KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
28 MURLI KATONG BATHARA KRESNA


__ADS_3

Ajian Murli Katong ( Raja Seruling) dalam dunia persilatan tidak dikenal luas. Tidak semua pendekar tahu, bahkan tingkat begawan sekalipun belum tentu pernah mendengar nama ajian itu. Beruntung Mpu Angalas yang memiliki latar belakang Pujangga adalah pecinta kitab kuno yang bentuk hurup dan bahasanya sulit dibaca awam. Dalam suatu petualangan, atas wangsit spiritual ia menemukan kitab sastra langka tergeletak begitu saja di sebuah gua. Kitab sastra itu berisi kisah-kisah para pemuja Bathara Wisnu dalam ujud Shri Kresna. Di antara para pemuja, terdapat kisah yang sangat menarik di mana pernah hidup seorang pemuda cacat yang sangat lemah raganya sehingga tidak mampu memuja Kresna dengan yoga, puasa, apalagi tapa. Begitu lemahnya pemuda itu, sehingga sekali mencoba puasa setengah hari saja maka ia akan jatuh sakit tidak mampu berdiri. Celakanya, ia juga tidak bisa memuja Kresna dengan doa puja mantra karena lidahnya tidak normal, sangat pendek dan kecil. Bila ia nekat mengucapkan puja mantra, bunyi mantera yang keluar dari mulutnya pasti disalahkan orang, ditertawakan, bahkan dicaci maki dianggap menista agama. Maka satu-satunya ang dapat ia lakukan hanya mendengar orang berdoa dan membaca.


Hingga suatu ketika ia mendengar pembacaan Bhagawad Gita, yang mengatakan bahwa Shri Krishna menerima apapun ujud bhakti para pecintanya meski itu hanya berupa sehelai daun atau sesobek kelopak bunga. Pemuda cacat itu sangat gembira akhirnya menemukan juga cara memuja Dewa yang sangat ia cintai. Setiap hari pekerjaannya hanya pergi dari satu taman ke taman lain untuk memetik dedaunan dan bunga guna dipersembahkan kepada Kresna. Pada awalnya itu tidak menjadi masalah sampai ia berlaku berlebihan. Hasrat keagamaannya yang terlampau kuat ditambah frustasi terpendam karena tidak bisa memuja Kresna dengan cara yang lazim, membuat ia bertingkah gila. Ia merontokkan semua daun dan bunga yang ada di sebuah taman. Akibatnya ia dilaporkan ke Buyut Desa sebagai pelaku perusakan. Hanya karena mengingat kondisinya yang cacat ia tidak dihukum badan atau denda kecuali tidak boleh lagi datang ke taman.


Karena mendapat hukuman tidak boleh datang lagi ke taman, hati pemuda itu hancur merasa satu-satunya hak ibadahnya dicabut. Ia tidak kembali ke rumahnya tapi melarikan diri ke hutan untuk mengadukan nasibnya kepada Bathara Kresna.


Sesampai di hutan pemuda cacat itu menangis sejadi-jadinya. Ia rindu memuja Kresna. Ia ingin menyebut namanya, tapi lidahnya yang sangat pendek tidak mampu mengucap nama Kresna dengan benar. Yang keluar hanya suara ' aaaa...aaaa..aaaaaa...' yang tidak jelas maksudnya.


Tangisan pemuja yang keluar dari hati terdalam menyeruak ke langit, menembus ke ketinggian, kedalaman, 9 penjuru arah, menerobos segala dimensi hingga menggetarkan tirai spiritual alam semesta sampai Dewa Wisnu sendiri harus turun dalam ujud maya Shri Narendra Bathara Kresna sebagai yang terpuja untuk menenangkannya.


Melihat perwujudan Kresna turun dari awang-awang menyibak rerimbunan ujung-ujung tertinggi pohon di hutan, pemuda itu gembira bukan main. Saking gembiranya ia tak mampu mengendalikan diri. Darahnya berdesir-desir tak menentu, detak jantungnya berlompatan tanpa kekang, napasnya memburu tersengal-sengal, tahu-tahu tubuhnya jatuh tergeletak pingsan.


