KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
40 PERTEMPURAN DI ISTANA KRESNA


__ADS_3

Darsono terburu-buru mencari pot bibit pohon tulasi yang ketinggalan. Disingkapnya tumpukan bungkus daun.


" Kau mencari apa, Darsono?" tanya Panembah Swara.


" Pot bibit tulasi ada yang ketinggalan, Bapa Guru, " jawab Darsono sambil masih mencari. " Oh, ini dia sudah ketemu."


" Hamba kembali ke sana mengantar ini, Bapa."


" Ya, " ujar Panembah Swara singkat.


Darsono membalikkan badannya ingin berangkat mengantar pot yang ketinggalan. Saat membalikkan badan itulah ia melihat Karna dan Kidang Panah menyeruak masuk ke ruangan.


" Siapa kau!" Hardik Darsono.


Panembah Swara ikut menoleh ke arah Darsono memandang. Ia terkejut melihat Karna dan Kidang Panah sudah ada di situ. Segera ia jejakkan kaki meluncur menuju ruang goa yang lebih luas. Ruang yang dituju Panembah Swara adalah ruang utama goa yang saking besarnya mampu menampung seribu orang. Namun Kidang Panah bergerak cepat menyusul Panembah Swara, sementara Karna menotok Darsono dan beberapa siswa di ruangan itu sehingga jatuh lemas kehilangan tenaga.


" Berhenti, Bapa Guru! Maksud kedatangan kami damai. Kami hanya ingin mengambil sobekan surat yang Anda bawa, " ujar Kidang Panah menghadang laju gerakan Panembah Swara.


Panembah Swara mendengus pendek, " Damai apa? Kau telah mengacak-acak kediamanku. Goa tempat persembahyanganku!"


Karna yang sudah membereskan beberapa siswa menyusul dan berkata, " Bapa Panembah Swara, sungguh kami tidak membawa maksud buruk. Yang kami inginkan hanya sobekan surat Itu, karena itu memang milik kami. Jika Bapa menyerahkan surat itu, kami berjanji pergi dengan damai, tidak ada yang terluka antara kita, apalagi sampai tewas."


" Kalau aku tidak mau?" jawab Panembah Swara sinis.


" Mohon maaf, kami terpaksa mengambil secara paksa," ujar Karna.


" Dua bocah pongah! Sombong tidak tahu batasnya langit, " Panembah Swara mendengus. Ia menepuk tangan, tiba-tiba dari sepenjuru goa berdatangan murid-muridnya dengan senjata lengkap. Jumlah mereka ada ratusan orang.


Berbarengan dengan munculnya ratusan muridnya, Panembah Swara melentingkan tubuh untuk hinggap di puncak stalagnit tertinggi. Tampaknya ia ingin menyaksikan Karna dan Kidang Panah menghadapi ratusan muridnya, sehingga memiliki kesempatan untuk meniup seruling menggunakan ajian Murli Katong.


Karna dan Kidang Panah berdiri saling memunggungi, ratusan murid Panembah Swara dengan berbagai senjata maju perlahan-lahan dalam formasi mengepung. Tak ada satupun celah untuk bisa meloloskan diri.


Pedang, golok, tombak, bandul bertali bergerak-gerak, berayun, mengeluarkan suara logam bergesekan yang mengancam. Karna dan Kidang Panah memasang kuda-kuda ringan agar dapat bergerak cepat saat serangan datang. Kidang Panah memutar-mutar tongkat kayunya, Karna menggerak-gerakkan lengannya perlahan seperti menari. Tubuh mereka yang saling memunggungi berputar perlahan-lahan agar dapat memantau seluruh pergerakan ratusan musuhnya.

__ADS_1


" Seraaaaaang.....!!!" pekik seorang murid.


Seketika mereka merangsek maju. Yang lebih dulu datang adalah serangan tombak yang jarak jangkauannya paling panjang.


" Trang...! Trang..! Clap...! Clap...!"


Dengan pandangan yang sangat awas, serangan tombak itu berhasil dihindari, sehingga yang terjadi tubuh Karna dan Kidang Panah terlilit sekitar 10 tombak, namun tak ada satupun yang berhasil menusuk daging. Ada tombak yang bertengger di pundak, ada yang menerobos masuk ke ketiak, ada yang menusuk luput melewati pinggang, celakanya ada batang tombak yang justru dapat ditangkap tangan oleh Karna dan Kidang Panah. Dengan sedikit memutar bahu, tombak-tombak yang terjepit ketiak patah.


" Crack...crak..plethak...plethak..!" terdengar bunyi tombak-tombak patah.


Yang apes nasib penyerang yang batang tombaknya tertangkap tangan Kidang Panah dan Karna. Dengan sedikit sentakan, Karna dan Kidang Panah membuat kulit tangan mereka terkelupas sehingga terpaksa melepaskan genggaman.


Kini Karna dan Kidang Panah bersenjata tombak panjang hasil rampasan. Seperti sudah tahu apa yang masing-masing harus lakukan, Kidang Panah dan Karna berbarengan melecutkan tombaknya ke depan dan samping. Tombak yang dilecutkan dengan gaya seperti cambuk itu membuat formasi pengepungan kocar-kacir. Ada 7 orang yang kepalanya bocor mengucurkan darah terkena lecutan tombak. Yang mampu menghindar pun memundurkan langkahnya sehingga jarak pengepungan menjadi longgar.


