
Setelah sampai tepat di depan Karna, Julig berkata lirih, " Nanti Kang Wingit harus pura-pura kalah telak. Pokoknya orang harus lihat aku sebagai pendekar sakti mandraguna tanpa tanding, biar aku dapat hadiah 10 uang emas dan ndak ada orang berani menantang. Ya Kang ya?"
Karna tersenyum geli dari balik kain penutup wajahnya, " Terserah kaulah, anak bandel!"
Julig tertawa mengejek sembari menudingkan telunjuknya ke arah Karna, " Hahaha... lihat, Ki Juru Tanding. Kuda Alas ketakutan begitu dengar nama besar Kidang Wingit pendekar Gunung Mahendra. Sekarang kau mau ndak menaikkan hadiah jadi 10 keping Ma emas? Kalo ndak ya aku malas tanding di sini. Mending berburu harimau, sehari bisa dapat 5 ekor harimau besar. Kalau kujual bisa dapat uang 50 keping emas."
Juru Tanding itu tampak berpikir, " Bagaimana kalau 7 keping saja, Ki Sanak Kidang Wingit? Soalnya kalau 10 itu belum pernah ada hadiah sebesar itu.'
Julig sebenarnya sudah senang dengan penawaran 7 keping uang emas, tapi ia masih mencoba menaikkan harga. Ia pura-pura menaikkan pundak dengan gaya meremehkan, " Kalau cuma 7 keping uang emas seseduhan teh aku sudah dapat seekor harimau seharga 10 emas. Buat apa aku lelah-lelah mengeluarkan ajian Macan Murka. Atau kamu mau dengar auman siluman Raja Harimau yang sudah menyatu dalam sukmaku?'
" Maksudnya bagaimana, Ki Kidang Wingit?" tanya Juru Tanding penasaran.
Julig mengulurkan tangan, telapak tangannya dibuka setengah membentuk cakar. Badannya agak ditekuk untuk menyembunyikan gerakan bibir di balik kain penutup wajahnya. Kemudian ia menarik napas panjang untuk mengeluarkan bakat alami yang dapat meniru semua jenis suara.
" Hooooaaaarrrrggghhhhh....!!!"
Terdengar geraman harimau besar yang dapat terdengar oleh seluruh penonton pertandingan hingga mereka melonjak kaget dan ketakutan.
Julig pun kaget. Ia tidak menyangka auman harimau yang keluar dari mulutnya seperti mengeluarkan daya pelumpuh persis harimau sungguhan. Rupanya hawa murni Julig yang telah aktif ikut terlontar melalui suaranya, sehingga lutut Juru Tanding pun gemetaran.
Karna dan Kidang Panah yang ikut mendengar auman Julig dapat merasakan. Auman itu bukan sekedar meniru suara lagi, namun gelombangnya membawa perbawa sang Raja Rimba juga.
Sementara penonton yang telah tersihir oleh auman Julig menjadi sangat penasaran ingin menyaksikan peragaan kesaktian Kidang Wingit. Mereka bersorak-sorai.
" Hidup Kidang Wingit...! Tanding...! Tanding! Tanding! " mereka mendesak pertandingan Kadigdayan dilanjutkan.
Juru Tanding mengusap keningnya yang menitikkan peluh karena gentar mendengar suara harimau yang kini ia percaya sebagai Raja Siluman Harimau yang menyatu di dalam pribadi Kidang Wingit.
" Baik, Ki Kidang Wingit. Persyaratanmu kuterima. Silahkan bertanding, hadiahnya 10 keping uang Ma emas!"
Julig hampir berjingkrak kesenangan membayangkan memiliki 10 keping uang emas, namun segera ditahannya untuk menjaga citranya sebagai petarung yang garang.
" Baiklah, sekarang kau mundur jauh-jauh dari panggung. Semua orang jauh-jauh dari panggung daripada kena hawa ajianku. Cepat! Cepat !' gertak Julig mengusir Juru Tanding dan menyuruh penonton agak menjauh agar aksi pura-puranya tidak terlihat jelas saat ' bertarung' melawan Karna.
Juru Tanding buru-buru turun dari panggung disusul penonton mundur memberi jarak yang aman.
" Persiapkan serangan terbaikmu, Kuda Alas! Aku tidak akan menyerang selain mengelak dan menangkis!' ujar Julig dengan nada jumawa kepada Karna.
Karna menahan tawa melihat gaya Julig yang bersiap dengan kuda-kuda jurus harimau asal-asalan.
" Baik, jangan menyesal kau, Kidang Wingit," seru Karna ikut bersandiwara sok sangar.
