
Meski kawanan jawara desa di bawah pimpinan Coglok sudah tak berani berkutik setelah mendengar prajurit Baswara disebut, namun tak ayal juga mereka bersungut-sungut dan terus menyindir Kusa sebagai orang yang lupa daratan yang begitu akrab dengan prajurit Baswara lantas melupakan saudara sedesa sendiri. Mereka ingin marah tapi tak berani meluapkannya secara langsung. Akibatnya dengan sok jagoan mereka sengaja menggeser posisi bangkunya mendekati bangku 3 Ksatria yang dianggapnya orang asing untuk mencari pelampiasan emosi. Melihat bentuk tubuh Kidang Panah, Karna, dan Julig yang sama sekali tidak menunjukkan kesan sangar, Coglok dan kawan-kawannya dengan sangat memandang remeh menarik bangkunya sehingga membentur sudut meja Kidang Panah.
Kidang Panah tersenyum terkulum melihat tingkah gerombolan jagoan desa itu. Andai dia tidak sedang mempunyai urusan yang sangat penting, tentu dengan sekali gebrak ia akan menghempaskan mereka ke lantai. Namun ia tidak ingin membuang waktu untuk masalah yang remeh temeh. Dengan senyum ringan Kidang Panah berkata, " Kusa, tolong ambilkan arak termahal untuk Kakang-Kakang yang gagah ini. Nanti aku yang bayar. Sekalian bangkuku kau geser saja ke belakang mepet ke dinding agar Kakang-Kakang yang gagah ini lebih leluasa. "
Julig mengerutkan kening tidak paham, mengapa Kidang Panah yang biasanya pemberang kali ini mengalah dan bahkan mentraktir orang-orang yang kurang ajar itu. Ia tidak tahu, tujuan Kidang Panah minta digeser bangku mepet ke dinding belakang warung agar bisa mendengar lebih jelas aktivitas Jalir Smara. Namun Julig diam saja karena dapat menduga pasti Kidang Panah memiliki rencana.
Kusa segera memerintahkan pembantunya untuk mengatur ulang susunan bangku. Rombongan Coglok senang mendengar ucapan Kidang Panah yang akan membelikan mereka tambahan arak termahal. Mereka tertawa terkekeh merasa dapat keuntungan dari menakut-nakuti orang asing yang banyak uang, " Hehehe....terima kasih, Juragan. Apa tidak sekalian kami boleh minta olahan daging seperti yang Juragan makan?"
Kidang Panah menahan senyum geli melihat kawanan Coglok yang tak tahu diri. Ia rogoh kantong uangnya dan memperlihatkan sekeping uang Ma emas, " Kusa, apa ini cukup untuk membayar semua arak dan makanan kang Coglok yang gagah dengan teman-temannya?"
Melihat kilauan uang emas di tangan Kidang Panah, seketika biji mata Kusa melotot seperti akan melompat dari kelopaknya. Serta merta ia sambar uang itu. Namun terlambat, Coglok lebih dulu menyambar uang Ma emas itu.
" Kau gila, Kusa! " hardik Coglok. " Jangankan hanya arak dan makanan, seisi warung ini pun bisa terbeli dengan sekeping uang Ma emas. Ini uangku, Raden itu memberikan uang ini untukku, bukan untukmu! Masalah arak dan makanan, biar aku yang bayar sendiri! Paling banyak 100 gobok sudah lebih dari cukup. Raden jangan mau ditipu sama penjual arak licik ini!"
Kidang Panah tertawa. Memang itu tujuannya. Daripada membuat keributan, ia ingin memecah belah kesetia-kawanan mereka dengan kekuatan uang. Mereka bukan musuhnya. Musuhnya hanya Demang Suranggana yang ada di desa ini, bukan warga desa. Sekarang, tujuannya adalah mencari sekutu warga desa agar ketika ia melawan Demang Suranggana, ia memiliki tempat untuk berlindung dan teman yang setia padanya. Pendek kata, Kidang Panah ingin membeli kesetiaan mereka agar tidak menjadi penghalang saat 3 Ksatria berhadapan dengan Demang Suranggana.
" Hahaha...kalian semua tidak perlu rebutan uang. Aku akan memberikan kalian semua masing-masing sekeping uang Ma emas per orang asal kalian menurut pada perintahku."
" Maksud, Raden? " tanya Coglok tidak percaya ada orang yang memiliki uang Ma emas sebanyak itu. Padahal ia dan anak buahnya berjumlah sepuluh orang, ditambah Suka pemilik warung jadi 11 orang. Tidak mungkin ada orang yang berani membawa 11 keping uang Ma emas tanpa pengawalan prajurit. Sementara penampilan 3 Ksatria itu sama sekali tidak menunjukkan kekuatan fisik.
