
Kidang Panah membentangkan sobekan surat di lantai untuk dibaca bersama Julig dan Karna. Rupanya mereka mendapatkan sobekan surat bagian atas, sedang sang penculik bagian bawah. Di atas kiri surat itu terdapat cap-capan ( tanda stempel) dari Mahapatih Gajahmada yang berupa cairan lilin yang telah mengeras. Mereka bertiga mengamati gambar stempel itu, karena cincin cap dengan motif gambar itulah yang mereka buru.
" Julig dan Karna sudah hapal di luar kepala corak capnya?"
" Sudah hapal, Kang, " sahut Julig dan Karna nyaris bersamaan.
" Bagus,, sekarang kita baca isi suratnya, " ujar Kidang Panah.
Karna mengerutkan keningnya. Sobekan kain surat yang dibawa Kidang Panah berwarna putih polos tanpa tulisan sama sekali. Apanya yang mau dibaca?
" Maaf, Kang Kidang. Itu bukannya kain kosong tanpa tulisan? " tanya Karna polos.
Kidang Panah menggelengkan kepalanya. Tak disangka ternyata ada juga seorang pendekar muda yang sangat sakti seperti Karna namun benar-benar tidak tahu sama sekali trik dunia ramai. Pantas saja ia harus didampingi Julig untuk belajar pengetahuan praktis.
" Ini bukan surat kosong. Tapi tulisannya disembunyikan."
" Ooooo..." Karna manggut-manggut.
" Julig, tolong ambil obor itu ke sini!" ujar Kidang Panah.
Setelah obor datang, Kidang Panah membentangkan lembaran kain itu dekat api agar mendapatkan suhu panas.
Perlahan-lahan, tulisan tersembunyi muncul dari lembaran kain. Rupanya tulisan itu dibuat dengan campuran perasan jeruk nipis dan getah bawang sebagai tintanya, sehingga saat mengering tulisan itu tidak terlihat, hanya bila dihangatkan di dekat api, tinta kering itu akan sedikit mencair sehingga memperlihatkan bercak kecoklatan yang bisa dibaca. Itu adalah salah satu cara menyembunyikan tulisan di surat yang bersifat sangat rahasia pada waktu itu. Ada juga tehnik lain yang berlawanan, di mana untuk bisa membaca pesan tersembunyi justru dengan membasahinya dengan air.
Jari yang lepas harus sudah tersambung sebelum Purnama datang.
Terakhir jari itu diketahui tergeletak di Demang Sur....
Pesan lanjutannya sobek. Tidak diketahui siapa Demang Sur yang dimaksud.
Kidang Panah mendengus geram dan memukulkan tangannya sehingga ubin batu kali yang terpasang di lantai retak, " Keparat! Mau tidak mau kita harus merebut sobekan surat itu untuk tahu siapa Demang ( pejabat setingkat Camat atau dibawah Bupati) Sur yang dimaksud. Kuduga sobekan surat itu berisi nama lengkap dan tempat tinggal Demang itu! "
Karna dan Julig tanpa sadar menghela napas dalam menyadari kesulitan yang sedang mereka hadapi.
__ADS_1
" Julig, kau paham arti surat itu?" Kidang Panah bertanya untuk menguji sejauh mana kecerdasan Julig sehingga dipercaya oleh Karna untuk terlibat dalam tugas besar ini.
Julig yang sejak diceritakan tentang pentingnya tugas itu membuang kebiasaan cengengesannya, menjawab dengan mimik muka serius, " Saya duga, jari yang lepas artinya cincin cap Mahapatih, tersambung berarti ditemukan, jari pertama kali tergeletak maknanya surat palsu yang beredar pertama kali diketahui berasal dari Demang Sur. Artinya, sebelum Purnama tiba kita harus sudah menemukan cincin cap yang hilang yang diduga ada di tangan Demang Sur. Apa begitu, Kang Kidang?"
" Tepat sekali," ujar Kidang Panah puas dengan keputusan Karna yang melibatkan Julig yang terbukti sangat cerdas dan cepat cara pikirnya.
" Artinya lagi, kita tidak punya banyak waktu. Besok tepat tithi 1 Suklapaksa. Purnama mendatang tinggal 15 hari lagi. Perjalanan ke Kotaraja paling cepat 5 hari. Kita hanya memiliki waktu sisa 10 hari. Kuperkirakan kita perlu waktu 7 hari paling cepat untuk mampu menemukan cincin itu begitu sampai di tujuan. Padahal kita belum tahu tujuan kita ke mana karena surat itu tersobek. Jadi kita tidak punya pilihan lain selain merebut potongan surat itu. 10 hari dikurangi 7 hari, artinya paling lama 3 hari kita harus sudah merebut kembali sobekan surat itu agar memperoleh petunjuk lengkap ke mana kita harus pergi selanjutnya. Padahal kita juga belum tahu siapa penculik berseruling itu."
