
" Begini, Kang Kidang, " Julig mulai membisikkan siasatnya. " Penjaga itu tidak takut mati kan?"
" Iya, itulah yang bikin aku susah, Julig. Padahal ketakutan tertinggi manusia itu adalah kematian. Kalau seseorang sudah tidak takut pada kematian, dia tidak bisa diancam lagi."
Julig tersenyum cerdik. " Kang Kidang salah besar. Ketakutan tertinggi manusia itu bukan pada kematiannya. Tapi kehilangan seseorang atau sesuatu yang sangat ia cintai. Itu ketakutan tertinggi manusia. Ya kan, Kang? Coba renungkan!"
Kidang Panah menatap Julig dengan sorot mata heran. Tak disangka ternyata Julig secerdas itu. Benar, ketakutan tertinggi manusia adalah kehilangan apa yang sangat dicintainya. Kidang Panah tidak takut mati pada saat menjadi begal asal anak buahnya yang sangat ia kasihi selamat. Ia berani melawan lurah prajurit Majapahit juga karena tidak mau kehilangan kekasihnya saat remaja. Demikian juga ia bertahan mati-matian untuk tetap hidup agar bertemu lagi dengan adik tunggal yang sangat ia rindukan. Yang terakhir, ia jatuh cinta pada Padma Dewi dan rela mati daripada kehilangan kepercayaan Padma Dewi terhadapnya. Andai Padma Dewi menyuruh dia mati, dia rela menyerahkan nyawa asal Padma Dewi tidak menganggapnya sebagai laki-laki yang tidak berguna bagi bangsa dan Negara.
" Kau pintar juga, Julig! Tapi aku tidak tahu apa-apa tentang mereka. Siapa istri mereka, siapa anak yang mereka cintai untuk aku sandera. Bagaimana bisa tahu apa yang mereka cintai?"
Julig tersenyum, " Apa yang paling dicintai orang itu belum tentu keluarga atau kekasihnya, Kang. Sebenarnya saya sudah tahu apa yang mereka sangat cintai. Tinggal Kang Kidang berani ndak mengancam menghancurkan yang mereka cintai."
" Kenapa tidak berani? Sebut orangnya, biar aku sandera sekarang!"
" Sayangnya bukan orang yang paling mereka cintai, Kang."
" Maksudmu?"
Julig tersenyum jahil, " Bathara Kresna yang mereka cintai!"
Kadang Panah mengangkat tangannya. Hampir saja menempeleng kepala Julig karena merasa dipermainkan, " Kau sudah keterlaluan, Julig! Tak seharusnya bercanda di saat genting seperti ini!"
" Siapa yang bercanda, Kang?" Julig memegang lengan Kidang Panah yang terangkat, " Saya bersungguh-sungguh. Memang benar kan mereka mencintai Bathara Kresna?"
__ADS_1
" Iya, tapi kau gila menyuruh aku mengancam Bathara Kresna titisan Dewa Wisnu. Menemui Dewa saja sudah tak mungkin bisa, bagaimana bisa mengancam Bathara Kresna? Kau gila, Julig. Sudah aku pergi, biar aku hancurkan pintu goa itu bagaimanapun caranya!"
" Sebentar, Kang. Sabar sejenak, dengarkan omongan saya belum selesai, Kang!" ujar Julig sambil memegang kaki Kidang Panah yang sudah berdiri ingin melompat turun.
" Mau omong kosong apalagi, Julig? Kita dikejar waktu!"
" Duduklah, duduk sebentar, Kang, biar kita tidak teriak-teriak ngomongnya. Ini sangat rahasia, jangan sampai terdengar sama penjaga itu."
Kidang Panah mendengus kesal. Namun ia menyebarkan diri untuk duduk lagi menyimak kata-kata Julig.
