KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
80 LARI MENITI TANGGA PELANGI


__ADS_3

Barbro melarikan kudanya secepat angin. Tidak peduli jalan menaik atau turun, ia tidak mengurangi laju derap kaki kudanya. Sebagai pengawal pastor besar yang telah menjelajahi lebih dari separuh dunia, kemampuan berkudanya sudah terlatih sangat baik di segala jenis medan dan jalanan. Lagipula, Barbro sebenarnya adalah anggota tentara ilegal Ksatria Templar yang secara resmi sudah dibubarkan oleh raja Perancis seratus tahun yang lalu, sehingga ia memiliki semua kemampuan tempur prajurit pilihan.


Pembubaran Ksatria Templar oleh Raja Philip ternyata tidak diikuti sepenuhnya oleh anggota yang tidak mau dipaksa bergabung dengan ordo Malta. Seorang Jenderal yang sangat menggemari perang melarikan diri ke kota Roma, Itali untuk membangun kekuatan bawah tanah. Ia merekrut banyak pemuda yang kuat fisiknya untuk dilatih sebagai tentara. Setelah mereka memiliki kemampuan yang setara dengan 20 tentara resmi, mereka diarahkan untuk menjadi tentara bayaran, baik untuk berperang secara massal maupun sebagai pengawal pribadi para pejabat dan orang kaya. Dalam menjalankan profesinya, para tentara itu tidak menunjukkan identitas sebagai Ksatria Templar, namun hanya berdasarkan jumlah bayaran yang diterima. Jadi mereka tidak memiliki ideologi tertentu, kecuali uang. Hanya bila mereka berkumpul di markas yang sangat dirahasiakan, mereka menyatu sebagai Ksatria Templar sekaligus memberikan setoran seperempat penghasilannya untuk membiayai kelangsungan hidup ordo militer mereka. Barbro adalah anggota Ksatria Templar ilegal generasi ke-4. Ia dididik kemampuan bertarung secara tangan kosong maupun dengan senjata baik sebagai individu maupun bagian prajurit perang. Kemampuan tempur Barbro setara dengan 20 hingga 30 prajurit resmi Eropa.


Sedangkan secara pribadi, Barbro meyakini dalam dirinya mengalir darah raja-raja Romawi kuno, sehingga ideologinya adalah ideologi Romawi. Ia menjadi pengawal pribadi Pastor Odirico selama kurang lebih lima tahun bukan karena keyakinannya pada Gereja dan Kepausan, namun hanya demi bayaran yang sangat tinggi. Di dalam hatinya, yang ada hanya kecintaannya pada kisah kejayaan masa lampau Kemaharajaan Romawi yang sangat hebat sebelum adanya agama Kristiani. Setiap saat yang ada di pikirannya hanya bagaimana cara mengembalikan dongeng negara raksasa Romawi menjadi nyata lagi. Di hampir seluruh benua Eropa, para pecinta kerajaan Romawi masih sering melakukan pertemuan bawah tanah untuk mewujudkan mimpi itu. Bahkan sebenarnya, ada seseorang yang sangat kharismatik yang diakui sebagai pewaris sah tahta Romawi yang dianggap sebagai Kaisar yang tidak tunduk pada kekuasaan Paus. Kaisar bayangan inilah yang akan dihubungi oleh Barbro setelah melihat pohon Baita yang ia yakini sebagai bahan pembuat kapal perang raksasa terbaik di dunia.


Setelah dekat Kotaraja dan yakin tidak ada penduduk desa yang mengejarnya, Barbro menghentikan kudanya di padang rumput yang terlintasi sungai kecil untuk memberi kesempatan kudanya makan dan minum.


Barbro duduk di bawah pohon besar untuk melihat lebih detail tekstur dan kekuatan dahan pohon yang dibawanya. Semakin ia memeriksa, makin takjub akan kayu pohon itu.


" Luar biasa. Kekuatan, kerapatan pori-porinya, dan beratnya, sangat sempurna untuk mengambang, seimbang dan sangat kuat menahan hantaman gelombang. Apalagi ukuran utuh pohonnya. Ini benar-benar kayu yang lebih berharga daripada emas untuk dijadikan kapal, " desis Barbro seraya tersenyum, " Aku harus membawa pohon ini ke Roma. Masa depan angkatan laut Kerajaan Romawi ada di sini."


Dengan membawa tekad untuk mengembalikan lagi kejayaan leluhurnya, Barbro merancang rencana. Ia tidak akan ikut Pastor Odirico kembali ke Itali, ia akan mencari cara mendapatkan pohon itu apapun yang terjadi. Dalam perjalanan ke Kotaraja untuk menemui Pastor Odirico, ia merancang rencana agar tidak ikut pulang dengan pelayaran yang sudah direncanakan. Dan Barbro telah menemukan caranya.


Dua hari sebelum jadwal pemberangkatan kapal, Barbro menemui Pastor Odirico. Dengan kemampuan bicaranya yang licin, Barbro membujuk Odirico melihat pegunungan yang sangat indah.


"Monsignor, sebelum meninggalkan pulau Jawa, saya ingin memperlihatkan keindahan alam yang luar biasa di luar kemegahan istana dan Kotaraja Majapahit, " ujar Barbro saat menghadap Odirico.