Julig dan Karna menyimak perhitungan waktu yang diutarakan Kidang Panah. Benar apa yang diucapkan Kidang Panah, mereka hanya memiliki waktu sisa 10 hari karena perjalanan ke Kotaraja paling cepat memakan waktu 5 hari. Besok pagi tepat tithi (tanggal ) 1 Suklapaksa ( paroterang atau separuh bulan yang berakhir di tanggal 15 sebagai purnama penuh). Setelah Suklapaksa berakhir, paruh bulan berikutnya disebut Kresnapaksa ( parogelap tanpa Purnama) di mana segalanya sudah terlambat karena Mahapatih Gajahmada mungkin memiliki agenda yang tidak bisa diundur lagi.
Kidang Panah mendengus kesal, " Aku benar-benar tidak punya gambaran sedikitpun tentang penculik itu. Harusnya ini tidak terjadi kalau kau tidak menyuruh aku berhenti memburunya, Karna."
" Kalau dia tidak pergi, mungkin saja kita bisa meringkus atau membunuhnya, Kang Kidang. Tapi banyak orang tak berdosa yang tewas kalau ia terus meniup seruling selagi Kakang berupaya menahan serangannya. Bagi Kang Kidang yang memiliki kekuatan pasti tidak masalah, tapi saya lihat orang-orang sudah bergelimpangan karena gendang telinga mereka terluka. Sekejap saja tiupan serulingnya dilanjutkan, bisa saja jantung mereka terhenti. Maaf, saya tidak bermaksud melawan Kakang, tapi apa kita harus membiarkan banyak orang mati hanya untuk mengejar satu kemenangan?" sahut Karna membela diri.
" Tadi dia lari setelah kau pukul dengan Tapak Dahana. Kalau kau benar-benar ingin menghentikannya dan merebut sobekan surat itu, harusnya kau kerahkan seluruh tenagamu saat memukulnya. Apa saat itu kau sudah mengerahkan seluruh tenagamu? Tidak kan? Kau hanya memukul untuk mengusirnya, tapi tidak untuk menghentikannya dan merebut sobekan surat itu. Harusnya kau membunuhnya, maka selesai urusan. Kita tidak pusing-pusing lagi membuang waktu untuk melacak keberadaannya."
" Penculik itu masih menyandera seorang ibu yang menjadi penghubung kita. Andai saya memukulnya dengan sepenuh tenaga, siapa yang terbunuh, Kang? Penculik itu akan mati, ya itu tidak jadi masalah. Tapi pukulan Tapak Dahana tidak punya mata, ibu yang tidak berdosa itu akan tewas terpanggang juga, Kang Kidang. Itulah sebabnya saya tidak menggunakan seluruh tenaga."
" Itulah kau, Wingiit! Itulah kau manusia suci ttapi bodoh! Kau tidak mampu memilah mana yang harus didahulukan. Harusnya kau bisa memilih, mana kepentingan yang lebih besar dan mana pengorbanan yang lebih kecil. Biarkan saja ibu itu mati sebagai bhaktinya kepada Negara. Karena yang kita urus sekarang menyangkut nyawa seluruh kawula Majapahit, bukan satu atau dua nyawa saja yang harus dipertahankan. Kalau ibu itu tewas, mungkin itu adalah jalan pembebasan baginya akan karma pribadi yang tidak kita tahu!"
" Dasar anak kemarin sore keras kepala!" Kidang Panah menatap mata Karna dengan gusar. " Kau harus mulai mengenal kenyataan dunia di luar hutan tempat kau tinggal selama ini, bahwa ada aturan membunuh atau dibunuh. Paham?"
Karna tersenyum getir melihat Kidang Panah yang tampak panik menghadapi situasi sulit sehingga temperamennya berubah. Tampak jelas kondisi kejiwaan Kidang Panah belum stabil. Mungkin ada pengaruh juga dari caranya mempelajari ilmu yang serba hitam.
Sementara Julig kebingungan melihat dua pendekar sakti yang sudah dianggap sebagai kakaknya tiba-tiba terlibat perdebatan yang penuh emosi.
" Sudah, Kang....sudaaahhh... pertengkaran tidak menyelesaikan masalah, " ujar Julig.
Karna menepuk bahu Julig, " Tenang, Julig. Aku dan Kang Kidang tidak bertengkar. Hanya ada yang harus dibicarakan, diluruskan, disepakati, agar ke depan tidak ada salah pengertian saat kita bersama menyelesaikan tugas ini."