Dalam pingsannya, pemuda cacat itu bermimpi ditemui Kresna secara pribadi dan ia bisa berbincang-bincang secara normal. Ia menceritakan keinginannya tiap saat untuk memuja Kresna, memanggil namanya, menceritakan kisahnya, mengabarkan ajarannya, namun nyatanya ia tidak bisa berkata-kata karena lidahnya tidak normal. Kresna yang menempati badan Dewatanya yang berpendar cahaya tersenyum teduh. Gaya bicaranya lugas namun tersampaikan dalam nada lembut, " Sesungguhnya kau akan mampu menyebut dan mengabarkan nama serta kisahku seketika setelah nanti kau kubangunkan dengan kekuatan mayaku. Nanti kau akan bangun di atas rumpun bambu. Potonglah sebilah tepat sepanjang sikumu. Bentuk sebagai seruling dengan 4 lobang di bagian sisinya sebagai gambaran 4 unsur pembentuk kehidupan; Udara, Api, Air, dan Tanah. Maka bila kau ingin memanggil namaku, tiuplah seruling itu. Demikian pula jika kau ingin mengabarkan tentang aku, tiuplah seruling itu. Sesungguhnya bukan kau yang meniupnya melainkan aku sendiri yang turun menjadi napasmu. Maka bila kau meniupnya, kuperintahkan tiga buana untuk mendengarnya. Baik dunia bawah siluman maupun binatang, dunia tengah manusia, maupun dunia atas leluhur dan dewa dewi ikut mendengar. Kau kunamai Murli Katong ( Raja Seruling), demikian pula anak lelaki sulungmu dalam tujuh keturunan. Sekarang, bangunlah kau pemuja Wisnu!"


Bersamaan dengan kalimat itu, penampakan Kresna menggaib lagi dari pandangan dan pemuda cacat itu terbangun dari mimpi menemukan dirinya terbaring di rumpun bambu persis seperti yang disabdakan Shri Krishna.


Pemuda cacat itu segera melaksanakan petunjuk Dewata pujaannya dan meniup seruling. Entah karena kebetulan atau memang demikian cara Sanghyang Maha Kuasa mengukir pernak-pernik kehidupan, bentuk lidahnya yang pendek membuat pemuda itu terbiasa mengatur udara dari tenggorokan sebelum keluar ke mulut untuk mengganti fungsi ucapannya yang tidak sempurna. Ketika meniup seruling, hatinya seperti berbicara melalui pengaturan angin yang unik. Nada Seruling menjadi pengganti mulutnya untuk menyapa, memuja, bercerita tentang Kresna dan Kehidupan. Akibatnya, semua orang yang mendengar tiupan serulingnya dilanda pesona, takjub, syahdu, teduh, penuh harapan dan kecerahan hidup. Nada-nada yang keluar dari serulingnya mengandung daya yang tak kalah dengan doa mantra para Reshi, lantunannya tak kalah menawan dari cerita ahli sastra. Lama kelamaan makin banyak orang berdatangan dari seluruh penjuru untuk mendengarkan pemuda itu meniup seruling karena merasakan kehadiran Kresna dalam tiap-tiap nadanya sehingga ia dikenal sebagai Murli Katong ( Raja Seruling) titisan Shri Krishna.


Konon dengan tiupan seruling, Murli Katong mampu berbicara dengan semua binatang, siluman, hingga Dewata hingga tidak aneh di antara para manusia pendengarnya berduyun-duyun pula ular, kelinci, gajah, hingga harimau ikiut berbaris tenang mendengarkan, sementara lebah dan kupu-kupu cantik riang beterbangan di atas kepalanya.


