
Sebenarnya satu kejutan telah Karna siapkan untuk menyambut datangnya itu. Ia menduga Demang Suranggana berpikir bahwa ia hanya memiliki pukulan andalan berhawa panas, padahal Karna justru mempersiapkan ajian yang bersifat kebalikan dengan Tapak Dahana. Ia telah melakukan patrap pernapasan Tirta Gumulung berdaya inti air (es) yang sanggup membekukan aliran darah.
Perkiraan Karna benar. Demang Suranggana memag berpikir Karna akan menyambutnya dengan Tapak Dahana. Maka ia menyiapkan diri dengan tenaga dingin untuk melawan hawa api!
" Tirta Gumulung.....!" seru Karna.
" Desssss.....!!! "
Terjadi tumbukan dua tenaga dahsyat di udara.
" Ceeeessss.....!!!"
" Keparat....!" seru Demang Suranggana kecele. Pukulan yang diantisipasi pukulan panas, justru yang dikeluarkan Karna hawa sedingin es. Padahal ia telah mengerahkan hawa dingin untuk melindungi tubuhnya.
Akibatnya, tubuh Demang Suranggana kembali terpental oleh tenaga yang bersifat sama. Hawa dingin menerobos dahsyat dengan kekuatan ganda membekukan aliran darah sampai menghentikan detak jantungnya! Sekujur tubuhnya seketika membiru dengan pori-pori tertutup titik-titik salju.
Untung saja sebagai pendekar pilih tanding Demang Suranggana tidak kehilangan kesadaran saat terpental sehingga ia masih bisa menjaga arah pentalannya bukan jatuh bebas melainkan mendarat di balok blandar yang berseberangan meski dalam posisi kurang sempurna agak terhuyung.
Andai saja yang terterpa Tirta Gumulung ditambah hawa dinginnya sendiri bukan Demang Suranggana, dapat dipastikan nyawanya sudah putus karena jantung yang sempat terhenti berdetak dalam beberapa kejap.
Tubuh Demang Suranggana menggigil hebat. Ia segera mengambil napas panjang dan menekan di Cakra Api.
Melihat kondisi Demang Suranggana yang sedang tertekan oleh hawa dingin, Karna menghisap seluruh hawa inti air di udara untuk melancarkan pukulan pamungkas yang bila berhasil akan membuat sekujur tubuh Demang Suranggana membeku seperti es dan bisa hancur berkeping-keping saat jatuh ke lantai.
" Hyaaaaattt....!!!" Karna menerjang dengan kekuatan Tirta Gumulung tingkat penuh yang berarti dua kali daya dengan dorongan Sapu Jagad. Sekujur tubuh Karna berubah putih berkilau seperti salju puncak gunung Mahameru di Himalaya.
Demang Suranggana terkesiap menyambut serangan yang sebelumnya datang sudah merubah balok blandar yang ia pijak diselimuti es sehingga sangat licin.
Sayangnya, ada yang tidak diketahui Karna tentang Demang Suranggana, bahwa Demang ini menguasai ilmu pemilahan napas yang dapat membuat dua paru-parunya memiliki fungsi berbeda. Satu paru-paru bisa untuk menghimpun napas panas, sementara di saat yang sama, paru yang lain bisa menghimpun napas dingin.
Merasakan serangan dingin yang akan datang, Demang Suranggana segera mengaktifkan hawa panas untuk melawannya.
" Amuk Geni ! " seru Demang Suranggana mengaktifkan ajian Amuk Geni yang berarti Badai Api.
" Duuuuaaaarrrr....!!!"
Terjadi pertemuan di udara dua tenaga raksasa berlawanan sifat, air dan api.
__ADS_1
" Zzzzzrrrrrrrtttttt....crrrraaaattttt....!"
Berkilat cahaya petir menerangi seisi rumah utama Baswara hasil dari benturan energi positif ( Proton) dan negatif ( elektron).
" Blaaaarrr....!!!" petir itu menyambar saka utama rumah hingga seketika menjadi arang.
Sedangkan tubuh Karna dan Demang Suranggana masing-masing terlempar melayang di udara dengan kekuatan lontaran yang sama!
" Braakkk... Buuuuugggg....!!!".
Bersamaan dua tubuh manusia yang sangat digdaya itu jatuh membentur lantai.
