KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
54 GODAAN IBLIS KESOMBONGAN


__ADS_3

11 orang jawara ditambah pemilik kedai arak maju menerjang serentak dengan pukulan dan tendangan.


Kidang Panah seolah-olah tidak melihat datangnya gelombang serangan. Dengan cara berdiri biasa tanpa kuda-kuda ia menunggu mendaratnya kepalan tangan dan tendangan mereka. Ia sengaja ingin mempertunjukan betapa kuat tubuhnya.


" Hiaaaattt....!!! Ciaaattt...!!! Hooooaaahhh...!!!"


Berbagai gaya teriakan para jawara mendahului serangan. Mereka tambah bersemangat lagi melihat Kidang Panah tidak menunjukkan tanda-tanda untuk menghindari atau menangkis serangan. Dugaan mereka benar, ternyata orang kaya ini benar-benar tidak waras otaknya, sama sekali tidak tahu kalau sedang dikeroyok untuk dibunuh beramai-ramai.


" Blug...!! Buk...!! Plak .!!! Bak...!!! Bug...!!! " terdengar suara pukulan dan tendangan mendarat mulus ke tubuh Kidang Panah.


Tubuh Kidang tak memberi respon apapun atas datangnya serangan itu. 11 pasang kepalan tangan dan tendangan semuanya mengenai sasaran, namun tubuh Kidang Panah bergoyang sedikit pun tidak.


" Aduh...!!! Keparat....!!!" beberapa jawara terlihat meringis sambil memegang pergelangan tangan mereka yang rasanya hancur. Tubuh Kidang Panah berubah sangat keras seperti batu.


Merasa kesakitan setelah memukul dengan tangan kosong, mereka mengambil kayu, meja, dan bangku untuk dipukulkan ke kepala dan badan Kidang Panah.


" Hyaaattt...!!!" Sebelas jawara dengan senjata seadanya maju lagi secara bersamaan.


Balok kayu, meja, dan bangku diangkat untuk dikeprukkan ke kepala Kidang Panah.


Ni Smara sebagai perempuan tentu tidak tahan melihat adegan pengeroyokan brutal ini. Ia menjerit ngeri membayangkan kepala Kidang Panah akan hancur akibat keprukan 11 benda kayu.


" Aaahhh...." jerit Ni Smara.


" Braaaaakkk....!!! "


Bukan kepala Kidang Panah yang hancur, melainkan balok kayu, bangku dan kursi yang hancur setelah membentur kepala Kidang Panah.


Seketika 11 jawara desa itu mundur dengan pandangan tak percaya.


Namun, Julig tidakdak terima melihat Kidang Panah dipukuli belasan orang tanpa membalas sedikitpun di depan matanya. Ia bangkit berdiri bermaksud ingin membantu, tapi Karna menarik pergelangan tangannya sehingga langkah Julig tertahan.


" Kang Wingit ini maumu apa? Apa ndak lihat Kang Kidang dipukuli sampai ndak bisa melawan?" sergah Julig dengan nada marah. " Kalau kang Wingit ndak berani mbantu karena takut ya ndak apa-apa. Tapi jangan melarang aku. Aku ndak takut melawan mereka. Sia-sia saja aku capek-capek berpikir hingga kita bisa di sini, tapi begitu sampai di sini kakang takut menghadapi kenyataan!"

__ADS_1


Mendengar kata-kata Julig, Karna mengernyitkan keningnya. Ia merasa Julig telah terjebak kesombongan pribadi yang sangat berbahaya bagi kesadarannya kelak. Namun, pembawaan Karna yang tidak bisa marah membuatnya tetap mampu tersenyum meski nyalinya dihina oleh Julig yang sedang lupa diri sebab didorong oleh rasa sayangnya pada Kidang Panah, kemarahan melihat diamnya Karna, dan ketidakmampuannya membaca situasi. Karna merasa ia harus menegur Julig dengan cara halus namun tegas. Ia menempelkan jari telunjuk ke bibirnya, ' Ssssttt... jadi sekarang kau sudah tak percaya sama aku, Julig? Aku terlalu bodoh ya dalam menilai situasi? Setiap kali ada situasi yang sulit, hanya adikku Julig yang sangat cerdas ini yang benar. Sementara aku tidak tahu apa-apa."


