KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
11 DUEL KSATRIA


__ADS_3

Baik Kridha Langit maupun Kidang Panah memberi isyarat kepada anak buahnya untuk memberi ruang. Prajurit Bhayangkara dan gerombolan Kidang Panah mundur beberapa langkah. Meski kedua pihak masih tetap menjaga sikap waspada, namun dua-duanya sama-sama saling mempercayai sikap ksatria pemimpinnya masing-masing. Tidak khawatir ada yang curang atau dicurangi.


" Tangan kosong atau dengan senjata, Kang Kidang?" tanya Kridha Langit dengan sopan.


" Agar lebih cepat langsung dengan senjata saja, Kang Kridha. Saya pakai pedang, " jawab Kidang Panah.


" Baik. Saya pilih cambuk untuk senjata."


Kidang Panah tersenyum. Rupanya Kridha Langit memang seorang prajurit yang cerdik. Kidang Langit dikenal dengan cara bertarung yang lentur, berkecepatan tinggi, memadukan sengatan secepat kilat dan menghindar sebelum serangan balasan datang. Dengan memilih senjata cambuk yang elastis dan panjang, Kridha Langit bermaksud menjaga jarak agar Kidang Panah tidak leluasa keluar masuk.


Kridha Langit melolos sebuah cambuk yang ternyata dibelikan di pinggangnya seperti sabuk. Cambuk yang ramping, berwarna hitam legam seperti terbuat dari lilitan rambut. Ketika dilecutkan menggeliat memanjang sekitar dua setengah Depa ( 5 meter ). Ujung cambuk itu bercabang terpasang 2 buah bandul besi kecil runcing. Rupanya cambuk bercabang itu bisa digerakkan untuk menusuk.


" Cambuk yang bagus, Kang Kridha. "


" Terima kasih, Kang Kidang. Sekarang, silahkan hunus pedang pilihan Anda. "


Kidang Panah mengangguk. " Sena, lemparkan pedangku!" Teriaknya pada salah seorang anak buahnya.


Orang dipanggil Sena segera menghunus pedang yang ternyata dijadikan sabuk juga. Rupanya Kidang Panah pun memilih pedang yang sangat lentur sehingga dapat dijadikan sabuk. Sena melempar pedang itu ke udara.


Kidang Panah rupanya ingin memberi kesan istimewa menjelang pertandingan. Ia sengaja tidak menoleh saat menyambut pedang yang masih terbang di udara. Kakinya menjejak ke tanah dan salto ke belakang. Berputar tiga kali di udara.


" Tap !" Gagang pedang telah tergenggam erat di tangan Kidang Panah dalam posisi ia masih melayang di udara.


Pertunjukan gaya peringan tubuh itu mengundang decak kagum Kridha Langit yang mengakui kemampuan Kidang Panah dalam hal kegesitan memang jauh di atas rata-rata.


Kidang Panah selanjutnya mendaratkan kakinya dengan anggun.


" Aku siap menerima serangan Anda, kang Kridha Langit!"


" Tar ! " Kridha Langit mencetarkan cambuknya ke tanah. Tercipta cendawan debu dari hasil tanah yang berhamburan. Cendawan debu itu menciptakan tirai yang menghalangi pandangan Kidang Panah. Terkesiap Kidang Panah pada tehnik permainan cambuk Kridha Langit.


" Hmmmm.... ternyata nama besar prajurit Bhayangkara bukan omong kosong, " batin Kidang Panah. Namun justru kegembiraannya untuk bertarung kian tumbuh. Selama petualangannya sebagai begal, ia tak pernah menemui lawan yang cukup tangguh untuk 'berolahraga'. Biasanya, hanya cukup beberapa gebrakan saja lawannya takluk sebelum keringatnya menetes.


Belum sempat Kidang Panah menyesuaikan jarak pandang, Kridha Langit memanfaatkan keadaan. Dari balik tirai debu, menyeruak ujung cambuk berupa dua bandul tajam yang bergerak memelintir saling mengatup seperti rahang kobra yang mematuk mangsa.


Kidang Panah tak menyangka kemahiran Kridha Langit yang mampu mengendalikan cambuk seakan anggota tubuhnya sendiri. Ia memundurkan tubuhnya, tapi Kridha Langit tidak berhenti sampai di situ. Cambuk diliiukkan sedikit hingga terulur lagi. Usaha Kidang Panah menghindar dengan cara mundur sia-sia.