Akibatnya, lantai rumah utama Baswara hancur berkeping meninggalkan lobang yang sama-sama dalamnya.
Keduanya dengan cepat menguasai diri dan berdiri lagi dengan waktu hampir bersamaan.
Karna kembali terkejut menemui kenyataan Demang Suranggana tidak terluka oleh serangan dahsyatnya. Demikian pula Demang Suranggana menatap nyaris tak percaya ada orang semuda Karna memiliki kemampuan tempur yang demikian mengerikan. Ia belum pernah menghadapi lawan setangguh Karna.
Demang Suranggana tiba-tiba tersenyum samar.
Karna tersenyum sinis, " Jangan bermimpi mengajak aku mengkhianati Bhumi Majapahit, tanah tumpah darahku, tempat leluhur mengukir jiwa raga, dan hidup berbagi Dharma. Harusnya kau malu sebagai ksatria mengingkari sumpah. Sementara aku sudah mencukupkan diri sebagai kawula yang mempersembahkan bhakti tanpa tergiur iming-iming Kuasa, Harta, dan Wanita. Biarlah Sanghyang Tunggal yang mengaturnya jika itu akan diberikan sebagai titipan karmaku. Aku tidak akan mengharap, apalagi merampas seperti yang sedang kau lakukan, Pengkhianat!"
Demang Suranggana tertawa, " Hahaha....bocah kemarin sore tahu apa? Aku tidak bermaksud merusak Majapahit. Justru aku ingin membangunnya. Karena pemerintahan yang sekarang tidak memiliki pandangan yang cerdas..Aku hanya ingin mengganti pemegang kuasa Majapahit, sehingga dapat memperbaikinya."
" Tidak perlu banyak dalih. Kau sudah makar pada Ratu yang sah di mata rakyat dan Triloka, tiga dunia yang terestui alam kasar, manusia, dan Dewata. Kusarankan kau bertobat dan bersimpuh mohon pengampunan pada Sang Maharatu Tri Buana Tunggadewi dan Mahapatih Gajahmada. "
" Hmmmm...keras kepala juga kau, Bocah. Padahal aku belum mengeluarkan seluruh kemampuanku. Kau bisa mati kalau pertarungan ini dilanjutkan. Pikirkan lagi, hidup senang atau mati di tanganku!"
Karna tertawa mengejek, " Kau justru yang harus memikirkan. Menyerahkan cincin itu dan mohon ampun atas kesalahanmu pada Bhumi Majapahit, atau kupenggal kepalamu untuk kuserahkan kepada Gusti Mahapatih. Karena aku juga belum mengerahkan seluruh kemampuanku."
" Keparat !" dengus Demang Suranggana. " Ambil senjata yang kau mau di rak senjata! Aku tidak ingin meremukkan kepala orang yang bertangan kosong dengan senjata di tanganku. "
Karna bicara lirih, " Tidak kusangka, ternyata seorang pengkhianat masih punya malu juga menawarkan senjata pada lawannya. Kupikir urat malumu sudah diputus habis oleh ambisi, Suranggana."
Demang Suranggana mendengus, " Jangan kau kira aku pengecut. Kau boleh mengambil semua senjata, kau bisa memakai dua atau tiga senjata sekaligus di satu waktu. Bahkan tiap saat kau boleh menggantikannya dengan senjata lain tiap kali kau terdesak. Sementara, aku hanya akan memakai satu senjata yang tidak akan kuganti-ganti."
Karna tertawa terbahak dengan nada mengejek, " Hahaha....dasar pengkhianat culas. Lagakmu seolah-olah memberi keleluasaan padaku memilih semua senjata, padahal itu bukan senjata pilihan. Sementara, kau menentukan untuk dirimu sendiri sebuah senjata pilihan yang sudah pasti senjata pusakamu. Dasar manusia khianat, hatimu busuk sejak awalnya."
__ADS_1
Demang Suranggana menggeram marah. Namun memang benar yang disampaikan Karna, ia telah memiliki senjata pusaka andalan yang akan digunakan untuk pertarungan ini, sementara Karna tidak membawa senjata pusaka kecuali mungkin saja keris yang terselip di balik pinggangnya. Namun pada dasarnya, keris bukan senjata untuk bertarung, keris adalah identitas yang melekat pada diri setiap laki-laki Jawa sebagai pusaka spiritual, bukan senjata pembunuh. Demang Suranggana sendiri juga menyelipkan keris di balik pinggangnya, namun bukan itu yang akan ia gunakan untuk bertempur.
