KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
14 Kidang Panah Menyerahkan Kepalanya


__ADS_3

Kidang Panah tertegun. Ia tahu, pengemis misterius yang ia hadapi bukan orang sembarangan. Jenis kesaktiannya termasuk ilmu gaib yang tidak ia pahami. Yang selama ini ia perdalam hanya ilmu beladiri murni, gerakan silat yang mengandalkan kemampuan tubuh dan olah napas. Sementara, pengemis ini menggunakan ilmu sihir yang berkaitan dengan manipulasi pikiran serta mungkin juga berhubungan dengan dunia gaib yang tidak kasat mata. Jelas sebuah disiplin ilmu yang sangat-sangat berbeda. Kidang Panah hanya memahami paduan gerakan yang bertenaga, lentur, dan cepat. Pengalamannya saat menghadapi Mahapatih Gajah Mada dalam tiga gerakan yang menjadikannya sebagai bulan-bulanan seperti anak kecil di hadapan ahli, membuat Kidang Panah semakin waspada dan dewasa bahwa di atas langit masih ada langit lain yang tak terhingga tingginya. Maka jika tidak terpaksa, Kidang Panah memilih untuk mengedepankan sikap kompromi terlebih dulu sebelum keadaan memaksakan pilihan perlawanan frontal. Meski sebenarnya hatinya sudah mendidih mendengar perkataan pengemis yang mengancam keselamatan jiwa seluruh warga desa, Kidang Panah tetap berusaha mendinginkan kepalanya.


" Tidak perlu seperti itu, Bapa," ujar Kidang Panah datar, " Tak mungkin ada orang mau menyerahkan nyawanya tanpa alasan yang jelas. Mintalah hal-hal yang masuk akal."


Pengemis itu tertawa bergelak, " Apa maksudmu dengan hal yang masuk akal? Apa perbuatan kalian masuk akal telah menyeret orang tidur dengan kerbau? Sekarang kau menyuruh aku minta sesuatu yang masuk akal sebagai balasannya? Kau letakkan di mana keadilanmu?"


Kidang Panah menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang kering karena berdebat dengan orang tua aneh ini. Debat bukan keahlian Kidang Panah, ia lebih suka bertindak daripada bicara, berkelahi daripada diplomasi. Selama hidupnya sebagai begal, ia memilih jalan praktis daripada berliku-liku. Kesabaran Kidang Panah terbatas.


" Kami mengaku bersalah, dan saya selaku pimpinan mereka sudah memohon maaf...."


" Aku tidak butuh permintaan maaf!"


Kesabaran Kidang Panah habis, " Jika demikian, urusan kami dengan Anda saya anggap selesai. Silahkan kalau Anda mau tinggal di lereng gunung Kampud ini, ini tanah merdeka, kami tidak akan mengganggu. Sekarang, kami juga punya urusan masing-masing, kami tinggalkan Anda dengan damai. Rahayu !"


Setelah berkata demikian, Kidang Panah menyuruh seluruh warga desa membubarkan diri, " Kalian semua kembali ke kegiatan masing-masing. Yang mau pulang, pulang. Yang ingin ke sawah, ke sawahlah. Tinggalkan Bapa tua ini, jangan mengganggu lagi, apapun urusannya !"


Warga desa yang memang sudah jerih menyaksikan kesaktian pengemis aneh itu tanpa perlu diminta dua kali segera membubarkan diri dengan berjalan cepat. Sementara Kidang Panah dan Sena berjalan paling belakang untuk berjaga-jaga bila ada sesuatu yang buruk terjadi.


Dan benar saja. Pengemis tua itu tidak mau urusan berhenti sampai di sini.


Pengemis itu berteriak lantang, " Kalau kalian tidak mau menyerahkan nyawa secara sukarela, aku yang akan mencabutnya sendiri. Mulai malam nanti hingga tiga hari berturut-turut, kalian semua, besar kecil, laki-laki perempuan, akan menderita sakit yang belum pernah ada. Malam sakit, paginya mati. Pagi sakit, sorenya mati. Tak kan ada yang selamat dari Pagebluk Kampud, sampai Kidang Panah datang menyerahkan kepalanya sendiri kepadaku di puncak gunung!"