" Crat !" ujung dua bandul tajam cambuk Kridha Langit mematuk perut Kidang Panah. Darah muncrat.


" Tenang, kang Kidang Panah. Cambukku tidak beracun, " ujar Kridha Langit.


Kidang Panah mendengus pendek. Prajurit Bhayangkara bersorak senang memberi dukungan untuk keberhasilan serangan Kridha Langit.


Kidang Panah segera memperbaiki kuda-kudanya yang kacau. Ia mengamati gerakan tangan Kridha Langit yang tiba-tiba menghentikan serangannya. Kridha Langit menggoyangkan cambuk kiiri kanan. Kidang Panah tidak mampu menduga dari arah mana serangan akan datang. Ia menduga Kridha Langit sedang memancing dia mendekat lalu memanfaatkan geraknya. Kidang Panah tidak mau terjerumus jebakan, karena ia belum menemukan cara untuk menerobos jarak pertahanan cambuk yang jauh lebih panjang dibandingkan dengan pedangnya.

__ADS_1


Pertempuran sesi kedua menjadi kurang menarik. Masing-masing tidak mengambil inisiatif menyerang lebih dulu. Kidang Panah berjalan memutar, sementara Kridha Langit hanya menggoyang-goyangkan cambuk. Padahal darah terus mengucur dari perut Kidang Panah yang terluka. Andai cara ini diteruskan, pasti Kidang Panah yang rugt. Ia bisa kehabisan darah dan tumbang tanpa mampu membalas.


Kidang Panah menyadari hal itu. Strategi mengulur waktu ini merugikan dirinya. Perut adalah bagian tubuh yang gampang mengucurkan darah. Dengan harapan mampu melancarkan serangan mendadak, ia hentakkan kaki dan melenting tinggi.


" Hiyaaaa.....! " Sesampainya di puncak loncatan, Kidang Panah menukik turun langsung menuju tubuh Kridha Langit dengan ujung pedang mengarah ke kepala.


Namun Kridha Langit dapat menebak jalan pikiran Kidang Panah. Dia memilih sasaran kepala karena kepala merupakan bagian tubuh paling statis yang tidak bisa menghindar dengan leluasa. Sayangnya, Kidang Panah lupa, bahwa posisinya yang meluncur dari udara justru membuat arahnya jelas dan arah luncuran sangat sulit diubah dalam posisi menukik, sedangkan kedua kaki Kridha Langit di atas tanah leluasa bergerak. Kridha Langit hanya cukup menggeser selangkah, posisi tubuhnya sudah berubah sehingga Kidang Panah kehilangan targetnya. Bersamaan dengan itu, cambuk Kridha Langit bergerak melengkung dengan ujung mengarah ke atas.


Akibatnya. ..


" Crat ! " ujung cambuk Kridha Langit mematuk paha kanan Kidang Panah. Kembali darah memercik.


Meski luka di paha yang diterima Kidang Panah tidak seberapa dalam, tapi percikan darahnya sedikit mengganggu juga, bikin risih. Kembali ia gagal memperpendek jarak serangannya, hanya berhasil mendarat lagi ke tanah dengan mulus.


Kidang Panah sadar permainan cambuk Kridha Langit sangat mahir, dia belum mampu melihat titik lemahnya. Kidang Panah memutuskan untuk fokus menghadang serangan yang datang saja, sambil mempelajari pola gerak jurus Kridha Langit. Suatu saat, pasti ia memperlihatkan titik lemahnya sendiri. Jika ia tidak bisa menyerang untuk memperpendek jarak, biar Kridha Langit yang mendatanginya. Kidang Panah pun menjalankan rencananya. Ia pura-pura nyengir kesakitan, kakinya mundur beberapa langkah dengan gaya sempoyongan.


12 anak buah Kidang Panah menatap dengan khawatir, sementara para prajurit Bhayangkara pendukung Kridha Langit bersorak kegirangan. Kridha Langit termakan siasat Kidang Panah, ia memutuskan itulah saat yang tepat untuk mengakhiri perlawanan Kidang Panah. Segera ia lecut-lecutkan cambuknya memecah tanah. Gumpalan tanah dan kerikil meluncur menghujani Kidang Panah yang menghadangi dengan cara memutar pedangnya.


