KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
62 RASA LEBIH KENTAL DARIPADA DARAH


__ADS_3

Setelah panah berhasil dicabut keluar oleh Karna, Julig diminumi jamu pengering luka. Karena butuh sehari semalam untuk melihat pengaruh jamu itu, Dua Ksatria memutuskan tidak menyerang benteng Baswara dulu untuk berkonsentrasi penuh demi menyembuhkan Julig. Apalagi memang Julig tidak bisa ditinggal sedetikpun. Sekali ditinggal, jantung Julig bisa berhenti berfungsi tanpa penyaluran hawa murni. Maka secara bergantian, Karna dan Kidang Panah menyalurkan hawa murni per 5 kali nyala dupa. Yang agak meringankan, karena titik vitalnya telah diketemukan, penyaluran tenaga tidak harus dilakukan lewat dada. Cukup dengan memegang telapak tangannya, Karna atau Kidang Panah dapat melakukannya sambil berbaring santai atau berbincang. Sementara, Julig lebih banyak tidur untuk menyimpan tenaga.


Di akhir hari pertama pengobatan, persis seperti yang dikatakan Karma, luka panah di dada Julig sudah mengering dan tertutup sempurna. Namun ternyata fungsi jantungnya tidak kembali normal, bahkan tidak menunjukkan kemajuan sedikitpun. Sehingga kondisi tubuh luar seperti tanpa masalah, namun organ dalamnya tidak bisa bekerja sama sekali bila tanpa bantuanvdari luar. Jika jantung sudah tidak lagi bekerja, otomatis seluruh organ dalam mengikuti.


" Bagaimana ini, Kang Kidang?"'tanya Karna dengan mata menerawang bingung mengakhiri hari pertama.


Kidang Panah menghela napas lemah, ' Kita tunggu sampai besok malam lagi. Siapa tahu jamu pengering luka dari gurumu memerlukan waktu lebih panjang untuk luka dalam. Sedang untuk luka luar jelas terbukti, luka di dadanya sudah kering dan tertutup sempurna. Setidaknya tidak mungkin ada pembusukan di dagingnya."


" Iya, Kang. Semoga esok malam ada kemajuan untuk luka di jantungnya. Sekarang Kang Kidang istirahat dulu saja, dari siang tadi kulihat Kakang belum istrirahat. Biar aku yang menyalurkan hawa murni untuk sepanjang malam ini, " sahut Karna.


Kidang Panah mengangguk, " Baik, aku ingin tidur sebentar. Nanti tengah malam aku bangun untuk menjaga Julig."


" Tidak perlu, malam ini aku sengaja tidak tidur. Aku akan mencari cara menerobos Baswara sendirian."


" Tidak mungkin sendirian, Karna. Benteng itu sangat kuat. Kita harus berdua."


" Itu tidak bisa kita lakukan selagi jantung Julig belum bisa berdetak sendiri tanpa bantuan kita. Bagaimanapun pentingnya kita menemukan dan mengalahkan Demang Suranggana untuk mengambil cincin cap Mahapatih, apa kita tega meninggalkan Julig yang tidak bisa hidup tanpa penyaluran hawa murni?"


Kidang Panah menggelengkan kepalanya, " Tidak mungkin aku menegakan Julig. Salah satu di antara kita harus tetap di sini. Biar aku saja yang besok ke sana, kau menjaga nyawa Julig di sini."

__ADS_1


Karna tersenyum pahit. " Tidak, Kang. Kalau ada orang yang harus menyerang Baswara sendirian untuk menangkap Demang Suranggana, orang itu harus aku. Kakang yang jaga Julig saja."


Kidang Panah mengerutkan keningnya, " Kenapa harus kau, Karna? Kenapa bukan aku? Bukankah aku yang mendapat perintah langsung akan penugasan ini, bukan kamu?"


Karna dengan perlahan menepuk bahu Kidang Panah, " Mohon maaf sebelumnya, Kang. Boleh saya bicara terus terang agar kita tidak lagi memperdebatkan siapa di antara kita yang harus berangkat perang dan siapa yang harus menjaga Julig? Ini bukan masalah siapa yang lebih berhak dan siapa yang kurang berhak. Tapi tentang siasat untuk memenangkan pertarungan."


Kidang Panah menatap mata Karna dengan tajam. " Katakan saja. Katakan pertimbanganmu, aku akan mendengarnya."


