
Melihat respon ketiganya yang tidak terlalu antusias, Bregas menimpali lagi, " Kali ini pasti benar, Raden. Bentuk tenggok yang ia bawa sebesar itu, isinya beberapa pot pohon tulasi hidup. Bungkusan kain yang ditentengnya itu daun tulasi dalam jumlah laksaan ( puluhan ribu ) untuk karangan bunga. Cepat, Raden. Dia seperti sangat terburu-buru."
Kidang Panah memberi isyarat agar Karna dan Julig menyusul perempuan separuh baya yang ditunjuk Bregas. Segera Karna dan Julig melangkah untuk mendahului perempuan itu masuk hutan.
" Sampurasun, Rahayu, Biyung, " ucap Karna seraya mengangkat tangan memberi hormat.
" Rampes, Rahayu, Den, " jawab perempuan itu tanpa menghentikan langkahnya. Tampaknya Bregas benar. Perempuan itu terlihat sangat buru-buru.
" Ibu, boleh saya mohon berhenti sebentar?" ujar Karna.
Perempuan itu menghentikan langkahnya. Wajahnya tampak resah, " Maaf, tapi saya tidak bisa lama-lama karena ini sudah terlambat mengantarkan pesanan."
" Pesanan daun tulasi dari Bapa Guru Panembah Swara kan, Ibu?" tukas Karna.
Perempuan itu menatap Karna, " Bagaimana Raden bisa tahu?"
Mendengar perkataan perempuan itu, Julig gembira bukan main. Akhirnya bertemu juga dengan orang yang dimaksud. Andai tidak dalam penyamaran, pasti Julig sudah menari-nari.
Karna tersenyum, " Justru kami berdua datang ke sini untuk itu. Kami siswa Bapa Panembah Swara diutus ke sini untuk mengambil pesanan beliau."
Perempuan itu menghembus napas lega, meski masih juga bertanya menyelidik, " Mengapa harus dijemput? Apa karena Bapa Panembahan sudah tahu saya datang agak terlambat? Maaf, Raden, tadi hujan di tengah jalan, jadi saya berteduh sebentar."
" Bukan karena itu, Ibu. Tapi hari ini ada persembahyangan khusus, jadi yang boleh masuk ke dalam goa hanya siswa-siswa saja. Orang luar dilarang mengikuti."
" Tapi saya juga pemuja Bathara Kresna, pengikut Bapa Guru Panembah juga. Apa saya masih terhitung orang luar?" tiba-tiba penjual bunga itu bertanya dengan nada agak protes.
Karna sedikit kaget dengan hal itu, ternyata perempuan itu bukan sekedar penjual bunga, namun pengikut Panembah Swara juga. Buru-buru ia memperbaiki kata-katanya, " Bukan begitu maksud Bapa Guru, Ibu. Persembahyangan kali ini khusus diikuti siswa, maksud saya para lelaki, di luar lelaki tidak diperkenankan masuk goa, jadi perempuan tidak dilibatkan dalam ritualnya. "
__ADS_1
Perempuan itu terlihat kecewa tidak diperbolehkan mengikuti persembahyangan. Karna segera menyambung kalimatnya untuk menghibur, " Hanya untuk persembahyangan hari ini saja kok Ibu. Besok-besok Ibu boleh masuk ke goa dan ikut bersembahyang. Hari ini Bapa Guru akan mengadakan wedharan lanang ( ceramah khusus untuk kaum laki-laki). "
" Ooo... begitu to, Raden? Baiklah kalau hanya satu hari ini saja. Berarti bulan berikutnya seperti biasanya, saya boleh ikut lagi?"
" Silahkan ibu mengikuti persembahyangan lagi bulan depan seperti biasanya. Tentu saja kami malah sangat bersyukur bila semakin banyak orang yang menghayati kebijaksanaan Shrii Bathara Kresna sehingga pancar kasih sayang Sanghyang Wisnu meliputi seluruh alam semesta."
Mendengar tutur kata Karna yang teduh, ibu penjual bunga itu percaya bahwa mereka berdua benar-benar murid utusan Panembah Swara. Ia berlutut untuk menurunkan tenggok dan bungkusan kainnya.