" Saya tidak menyuruh Kakang mengancam Bathara Kresna, karena itu tidak mungkin. Mereka pun meski memuja Bathara Kresna juga belum pernah ketemu Kresna. Tapi mereka percaya, kuasa dan kehadiran Bathara Kresna tergambar di arca itu. Jadi, kang Kidang hanya perlu mengancam untuk menghancurkan patung itu. Pasti mereka bereaksi. Dan bukan hanya penjaga itu yang bereaksi, Panembah Swara pun akan terpancing keluar dari goa kalau tahu Kakang akan menghancurkan arca Kresna tempat persembahyangan yang mereka cintai."
Kidang Panah menghembuskan napas panjang setelah memahami maksud Julig.
Julig tiba-tiba tertawa lirih dengan gaya tengil, " Hihihi...makanya jadi kakakku itu harus sabar. Dengar dulu omongan adikmu Jaka Julig yang pintar ini. Jangan buru-buru menempeleng. Ini juga omonganku belum selesai, Kang Kidang. Lha wong dipotong terus dari tadi."
" Ya sudah kau bicara sampai selesai, aku dengar saja dulu, " Kidang Panah melembutkan suaranya.
" Jadi, maksudku gini. Kakang hanya perlu mengancam untuk merusak patung Bathara Kresna itu!"
" Kalau dia tidak percaya ancamanku, apa aku harus tetap merusaknya?" potong Kidang Panah.
Julig geleng-geleng kepala. " Katanya mau sabar, eeee... masih memotong omonganku juga."
__ADS_1
Kidang Panah terdiam sadar ketidaksabarannya.
Julig melanjutkan bicara setelah Kidang Panah terdiam, " Aku tadi diberi tahu Kang Wingit kalau kang Kidang punya kemampuan sihir. Jadi gak perlu merusak arca persembahyangan Shri Krishna, cukup bikin ilusi seolah-olah Kang Kidang benar-benar menghancurkan patung itu."
Kidang Panah tersentak, " Jagad Dewa Bathara! Kenapa aku tidak kepikiran itu dari tadi? Jangankan cuma dua penjaga itu, Panembah Swara pun pasti terpancing keluar kalau tahu aku akan menghancurkan patung Kresna. Kau benar-benar cerdik, Julig!" ujar Kidang Panah sambil memegang kepala Julig dengan gemas.
" Itulah gunanya ada Jaka Julig. Katanya tadi gak mau ngajak ke alas Ketonggo?" ujar Julig sok jago.
Kidang Panah tertawa lirih, " Hana.. sudah, aku mau menjalankan siasatmu, Anak Kancil"
Sekejap kemudian Kidang Panah sudah hinggap di tanah. Kedatangannya disambut sorot mata penuh kemarahan penjaga yang masih dalam pengaruh sihir mencoba merapikan jasad temannya yang tewas dalam kondisi mengenaskan. Kidang Panah memang belum mencabut kekuatan sihirnya, sehingga semua orang mengira penjaga itu mati dengan leher terkoyak, padahal sebenarnya hanya ditidurkan.
" Sudah Tuan yang sakti? Mau membunuh saya sekarang juga?" ucap penjaga dengan nada sinis.
Kidang Panah tertawa pendek, " Tidak ada gunanya membunuh kamu. Nyawanya tidak berarti bagiku. Jijik tanganku kalau sampai kecipratan darahmu. Lebih baik aku tidur saja."
" Kau ini benar-benar bukan manusia. Segampang itu membunuh orang hanya karena mau tidur."
" Tutup mulutmu! Aku mau tidur tenang di patung itu. Lantainya bagus ada ubinnya. Patung apa itu?" ujar Kidang Panah seraya sengaja berjalan perlahan menuju patung Bathara Kresna untuk melihat reaksi sang penjaga.
Benar dugaan Julig. Begitu melihat Kidang Panah berjalan dengan cara tidak sopan ke arah patung Dewa yang sangat dipujanya, penjaga itu berteriak, " Jangan sentuh arca Shri Krishna!"
Mata penjaga itu menyalang penuh kemarahan.
__ADS_1
***