Karna mengangkat lengannya. Ia salurkan panas Tapak Dahana sehingga tangannya berubah menjadi bara. Asap tipis mengepul. Para penonton berteriak histeris kagum dan senang menyaksikan peragaan ajian kelas tinggi.
" Hiyaaaatttt...!!!"
__ADS_1
Karna menerjang dengan lamban untuk memberi kesempatan Julig menghindar. Dengan gampang Julig menggeser kakinya setindak sehingga terjangan Karna tidak menemui sasaran.
" Braaaakkk....!!!'
Pukulan Tapak Dahana Karna mendarat di permukaan panggung. Seketika panggung berlobang dan papan kayunya berhamburan dalam keadaan menjadi arang.
Julig mengeluarkan tawa mengejek, " Hahahaha....hanya itu kemampuanmu? Kan sudah kubilang, keluarkan serangan terbaikmu, lha kok malah cuma bikin gosong panggung? Kalau cuma bikin gosong, tukang sate lebih jago!"
" Jangan besar kepala dulu kau, Kidang Wingit!' dengus Karna pura-pura marah. " Sekarang kau terima pukulan Angin Topan kalau kau berani, jangan menghindar!'
" Hahaha...mau ajian angin topan, mau angin puyuh, mau angin malam, atau angin lalu, aku ndak takut sama sekali!" seru Julig keras-keras agar terdengar oleh semua penonton.
Karna segera melakukan patrap Bayu Bajra untuk membuat kesan kedahsyatan.
Seluruh penonton terkesima menyaksikan panggung dilanda angin besar sehingga berderak-derak permukaannya bergoyang. Pakaian Karna dan Julig berkibar-kibar menciptakan efek dramatis kehebatan pukulan yang akan dikeluarkan Karna. Padahal Karna hanya ingin menghadirkan suasana seram saja.
Karma melangkah mendekati Julig yang menghadapi dengan jurus harimau asal-asalan. Julig menggeram mengeluarkan auman harimau.
Tangan Karna bergerak memukul, Julig tidak menghindar, justru menyambut tinju Karna dengan cakar harimaunya.
" Taaaap...!' Dua tangan bertemu di udara.
Akibatnya....
Tubuh Karna terlempar melambung tinggi ke udara, sementara Julig dengan tenang berdiri tegap tak goyah sedikitpun.
" Braaaakkk....!'
Tubuh Karna tergolek tak berdaya. Namun Julig tidak mau berhenti sampai di situ. Ia maju mendekati Karna.
" Kang, pakai ilmu peringan tubuhmu!" desis Julig lirih.
" Buat apa?" bisik Karna.
" Cepatlah, Kang!"
Sambil berbaring Karna mengambil napas untuk menerapkan peringan tubuh sehingga bobotnya hilang melawan daya tarik Bumi.
Julig mengulurkan tangannya. Dengan menggunakan satu tangan ia raih pinggang Karna yang sudah kehilangan bobot seringan ranting kering. Dengan sangat enteng Julig mengangkat tubuh Karna di atas kepalanya. Lalu memutar,-mutar seperti mainan baling-baling.
Karna pura-pura berteriak marah, namun tidak berdaya. Penonton bertepuk tangan dan bersorak-sorai mengelu-elukan nama Kidang Wingit sebagai jagoan baru.
Sementara di bawah panggung, Kidang Panah menyingkir dari keramaian karena tidak mampu menahan tawa melihat tubuh Karna diputar-putar oleh Julig. Di balik pohon, ia memegangi perutnya yang terpingkal-pingkal hingga matanya basah. Seorang Mahapatih Gajahmada yang sangat sakti saja tidak mampu memutar-mutar tubuh Karna, tapi Julig di depan ribuan pasang mata malah membuat Karna jadi mainan. Kidang Panah bersyukur bukan dia yang dipilih Julig untuk dijadikan lawan tanding.
Karna di balik tutup wajahnya mati-matian menahan tawa, hingga akhirnya ia tidak tahan dan berteriak, " Ampuuunn.... ampuni saya, Ki Kidang Wingit....saya mengaku kalah...!"
__ADS_1
Julig mendengar ada suara tawa Karna yang tertahan. Kalau sampai Karna ketahuan tertawa di atas panggung, sandiwara mereka bisa terbongkar. Segera ia lemparkan tubuh Karna ke belakang panggung agar tidak seorangpun yang tahu ia tertawa.
" Braaaakkk....!"
Karna jatuh menyusur tanah dengan posisi tertelungkup. Ia pura-pura kesakitan memegang perutnya untuk menutup tawanya yang nyaris meledak.
Sementara Julig dengan gaya penuh kemenangan berdiri dan berteriak lantang, " Itulah balasan bagi orang yang berani melawan aku, Kidang Wingit sang pemburu Macan. Ada lagi yang berani menantang? Mau sekalian 20 orang biar cepat pertarungannya!"
