KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
77 DESA SAMUDERA GAIB


__ADS_3

Disepakati Gagak Bayan dan Suta akan berangkat 3 hari lagi ke desa yang letaknya tidak terlalu jauh dari Kotaraja. Mereka berdua tidak menyadari bahwa selama pembicaraan, diam-diam Savitri menguping dengan duduk di balik tirai. Begitu Gagak Bayan pamit dan meninggalkan Regol ( pintu depan ), Savitri muncul dari balik tirai, " Romo mau pergi ke Kotaraja?" tanya Savitri.


Suta mengerutkan keningnya, " Kau menguping pembicaraan orang tua dengan tamunya? Apa kau tidak tahu kalau itu tidak sopan?"


Savitri tergagap. Karena terlalu antusias mendengar nama Kotaraja, ia lupa bahwa hal itu adalah perbuatan yang tidak pantas. " Maaf, Romo. Saya tidak bermaksud menguping. Tadinya mau ambil gulungan benang yang ketinggalan, terus dengar Gagak Bayan sedang berkata mengajak Romo ke Kotaraja."


Suta menggumam, " Jangan ulangi lagi, itu bisa jadi kebiasaan buruk. Lagipula, kamu sebagai wanita tidak pantas menyebut seseorang yang lebih tua dengan nama saja. Sebenci-bencinya kau pada Gagak Bayan, ia jauh lebih tua daripada kamu."


" Sandika, Romo. Saya mohon maaf."


" Ya sudah. Kenapa kau tanya tentang Kotaraja?" ujar Suta memancing, padahal ia sudah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Savitri.


Savitri berusaha menyembunyikan perasaannya. Agak menunduk menjawab, " Hanya penasaran saja. Yang pernah saya dengar dari cerita orang, Kotaraja sangat indah. Lagipula tidak ada perempuan Dahayu yang pernah ke sana."


Suta tersenyum, " Jadi kau ingin jadi perempuan pertama dari Dahayu yang masuk Kotaraja?'


Savitri tersenyum merasa ada harapan, " Ya kalau diperbolehkan, Romo."


Suta berpikir sejenak. Kalau menurut Gagak Bayan, pekerjaan yang akan dilakukan tidak terlalu rumit dan tidak berbahaya. Hanya membujuk penduduk desa agar mau menebang sebatang pohon untuk dibeli, selanjutnya mengangkut ke Kotaraja. Itu seperti pekerjaan sehari-hari yang sudah puluhan tahun ia lakukan. Tentang pengirimannya ke Kotaraja juga tidak terlalu sulit. Suta sudah hapal daerah yang disebutkan Gagak Bayan dilewati anak sungai besar yang menyambung ke kanal Kotaraja, sehingga batang pohon itu bisa dikirim dengan cara menghanyutkannya, tinggal ia mengawal dengan perahu untuk memastikan selamat sampai tujuan. Apalagi Gagak Bayan sudah menjamin keselamatan perjalanan dengan menyiapkan para pengawal untuk menghadapi para begal sungai yang biasanya menyerang di patahan sungai yang melewati hutan sunyi.


Suta menatap lagi Savitri yang sudah beranjak matang sebagai perempuan di masanya. Sejak semula ia memang berencana membawa Savitri ke kota besar untuk mengenal dunia yang lebih luas di luar Gagak Nagara agar mempunyai kesempatan diperistri pembesar atau bangsawan tinggi. Meski cita-cita untuk diperistri pembesar itu telah padam tergantikan sosok Jaka Wingit, toh tidak ada salahnya tetap membuka cakrawala kehidupan yang lebih luas kepada Savitri, lagipula, naluri Suta meyakini, dengan kemampuan dan kepribadiannya, Jaka Wingit kelak pasti akan memperoleh jabatan tinggi di Bhumi Majapahit.

__ADS_1


" Baik, kau boleh ikut ke Kotaraja. Nanti kau berangkat dengan pedati, aku dan Gagak Bayan berkuda saja, " kata Suta.


Savitri nyaris memekik gembira mendengar kesanggupan ayahnya. Ia segera menubruk kaki Suta untuk mengucapkan terima kasih.


"'Sudah...sudah, hehehe..." Suta tertawa melihat luapan gembira Savitri. Ia mengusap rambut putri tunggalnya dengan penuh kasih sayang dan berkata menggoda, " Jangan lupa bawa selendang dan semua kain yang telah kau rajut. Siapa tahu nanti di Kotaraja kau ketemu dengan Arjunamu."


" Ah, Romo, " desis Savitri menahan malu karena tertebak maksud sebenarnya ingin ke Kotaraja" untuk mencari Jaka Wingit. " Perjalanan ke Kotaraja berapa lama, Romo?"


" Kalau langsung ke Kotaraja paling sepekan sudah sampai karena aku sudah hapal jalan pintas terdekat ke sana. Tapi kita nanti tidak langsung ke sana dulu, ada urusan pekerjaan di desa Jalanidhi. Setelah usai pekerjaan di Jalanidhi, baru kita ke Kotaraja."


" Jalanidhi? Mengapa nama desanya Jalanidhi? Apa desa itu ada di pinggir pantai? Waaaahhh.. saya juga ingin melihat laut, Romo. "


Wajah cantik Savitri bersinar cerah, senyum merekah dari bibir merah jambunya, berlutut senang menghatur terima kasih kepada ayahnya. Darah remajanya melonjak bahagia membayangkan dua tempat menakjubkan yang selama ini hanya ia dengar lewat cerita; Kotaraja dan Laut, ditambah kemungkinan bertemu dengan Jaka Wingit sang pujaan hati.