Julig tersengat oleh ketajaman kata-kata Karna yang meski disampaikan dengan nada sangat halus namun jelas menampar benih-benih kesombongan yang tanpa ia sadari telah tumbuh sehingga dengan sok jagoan berani mengatakan Karna takut.


Julig menatap Karna, kakangnya yang tidak pernah merendahkan orang lain meskipun sangat sakti. Seketika ia merasa bersalah dan malu. Julig menundukkan wajahnya, " Maafkan aku yang sempat meragukan ketulusan Kang Wingit hanya karena kemarahan."


Karna mengulurkan tangannya, mengusap lembut rambut Julig, " Tidak apa-apa. Semua orang bisa saja terjebak oleh keberhasilannya di satu sisi, sampai kadang lupa tidak melihat sisi lain dari orang lain yang mempunyai kelebihan berbeda turut menyumbang keberhasilannya. Ini harus kusampaikan karena aku maupun kang Kidang sayang sekali padamu, dan tidak ingin kau gagal menjalani kehidupan karena terhalang kesombonganmu sendiri."


Namun, Kidang Panah adalah orang yang berbeda. Apalagi saat ini Kidang Panah juga masih membangkitkan daya sihir. Begitu mendengar kata-kata Julig yang secara keterlaluan menghina Karna, orang yang lebih tua dan memiliki kepribadian sangat baik, seketika kemarahan Kidang Panah terpancing.


Kemarahan di saat aktifnya daya gaib yang bersifat gelap adalah kondisi yang sangat buruk. Pengaruh pendalaman energi ilmu hitam yang belum sepenuhnya stabil membuat saat marah Kidang Panah menjelma menjadi orang yang sangat buas, seketika ia berteriak keras, ' Keparat kau, Julig! Jangan sombong! Kau pikir siapa yang mampu menyelesaikan semua pertempuran selain kakangmu Jaka Wingit? "


Bersamaan dengan itu, tubuh Kidang Panah yang dipenuhi hawa kemarahan sehingga lupa segalanya, bahkan lupa jati dirinya, melenting meninggalkan 11 lawannya, menerjang Julig dengan tenaga dan kecepatan penuh!


Saat Kidang Panah dipenuhi energi ilmu hitam yang berbarengan dengan amarah ia tidak mempunyai kendali atas dirinya. Sepenuhnya ia dikendalikan oleh tenaga gaib yang sifatnya menghancurkan dan membunuh! Kidang Panah sudah lupa dengan dirinya, sudah lupa dengan Julig yang dalam kondisi wajar sangat ia sayangi.


" Hyaaaatttt ... !!! " tubuh Kidang Panah meluncur menerjang tubuh Julig. Tangannya mengepal. Sekali pukul, dapat dipastikan kepala Julig akan hancur berhamburan sampai seisi otaknya.


Melihat gerakan kilat Kidang Panah yang menyerang Julig, Karna tersentak. Ia melihat bukti kebenaran perkataan gurunya yang melarangnya mempelajari ilmu hitam bila belum dilambari kesadaran rohani yang sangat kuat dan penguasaan napsu, bahwa sewaktu-waktu daya ilmu hitam bisa mengambil kepribadian pemiliknya secara total apabila sedang marah.


" Bayu Bajra! " Karna menggeram menghantamkan telapak tangan ke arah Kidang Panah untuk menahan laju tubuhnya agar tidak sampai mengenai kepala Julig.


Maksud Karna hanya mengerahkan 2 bagian Bayu Bajra untuk menghempaskan tubuh Kidang Panah. Namun tenaga yang keluar dari telapak tangannya ternyata berlipat ganda. Hantaman yang dimaksudkan hanya tingkat 2, tapi angin badai yang keluar setara dengan tingkat 4. Karna tidak menyadari, bahwa itu adalah akibat pengaruh meteor Sapu Jagad yang telah aktif, sehingga apapun ajian yang dikeluarkan Karna, tenaga yang keluar berlipat dua!


Terterjang oleh badai Bayu Bajra tingkat 4 yang dilontarkan Karna secara tak sengaja, tubuh Kidang Panah berputar di udara seperti baling-baling.


Namun daya amarah iblis yang merasuki Kidang Panah belum usai. Begitu badai Bayu Bajra lenyap sehingga kakinya hinggap lagi ke tanah, Kidang Panah menggeram keras kembali menerjang Julig.