" Hidup Kidang Wingit! Hidup Kidang Wingit!' balas penonton tanpa ada satupun yang berminat untuk menantang setelah melihat kesaktiannya yang di luar nalar.
Juru Tanding naik lagi ke panggung untuk memastikan bahwa tanding Kadigdayan hari ini sudah berakhir dengan Kidang Wingit sebagai pemenang tunggal dan berhak mendapatkan hadiah 10 keping uang Ma emas yang merupakan hadiah tertinggi dalam sejarah pertandingan.
Julig menerima 10 keping uang emas dan sehelai kain paling bagus. 5 keping uang emas ia kantongi, yang 5 keping ia tukar dengan uang gobog. Karena 1 keping uang Ma emas setara dengan 4000 gobok, maka Julig menerima 5 karung besar uang gobog dengan jumlah total 20 ribu keping. Jumlah yang luar biasa banyak. Itu memang disengaja Julig sebagai cara untuk 'melarikan diri'.
Dengan dibantu Juru Tanding dan para pembantunya, Julig menyebar 20 ribu keping uang gobog ke segala arah. Karuan saja penonton berteriak kegirangan mendapat hujan uang yang tak habis-habisnya. Mereka berkerumun, berebutan memungut uang sehingga tidak seorangpun memperhatikan saat 3 Ksatria memacu kuda meninggalkan Bubat ( lapangan besar).
Julig tertawa terbahak-bahak di sepanjang jalan sambil menghindari Kidang Panah yang berusaha untuk menjitak kepalanya. 3 Ksatria itu rencananya menuju Puri Kepatihan tempat tinggal Mahapatih Gajahmada untuk mendapatkan pendidikan dan keterampilan sebagai Telik Sandi khusus. Terutama mendapat pelatihan taktik perang laut, penyusupan, sastra, sandi Yudha, dan sabotase kapal musuh. Pelatihan perang laut itu akan dilakukan di sebuah pelabuhan sungai yang bernama Canggu yang memiliki fasilitas keprajuritan sekaligus pusat perdagangan antar wilayah. Setelah memperoleh bekal ketrampilan dasar perang dan penguasaan sifat air, mereka akan mendapatkan pelatihan lanjutan di pelabuhan laut Tuban tempat sandar kapal-kapal perang besar yang dilengkapi meriam cetbang.
Di sela-sela pelatihan perang dan sabotase kapal, Julig mendapat pelatihan ilmu silat dari Karna, penguasaan pikiran dari Kidang Panah, dan mengolah rasa untuk meniup seruling pusaka Murli Katong. Pendek kata, 3 Ksatria itu mendapat tambahan ilmu yang belum pernah mereka pelajari sebelumnya, terutama Julig.
***
Kita tinggalkan sejenak 3 Ksatria yang bersiap lahir kembali dengan kemampuan yang jauh lebih dahsyat untuk mundur ke barat kembali menyusuri lereng gunung Mahendra menengok Gagak Bayan yang sedang giat mengasah ajian Bayu Bajra yang ia pelajari secara curang dari Karna.
Malam itu, angin kencang berhembus di pelataran belakang Wisma Gagak Nagara. Daun pepohonan pisang berkibar-kibar hingga sobek tercabik-cabik. Dedaunan kecil beterbangan membentuk gulungan topan yang berpusar bergerak membawa tanah dan kerikil. Namun anehnya, angin ribut itu hanya terjadi di belakang Wisma Gagak Nagara. Di luar itu, suasana Gagak Nagara hingga ke desa Dahayu tempat Savitri tinggal dengan setia menunggu kedatangan Karna, udaranya sangat tenang. Bahkan nyaris tiada angin yang berhembus.
Tiba-tiba di pelataran belakang Wisma Gagak Nagara memecah suara tawa dan seketika tiupan angin berhenti.
Lalu dari udara turun sesosok bayangan yang menjejak di tanah sambil melanjutkan tawanya, " Hahahaha.... sambutlah.... sambutlah, hai Dunia Persilatan. Sambutlah, hai Majapahit! Sambutlah ksatria baru, aku Gagak Bayan penguasa baru ajian Bayu Bajra. Tunggu kemunculanku, Jaka Wingit...aku akan mengambil lagi kemenanganku yang telah kau rampas. Termasuk Savitri....Hahaha..."
***
ILUSTRASI ART
Pelabuhan Sungai
Canggu sekarang
Lokasi : Kecamatan Jetis, Mojokerto
Kapal Raksasa Jawa jenis Jung, beberapa sumber dari Tiongkok menulis kapal kuno ini merupakan Kapal Terbesar di Dunia melebihi kapal-kapal perang dari Romawi
__ADS_1