" Ini maksudku. .." Kidang Panah mengangkat kain putih besar. Perlahan dibuka tali penutupnya.
" Criiiinggg.... criiiinggg... criiiinggg.... "
Dari mulut kain putih yang terbuka ikatannya berjatuhan keping-keping uang Ma emas dan perak. Berjatuhan, menggelinding, berputar-putar di lantai. Uang yang keluar dari kantong kain tidak henti-henti hingga berjumlah ribuan keping.
Mata Suka dan gerombolan Coglok terbelalak tidak pernah membayangkan ada uang sebanyak itu bisa dimiliki seorang. Uang-uang itu bergeletakan, menggelinding, berputar-putar seolah-olah tumpukan pecahan kereweng tak berharga memenuhi seluruh lantai kedai.
Mereka tidak tahu bahwa Kidang Panah sedang menggunakan ilusi sihir. Tanpa dikomando, mereka berlomba-lomba meraup uang yang berceceran. Karna dan Julig yang sudah menduga bahwa itu hanya ilusi sihir menatap Kidang Panah dengan pandangan tanya. Namun Kidang Panah hanya tersenyum.
__ADS_1
Mendengar suara gaduh dan gemerincing logam yang berjatuhan di lantai, Ni Smara keluar dari kamar dan memekik kegirangan melihat uang berserakan sedemikian banyaknya. Ia segera ikut berebut uang, berusaha mengumpulkan sebanyak-banyaknya hingga tak sadar membuka kain penutup tubuhnya untuk digunakan menampung uang. Tubuh Ni Smara yang menggairahkan berjongkok tanpa busana.
Seharusnya ketelanjangan Ni Smara yang tidak sadar itu membuat para lelaki melahap pemandangan indah. Namun, karena semua orang sedang berusaha mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, bahkan Coglok yang mulanya sangat bernafsu pada Ni Smara pun tidak peduli sedikitpun pada pemandangan gratis kemolekan tubuh itu.
Julig dan Karna melengos, merasa jengah sendiri melihat polosnya tubuh wanita.
Kidang Panah tersenyum tipis pada Julig dan Karna, " Sekarang kalian tahu mengapa aku selalu membagikan uang yang kumiliki, karena kecintaan pada uang akan membuat orang gila. Aku tidak mau gila seperti mereka."
Setelah seluruh uang hasil sihir Kidang Panah habis dipungut oleh 12 orang serakah itu sehingga tidak tertinggal sekeping pun di lantai, mereka baru menyadari Ni Smara berdiri tanpa busana.
Mata para lelaki melotot liar seperti kucing melihat ikan goreng. Ni Smara yang baru menyadari ketelanjangannya memekik malu. Spontan ia tutupi bagian tubuh rahasianya dengan bungkusan kain yang berisi penuh uang. Ia ingin memakai kain itu lagi untuk membalut tubuhnya, namun ia lebih sayang pada uang yang sudah terkumpul demikian banyak, sehingga kebingungan harus membongkar bungkusan atau tidak.
Melihat itu, Kidang Panah menarik kain penutup meja dan melemparkannya ke Ni Smara, " Pakai itu untuk menutupi tubuhnu!"
" Sudah? Kalian sekarang percaya kalau aku punya banyak uang?" ujar Kidang Panah setelah Ni Smara membalut rapat tubuhnya.
" Iya, iya...kami semua percaya, Raden!" jawab Coglok.
Pintu kedai tuak ditutup rapat sehingga orang luar pasti mengira kedai sudah tidak melayani pengunjung.
" Kembalikan uangku, itu bukan uang kalian!" kata Kidang Panah dengan nada tegas.
" Haahhh...? " Coglok mendesah kecewa. Seisi warung saling memandang, bergantian menatap bungkusan uang yang berhasil mereka kumpulkan. Dengan uang sejumlah itu, masing-masing mereka seketika jadi kaya raya dan bisa menjadi raja kecil di lingkungannya. Bagaimana mungkin orang rela melepaskan begitu saja kekayaan luar biasa yang sudah dalam genggaman?