Bersamaan dengan teriakan itu, dari arah puncak gunung melesat cepat sekali sebentuk awan hitam tebal yang berputar-putar seperti angin beliung. Awan yang berputar itu mengelilingi pengemis tua, menelan seluruh tubuhnya hingga tak terlihat.


Warga desa kembali dilanda panik dan ketakutan yang amat sangat. Apalagi sesaat kemudian, setelah awan itu berputar menelan tubuh pengemis tua, ia membesar dan merusak semua tanaman yang terlanda ujud gasingannya. Awan besar itu kemudian berputar naik kembali membawa tubuh pengemis ke puncak gunung dengan kecepatan yang sama seperti saat datangnya.

__ADS_1


Dari puncak gunung, sayup-sayup terdengar suara tawa pengemis tua yang berkata, " Bawa kepalamu ke sini, Kidang Panah. Atau seluruh penduduk desa Padma Dewi kucabut nyawanya. Hahahaha...."


Bersamaan dengan lenyapnya suara, menghilang juga pusaran awan di puncak gunung.


Namun, tiba-tiba terdengar bunyi ledakan halilintar yang memekakkan telinga dan hujan deras mengguyur seluruh dusun Padma Dewi secara mendadak tanpa didahului mendung.


" Jangan takut! Jangan panik ! " Teriak Kidang Panah untuk menenangkan warganya, " Ini sihir, ilmu panglimunan. Hanya permainan pikiran. Tidak nyata."


" Tapi hujan ini benar-benar nyata, Kang. Tubuhku benar-benar basah kuyup," ujar Sena.


" Tidak. Ini karena pikiran kalian telah terpengaruh, " jawab Kidang Panah. Meski sebenarnya dalam hati ia juga ragu untuk membedakan antara sihir maya dengan kenyataan. Ia sendiri merasakan tetes air hujan yang datang begitu dingin dan hentakannya sangat nyata.


***


Kidang Panah yang mendengar laporan itu pertama kali masih menguatkan hati untuk berharap bahwa kematian mereka hanya ilusi. Ia perintahkan kepada keluarga korban yang meninggal untuk tidak menguburkan mayat dahulu. Namun, pagi harinya terjadi lagi kasus orang sakit baru dengan gejala yang sama yang pada sore harinya meninggal dunia. Demikian juga pada seterusnya di malam kedua, sehingga total orang yang meninggal mencapai 40 orang. Andaikan mereka dikuburpun, seluruh warga desa Padma Dewi sudah pasti kewalahan waktu dan tenaga. Belum lagi upacara-upacara lelayu yang seharusnya dilaksanakan untuk menghormati jenazah.


Pada malam kedua, Kidang Panah memanggil Sena dan seluruh aparat desa yang tersisa, karena sebagian sudah meninggal juga.


" Terus terang, aku sudah tidak tahu apakah pagebluk ini maya atau nyata. Tapi kematian 40 orang dalam sehari semalam jelas terjadi. Kalau wabah ini tidak dihentikan, ucapan pengemis sakti itu akan jadi kenyataan. Dalam 3 hari, desa kita bisa lenyap tanpa penghuni. Aku akan mendaki gunung Kampud sekarang juga untuk bicara dengannya, " ujar Kidang Panah.


Sena menghela napas panjang, " Kang Kidang rela menyerahkan kepala untuk keselamatan kita semua?"


Kidang Panah tersenyum datar. Pandangannya menerawang jauh, " Tidak seorangpun di dunia ini mau menyerahkan kepalanya dengan sukarela. Aku pun tidak. Aku hanya ingin bicara dengan orang tua itu. Kalau tidak bisa diajak bicara ya sudah, aku terpaksa menantang dia bertarung. sampai mati. Kalau aku menang, aku bisa memaksa dia untuk menghilangkan pagebluk ini. Kalau aku kalah, bisa saja aku mati dan kepalaku dipenggal. Tapi bukankah itu resiko sebuah pertarungan? Yang penting aku berusaha semampuku. Aku tidak terlalu gila untuk menyerahkan kepalaku begitu saja."