" Trang ! Crack ! Cethak ! " Bunyi kerikil bertemu pedang.


Sementara Kidang Panah masih dalam posisi terhuyung sibuk menghalau hujan kerikil dan tanah, Kridha Langit sudah mengubah lagi arah cambuknya. Ujung cambuknya diarahkan lurus ke tubuh Kidang Panah seperti ular kobra yang mematuk-matuk. Mematuk dan menarik untuk mematuk lagi.


Kidang Panah dengan mengandalkan kegesitan dan kelenturannya menghindar dengan memiringkan kepala, meliukkan pinggang, menggeser langkah. Kridha Langit diam-diam mengakui kehebatan Kidang Panah. Sementara Kidang Panah pun menyadari, kemampuan mereka sebenarnya setara. Pertarungan ini hanya bisa dimenangkan oleh yang sabar dan jeli, dan Kidang Panah mencoba lebih jeli lagi.


Pertandingan cambuk melawan pedang itu terjadi dengan kecepatan yang sangat tinggi. Bagi mata yang tidak terbiasa menyaksikan aksi silat tingkat tinggi, yang terlihat hanya kelebat cambuk panjang yang kadang memutar, melecut, atau menusuk, ditingkahi kilau pedang yang memutar, menukas, dan memukul ujung cambuk. Tetapi bagi yang bermata tajam, mereka akan melihat ada permainan otak dalam mengatur strategi gerakan.


Terlambat ! Saat Kridha Langit menyadari jebakan itu, otak Kidang Panah yang cerdas telah mengambil kesimpulan tindakan apa yang harus ia lakukan.


" Suuutttt ...! " Mata cambuk meluncur cepat.


Mata Kidang Panah fokus menatapnya tak teralih oleh pemandangan yang lain. Diatur tubuhnya dalam posisi miring menunggu batang cambuk masuk ke wilayah jangkauan pedangnya. Pada mulanya ia sempat berpikir untuk menangkap batang cambuk itu. Namun, rencananya berubah. Bila ia menangkap dengan tangan kosong, cambuk itu pasti segera ditarik oleh Kridha Langit, ujungnya yang tajam bisa melukai telapak tangannya. Maka, Kidang Panah memutuskan ' menangkap' ujung cambuk dengan pedangnya. Saat dua mata cambuk datang, mata Kidang Panah yang tajam segera mengarahkan pedangnya tepat di tengah cabangnya. Akibatnya, dua bandul tajam bergerak membelit pedang Kidang Panah yang dapat menggeliat secara elastis. Hanya butuh waktu sekejap saja bagi Kidang Panah untuk memanfaatkan situasi. Ujung cambuk yang sesaat menyatu dengan pedangnya ia arahkan ke sebatang pohon. Dengan bergerak menjejak barang pohon secara berkeliling, cambuk Kridha Langit telah tertali erat di pohon itu.


Kridha Langit terkesiap dengan cara bertarung Kidang Panah yang demikian cerdas. Sejenak ia terpaku memegang cambuk yang sudah tertali di pohon. Harusnya ia segera melepaskan.


Terlambat ! Kadang Panah telah melepaskan pedang elastisnya dari belitan cambuk, dan melompat menyerang.


" Clap !"


Kridha Langit mampu menahan serangan pedang Kidang Panah dengan mengangkat lengannya sehingga pedang mengenai barang cambuk.


" Tezzz...! " Cambuk Kridha Langit terpangkas putus, hanya tersisa kira-kira setengah depa.


Memanfaatkan daya kejut serangannya, Kidang Panah terus merangsek maju. Sementara dengan sisa cambuknya yang tidak seberapa, Kridha Langit terlihat terdesak mundur. Bunyi pedang tipis berbenturan dengan cambuk menggesek desis miris. Hingga oleh suatu kesempatan, cambuk Kridha Langit melecut tepat di genggaman tangan Kidang Panah. Kidang Panah seketika tersengat perih, sehingga genggamannya pada pedang terbuka.


Pedang Kidang Panah lepas. Prajurit Bhayangkara bersorak.

__ADS_1


Tapi, belum sedetik posisi kemenangan berbalik lagi. Kaki Kidang Panah berhasil menyepak tangan Kridha Langit yang menggenggam cambuk. Cambuk Kridha Langit pun terlepas.


Kini dua saatria itu berhadapan dengan tangan kosong.