" Maafkan saya sebesar-besarnya, tidak bermaksud meninggi atau merendahkan apapun, saya hanya melihat kenyataan. Bahwaaaa..." ujar Karna yang berperasaan sangat halus berusaha menyusun kalimat terhalus, " Bahwa.... kemampuan... kemampuan...maaf, kemampuan bela diri saya mungkin lebih cocok untuk menghadapi para prajurit Baswara yang jumlahnya ratusan orang dibanding kemampuan sihir Kang Kidang yang ternyata tidak bisa digunakan karena mendapat halangan di benteng itu. Maaf, Kang.... saya tidak bermaksud merendahkan atau...."


Belum usai Karna mengucapkan kalimatnya, Kidang Panah memutus dengan tawa," Hehehe.. kau mau berkata kalau kemampuan silatku jauh di bawahmu kan? Hehehe...Karnaaaa...Karna.. "


" Hehe...kau pikir aku tidak tahu maksudmu? Hehe..."


" Jangan salah paham, Kang. Maksudku...."


" Sudah! " hardik Kidang Panah. " Aku tahu, sadar, dan mengerti maksudmu. Kau pikir apa?"


" Mohon maaf, Kang....buk...."

__ADS_1


Kidang Panah menepuk-nepuk pundak Karna, " Itulah kamu yang selalu membawa segala hal dengan perasaan. Lantas kau pikir aku tidak tahu itu dan marah? Tidak sama sekali, Karna. Aku tahu dalam hal ilmu beladiri dan silat kau jauh di atasku, jauh sekali. Aku juga bisa melihat sejak watu lintang Sapu Jagad itu memancarkan dayanya, tenagamu berlipat ganda. Aku terima alasanmu. Kalau di antara kita harus maju sendirian di perang ini, kamulah yang harus maju."


Karna menghembuskan napas lega mendengar jawaban Kidang Panah, " Terima kasih atas kepercayaan Kakang padaku."


" Iya, aku percaya padamu. Sekarang, apa rencanamu?"


" Itulah yang sedang akan kupikirkan malam ini, Kang."


Kidang Panah mengangguk-angguk. Ia menghela napas panjang dan menyerahkan telapak tangan Julig disaluri tenaga murni Karna. Setelah Karna ganti menyalurkan tenaga murninya ke Julig, Kidang Panah mengusap kening Julig dengan lembut dan berbisik, " Kakang istirahat dulu ya, Anak Kancil? Kamu sekarang gantian dijaga kang Wingit yang kasih sayangnya sama seperti aku padamu. Cepat sembuh, cepat pulih agar kita bisa balapan kuda lagi. Kudaku kuda Pita sudah tidak sabar membalas kekalahan balapan yang terakhir dari kuda putihmu yang hebat, Si Seta. Tapi aku yakin, Pita akan mampu mengalahkan Seta asal diberi rumput sekenyang-kenyangnya. Atau...kalau memang akhirnya kudamu terlalu hebat untuk dikalahkan, ya mau bagaimana lagi, berarti aku harus mijitin kamu lagi, Anak Kancil. Jadi bangunlah, cepat bangun kalau kau ingin menang balapan lagi. Tiap hari, tiap balapan kau boleh menang, Adhiku...Aku tahu kau bisa mendengar suaraku."


Karna menatap wajah Kidang Panah yang biasa sangat keras, begitu lembutnya saat menatap Julig.


Dada Karna merasa desir kasih sayang seorang saudara yang meski tak terlahir di kandungan yang sama, namun kekentalan rasanya melebihi yang sedarah. Sebenarnya itu juga yang dirasakan Karna. Sejak mereka bertiga melakukan perjalanan dalam satu tugas yang sama, ia pun merasakan hal yang sama. Sama-sama kuat ketika salah satu kuat, sama-sama lemah ketika salah satu tak berdaya, sama-sama terkapar ketika salah satu jatuh.


Manusia tidak hanya terbentuk dari kulit, daging, darah dan tulang. 4 hal itu hanya bagian pembentuk jasad yang berunsur tanah, air, kayu, dan logam. Ada hal yang lain yang lebih menyatukan di suatu keadaan, yaitu api dan udara yang berbentuk gas tanpa ujud yang tak tersentuh meski jelas ada. Menjelma dalam pikiran dan perasaan yang terangkum oleh kasih sayang.


Bahwa Cinta Kasih lebih kental daripada darah.


***

__ADS_1


__ADS_2