Namun karena kemampuan Murli Katong adalah semacam anugerah khas yang tidak dapat disengaja dipelajari, maka di atas bumi di bawah langit hanya dia seorang yang memiliki. Setelah ia meninggal dunia, kemampuan itu secara niscaya akan merasuk kepada anak sulung laki-lakinya, demikian seterusnya sampai keturunan ke tujuh seperti yang disabdakan Bathara Kresna. Sayangnya, alur keturunan sulumg dari Murli Katong tidak tercatat keberadaannya dalam kisah apapun, sehingga dunia melupakan keberadaan ajian itu hingga saat Karna melihat keahlian penculik itu memainkan nada seruling sebagai senjata.


Usai Karna menceritakan pengetahuannya tentang ajian langka yang ia dengar dari gurunya, tiga orang yang hadir di ruang tamu warung makan itu menghembuskan napas panjang, sebab mereka seolah lupa bernapas selama cerita tentang Murli Katong dituturkan.


Julig yang memiliki pemikiran sangat kritis menjadi orang pertama yang memecah keheningan dengan pertanyaan, " Kalau menurut cerita kang Wingit, harusnya pemilik ajian itu berbudi sangat halus karena untuk bisa meniup seruling dengan indah pasti harus dilandasi jiwa yang hening. Tapi mengapa penculik itu berbuat jahat dan nyaris mencelakakan banyak orang kemarin dengan tiupan serulingnya?"


Karna berpikir sejenak, sebenarnya dia sendiri juga heran," Aku belum bisa memastikan dia itu orang jahat atau bukan, atau bisa saja menyerang dengan seruling karena terdesak oleh seranganku dan kang Kidang. Tapi menguasai ajian tertentu tidak menjamin seseorang menjadi baik atau jahat. Seperti api bisa digunakan untuk menanak nasi atau membakar rumah, itu tergantung pada orangnya. Apalagi ajian Murli Katong sifatnya warisan, bukan diusahakan. Bukan sebuah jaminan juga bila seorang ayah yang baik pasti anaknya baik, demikian pula sebaliknya. Apalagi orang ini entah keturunan ke berapa."


" Sudah, itu semua tidak kita perlukan sekarang, " potong Kidang Panah. " Yang paling penting, Kang Bagya pernah dengar tidak ada orang di kota ini yang menguasai ajian itu?"


Bagya pemilik warung mencoba mengingat-ingat cerita, desas-desus, bahkan dongeng yang ada kaitannya dengan pemilik ajian itu. Tapi sungguh, cerita yang disampaikan oleh Karna belum pernah ia dengar sedikitpun. Ia menggelengkan kepalanya, " Maaf, saya belum pernah mendengar."


Kidang Panah dan Julig menghembuskan napas kecewa. Harapan yang sempat berkembang pupus lagi.


Namun Karna yang sangat meyakini bahwa pemilik ajian itu kemungkinan bukan orang jauh mencoba bertanya dengan cara lain, " Kalau di sekitar sini ada tidak arca, ukiran, atau apapun yang menggambarkan Sri Kresna bermain seruling?'


" Arca? " Bagya tampak berpikir keras. Tiba-tiba ia memekik, " Jagad Dewa Bathara! Mengapa aku berpikir sampai situ? Witooooo....! Bregaaasss...! Ke sini kalian!" Teriak Bagya tampaknya memanggil dua pembantunya.


Dua orang pembantu warung datang berlarian, " Iya, Ndoro!" sahut orang yang pasti bernama Bregas karena Wito yang gagu tidak bersuara.


" Bergas, beberapa bulan yang lalu kau bersama Wito pernah disuruh mengantarkan patung Kresna berseruling kan?"


" Benar, Ndoro?"


" Siapa yang menyuruhmu?"


" Saya tidak tahu namanya. Yang datang memesan patung anak buahnya. Saya sendiri hanya disuruh mengantarkan sama Kang Suma. Karena Wito tenaganya kuat, saya ajak juga."

__ADS_1


" Kau ketemu sama yang memesan patung?"


" Tidak, Ndoro. Hanya disuruh meletakkan patung di depan pintu gua lantas dibayar."


" Kau masih ingat kan letak gua itu? Sekarang juga kau antar tiga Raden ini ke sana!'