Melihat formasi pengepungan berubah, Kidang Panah dan Karna melompat menjauh untuk memperluas wilayah pertahanan mereka. Masing-masing memutar tombaknya dengan sangat cepat sehingga membentuk seperti payung dengan ujung yang tajam menyobek daging siapapun yang terkena.


Sejenak formasi serang ratusan murid Panembah Swara itu kacau oleh gebrak kejutan Karna dan Kidang Panah.


" Mundur! Ambil jarak!" terdengar aba-aba pemimpin serangan.


Karna dan Kidang Panah mengerutkan keningnya, para penyerang yang semula berusaha merangsek maju, kini justru mundur namun dengan gerakan sangat teratur sehingga membentuk formasi baru dengan jarak lebih lebar sehingga berada di luar jangkauan tombak.


Pertanyaan Karna dan Kidang Panah atas perubahan formasi ini segera terjawab.


" Zzzuuuttt...!!!"


" Plaaaassss...!!!"


" Zuuuutttt.....!!!"


Puluhan anak panah datang dengan arah melengkung sehingga jatuh dari atas persis seperti hujan menghujami tempat berdiri Karna dan Kidang Panah.


Segera Karna dan Kidang Panah memutar tombaknya ke atas kepala membentuk pusaran pelindung diri dari anak panah yang datang menghujam.

__ADS_1


Masih kerepotan ' memayungi' diri dari hujan anak panah yang datang dari atas, tiba-tiba pemimpin serangan meneriakkan aba-aba baru, " Tengah Panah Cepat, kiri kanan Supit Urang!"


Seketika formasi berubah lagi. Sementara hujan panah melengkung tetap dilakukan dengan serangan dari atas, penyerang non panah memecah jadi dua bagian kiri kanan membentuk supit urang ( jepitan udang ) yang menyerang dari samping.


Menerima serangan ratusan orang dari segala arah itu membuat Karna dan Kidang Panah sana sekali tidak memiliki kesempatan untuk membalas serangan. Jangankan membalas serangan, melonggarkan pertahanan sedikit saja pasti mereka terkena serangan. Jika hanya konsentrasi pada hujan panah, serangan dari samping pasti masuk. Jika hanya memikirkan serangan samping berupa tombak, ayunan bandul dan pedang, panah dari atas pasti menembus sasaran.


Menilai kondisi tidak menguntungkan jika dilanjutkan, Kidang Panah berseru pada Karna, " Kita lompat ke cekung goa yang di atas itu. Kau lihat cekung itu?"


" Ya, Kang. Sekarang! Hiyaaaattt.. !!!"


Karna dan Kidang Panah menjejakkan kaki meluncur ke cekungan goa di atas untuk menghindari serangan ratusan orang.


Setelah mendarat di ruang cekungan yang disusul oleh hujan anak panah, Karna dan Kidang Panah menyusup sembunyi di balik stalagnit besar yang menghalanginya datangnya anak panah.


" Kita tidak bisa melawan dengan cara biasa. Mereka memanfaatkan ruang goa untuk menyerang dan menguasai gelar perang seperti prajurit terlatih. Setiap kali kita hancurkan satu formasi, mereka mampu dengan cepat merubah gelar barisan sehingga justru makin menguat. Aku butuh waktu beberapa kejap untuk membangkitkan ajian sihir Chandra Birawa. Nanti begitu pasukan mereka kacau terpengaruh ilusi sihirku, kau cepat-cepat tinggalkan perang ini, biar aku sendiri yang menghadapi, kau kejar dan serang Panembah Swara. Aku takut dia melarikan diri selagi kita sibuk menghadapi pasukan muridnya ini. Paham kau, Karna?"


" Paham, Kang."


" Sekarang, tolong tahan semua serangan panah yang datang untuk beberapa kejap selama kubangkitkan Chandra Birawa."


Karna mengangguk, berkonsentrasi menahan serangan panah yang satu dua melesat liar berhasil menerobos ruang cekungan.


Sementara Kidang Panah memejamkan mata, berdiri dengan dua telapak tangan menyatu di depan dada. Perlahan-lahan kedua telapak tangannya merenggang... memisah...makin menjauh...dan benar-benar memisah.


Ajian mistis Chandra Birawa yang sudah disempurnakan oleh Mpu Kuricak telah sepenuhnya bekerja. Tubuh Kidang Panah kini sudah menjadi 3. Satu tubuh aslinya, sedang dua tubuh yang lain adalah ilusi sihir yang bisa memecah lagi menjadi tak terhingga jumlahnya bila dilukai atau menitikkan darah.


Kidang Panah dan Karna melompat terjun lagi ke arena pertempuran.


Murid-murid Panembah Swara terpekik kaget setengah ketakutan melihat lawan yang dihadapinya sekarang berjumlah 4 orang. Seorang Karna dan 3 orang Kidang Panah bersama ilusi sihirnya.


Kidang Panah tertawa, " Hahaha...ayo, serang aku! Panah aku! Tusuk aku! Cincang tubuhku!"


***

__ADS_1


__ADS_2