" Ini yang di dalam tenggok pohon tulasi hidup, ada 9 pot. Jangan dibongkar tatanannya agar tidak berantakan di tengah jalan. Terus yang saya bungkus kain ini daun tulasi. Per bungkus kecilnya ada seribu lembar. Jadi untuk satu karangan bunga butuh sepuluh bungkus kecil. Satu karangan bunga satu laksa ( 10.000) lembar. Biasanya Bapa Guru sudah tidak menghitung lagi karena sudah saya hitung di rumah. Bungkus kain yang satu ini isinya kayu tulasi kering. Sudah saya jemur sesuai pesanan Bapa Guru. Silahkan dibawa, Den. Tapi mohon dibawa dengan sangat hati-hati, terutama pohon hidup yang ada di tenggok."
"' Terima kasih, Ibu. Pesanan ini saya terima untuk saya bawa ke goa. Ini uang pembayarannya, " ujar Karna sambil menyerahkan sejumlah uang.
Penjual bunga itu terkejut menghitung uang yang diberikan Karna, " Ini banyak sekali. Sepuluh kali lipat dari harga biasa. Apa tidak salah hitung, Den?"
" Oh, saya tidak salah hitung. Bapa Guru memang ingin membayar lebih sebagai tanda terima kasih atas kesetiaan Ibu menyediakan sarana persembahyangan kami. Saya tahu untuk menyediakan secara teratur daun tulasi dalam jumlah laksaan bukan pekerjaan mudah."
" Wong saya bisa menanam bunga tulasi dewi karena anugerah dari Sanghyang Wisnu juga, jadi saya kembalikan juga kepadanya dengan memuja kehadirannya dalam Bathara Kresna. Tapi terima kasih sekali atas pembayaran yang berlipat-lipat ini, mohon disampaikan bhakti saya kepada Bapa Guru Panembah Swara."
" Baik, Raden berdua. Saya mohon diri. Rahayu untuk semuanya. "
" Rahayu dan sejahtera selalu, Ibu."
Penjual bunga itu beranjak pergi. Julig mendadak ingat ia harus tahu nama perempuan Itu.
" Biyung!" seru Julig.
Penjual bunga itu menghentikan langkahnya dan menoleh, " Iya Den. Ada apa?"
__ADS_1
" Maaf, tadi saya diberi tahu nama Ibu tapi di perjalanan lupa karena terlalu asik berbincang, " ujar Julig.
Penjual bunga itu tertawa kecil, " Oh, nama saya Hinten, Nini Hinten."
" Oh iya. Nini Hinten! " ujar Julig sambil menepuk jidatnya pura-pura baru ingat, " Bisa lupa begini! Nini Hinten dari desaaaaa....eeee...aduh lupa lagi!"
" Dari desa Climen, Deeeenn..." sahut Hinten si penjual bunga sambil tertawa.
" Ya...ya.. benar! Nini Hinten dari desa Climen! " ujar Julig lega telah mendapatkan informasi lengkap yang ia butuhkan untuk menyamar.
Karna dan Julig segera berpamitan pada Nini Hinten yang melanjutkan perjalanan pulangnya. Dengan membawa tenggok dan bungkusan kain, mereka menuju Kidang Panah dan Bregas yang tampak lega melihat rencana penyusupan sudah bisa dimulai.
" Bregas, " ujar Kidang Panah. " Tugasmu sudah selesai sampai di sini. Kau boleh pulang kembali bekerja ke warung kang Bagya."
Bregas mengucap salam pamit, lalu mencongklang kudanya kembali ke tengah kota Ngawi.
" Sekarang bagaimana, Kang?"
" Keterlambatan perempuan itu malah bagus. Kita tidak perlu menunggu terlalu lama, sebentar lagi sudah pecad sawed ( sekitar jam 9). Kita ke goa lewat jalan atas jadi lebih cepat."
Karna dan Julig mengangguk.
" Julig, kau mau berdandan perempuan sekarang atau nanti setelah dekat dari goa?"
" Sekarang saja, Kang. Biar saya ndak terburu-buru, " jawab Julig sambil membuka bungkusan kain yang berisi pakaian wanita.
Kemudian Julig berjalan ke balik sebuah batu besar untuk berganti pakaian dan merubah diri sebagai perempuan desa anak dari Nini Hinten penjual bunga dari desa Climen.
__ADS_1
Selama Julig berdandan, dada Karna dan Kidang Panah berdesir-desir. Ada perasaan bersalah seperti akan melepas anak sapi yang masih menyusui ke kumpulan srigala.
***