
Menggunakan senjata yang sangat berat memiliki sisi kelebihan dan kelemahan tersendiri. Kelebihannya, tentu pada beratnya itu sendiri. Gada tidak bisa ditangkis dengan pedang, golok, atau semacamnya. Sekali terjadi benturan, dapat dipastikan gada akan mematahkan atau menghancurkan senjata lawan. Padahal Karna melihat, di rak senjata yang ada pedang, golok, tombak, dan bandul bergigi tajan. Mungkin hanya bandulan bergigi tajam yang lumayan cocok untuk menghadapi gada. Namun, bandul berantai besi pergerakannya tidak cukup luwes. Maka Karna memutuskan tidak memilih senjata apapun yang ditawarkan. Ia lebih memusatkan perhatiannya pada kelemahan gada untuk diserang. Beratnya gada mau tidak mau akan mempengaruhi kelincahan pemegangnya. Tumpuan bahu dan kuda-kuda pemegangnya harus kokoh sehingga tidak bisa meloncat ke sana ke mari dengan bebas. Itulah sebabnya Karna memilih bertangan kosong. Sekalian saja mengadu kekuatan melawan kelincahan, sekaligus memberi beban moral pada sifat Ksatria yang harusnya malu memegang senjata melawan orang yang bertangan kosong.
" Hoooossshhh....!!!" Demang Suranggana menyerang dengan melompat lurus ke depan dan menghujamkan gadanya dari atas ke bawah menyasar kepala dengan maksud mengepruk kepala Karna. Namun serangan itu dapat dielakkan secara mudah dengan menggeser satu menyamping sehingga gada lolos dari sasaran dan hanya lewat di samping telinga Karna.
Demang Suranggana sadar serangan sederhana itu akan mudah dielakkan, namun tujuan serangan pembuka ini memang hanya untuk mengintimidasi nyali Karna dengan unjuk kekuatan. Meski serangan itu luput, tapi angin yang terbelah oleh gada menimbulkan deru yang terdengar di telinga Karna. Selanjutnya laju gada menghantam dinding sehingga menimbulkan suara berderak dan kayu pecah berkeping-keping.
" Braaaakkk ...!!!"
Gada kali ini digerakkan memutar menyusur pinggang. Kali ini Karna bukan menghindari dengan melompat namun menjatuhkan diri ke samping. Dengan bertumpu telapak tangan di lantai, Karna memutar tubuhnya dengan kedua kaki menyatu menyapu kuda-kuda Demang Suranggana yang berdiri kokoh untuk menunjang tenaga ayunan gada.
" Plaaaakkk....!!!"
Dua kaki Karna yang disatukan menyapu kuda-kuda Suranggana.
" Deeeesss....!"
Demang Suranggana mundur terhuyung selangkah untuk menyeimbangkan kembali kuda-kudanya, sementara kaki Karna serasa membentur sepasang palang besi. Kaki Demang Suranggana sungguh sangat keras.
Begitu melihat Demang Suranggana sekejap disibukkan untuk memperbaiki kuda-kuda, Karna berguling mendekat untuk mengincar paha Demang Suranggana dengan pukulan beruntun.
" Plak... plak... plak...bug..buk...plak..!"
Bertubi-tubi pukulan cepat Karna menghajar paha Demang Suranggana hingga terbentuk bilur-bilur memar merah kehitaman.
Tidak berhenti situ, Karna meneruskan usaha 'mengunci' gerak gada dengan terus melanjutkan pertarungan bawah, menyusur ke belakang, memutar berlawanan arah dari ayunan gada yang berkali-kali menemui tempat kosong.
Demang Suranggana jadi kehilangan ruang serangnya. Meskipun serangan Karna tidak dilambari tenaga besar, namun karena dilakukan secara beruntun, tak ayal membuat Demang Suranggana kerepotan juga. Kecerdasan cara bertarung Karna membuatnya seperti tongkat melawan lalat. Dipukul sekeras-kerasnya pun tidak akan mampu menjatuhkan lalat yang bisa mendahului terbang sebelum ayunan menerpa tubuhnya, paling hanya angin tak berarti yang berdesing di udara hampa.
Hingga ketika Karna berhasil menempatkan tubuh tepat di belakang Suranggana, ia melihat peluang untuk menjatuhkan lawannya dengan cara menghancurkan kuda-kudanya.
Setelah puluhan kali memukul paha Demang Suranggana yang sekeras besi, Karna memutuskan menyerang sendi lutut bagian belakang agar kuda-kuda Demang Suranggana tertekuk sehingga kekuatan kuda-kudanya lenyap.
" Bak. .bak...buk..plak...plak...!" Puluhan pukulan Karna mendera di sendi belakang lutut Demang Suranggana sehingga terdorong menekuk.