Kidang Panah menghela napas untuk menekan hawa marah yang sempat naik ke dada, " Ya sudah, kau bicara terus terang maksudmu apa terus menunjukkan kelemahan hati di depan musuhmu!'
Karna pun menghela napas untuk menekan gejolak amarah mudanya yang nyaris terpancing.
__ADS_1
" Mohon maaf sebelumnya bila saya mempertahankan pendapat bahwa saya tidak akan pernah membunuh seseorang jika tidak dalam keadaan sangat terpaksa, Kang."
" Ya sudah, kau ngomong saja ke inti permasalahannya. Tidak perlu panjang lebar seperti perempuan ngomel-ngomel!" sahut Kidang Panah.
Karna tersenyum, " Begini, Kang Kidang. Andai saya berpikir seperti yang Kakang ingin bahwa hidup hanya masalah membunuh atau dibunuh, apa jadinya kita dua hari yang lalu? Saat itu Kakang tanpa memperkenalkan diri menyerang saya dengan maksud menguji. Andai saya berpikir membunuh atau dibunuh, tentu saat saya diserang Kakang, saya akan berpikir bahwa Kakang bermaksud membunuh saya. Sebagai reaksinya, saya harus mendahului membunuh Kakang sebelum dibunuh Kakang. Maka saya akan mengerahkan seluruh tenaga saya saat membalas pukulan Kakang. Akibatnya apa? Mohon maaf bukan saya merendahkan ilmu Kakang, terus terang waktu itu saya hanya mengerahkan separuh tenaga saya, dan Kakang nyaris sekarat. Apalagi kalau saya mengerahkan seluruh tenaga saya? Saya tidak mendahului kehendak Sanghyang Widhi, tetapi secara nalar Kakang pasti mati. Hingga saya tidak pernah tahu bahwa tujuan Kakang baik. Dan kita tidak pernah jadi kerja sama seperti ini untuk menjalankan tugas sebagai kawula Bhumi Majapahit. Itulah mengapa saya tidak percaya bahwa hidup hanya masalah membunuh atau dibunuh, Kangmasku Kidang Panah yang baik."
Kidang Panah tercekat. Demikian pun Julig mendengar kata-kata Karna. Kidang Panah tidak mampu menyanggah ucapan Karna karena memang didasari fakta yang pernah terjadi antara mereka dua hari yang lalu.
Namun Kidang Panah memang memiliki sifat yang sangat mengagumkan. Ia bisa marah semarah-marahnya. Meledak setiap saat, namun di sisi lain sangat kesatria. Jika memang salah ia mengaku salah, jika benar ia akan bertahan sampai titik darah penghabisan. Dengan menghembuskan napas dalam-dalam, ditatapnya Karna dengan sorot kagum, " Maafkan aku, Wingit. Aku tadi kebingungan karena tidak punya petunjuk apapun tentang peniup seruling itu. Siapa dia aku benar-benar tidak tahu, padahal kita harus mengambil sobekan surat yang dibawanya dalam waktu paling lama tiga hari."
" Tidak perlu sungkan, Kang Kidang. Kita pikirkan saja ke depan."
" Naaaahhh... gitu dong!" celetuk Julig sambil mengacungkan dua jempol. " Kakang berdua mau berkelahi sebenarnya ndak masalah buatku. Wong sama-sama saktinya. Paling juga mati bareng. Tapi kan jadi aku yang susah kalo kakang berdua mati, aku minta ayam goreng sama siapaaaa??? Mbok kalian itu mikirin aku sebelum bertengkar!"
Kidang Panah tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Julig, sejenak lupa pada masalah genting yang. dihadapi.
Karna ikut tertawa kecil sebelum berkata, " Kang Kidang, sebenarnya kita tidak sepenuhnya tanpa petunjuk untuk melacak jatidiri penculik itu."
" Maksudmu?" Kidang Panah menatap Karna penuh harapan baru.
" Saya pernah diceritakan oleh guru saya Mpu Angalas tentang ajian yang dimiliki penculik itu."
" Lantas?"
" Nama ajian yang mampu mengendalikan nada seruling sebagai senjata adalah Murli Katong ( Murli berarti Seruling, sedang Katong adalah Raja)"
" Lalu, apa hubungan antara ajian dengan jatidirinya?"
" Shri Krishna sang peniup seruling jiwa. Dapat dipastikan penghayat ajian Murli Katong adalah pemuja Bathara Kresna. Tinggal kita cari padepokan apa yang ajarannya memuja Kresna dalam ujud arca berseruling."
Mata Kidang Panah seketika berbinar-binar.
" Panggil Bagya pemilik warung! Dia pasti tahu tempat itu!"
__ADS_1
***