Tiba-tiba paras Bregas memucat, " Jangan sekarang. Saya tidak berani ke sana malam-malam. Lagipula tidak mungkin bisa melihat jalan kalau tidak siang. Belum lagi siluman dan binatang buasnya."


" Memangnya goa itu ada di mana?"


" Alas Ketonggo, Ndoro. Sangat angker dan lebat pohon-pohonnya. Apalagi macan raksasa pasti sedang berkeliaran di malam hari."


Karna mengangkat telapak tangannya, " Kang Bregas tidak perlu takut. Ada saya dan Kang Kidang. Kami sudah terbiasa hidup di hutan."


" Mohon maaf, Raden. Bukannya saya menolak membantu. Saya hanya mohon jangan sekarang, besok pagi saja, " ujar Bregas bermohon sambil menyembah. Wajahnya kian memucat takut.


Kidang Panah mendengus tak sabar, " Apa yang kau takutkan? Harimau Siluman?"


" Iya, Raden. "


" Sebesar apa?"


Bregas mengangkat wajahnya untuk meyakinkan semengerikan apa Siluman Harimau yang pernah ia dengar, " Besarnya tiga kali kerbau, cakarnya sebesar belati, taringnya seperti pedang. Dia bisa memangsa 3 orang sekaligus sekali makan."


Kidang Panah mengangguk-angguk, diam-diam ia merapal mantra dan mulai mengerahkan daya sihirnya, " Baru juga sebesar 3 ekor kerbau kau sudah takut. Bagaimana kalau sebesar rumah?"


" Grrrrrroooaaaahhhh....!!! " bersamaan dengan ucapan Kidang Panah, tiba-tiba pintu warung terbuka, dan tepat di depan warung seekor harimau sebesar rumah menggeram menyeringai memperlihatkan taring yang sepanjang dua kali pedang. Harimau itu berusaha masuk ke dalam warung hingga dinding warung berguncang seperti mau ambruk.


Kidang Panah menjalankan rencananya. Dengan langkah sangat tenang ia berjalan ke pintu masuk warung mendekati harimau yang terlihat semakin murka terus menggeram dan membuka mulutnya lebar.


Saat harimau raksasa itu membuka mulutnya, lebarnya persis setinggi badan Kidang Panah. Sementara jarak antara Kidang Panah dan harimau itu tinggal beberapa jengkal. Sekali saja harimau itu memajukan mulutnya, dapat dipastikan tubuh Kidang Panah akan tertelan utuh.


Julig yang melihat nyawa Kidang Panah terancam berteriak, " Kang Kidaaaanggg... berhentiiii...!" Sambil seraya melempar semua benda ke mulut harimau yang menganga. Tentu saja lemparan itu sia-sia tidak ada artinya untuk harimau seukuran itu.


" Kang Wingit mengapa diam saja? Lakukan sesuatu untuk menolong Kang Kidang!" sambung Julig panik.


Karna memegang lengan Julig dan berbisik, " Diam, tenang saja. Kang Kidang bisa mengatasi ini!"


" Mengatasi bagaimana?" Julig masih protes.


" Lihat saja!"


Benar apa yang dikatakan Karna. Tepat di depan mulut harimau yang sedang menganga itu, Kidang Panah menghardik keras, " Diam kau!"


Ajaib. Seketika harimau itu mengatupkan rahangnya. Lalu dengan perlahan menekuk kaki depannya dan duduk tanpa perlawanan.


Kidang Panah mengusap-usap kepala harimau raksasa yang mendadak menjadi sangat jinak. Bahkan ia terlihat manja seperti kucing yang keenakan dibelai majikannya.

__ADS_1


Semua orang yang ada di warung dilanda perasaan lega sekaligus takjub. Bregas hanya melongo melihat pemandangan itu. Sementara Kidang Panah berkata agak keras untuk bisa didengar oleh semua orang, " Kau lihat orang-orang itu. Mereka semua temanku. Hapalkan wajahnya, dan perintahkan pada semua harimau di alas Ketonggo, baik harimau sungguhan atau siluman untuk tidak mengganggu mereka. Paham?"