Demang Suranggana terpekik kaget merasakan akibat serangan yang dilancarkan Karna dengan sangat cerdas mampu menemukan titik lemah kekuatan kuda-kudanya.
Namun kesadaran Demang itu terlambat! Kaki Demang Suranggana tertekuk sehingga kuda-kuda goyah dan ia jatuh dalam keadaan terduduk membelakangi Karna.
Demang Suranggana benar-benar tidak percaya, baru kali ini ada orang bertangan kosong mampu menjatuhkan tubuhnya padahal ia telah memegang gada pusaka. Dan orang itu mampu menjatuhkannya bukan karena lebih kuat, namun karena sangat cerdas memanfaatkan situasi pertarungan!
" Buuuukkk....!" tubuh besar Demang Suranggana mengeluarkan suara berdentam saat duduk terjatuh menimpa lantai.
Tanpa membuang waktu, Karna memanfaatkan keunggulan sesaat. Secepat kilat lengannya meraih mengalungi leher Demang Suranggana dari belakang untuk mengunci pernapasannya.
" Heeeppp....!" aliran napas Demang Suranggana seketika terhenti sehingga mukanya merah membara.
__ADS_1
Sayangnya seperti kejadian sebelumnya, Karna belum mengetahui ilmu simpanan Demang Suranggana yang dapat mengendalikan fungsi paru-paru. Dengan terhentinya napas, justru Demang Suranggana memanfaatkannya untuk patrap ajian Amuk Geni yang sifatnya sama dengan Tapak Dahana. Perlahan-lahan suhunya naik hingga panas membara bersamaan dengan berubahnya warna tubuh Demang Suranggana menjadi merah kekuningan.
Karna tersengat hawa panas, tubuh Demang Suranggana berubah seperti lahar gunung berapi. Namun Karna tidak ingin melepaskan kunciannya, ia kerahkan ajian Tirta Gumulung (gelombang air) yang sedingin salju.
Pertemuan suhu es dan lahar antara Karna dan Demang Suranggana mengakibatkan tubuh mereka mengeluarkan desis air mendidih.
"Ceeeeessss.....!!!"
Uap air panas menyelimuti tubuh mereka berdua seperti kabut putih yang kian menebal sehingga menelan dua manusia sakti tak terlihat pandangan. Pertempuran hawa panas dan dingin itu berlangsung cukup lama sampai tenaga keduanya terkuras.
Di situlah keunggulan Demang Suranggana berbicara. Kekuatan tenaga Demang Suranggana berada dua tingkat di atas Karna. Kalau adu tenaga dalam ini dilanjutkan, Demang Suranggana memang bisa kehabisan tenaga, namun Karna akan mati terlebih dulu karena terpanggang Amuk Geni. Dan Karna menyadari hal itu. Ia harus melepaskan diri sekarang juga.
Seketika Karna menarik kembali Tirta Gumulung dan melepaskan kunciannya.
Akibatnya....
Tubuh Karna terpental melayang bebas ke udara!
" Hyaaaaattt..." pekik Karna sambil berusaha mengendalikan lontaran tenaga dari Demang Suranggana.
Namun, tenaga yang keluar dari Demang Suranggana kelewat dahsyat hingga Karna melaju liar tanpa arah, Membentur blandar dengan sangat keras.
" Bluuuuukkk.....kreeekkk....!!"
Begitu hebatnya punggung Karna terhempas hingga balok blandar retak nyaris patah. Atap rumah bergoyang dan genteng-genteng melorot turun.
Yang lebih buruk lagi, tubuh Karna meluncur jatuh tanpa persiapan posisi pertahanan, sementara tepat di bawahnya, Demang Suranggana sudah berdiri tegap memegang gada dengan dua tangannya yang sangat kokoh, siap menyambut jatuhnya tubuh Karna dengan ayunan pamungkas.
Karna terkesiap, ia sadar serangan gada kali ini tidak bisa dielakkan. Sesakti-sakti seorang manusia, ia bukan burung yang dalam sekejap mata bisa merubah arah luncuran. Yang bisa dilakukan Karna sekarang hanya memilih mengorbankan salah satu anggota tubuhnya untuk diterjang gada.
Kalau kena kepala jelas hancur dan mati, kalau mengenai kaki ia bisa lumpuh, kalau kena tangan Karna pasti cacat seumur hidup.
Karna memutuskan mengorbankan satu tangannya untuk melindungi kepala, siapa tahu dengan tangan ia masih memiliki kesempatan sepersekian detik untuk menampar gada agar berubah arah tidak terlalu telak menghantam tubuhnya.
Jarak tebasan gada dengan tangan tangan Karna tinggal beberapa ujung jari, tidak ada kemungkinan lain, satu tangan Karna pasti akan hancur, Sementara Demang Suranggana sudah sangat yakin serangannya berhasil.
" Wuuuuuunggg....." deru angin tebasan gada Demang Suranggana mendahului datangnya.