Dengan hati-hati Pastor Odirico menaruh tumpukan lontar berhurup Palawa yang dibacanya. Di manapun ia singgah di suatu negara, kegemarannya mempelajari bahasa dan karya sastra negara tersebut, maka tidak mengherankan Odirico menguasai lebih dari 5 bahasa besar di dunia; bahasa Latin, Ibrani, Arab, Sansekerta, dan China, di samping bahasa Itali.


" Barbro, " ujar Pastor Odirico yang selalu berpembawaan tenang sebagai rohaniawan. " Terus terang, selama perjalananku ke seluruh dunia, Jawa Dwipa adalah salah satu pulau terindah yang pernah kulihat. Mulai dari barat Galuh Pajajaran hingga ke timur di Majapahit ini, penuh dengan gunung-gunung yang sangat menakjubkan, sungai sejernih kaca, dan hamparan hutan sangat subur tiada tara. Matahari bersinar sepanjang tahun, buah-buahan dan bunga dalam jumlah tak terkira jenisnya, juga satwanya. Satu kata, ini benar-benar tanah sorga. Seandainya aku tidak terikat tugas dari Tahta Suci Sri Paus, aku memilih tinggal di sini sebagai ladang persemaian kasih Tuhan. Semua keindahan dunia yang belum pernah kusaksikan ada di sini."


" Benar, Monsignor yang mulia. Jawa Dwipa ini tanah surgawi, " sahut Barbro. " Tapi yang ingin saya tunjukkan benar-benar luar biasa. Ada sebuah bukit di luar Kotaraja sungguh keindahannya tidak terceritakan. Yang bisa kita lakukan hanya mendatangi langsung untuk menikmatinya."

__ADS_1


" Apa yang membedakan antara bukit yang ingin kau tunjukkan dengan tempat lain di Jawa Dwipa?" tanya Pastor Odirico mulai penasaran.


Barbro menyembunyikan senyumnya merasa Odirico telah memakan umpannya, " Maaf, Monsignor. Seperti yang saya katakan, sebenarnya tidak bisa diceritakan kecuali mendatanginya langsung. Tapi sebagai gambaran, baik saya ceritakan sedikit saja. Di bukit itu mengalir sungai yang sangat jernih di antara tanaman bunga warna-warni yang sangat wangi. Di sela-selanya seperti tertata rumput berukuran pendek tumbuh mendatar rata. Di batas taman bunga itu adalah jurang tempat air terjun yang percikannya membentuk pelangi abadi sepanjang hari, melengkung dari bawah jurang dan ujungnya ada di permukaan tanah sehingga seolah kaki kita bisa menyentuhnya."


Odirico mengernyitkan alisnya. Gambaran yang dikatakan Barbro seperti taman impian, " Benarkah?"


" Benar, Monsignor. Sayang sekali kalau Anda tidak melihatnya sebelum meninggalkan pulau Jawa."


" Beberapa lama perjalanannya dari sini?"


" Tidak lebih dari setengah hari, Monsignor. "


Pastor Odirico termakan bujukan Barbro. Padahal tempat yang akan ditunjukkan adalah bukit berjurang sangat curam yang akan menjadi tempat ia 'menghilang' agar tidak ikut pulang ke Itali bersama Odirico. Barbro sudah mempelajari salah satu sisi jurang di sana, dan ia telah menyiapkan semacam jaring.


" Sungguh-sungguh tanah Sorgawi, " desis Pastor Odirico tertahan.


Barbro tersenyum membiarkan Odirico memuaskan pandangan matanya beberapa saat sebelum bertanya, " Di mana pelanginya, Barbro?'


Barbro pura-pura terkejut, " Oh iya, kenapa tidak terlihat? Biasanya selalu ada muncul dari bawah jurang menembus air terjun."


" Mungkin karena sinar matahari kurang terik, " ucap Odirico.


" Tidak mungkin, Monsignor. Pasti terlihat di air terjun di sisi jurang. Biar saya periksa, " Barbro segera mencongklang kudanya menuju tepi jurang yang sudah direncanakan.

__ADS_1


Kuda Barbro berlari menuju jurang. Sebenarnya Odirico ingin memperingatkan agar tidak memacu kuda terlalu cepat menuju jurang.


Namun terlambat.


" Eeeekkkkkkkk.....!" terdengar ringkik kuda ketakutan. Kaki depannya terangkat menghindari tapakan ruang kosong.


Namun kaki Barbro menyentak kuat perut kuda, sehingga kuda terkejut kesakitan, melompat masuk ke dalam jurang yang sangat curam. Lenyap bersama tubuh Barbro.


" Monsignoooorrr....!" terdengar jeritan Barbro menggema dari dalam jurang.


Pastor Odirico terkejut menyadari Barbro jatuh ke dalam jurang. Ia segera berlari ke tepi jurang untuk melihat apa yang terjadi.


" Bluuuuukkkk.....eeeeekkkk...!' terdengar dentuman benda jatuh disusul suara ringkik kuda terakhir kali.


Pastor Odirico berjongkok di tepi jurang dan melihat. Jurang itu menganga sangat dalam dasarnya. Begitu dalamnya hingga yang terlihat hanya sebercak warna merah darah dan bangkai kuda Barbro yang mati seketika dalam keadaan hancur.


" Barbro....Barbroooo....Barbroooo....!"


Pastor Odirico memanggil-manggil nama Barbro dengan sia-sia. Tidak terlihat gerakan atau tanda-tanda kehidupan di jurang yang mustahil untuk dituruni.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2