Kali ini Karna sudah siap. Ia mengubah lontaran daya badai Bayu Bajra menjadi tembakan lurus langsung menghantam dada Kidang Panah.


" Eling, Kang Kidang! Sadar, Kang! Dia Julig adik kesayanganmu!" Teriak Karna sambil menambahkan daya badai karena melihat Kidang Panah hanya terhuyung.


" Wuuuuzzzzz....!!! " badai ajian Bayu Bajra mendorong lurus.

__ADS_1


Akibatnya... tubuh Kidang Panah terhempas lurus menghantam 11 orang yang berdiri di belakangnya hingga jatuh bergelimpangan.


" Braaaaakkkk....!!! " Dinding kedai tuak hancur berantakan.


" Hoooooaaakkkkk....!!!" 10 Jawara desa dan Kusa pemilik kedai tuak memuntahkan isi perut bercampur percikan darah setelah punggungnya menghantam dinding warung.


Karna melompat mendekati Kidang Panah yang terlihat memegang dadanya menahan nyeri.


" Kau baik-baik saja, Kang?" tanya Karna seraya memegang pundak Kidang Panah.


Kidang Panah menatap Karna dengan tatapan bingung. Napasnya tersengal-sengal seperti mau putus. " Apa yang terjadi? Mengapa aku jatuh?"


Karna menatap mata Kidang Panah yang sorotnya sudah kembali normal. Rupanya pengaruh amarah iblis sudah lenyap bersama hempasan Bayu Bajra.


Karna menggelengkan kepalanya, " Tidak terjadi apa-apa, Kang. Sekarang Kang Kidang memulihkan pernapasan saja. Tarik napas panjang sehalus mungkin, Kang. Sehalus-halusnya."


" Napasku seperti mau putus. Dewata...!!! Ini Bayu Bajra! Kau memukul aku, Karna? Mengapa?" Kidang Panah menatap Karna dengan bingung.


Julig berlari mendekati Kidang Panah. Ia berjongkok lalu memeluk Kidang Panah, " Aku yang salah, Kang. Aku terjebak kesombongan sampai lancang menghina Kang Wingit. Maafkan aku, Kang!"


Kidang Panah memejamkan mata. Berusaha mengingat-ingat apa yang ia lakukan setelah kemarahannya meledak. Yang Kidang Panah ingat hanya ia marah pada Julig, lalu tiba-tiba dari perut bangkit tenaga yang sangat besar dan gelap naik menguasai jantung dan otaknya. Seketika kesadarannya lenyap dan ia tidak ingat apa-apa kecuali lamat-lamat tubuhnya melompat menuju Julig.


" Apaaaaa?" Kidang Panah terkejut karena mampu menduga apa yang ia lakukan selama kesadarannya diambil alih oleh kekuatan hitam. " Apa aku memukulmu, Julig? Aku tidak sadar, Anak Kancil. Itu bukan aku! Maafkan aku! Sungguh, aku tidak pernah bermaksud memukulmu. Tadi aku hanya ingin menegurmu! Maafkan kakangmu yang kasar ini. Maafkan aku, adikku, " desis Kidang Panah sambil memeluk Julig.


Karna menepuk pundak Kidang Panah untuk menghilangkan rasa bersalahnya telah mengancam keselamatan jiwa Julig, " Kang Kidang Panah tidak memukul Julig, justru aku yang memukul Kakang..."


Kidang Panah tersenyum masam, " Terima kasih kau telah mencegah aku berlaku gila, Wingit..."


Sementara 11 jawara desa masih terduduk tak berdaya setelah terhempas tubuh Kidang Panah dan dampak Bayu Bajra, menatap jerih ke arah 3 Ksatria yang tidak terbayangkan tingginya kesaktian mereka. Tangan dan kaki mereka masih kesakitan setelah memukul Kidang Panah, tiba-tiba disusul dengan hempasan badai Bayu Bajra Karna.


Tanpa diperintah siapapun, 11 jawara dan Ni Smara melemparkan kantong-kantong uang mereka untuk dikembalikan. Bagaimanapun, mereka lebih menyayangi nyawa mereka daripada uang yang memang bukan haknya.


Seisi ruangan kedai tuak itu telah takluk dan siap menerima perintah 3 Ksatria.

__ADS_1


***


__ADS_2