" Terserah kau, Bocah. Aku akan menunjukkan senjata pilihanku agar kau tidak merasa kucurangi. Setelah itu pilihlah semua senjata untuk menghadapi senjata pilihanku."
Karna tersenyum mengejek, " Silahkan, orang licik. Tunjukkan senjata yang kau pilih untuk menghadapi aku. Sungguh aku merasa kasihan padamu yang mulai takut menghadapiku dengan sama-sama tangan kosong."
Demang Suranggana tidak menggubris ejekan Karna. Ia berjalan mendekati salah satu saka guru ( tiang besar utama rumah), kemudian memukul permukaan kayunya. Ternyata dengan di sana ada ruang semacam laci yang terbuka setelah dipukul pada sisi tertentu. Tangannya terulur masuk ke ruang laci itu, setelah itu ia sudah memegang sebuah senjata yang kelihatan sangat berat.
Senjata itu diangkatnya. Ukuran panjangnya sekitar satu lengan tangan orang dewasa, besar tengahnya mencapai sepaha.
Genggaman tangan Demang Suranggana tiba-tiba dilepaskan, sehingga senjatanya lepas jatuh bebas ke lantai.
Akibatnya....
" Kraaaakkkk....!!!"
Lantai marmer pecah berantakan tertimpa senjata pusaka Demang Suranggana.
Karna menghembuskan napasnya untuk mengira-ngira berat senjata itu. Setidaknya berat senjata itu setara dengan berat dua ekor kerbau untuk bisa memecahkan lantai marmer.
Namun, Demang Suranggana tidak berhenti sampai di situ untuk mempertunjukkan kedahsyatan senjatanya. Ujung jempol kakinya mencungkil senjata itu. Hanya ujung jempolnya! Sekali lagi, hanya ujung jempolnya... namun senjata yang seberat dua kali kerbau itu terbang naik seakan ranting kering yang kemudian ditangkap oleh Demang Suranggana.
Demang Suranggana melanjutkan menggertak nyali Karna dengan memutar-mutar senjatanya seolah seingan ranting, selanjutnya memukulkannya ke lantai!
Akibatnya.....
Lantai marmer hancur berantakan sampai melesak ke dalam menembus lapisan tanah. Dan bukan hanya hancur, lantai marmer yang dipukull senjata Demang Suranggana menyerpih menjadi debu dan tanahnya membentuk lobang sedalam lebih dari mata kaki.
" Hahaha...." Demang Suranggana tertawa mengejek, " Itu yang akan terjadi pada kepalamu kalau tertimpa senjataku. Maka aku masih berbaik hati memberi kesempatan terakhir. Bekerjalah untukku dan kau akan mendapatkan kemuliaan, atau nekat melawanku dan kau akan mendapatkan kematian!"
Karna tercekat juga oleh unjuk kekuatan pribadi dan kedahsyatan senjata Demang Suranggana. Namun sekali bertekad, apalagi demi melaksanakan amanat Guru dan Negara, Karna tidak takut kematian.
" Hahaha.....Hanya dengan sebongkah watu lintang ( Meteor) seseorang yang telah mengkhianati bangsa Jawa Nuswantara dan Bhumi Majapahit berani pongah di depan murid tunggal Mpu Angalas yang telah memahami rahasia tiga buwana kehidupan? Saat kucabut nyawamu, ingat namaku di depan Bathara Yamadipati, aku Karna si Jaka Wingit yang telah menyempurnakan kematianmu, dengan tanpa senjata kecuali tanganku sendiri!"
Demang Suranggana menatap Karna dengan pandangan tak percaya. Seumur hidupnya sebagai pendekar yang tidak pernah kalah dalam bertarung, belum pernah menghadapi lawan, apalagi yang semuda ini, yang begitu nekatnya berani melawannya dengan tangan kosong saat ia sudah memegang senjata pusaka batu meteor seberat dua kali kerbau yang merupakan senjata terberat bagi seorang petarung dalam ujud GADA.
***
__ADS_1