
Sepeninggal Karna, Gagak Bayan berlatih pernapasan Bayu Bajra siang malam. Dilambari ambisi yang sangat besar, ia berpuasa, mengabaikan semua kegiatan selain berlatih. Jalannya pemerintahan Gagak Negara diserahkan kepada juru tulis dan bekas lurah prajurit yang setia kepadanya. dengan pesan supaya tidak berlaku sewenang-wenang pada rakyat dan mengatasnamakan Jaka Wingit Ksatria Angker agar rakyat patuh. Itu semua dilakukan Gagak Bayan bukan karena benar-benar bertobat, namun sekedar menghindari konflik. Ia menghindari keributan agar dapat mengulur waktu sampai menguasai Bayu Bajra dan menata sebuah rencana yang tersimpan di pikirannya.
Usaha keras Gagak Bayan membuahkan hasil, Bayu Bajra berhasil dikuasai sampai ke tingkat tertinggi meski. ada perbedaan sifat tenaga Bayu Bajra Gagak Bayan dengan Karna. Bayu Bajra Karna bersifat lembut dan menggulung, namun sangat kuat, sedang di tangan Gagak Bayan, Bayu Bajra bersifat tajam, merobek dan menghentak. Bila Gagak Bayan mampu mematahkan pohon beringin, tenaga Bayu Bajra Karna tidak mampu, namun sanggup mencabut sampai akar dan menerbangkannya. Perbedaan itu terjadi karena Gagak Bayan memakai jalan pintas yang sangat singkat, sedangkan Karna bertahap sehingga lebih panjang daya tahannya.
Usai meyakini Bayu Bajranya berhasil, Gagak Bayan memulai menjalankan rencana politiknya. Tujuan akhirnya ingin menjadi pembesar setara Tumenggung yang menguasai Watek ( setingkat kota), atau bahkan lebih. Itu akan ia upayakan dengan menjadi pembesar Majapahit atau menjadi lawannya jika Majapahit tidak memberinya kesempatan. Gagak Bayan tidak peduli dia ada di pihak mana, yang penting siapa yang memberikan peluang terbaik untuk berkuasa, itu yang akan dibelanya. Untuk itu, ia telah menjalin hubungan dengan seorang petualang politik yang tidak memiliki prinsip kecuali keuntungan. Orang yang dihubungi Gagak Bayan memiliki jaringan yang tersambung dengan para pembesar yang setia maupun pejabat yang memiliki watak khianat pada Majapahit. Rencananya, malam ini orang yang ditunggu akan datang ke Gagak Nagara.
Bulan telah beringsut ke barat saat seorang laki-laki berkuda memasuki gerbang Wisma Gagak Nagara.
" Sampurasun..." salam laki-laki itu kepada dua penjaga gerbang.
" Rampes..." sahut penjaga gerbang yang segera tergopoh-gopoh untuk melihat lebih jelas orang yang baru datang, " Mohon maaf, siapakah Ki Sanak yang datang di tengah malam?"
Lelaki di atas kuda itu menjawab, " Sampaikan pada gustimu Gagak Bayan, aku orang dari Tengah Negeri sudah datang."
Penjaga gerbang segera mengubah sikapnya lebih hormat melihat orang yang datang menyebut nama Gagak Bayan seperti orang yang sederajat, " Maaf, maksud Tuan bagaimana?"
Tamu tengah malam itu mendesah kesal, " Sudah, cepat sampaikan itu daripada kau disalahkan Gagak Bayan karena membuat aku menunggu terlalu lama."
Dua penjaga itu saling berpandangan sebelum salah satunya berkata, " Kau saja yang masuk menyampaikan pada Gusti, biar aku di sini."
Penjaga itu segera berjalan tergesa untuk melapor. Tak berapa kemudian, ia sudah berjalan bersama Gagak Bayan yang keluar dari pendapa dengan wajah berseri-seri, " Hahaha.... selamat datang di Gagak Nagara, Kangmas. Apakah perjalanan Anda baik-baik saja?"
Orang itu mendengus pendek, " Hmmmm....aku selamat, Dhimas.''
Dengan penuh hormat Gagak Bayan memegang tali kekang kuda dan berkata, " Mari saya antar masuk ke Wisma, Kangmas. Ini kudanya biar dirawat oleh abdi saya."
Tamu itu turun dari kudanya. Saat ia berdiri, terlihat perawakannya tinggi namun sedikit bungkuk seperti ada cacat pada tulang lehernya, ditambah gerahamnya agak miring tidak simetris sehingga perpanjangan leher ke kepalanya mirip seekor kuda.