Keserakahan adalah sifat alami manusia yang bila tidak diwaspadai akan menelan habis seluruh kemanusiaannya. Keserakahan tidak mengenal batas puas. Begitu dituruti bukannya mereda, malah kian menggila. Mulanya mendapat 1 keping uang perak sudah merasa senang, namun begitu melihat sekeping uang emas, rasa senang memiliki sekeping perak itu hilang terganti keinginan memiliki uang emas. Sekarang sekeping uang emas itu pun kehilangan makna saat mereka menenteng sekantong besar uang emas. Mereka tahu itu bukan milik mereka, namun keserakahan untuk memiliki telah membutakan mata hati mereka dalam melihat kebenaran.
Seorang anak buah Coglok yang berhasil mengumpulkan kira-kira 200 keping uang Ma emas menyenggolkan sikutnya ke rusuk Coglok untuk memberi isyarat.
" Apa? " tanya Coglok lirih.
__ADS_1
" Kang Coglok mau menyerahkan uang kita pada orang asing itu?"
Coglok mendengus dingin, " Gila apa aku serahkan uang sebanyak ini pada mereka? Tidak akan aku serahkan uang ini sekeping pun!"
" Aku juga begitu, Kang. Tidak akan aku kembalikan uang ini pada mereka. Lagipula, mereka hanya bertiga, kita sepuluh orang. Mumpung warungnya ditutup, tidak akan ada orang luar yang tahu, kita keroyok dan bunuh saja mereka! "
" Iya, tubuh 3 orang itu tidak terlihat kuat. Paling dengan satu kali pukul mereka pingsan. Begitu mati mayatnya kita buang ke hutan. Beri isyarat pada teman-teman, begitu aku memberi aba-aba, langsung kita bunuh dengan cara cepat!"
Anak buah Coglok itu mengangguk dan memberi isyarat pada yang lainnya.
Melihat 10 orang rombongan Coglok saling berbisik, Kidang Panah menghardik, " Kenapa kalian malah bisik-bisik? Cepat kembalikan uangku!"
Coglok mendengus dingin, " Jangan mimpi, Raden. Uang ini sudah jatuh ke lantai, dan kami yang memungutinya. Jadi ini uang kami, bukan uangmu lagi, Raden. Sebaiknya Raden pergi saja dari sini, daripada kami terpaksa membunuh Raden yang ingin merampas uang kami.'
Kidang Panah tersenyum mengejek, rencananya berhasil. Ia ingin membeli kesetiaan mereka secara penuh. Pertama dengan mempertontonkan ilusi uang yang luar biasa banyak, orang-orang yang berjiwa serakah pasti menurut padanya karena ingin mendapatkan uang yang banyak. Lalu kedua, memberi mereka rasa takut. Dengan memberikan rasa takut, mereka tidak akan berani berkhianat. Cinta harta dan rasa takut adalah kunci utama untuk menguasai orang yang berwatak serakah. Sedangkan untuk menimbulkan rasa takut, Kidang Panah akan menunjukkan seberapa kuat dirinya di depan mereka. Perpaduan daya uang dan kekuataan, sebuah kombinasi yang sempurna.
" Hahaha.. kalian menolak mengembalikan uangku dan malah mengancam membunuhku? " Kidang Panah tertawa terbahak, " Ni Smara, kau wanita, minggir sana cari tempat aman biar tidak kena pukulan nyasar. Kau Coglok dan 10 orangmu, persiapkan diri kalian menghadapi aku sendirian!"
Coglok dan anak buahnya menyeringai senang. Ternyata yang dihadapinya orang kaya yang kurang waras otaknya. Bagaimana mungkin seseorang menantang berkelahi melawan 11 jawara desa sekaligus? Sesakti-saktinya prajurit Baswara pun paling cuma mampu melawan 4 orang jawara. Tapi ini ada orang kaya dengan penampilan tubuh biasa malah minta dikeroyok 11 orang seketika? Benar-benar sudah miring otaknya.
Julig yang belum memiliki kemampuan silat untuk mengukur kekuatan lawan berbisik khawatir, " Kang Wingit, cepat bantu kang Kidang, jangan sampai dia celaka!"
Karna tersenyum. Menepuk-nepuk pundak Julig, " Tenang saja. Jangankan hanya 11 orang, 50 jawara desa seperti mereka cuma jadi makanan kecil untuk kang Kidang."
" Benar, Kang?" tanya Julig tak yakin.
" Lihat saja, nanti. Tidak sampai 3 jurus, mereka semua pasti roboh, " jawab Karna.
Coglok dan 10 anak buahnya, ditambah Kusa sang pemilik kedai tuak sudah bersiap melakukan serangan serempak, sementara Jalir Smara memilih berdiri di pojok ruangan untuk menghindari salah sasaran pukul.
__ADS_1
" Seraaaangggg... !!!" Coglok meneriakkan aba-aba.
***