***


Melayang ke Timur lagi menyusur tanah Jawa Dwipa yang dipaku oleh ratusan gunung berapi maupun yang tertidur, sehingga menjelma sebagai pulau tersubur di atas muka Bumi, di mana tertanam dan tumbuh berbagai jenis pohon yang tidak bisa ditemukan di belahan dunia lain. Hutan rimba berjajar sambung menyambung seperti rambut yang tiada terhitung di sekujur pulau. Di balik kelebatannya hidup jutaan jenis hewan, serangga, burung dalam berbagai ukuran dan ujud. Belum juga terhitung binatang-binatang siluman yang hidup antara nyata dan gaib. Maka, sangat pantas bila ada jenis hewan maupun tumbuhan yang belum diketahui manusia secara umum.


Di antara ratusan gunung yang menyimpan rahasia, di sebelah selatan Kotaraja Majapahit, menjulang tinggi Gunung Arjuna dalam keheningannya. Konon pada masa purba, gunung itu menjadi tempat pertapaan Arjuna sang ksatria ketiga dari Pandawa. Begitu hebatnya tapa yang dilakukan Arjuna sehingga puncak gunung tempat ia bersila terangkat naik melebihi Jonggring Saloka puncak Mahameru tempat kahyangan berada. Hal itu mengkhawatirkan posisi para Dewata yang terkalahkan kedudukannya oleh manusia. Apalagi perbawa yang keluar dari tubuh Arjuna memancarkan tenaga yang mengguncang kedamaian kahyangan. Merasa tidak mampu menghadapi daya pertapaan Arjuna, Bathara Guru yang sedang memegang kuasa di kahyangan meminta bantuan kepada dua saudara kandungnya, yaitu Hyang Antaga dan Bathara Ismaya untuk menghentikan pertapaan Arjuna sebelum Kahyangan runtuh.


Kedua Dewa saudara penguasa Kahyangan itu segera turun ke Bumi dalam ujud manusia buruk rupa, di mana Sanghyang Antaga berjasad manusia bernama Togog, sedang Bathara Ismaya bergelar Semar. Sesampai di pertapaan, Semar dan Togog berusaha membangunkan Arjuna agar berhenti bertapa. Namun usaha mereka baik dengan jalan halus membujuk sampai menyerang dengan kesaktian tidak mampu mengusik Arjuna yang sedang tenggelam ke meditasi terdalam. Arjuna tidak bergerak sedikitpun, bahkan membuka matapun tidak.

__ADS_1


Semar tidak begitu saja kehilangan harapan setelah semua kesaktiannya dikerahkan. Dengan melakukan Triwikrama ( kemampuan merubah ujud jadi raksasa), tubuh Semar membesar melebihi gunung. Dengan cara itu ia menggali kaki gunung hingga gunung itu terperosok ke dasar bumi dan terpenggal. Terpenggalnya gunung membuat tingginya kembali lebih rendah dari Kahyangan seperti saat sebelum digunakan Arjuna untuk bertapa.


Merasakan goncangan yang sangat dahsyat, Arjuna terkejut dan bangun dari pertapaannya. Didengarnya saran Semar dan Togog yang memintanya untuk menghentikan pertapaan demi keseimbangan jagad Dewata dengan Manusia. Arjuna menyetujui hal itu setelah Semar menyodorkan diri sebagai pengasuh keluarga Pandawa dan seluruh keturunannya sampai raja-raja di seluruh tanah Jawa dan Nusantara. Sedangkan Togog yang statusnya lebih tua daripada Semar mengorbankan dirinya menjadi pengasuh Kurawa untuk mengendalikan napsu jahat agar tidak berlebihan sehingga terjadi keseimbangan kehidupan. Dalam hal ini, tugas Togog lebih berat karena harus bergaul dengan Ksatria jahat, sementara Semar berada di lingkungan Ksatria yang baik.


Namun, ada satu hal yang kurang diperhatikan Semar saat menggali tanah di bawah gunung yang kemudian dinamakan sebagai gunung Arjuna itu. Karena tingginya gunung, untuk mampu menelannya, tanah yang digalinya harus sangat dalam sehingga mencapai bumi terendah tingkat 7 yang merupakan dasar bumi tempat kekuasaan Sanghyang Anantaboga ( Pemakan atau Penyedia Segala Makanan) yang berujud Raja Naga. Sang Naga itu terkejut terusik dari pertapaannya saat istananya ambrol, sehingga mengibaskan ekornya yang ujungnya menembus batas tanah dan laut. Akibatnya, tercipta terowongan raksasa yang menyemburkan air laut melimpah merendam lereng gunung Arjuna.


Air laut yang membanjiri kian membesar tak terbendung sehingga menyerupai Jalanidhi ( samudera). Di antara semburan air laut itu, ikut terhisap hanyut sebuah kapal yang sangat besar bertengger di punggung gunung.


Seketika Semar panik melihat dampak penggalian bumi yang dapat menghancurkan kehidupan manusia blla tidak segera diatasi. Maka dengan cepat ia menghantam Naga Anantaboga agar menghentikan sibakan ekornya.


BERSAMBUNG


***


ILUSTRASI


Naga Antaboga, penunggu gaib Gunung Arjuna



__ADS_1


__ADS_2