' Kau punya perempuan muda untuk aku tidak?" ucap kalimat pertama tamu itu saat berjalan menuju wisma.
Gagak Bayan tertawa, " Hahaha... jangan khawatir, Kangmas. Aku paham seleramu sangat tinggi."
__ADS_1
" Yang dadanya besar, " sambung laki-laki yang secara penampilan maupun cara bicaranya sangat pas bila disebut bandot.
Di sepanjang perjalanan dari pendapa, Gagak Bayan terlihat selalu tertawa dan mengiyakan semua kemauan tamunya. Hingga akhirnya mereka sampai di Dalem, Gagak Bayan berkata, ' Silahkan Kangmas Upas Bumi istirahat dulu. Di kamar sudah menunggu 3 perempuan muda berdada montok. Kalau masih kurang, biar aku carikan malam ini juga. Hahaha..."
Tamu yang ternyata bernama Upas Bumi itu terkekeh senang, " Hehehe... sejak dulu aku percaya seleramu pada wanita tidak pernah salah. Tenang saja, apa yang akan kusampaikan besok pagi pasti membuahkan hasil besar yang belum pernah kau bayangkan sebelumnya. Dengan atau tanpa Majapahit, kita akan jaya!'
" Aku percaya pada ketajaman ucapanmu, Kangmas. Bagaimana bisa berjuluk Upas Bumi ( Racun Dunia) kalau lidahnya tidak bertuah? Haha..."
***
Pagi harinya, Gagak Bayan dan Upas Bumi tampak terlibat pembicaraan yang serius. Gagak Bayan lebih banyak menyimak dan hanya sesekali menyela pembicaraan dengan pertanyaan untuk memperjelas cerita, karena apa yang disampaikan oleh Upas Bumi adalah cerita yang selama ini hanya dianggap dongeng.
" Maksudnya desas-desus yang mengatakan bahwa Prabu Kalagemet pernah menerima tamu orang berkulit putih kemerahan itu benar adanya?" tanya Gagak Bayan.
Upas Bumi mengangguk, " Ini rahasia besar yang hanya diketahui oleh beberapa orang, tidak lebih dari hitungan jari. Pihak keraton sengaja menyembunyikan hal ini agar tidak menimbulkan kepanikan yang membahayakan kewibawaan negara."
" Mengapa istana harus menyembunyikan hal itu?'
" Hubungannya dengan orang kulit putih itu apa?"
" Raja menyimpan rapat-rapat rahasia pertemuan itu untuk menjaga agar negara tetap tenang, kewibawaan raja tetap terjaga, dan Nusantara tetap dianggap satu-satunya negara terluhur dan terhebat di dunia. Bayangkan kalau rakyat tahu, bahwa jauh di balik Negara Atas Angin ( bangsa-bangsa di luar Nusantara) ada bangsa yang lebih besar dan lebih hebat bahkan melebihi bangsa Tar-tar dan Jambhudwipa, rakyat akan ketakutan bila sewaktu-waktu mereka menyerang. Para saudagar Parsi menyebut bangsa kulit putih itu sebagai bangsa Rum. Menurut cerita para saudagar, bangsa Rum memiliki banyak kraton yang megah dan tentara yang sangat kuat."
--- Penjelasan :
Tar-tar sebutan untuk Tiongkok yang pada waktu itu dikuasai oleh Mongol.
Jambudwipa \= India
Parsi \= Persia ( Iran) dan juga untuk menyebut bangsa Arab
Rum \= Romawi, namun pada masa itu Rum juga menjadi sebutan umum untuk seluruh bangsa Eropa dan Turki
__ADS_1
Gagak Bayan mengangguk paham. " Lantas bagaimana cerita pertemuan prabu Kalagemet dengan orang Rum itu?"
" Orang kulit putih itu seorang Pandhita agama Srani ( Pastor Nasrani) yang berkeliling ke seluruh dunia mulai Rum, Parsi, Jambudwipa, Tar-tar, hingga ke Nusantara dan sampai Majapahit diterima sang Maharaja secara diam-diam untuk berbagi gambaran tentang negeri-negeri jauh di Atas Angin. Namanya Hodiko Matusi ( nama sebenarnya Pastur Odirico Mattiuzzi, kebangsaan Italia). Pandhita itu dijamu dan tinggal di Wilwatikta selama 3 bulan sambil menunggu pelayaran berikutnya untuk kembali ke negaranya. Dalam masa tiga bulan ia menulis di semacam tumpukan lontar yang terbuat kayu tipis ( maksudnya buku dari kertas papyrus), mencatat apa saja yang ia lihat di Kotaraja. "
" Mengapa itu dibiarkan oleh Prabu Kalagemet? Bukankah berbahaya bagi Majapahit bila ada bangsa asing mencatat segala sesuatu tentang Negara, siapa tahu ada rahasia?"
