KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
50 PERUBAHAN YANG ABADI


__ADS_3

Dengan sangat berharap, Kidang Panah, Karna, dan Julig menatap setiap perubahan raut wajah Ki Giri untuk menunggu tiap kalimat yang akan keluar dari bibir orang yang paling tahu seluk beluk gunung Prawita itu.


Ki Giri bergumam lagi, " Baswara Demang Suranggana?"


Kidang Panah mendesak lagi," Iya, bagaimana? Lewat jalan yang mana, Kang Giri?"


Ki Giri menatap wajah Kidang Panah sesaat, dan menggelengkan kepalanya!


Kidang Panah tercekat panik, "'Maksud kang Giri menggelengkan kepala apa?"


Ki Giri dengan raut wajah sangat menyesal berkata, " Dari kecil sampai sekarang saya menjelajahi gunung Prawita yang suci ini, saya belum pernah mendengar nama tempat Baswara maupun Demang yang bernama Suranggana. Maaf, Dhimas."


Seketika 3 Ksatria lemas mendengar jawaban Ki Giri. Kalau orang yang sejak lahir di gunung ini saja tidak tahu tempat itu, berarti tempat itu memang benar-benar tidak ada!


Karna, Kidang Panah, maupun Julig yang semula duduk tanpa sadar kembali berbaring dengan wajah keruh. Mata mereka menerawang menatap langit. Mengapa tugas yang mereka pikul penuh hambatan yang datangnya tak terduga? Padahal perjalanan jauh telah ditempuh dan sempat menghadapi Panembah Swara yang sangat sulit ditaklukkan.


" Maaf, apa mungkin alamat yang diberikan oleh kerabat Andhika salah?" tanya Ki Giri dengan hati-hati agar tidak menambah rasa kecewa yang sedang melanda mereka bertiga.


Baik Kidang Panah maupun Julig tidak berusaha menjawab pertanyaan Ki Giri. Antara lelah dan putus asa mereka hanya ingin istirahat menenangkan diri dulu. Namun Karna yang perasaannya sangat halus merasa tidak enak kalau tidak menjawab pertanyaan itu.


" Terus terang, kami sudah bertanya kepada 10 orang dari 3 desa yang berbeda. Namun, jawaban mereka sama. Mereka juga belum pernah mendengar ada tempat bernama Baswara maupun Demang Suranggana. Sebenarnya saya masih yakin kalau alamat yang diberikan benar, tapi begitu kang Giri yang mengetahui seluruh seluk beluk gunung ternyata tidak tahu juga, entahlah... saya tidak tahu lagi apakah keyakinan saya benar atau tidak, " jawab Karna lirih.


" Hmmm..., " Ki Giri bergumam rikuh.


Akhirnya mereka berempat diam hanya berbaring menatap langit. Perasaan kikuk dan tidak tahu apa yang harus dilakukan melanda.


Tiba-tiba Julig menyeletuk, " Ki Giri, apakah ini desa terakhir di bagian lereng ini?"

__ADS_1


" Tidak. Masih ada satu lagi desa terakhir di belahan lereng barat ini. Justu desa paling ramai. Ada apa, Ananda?" tanya Ki Giri yang menyebut Julig sebagai Ananda ( Nak) karena mengira Julig masih sangat belia.


" Ndak apa-apa, Bapa Giri. Hanya saja bila saja kakang saya Kidang Panah setuju, apa ndak sebaiknya kita mencoba ke sana?"


Kidang Panah menyahut dengan nada datar tidak menunjukkan antusias sama sekali, " Ya pasti kita ke sanalah. Buat apa kita berjalan sejauh ini kalau hanya untuk berhenti tanpa mencoba kemungkinan di desa terakhir. Jangan khawatir, kita akan ke sana, meski aku sekarang juga tidak bisa berharap terlalu banyak. Hanya saja, sekarang aku sedang lelah sekali. Aku ingin tidur sejenak. Sekalian kuda-kuda itu biar istirahat. Seharian mereka juga belum tidur."


Julig menghembuskan napas, memaklumi jawaban Kidang Panah yang datar. Ia sendiri pun juga sudah tidak berharap banyak kecuali hanya ingin mencoba kemungkinan yang terakhir.


" Ya, Kang. Saya tahu itu, " ujar Julig. " Kang Kidang dan Kang Wingit istirahat saja dulu, " sambung Julig sambil bangkit berdiri.


" Lha kau mau ke mana, Julig?" seru Kidang Panah begitu melihat Julig akan melangkah pergi.


" Tidak ke mana-mana, Kang..Aku hanya ingin ganti pandangan saja. Melihat-lihat yang baru daripada pusing pikiran."


Kidang Panah menghela napas panjang, " Ya sudah, tapi jangan jauh-jauh masuk ke hutan. Masih banyak binatang buas di sini. Aku tidur dulu sebentar. Tapi kalau ada apa-apa, berteriak saja ya, Anak Kancil?"


Julig mengiyakan. Ia merasakan jelas kasih sayang dan perhatian Kidang Panah yang dalam kelelahan tubuh dan pikiran masih saja mengutamakan keselamatanya. Julig tahu, Kidang Panah akan jadi orang yang paling terpukul dan merasa salah bila tugas ini gagal diselesaikan, sebab hanya Kidang Panah satu-satunya orang yang mendapat tugas ini secara langsung dari gurunya, sedangkan Jaka Wingit hanya disebut secara tak langsung, apalagi dirinya yang hanya ikut-ikutan tanpa dituntut tanggung jawab.