" Silat Anda benar-benar hebat seperti yang diceritakan banyak orang, Kang Kidang, " ujar Kridha Langit.


" Anda juga sangat hebat, Kang Kridha. Nama besar prajurit Bhayangkara memang bukan isapan jempol. Tapi pertandingan belum usai, bersiaplah ! " jawab Kidang Panah.


Gebrakan pertamapun dimulai. Perkelahian tangan kosong adalah spesialisasi Kidang Panah. Kegesitan, kelenturan, dan kecepatan geraknya segera bicara. Meski Kridha Langit bukan orang lamban, namun kemampuan gerak Kidang Panah memang satu tingkat di atasnya.


Seperti yang sudah-sudah, gerakan tubuh Kidang Panah tidak bisa diduga arahnya. Menyerang tidak dengan tenaga besar, namun beruntun dan selalu tajam tepat sasaran. Akibatnya, sekujur tubuh Kridha Langit lebam-lebam dan pedih. Darah mulai mengucur dari bibir Kridha Langit yang pecah. Kelopak matanya pun membengkak sehingga pandangannya terhalang untuk mengantisipasi serangan Kidang Panah. Pertandingan ini hanya masalah waktu saja. Kridha Langit yang berjiwa ksatria dan tahu keadaan memundurkan tubuh 3 langkah tanda meninggalkan gelanggang. Kidang Panah yang memahami aturan Ksatria menangkup tangan tanda hormat.


" Cukup, Kang Kidang Panah. Saya, Kridha Langit mengaku kalah. " Ujar Kridha Langit sambil menangkup tangan hormat.


" Terima kasih, Kang Kridha Langit yang telah memberi saya pelajaran, " jawab Kidang Panah.


" Baik, semua anggota kelompok Kidang Panah saya nyatakan sebagai orang merdeka, " ujar Kridha Langit, " Prajurit, biarkan mereka semua pergi!"


Namun, 12 orang pengikut Kidang Panah tidak ada yang beranjak pergi.


" Apa yang kalian tunggu? Pergi sana ! Cari penghidupan baru ! " Kidang Panah menghardik.


Sena, orang yang tadi memegang pedang Kidang Panah bicara mewakili teman-temannya, " Tiji Tibeh, mukti siji mukti kabeh, mati siji mati kabeh. Bukankah Kang Kidang yang mengajarkan mulia satu mulia semua, mati satu mati semua? Kami siap mati kalau Kang Kidang Panah mati ! Kami semua mau pergi asal ada jaminan dari prajurit Bhayangkara bahwa kang Kidang Panah tidak dihukum mati. "


" Tidak perlu begitu, Sena. Aku bisa menjaga diri, " sahut Kidang Panah.


" Tapi kami butuh jaminan. Bagaimana kang Kridha Langit?"


" Maaf, saya hanya menjalankan perintah. Kang Kidang Panah ini adalah buronan kerajaan yang harus ditangkap. Sedang mengenai pidananya, itu urusan hukum Negara. Bukan kami yang memutuskan, " jawab Kridha Langit.


" Jika demikian, kami akan melawan sampai mati kalau kalian menangkap Kang Kidang Panah tanpa jaminan "


" Jangan gegabah, Sena ! " hardik Kidang Panah, " Kalian tidak mungkin menang."


" Kami tahu, Kang Kidang. Kami memang tidak bisa menang. Kami hanya menjalankan aturan keluarga. Tidak mungkin ada anak yang rela melihat bapaknya dibawa orang untuk dibunuh. Kang Kidang adalah bapak kami !"


Seketika suasana yang sudah dingin menjadi tegang kembali. 12 anak buah Kidang Panah menunjukkan sikap siap bertempur sampai mati, sementara prajurit Bhayangkara pun kembali dalam sikap siap gempur.


" Kang Kidang Panah, " Kridha Langit memutuskan untuk melaksanakan perintah, " Saya atas nama Negara Majapahit harus membawa Anda dengan tangan terikat. Silahkan ulurkan tangan. "


" Silahkan, " Kidang Panah mengulurkan tangan siap menyerah.


Kridha Langit akan melangkah.


Tiba-tiba...

__ADS_1


" Kridha Langit !!! Satu langkahmu ke depan berarti sudah menantang kami untuk bertarung sampai mati !" Teriak Sena lantang.


__ADS_2