Sena termangu-mangu. Semakin mendalami pribadi Kidang Panah, makin kagum ia dibuatnya. Kidang Panah tidak pernah ragu menghadapi maut jika menyangkut keselamatan bawahan atau orang yang diayominya.

__ADS_1


" Jika demikian, aku ikut, Kang, " ujar Sena mantap.


" Aku juga ! " timpal Darmo.


" Tidak!" Kidang Panah berdiri dengan jawaban tegas. " Tidak seorangpun kuijinkan ikut. Masalahnya bisa bertambah buruk. Laki-laki itu sangat pemarah. Dia bilang hanya menginginkan kepalaku, kedatangan kalian bisa membuat kemurkaannya makin menjadi. Situasi yang kita hadapi sekarang sangat berbeda dengan saat kalian berkeras melawan Prajurit Bhayangkara. Meski kita pasti kalah, tapi kita masih bisa membuat prajurit Bhayangkara rugi besar dengan kemampuan tempur kita. Sedang sekarang, yang kita hadapi adalah ilmu gaib, yang kita sama sekali tidak tahu sama sekali bagaimana cara melawannya. Andai kita datang dengan membawa seribu orangpun percuma. Melihat kemampuannya saat menciptakan gumpalan awan badai, bisa saja ia menghilang dari pandangan saat kita menyergapnya. Jadi, tidak usah melakukan hal yang sia-sia. Lagipula, saat menghadapi prajurit Bhayangkara, resiko yang kita tanggung hanya 13 orang nyawa kita masing-masing. Saat ini, resiko yang kutanggung adalah nyawa seluruh warga dukuh Padma Dewi. Untuk itu, kuminta kalian tidak membantah perintahku. Aku akan mendaki gunung malam ini juga, dan kalian berjaga-jaga di sini. Pastikan bahwa seluruh jiwa penduduk desa selamat. Itu tugas kalian. Terutama tugasmu sebagai Buyut, Sena !"


Meski sangat berat rasanya melepas Kidang Panah untuk menyabung nyawa sendirian, namun apa yang diucapkan Kidang Panah memang benar.


Suara Sena bergetar saat mengantar Kidang Panah di tugu batas dukuh, " Kang Kidang, kau akan kembali ke sini kan?"


Kidang Panah menepuk-nepuk bahu bekas anak buahnya yang sangat setia itu, " Ingat kan kejadian saat aku ditangkap paksa prajurit Bhayangkara? Orang mengira aku akan kembali sebagai mayat, tapi nyatanya justru aku pulang membawa hadiah besar dari Gusti Ayu Padma Dewi."


Sena tersenyum pahit. Batinnya bisa merasakan ada getar asmara tanpa harapan tiap kali Kidang Panah menyebut nama Padma Dewi. " Iya, Kakang. Tijitibeh. Mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh. "


" Jangan khawatir, aku ingat itu. Kalau aku kalah dan mati, bukankah kalian akan mati juga oleh pagebluk ini? Tapi kalau aku menang, kita akan terbebas dari wabah dan memulai membangun kehidupan yang sejahtera, mukti bersama. Pesanku, hingga waktu berakhirnya hari ketiga, jangan kalian kubur satupun mayat yang sudah meninggal. Aku masih menduga bahwa wabah penyakit dan kematian ini hanya ilusi sihir panglimunan. Begitu daya sihirnya dicabut, hilang pula sakit dan kematian semunya."


Sena mengangguk paham.


" Baiklah, " Kidang Panah berpamitan untuk berangkat, " Aku berangkat. Rahayu untuk semua."


" Selamat jalan, Kakang Kidang Panah. Jaya-Jaya Wijayanti ( Selamatlah Anda, mulai dari alam kelahiran, kehidupan, hingga alam kelanggengan)."


Kidang Panah mendaki gunung Kampud dengan sedikit berlari memanfaatkan kelincahan alaminya dalam bergerak. Menjejak bebatuan dan batang pohon untuk melompat ke sana ke mari. Hanya dalam beberapa kejap mata, punggungnya telah menjauh menciptakan sosok yang kian mengecil hingga lenyap dari pandangan mata Sena yang berkilau oleh kaca-kaca air mata keharuan.


***

__ADS_1


__ADS_2