" Hyaaaaattt....!!!" Kana menguatkan kedua lengannya meski ia tahu pasti akan menerima luka yang cukup parah.
Di titik pertemuan Gada dan lengan Karna,
Tiba-tiba....
" Zuuuuutttt....Tap!"
__ADS_1
Seutas tali panjang warna hitam pekat melayang dan membelit gada Demang Suranggana sehingga laju sabetan gadanya tertahan di udara, dan tubuh Karna meluncur turun memutar posisi sehingga berhasil mendarat mulus dengan kepala tepat berada di depan gada yang terhenti di udara.
" Kang Kidang!" Karna berseru girang merasakan pertolongan Dewata tiba di sepersekian detik akhir maut menjemputnya.
Benar! Memang Kidang Panah yang datang tepat waktu tengah malam seperti yang dijanjikan.
Terlihat Kidang Panah masih menahan gada Demang Suranggana dengan kain panjang ikat pinggang yang dilolosnya.
" Terima ini, Karna!" seru Kidang Panah melempar gulungan kain ikat pinggang.
Karna menyambut gulungan kain panjang itu. Memang ini yang ia butuhkan. Senjata panjang untuk menjaga jarak yang bersifat sangat elastis dalam menghadapi gada yg kuat namun terbatas jangkauannya dan kaku.
Tapi, ada yang tidak kalah penting daripada hasil pertempuran ini setelah melihat kedatangan Kidang Panah. Sambil meloloskan ikat pinggang itu untuk digerakkan-gerakkan dengan sangat cepat mengganggu pandangan Demang Suranggana, Karna berseru, " Julig bagaimana, Kang?"
Kidang Panah tertawa, ' Hahaha...Dia selamat. Julig sembuh! Demi Dewata Yang Agung, aku tidak berdusta, Julig sembuh!"
Mendengar perkataan Kidang Panah yang sangat meyakinkan, semangat tempur Karna tersengat.
" Hahaha....adhiku sembuh! Sekarang tinggal kita bunuh pengkhianat itu!"
Sementara Demang Suranggana tersenyum samar mendengar pembicaraan dua Ksatria itu. Ia hentakkan gadanya untuk memberi pelajaran pada Kidang Panah yang telah menyelamatkan Karna.
Cukup sekali hentakan kecil saja, tubuh Kidang Panah terseret oleh tenaga yang tersalur oleh kain sehingga tubuhnya terlempar menabrak saka utama.
" Buuukkk....keparat!" maki Kidang Panah merasakan kuatnya tenaga Demang Suranggana yang hanya dengan satu sentakan kecil telah menghempaskan tubuhnya.
" Lecutkan kainnya, lepaskan dari gada, dia kuat sekali, Kang!" seru Karna.
Kidang Panah melecut-lecutkan kain sabuknya untuk melepaskan lilitannya dari gada Demang Suranggana. Namun Demang Suranggana tidak kalah akal, ia memutar gadanya sehingga lilitan kain Kidang Panah tidak bisa lolos. Akibatnya, tubuh Kidang Panah terlempar ke sana ke mari menabrak dinding, tiang, dan perabotan rumah.
Melihat hal itu, Karna tidak berdiam diri. Ia mainkan kain panjangnya membentuk gelombang yang menari-nari menghalangi pandang mata Demang Suranggana.
Ketika ujung kain sudah nyaris menyentuh topeng batu yang menutupi wajah Demang Suranggana, Karna dengan cerdik menyalurkan tenaga Tirta Gumulung.
" Sssssrttttt. ... ceeeessss....!"
Dari lengan Karna mengalir hawa salju yang merambat ke kain sehingga ikat pinggang itu membeku berubah menjadi es sekaku tombak!
Kain panjang yang sudah berubah kaku bagai logam itu dicucuk-cucukkan Karna untuk mencolok mata Demang Suranggana.
"'Keparat!" Demang Suranggana memekik kagum setengah jengkel merasa diperdaya oleh kecerdasan cara bertarung Karna yang selalu mampu menemukan titik terlemah lawannya.
Demang Suranggana terpaksa melepaskan satu tangannya dari gadanya untuk menepis serangan Karna yang bertujuan membuat buta matanya. Lepasnya satu pegangan Demang Suranggana membuat setengah tenaganya pada gada hilang sehingga Kidang Panah dapat melepaskan lilitan kainnya.
Demang Suranggana melompat mundur untuk menyiapkan posisi yang lebih baik, sementara Karna dan Kidang Panah berdiri di depan kiri kanannya menggerakkan kain panjang mereka, memainkan gelombang seperti kupu-kupu beterbangan yang sangat indah dipandang.
__ADS_1
" Jika kami sudah berdua, kau tidak punya harapan lagi. Serahkan cincinmu, atau kami cabut nyawamu, Suranggana! " desis Kidang Panah dingin.
***