Harimau raksasa itu mendengkur manja.


" Bregas, kau ke sini! Raja Diraja Harimau ini ingin mengenalmu, " ujar Kidang Panah.


Dengan masih gemetaran Bregas maju di belakang punggung Kidang Panah. Kemudian ia berlutut bermaksud menyembah harimau itu. Namun bahunya ditahan Kidang Panah, " Bukan begitu cara menghormati Raja Diraja Harimau. Kau harus membelai kepalanya seperti seekor kucing."


Dengan ragu-ragu Bregas mengulurkan tangan. Kidang Panah memegang lengan Bregas untuk menuntunnya mengusap-usap kepala harimau. Mulanya Bregas takut-takut. Tapi begitu beberapa usapan terlihat harimau itu nyaman dan senang, Bregas jadi penasaran. Ia maju sehingga tubuhnya bersentuhan dengan hidung harimau. Ia mulai mengusap-usap kepala harimau yang lebih tinggi dari badannya sendiri. Bregas malah beberapa kali memeluk kepala harimau raksasa itu.


Melihat asiknya Bergas memanjakan harimau, Julig ikut melangkah maju, " Kang Kidang, boleh saya ikut memegang Raja Harimau?"


Kidang Panah tersenyum, " Boleh, asal jangan sampai dia kelaparan. Nanti kau dijadikan makan malam sama dia."


" Waduh! " Julig memundurkan langkahnya lagi. Demikian juga Bregas khawatir kalau tiba-tiba harimau itu lapar.


" Tidak, aku cuma bercanda. Raja Diraja Harimau ini sudah menganggap kita sebagai teman. Tidak mungkin memakannya."


Julig langsung memeluk kepala harimau itu. Dengan gemas seperti anak kecil, ia menguyel-uyel pipi dan telinga harimau yang berubah manja.


" Kamu kok bisa segede ini sih, Raja Harimau? Makananmu apa?" ujar Julig polos.


Kidang Panah yang menjawab, " Makanannya gajah muda. Tiga bulan sekali dia makan gajah saat purnama tiba."


" Oooo...pantesan tubuhmu gembrot gini ya, Raja? " ujar Julig sambil terus memeluk kepala harimau yang lebih besar dari tubuhnya.


Kidang Panah sengaja membiarkan beberapa saat mereka bermain-main dengan harimau hasil sihirnya. Setelah dirasa cukup ia menepukkan tangan dan berkata, " Raja Diraja Harimau mau kembali ke keratonnya lagi. Ucapkan salam padanya sebelum pergi."


Berbarengan dengan kata-kata Kidang Panah, harimau raksasa itu bangkit berdiri. Julig dan Bregas menakupkan tangan hormat. Sesaat kemudian harimau jadi-jadian itu membalikkan badannya lalu melompat jauh ke pepohonan untuk lenyap dari pandangan.


Bregas tampak sangat bahagia telah mendapat pengalaman berinteraksi langsung dengan Raja dari segala raja Hutan. Ini akan menjadi cerita kebanggaannya seumur hidup. Anak cucunya harus tahu cerita itu.


" Bagaimana, masih takut dengan Siluman Harimau alas Ketonggo?" tanya Kidang Panah.


" Tidak. Saya tidak takut lagi selama ada Raden Kidang Panah."


" Bagus. Kita berangkat sekarang! Ayo, Jaka Wingit, kita ke alas Ketonggo."


" Aku ndak diajak?" tanya Julig protes.


" Kondisi alam alas Ketonggo tidak cocok untukmu, Julig. Kau istirahat saja dulu di kamar, " jawab Kidang Panah.


" Julig harus diajak, Kang!" tiba-tiba Karna menyahut.


Kidang Panah menatap Karna. Ia percaya insting Karna. Ia pun mengangguk.


" Baik, kita berangkat berempat. Bawa kuda sendiri-sendiri!"

__ADS_1


" Yuhuuuiii...." pekik Julig yang ingin merasakan perjalanan dengan Seta kuda barunya.


***


__ADS_2