa ke dalam sentong ( kamar). Ia segera berdiri dan melangkah cepat agar Gagak Bayan tidak sempat melihat dirinya.
" Kau tidak ingin memberikan salam padanya, Nok? Dia bukan musuh kita lagi. Sudah menganggap aku dan Jaka Wingit saudara."
Savitri menggelengkan kepala, " Saya tidak percaya padanya, Romo. Maaf, kalau boleh, jangan sampai manusia satu itu melihat saya," sahut Savitri dengan nada tak suka.
" Kalau kau tidak nyaman, Romo juga tidak akan memaksa. Masuk saja ke Dalem."
"' Sampurasun, Kang Suta, " suara Gagak Bayan kembali terdengar menyerukan salam yang belum dijawab dari seberang pendapa.
__ADS_1
Suta buru-buru berjalan sambil menjawab, " Rampes. Sebentar saya ke sana, Ki Sanak, " sambung Suta pura-pura belum tahu siapa yang datang.
" Oh, rupanya Dhimas Gagak Bayan yang datang. Pantas saja burung prenjak ngoceh sedari tadi. Rupanya gubuk saya dapat kunjungan tamu agung."
Gagak Bayan tertawa palsu, " Hehe...ah Kang Suta ini. Tamu Agung apanya, ini seorang adhi sowan pada kakangnya kok dibilang tamu agung."
" Haha...bisa saja Dhimas Gagak ini. Angin apa yang sedang berhembus hingga seorang priyagung tertiup sampai ke desa Dahayu?"
" Entah sudah berapa bulan kita tidak bertemu sejak Gusti Jaka Wingit meninggalkan Gagak Nagara, sampai akhirnya Dewata memberi petunjuk bahwa saya harus sowan Kang Suta untuk mohon saran sebagai sang Mpu, sang ahli di masalah yang sedang saya hadapi.'
Suta mengerutkan alisnya. Tampaknya kedatangan Gagak Bayan kali ini membawa kepentingan. Sebagai pedagang besar, Suta memiliki naluri yang tajam pada suatu peluang usaha.
" Oh... sepertinya ada yang sangat mendesak. Mari silahkan mengisap kinang dahulu, tentu dhimas tahu aroma getah daun sirih Dahayu paling halus di seluruh gunung Mahendra."
Gagak Bayan segera meramu kinang yang disodorkan oleh Suta. Setelah menghisap paduan tembakau, cairan belerang, pinang dan getah daun sirih yang menyengat melonggarkan paru-paru, ia berbisik, " Ini bidang yang dikuasai Kang Suta sebagai ahlinya kayu. Saya ingin membeli kayu langka, kayu yang luar biasa dari pohon sakral yang belum diketahui namanya."
Suta yang sudah puluhan tahun mendalami bidang perniagaan kayu memajukan wajahnya sangat tertarik oleh cerita Gagak Bayan. Sepengetahuannya, tidak ada jenis kayu yang belum ia ketahui.
" Kayu Sakral yang belum diketahui namanya? Kayu apa itu?"
Gagak Bayan merendahkan nada suaranya agar terdengar lebih dramatis. " Itulah Kang Suta, makanya saya datang ke sini menemui ahlinya. Karena setahuku, segala jenis kayu yang ada di Nusantara pernah Kang Suta perjual-belikan. Jadi mungkin ini hanya masalah pengetahuan saya yang kurang sehingga tidak tahu namanya. Sementara kalau Kang Suta yang melihat kayu itu, pasti Kang Suta tahu."
" Sebentar, Dhimas Gagak. Tadi adhi bilang kalau itu kayu Sakral, lalu untuk apa dhimas ingin membelinya?"
Gagak Bayan menghela napas panjang sebelum berkata dengan nada dalam, " Kang Suta tahu, selama ini sebelum saya disadarkan oleh Gusti Jaka Wingit, saya terlalu banyak melakukan perbuatan buruk yang merugikan Negara Majapahit. Jadi maksud saya membeli kayu itu dalam jumlah satu pohon utuh untuk saya gunakan sebagai upeti penebus dosa saya. Kayu itu akan saya haturkan kepada Yang Mulia Maharatu Tribhuwana Tunggadewi."
" Untuk Maharatu? Seberharga itukah kayu itu sampai layak menjadi persembahan bagi Maharatu Wilwatikta?"
" Iya, sangat-sangat berharga. Karena Ratu sendiri belum tahu bahwa di Bhumi Majapahit ada jenis kayu terbaik di muka bumi yang dapat digunakan untuk membangun armada kapal perang terdahsyat di dunia. Maka saya mohon bantuan Kang Suta untuk mendapatkan kayu itu. Saya sanggup membayar dengan harga setinggi-tingginya bila Kang Suta mampu mendapatkan sebatang pohon utuh kayu itu."
Suta menatap mata Gagak Bayan untuk menilai kebenaran cerita yang ia sampaikan. Demi melihat kesungguhan yang terpancar, niat mulia, sekaligus rasa penasaran akan jenis kayu yang belum pernah ia saksikan, Suta mengangguk tanpa ragu, " Untuk kepentingan Negara, saya siap membantu."
__ADS_1
Gagak Bayan tersenyum lebar. Kesanggupan Suta seperti jaminan bagi keberhasilannya untuk mendapatkan kayu itu. Sehingga ia bisa memulai membuat rancangan yang lebih jauh ke depan lagi, cara membunuh semua saksi yang terlibat dalam transaksi rahasia ini. Terutama Suta.
***,,