Begitu tubuhnya berbaring dan melekat di atas batu besar yang terteduhi pohon rindang, terasa hawa dingin merayap ke sekujur tubuh. Hawa panas yang menyengat sepanjang siang ini tergantikan begitu saja oleh sejuknya hawa yang terserap oleh batu yang terlindungi pepohonan.


" Hmmmmm...." Julig memejamkan mata merasakan karunia alam semesta. Pergantian hawa yang begitu nyaman membuatnya terlena melayang di antara perpindahan alam sadar dan lelap.


Di dunia ini yang abadi hanya perubahan itu sendiri. Antara pagi menjadi siang, disusul sore untuk berubah malam. Lalu ketika matahari bersinar, pagi kembali datang, dan perubahan berganti lagi. Demikian seterusnya.


Ketika pagi menjadi siang, kehidupan tetap saja seperti itu. Yang ada tetap ada, yang tidak pernah ada tetap tiada. Yang berganti hanya hawanya. Dari sejuk menjadi hangat, dari hangat menjadi panas, dari panas kembali hangat, untuk balik kepada sejuk di malam hari. Berulang dan selalu berulang, tapi kenyataannya tetap sama; manusia, hewan, dan tumbuhan yang sama tetap ada tak terganti. Jadi apa yang terganti? Hanya perasaan saja. Perasaan tentang hawa, padahal itu tetap hawa namanya. Bedanya, hawa yang membuat pori-pori kulit manusia mengkerut dinamakan dingin, sedang hawa yang membuatnya melebar berkeringat disebut panas. Tetapi nyatanya, baik dingin atau panas hanya perubahan penamaan untuk sesuatu yang sama, yaitu hawa. Yang mengalami juga sama, manusia. Untuk hawa dingin yang disebabkan oleh gelap disebut malam, hawa panas di bawah terang matahari disebut siang. Padahal, siang dan malam hanya penamaan waktu. Waktu yang sebenarnya tidak berubah, ia hanya berjalan saja. Tapi dalam perjalanannya, ia diubah namanya oleh manusia sebagai pagi, siang, sore, dan malam sebagai penanda. Ya, sejatinya waktu tidak pernah berubah. Ia hanya berjalan dari kejap ke kejap berikutnya. Yang diubah hanya namanya....


" Yang berubah hanya namanya... tempatnya tetap di sana...." igau Julig antara sadar dan tidak sadar.

__ADS_1


" Yang berubah hanya namanya...." Julig mengigau lagi.


Tiba-tiba Julig seolah-olah dibisiki oleh igauannya sendiri. Ia tersentak dari tidurnya. Seketika bangkit berdiri dari batu datar tempat ia tertidur sejenak.


" Duh Jagad Dewa Bathara! " pekik Julig. " Terima kasih atas pengetahuan yang telah Sanghyang Maha Tahu berikan kepada hamba yang hina ini."


Julig berlari terburu untuk menemui Ki Giri, Kidang Panah, dan Karna. Begitu terburu-buru hingga menabrak dahan pohon yang melintang. Seketika tubuhnya terpental terjerembab. Ia meringis menahan sakitnya, lalu berlari lagi.


" Ka...." lehernya tercekat. Dilihatnya Kidang Panah dan Karna tertidur pulas dengan wajah terlihat sangat lelah. Julig menghentikan teriakannya, tak tega membangunkan dua orang kakak baru yang sangat menyayanginya.


Ia berjalan berjingkat agar tidak menimbulkan suara. Memegang pergelangan tangan Ki Giri dan berkata dengan lirih, " Bapa Giri, boleh saya bertanya?"


Ki Giri membuka matanya. Bibirnya tersenyum, " Aku tahu dan sebenarnya aku menunggu kau bertanya, Ananda."


Julig mengerutkan keningnya tidak paham dengan maksud perkataan Ki Giri, " Maksud perkataan Bapa apa?'


Ki Giri menepuk jidatnya sendiri seperti menyadari telah salah ucap, " Aduuuhhh... ternyata aku tadi ketiduran dan mengigau! Ngomong apa aku tadi? Ya sudah, kenapa Ananda membangunkan aku?"


Julig menatap mata Ki Giri, sebenarnya ia penasaran dengan maksud perkataan Ki Giri yang menunggunya bertanya, namun karena ia tidak ingin berbicara terlalu banyak yang bisa mengganggu istirahatnya dua kakak barunya, ia menepis rasa penasarannya dan berbisik ke telinga Ki Giri, " Bapa Giri, boleh saya minta waktu untuk bicara sebentar? Tapi tidak di sini. Saya tidak ingin membangunkan dua kakang saya.'


Ki Giri perlahan-lahan bangkit dari tidurnya," Ya, Nanda."


Julig mengajak Ki Giri berjalan. Setelah jarak dirasakan cukup jauh sehingga tidak menggangu waktu istirahat Karna dan Kidang Panah, Julig berkata, " Dengan bantuan keterangan Bapa Giri, saya memiliki harapan untuk menemukan tempat yang bernama Baswara."


Ki Giri mengusapkan tangan ke bibirnya, " Caranya bagaimana, Ananda?"


Julig berkata lirih, ' Begini....."

__ADS_1


Tiba-tiba angin bertiup kencang, sehingga Julig menghentikan perkataannya sejenak.


***


__ADS_2