" Hehehehe...kau pikir prabu Kalagemet bodoh? Tentu saja tulisannya diperiksa dan dibaca semua oleh pujangga Kraton untuk memastikan tidak ada catatan yang berbahaya. Dan memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari catatannya. Hanya berisi puji-pujian atas kemegahan istana dan Kotaraja. Namun, ada yang tidak diketahui oleh Prabu Kalagemet. Dan rahasia itu yang akan kita manfaatkan untuk mengambil keuntungan sebesar-besarnya, " ucap Upas Bumi sambil tersenyum licik. " Kalau ini berhasil, Majapahit ada dalam genggaman kita. Kalau perlu kita bisa menjual Majapahit untuk mengubahnya jadi kerajaan baru. Hehehe....apa enaknya jadi pejabat tinggi kalau bisa menjadi Raja sekalian?'
Gagak Bayan tercengang dengan kalimat terakhir itu. Ia benar-benar tidak menyangka setinggi itu ambisi politik Upas Bumi.
" Maksudmu bagaimana, dan bagaimana caranya, Kangmas?"
" Sebenarnya Pandhita Srani itu tidak datang sendiri. Ia ditemani seorang pemuda yang merupakan seorang Ksatria Rum. Ksatria yang sangat kuat dan cerdas. Pandhita itu sendiri tidak berbahaya, ia tidak memiliki ambisi kekuasaan selain hanya bekerja untuk keperluan rohani, memuliakan sesembahan dan Sanghyangnya. Tapi, Ksatria yang menemani itulah yang memiliki ambisi kekuasaan. Ia bercita-cita mengembalikan kejayaan bangsa Rum di masa lalu. Saat Pandhita itu sibuk di Kotaraja, sang Ksatria Rum berkeliling ke seluruh penjuru Majapahit hingga masuk ke dalam hutan. Akhirnya ia tiba di suatu desa terpencil dan menemukan penduduk setempat sedang membuat perkakas kayu. Lalu, ia melihat kayu yang sedang dipotong oleh warga desa. Melihat kayu itu ia terkejut. Jenis kayu itu tidak ada di belahan dunia manapun. Kayu terbaik yang dapat digunakan untuk membuat kapal raksasa. Andai ia bisa membawa kayu itu ke negaranya, Negeri Rum akan kembali jaya dengan armada kapal perang terdahsyat untuk menguasai lautan!"
Gagak Bayan mendesis, " Maksudnya Kangmas akan membantu dia mendapatkan kayu itu?"
" Ya!" sahut Upas Bumi pendek.
" Lantas, kalau Negeri Rum bangkit menyerang kita bukankah justru Nusantara yang hancur?"
" Bukan Nusantara yang hancur, tapi Majapahit yang hancur. Dan kita yang akan menguasai Nusantara dengan meminjam kekuatan tentara Rum. Kita tidak perlu lelah-lelah untuk mendapatkan tahta. Begitu kita kuat, kita pukul balik tentara Rum atau kita racun mereka saat lengah, " desis Upas Bumi dengan mimik bengis.
Gagak Bayan menghela napas panjang sebelum berkata, " Tapi bukankah Ksatria Rum itu sudah pulang sepuluh tahun yang lalu bersama Pandhita Srani."
" Tidak. Ia tidak ikut pulang. Ia membuat sandiwara seolah-olah kecelakaan jatuh di jurang yang sangat dalam sehingga mayatnya tidak bisa diketemukan saat Pandhita Srani harus pulang. Ia masih di Majapahit, sembari mempersiapkan rencana menyelundupkan contoh sebatang kayu untuk dibawa ke Negerinya. Apabila contoh kayu itu diterima Rajanya, niscaya tentara Rum akan datang menyerang Majapahit untuk membabat hutan tempat kayu itu tumbuh."
Gagak Bayan menelan ludahnya. Ini rancangan yang tidak bisa dianggap main-main. Namun bila berhasil, ia bukan saja bisa menjadi pembesar Negara, bahkan kalau perlu menjadi Maharaja dengan cara membunuh Upas Bumi terlebih dulu sebelum naik tahta.
" Aku ikut rencanamu, Kangmas..." desis Gagak Bayan dingin tak mau kalah licik.
***
__ADS_1